
Nata yang tidak pernah mendapatkan bentakan seperti itu, tentu merasa sangat kesal. Ia genggam erat tangannya agar dia tidak melampiaskan kekesalannya itu pada Nathan sekarang juga.
'Sabar, Nata. Sabar. Ini adalah cobaan berat buat kamu. Jadi, bersabarlah agar kamu bisa menang kelak. Kamu adalah wanita kuat. Sedikit merendahkan ego, tidak akan membuat kamu kalah, bukan?'
'Kamu tidak kalah. Tapi, kamu hanya mengalah. Mengalah untuk menang adalah pilihan terbaik dalam menghadapi lawan main yang brutal seperti dia. Kan ada pepatah yang mengatakan begitu, Nathalia.'
Nata berusaha menguatkan hatinya sekarang. Dia sibuk bicara dalam hati selama beberapa saat. Sedangkan Nathan yang melihat Nata hanya diam, itu bikin dia semakin emosi saja.
"Keluar! Aku bilang keluar sekarang! Apa kamu bud ek? Gak punya pendengar yang bisa mendengarkan apa yang aku katakan, hah!?"
"Nathan cukup! Aku masih bersabar sejak tadi karena aku datang dengan niat yang tulus untuk minta maaf padamu. Meskipun kata maaf tidak akan mengubah semuanya, tapi aku sudah menyadari kesalahan yang aku perbuat. Tapi apa yang aku dapatkan? Kamu malah bertingkah dengan semena-menanya padaku. Kamu pikir, aku juga tidak malu tadi malam, hah!"
"Aku juga malu, Nathan!"
"Tapi rasa malu yang kamu terima tidak sama dengan yang aku dapatkan, Natalia. Sudah cukup perdebatan ini. Sekarang, keluar dari kamarku! Jangan buat aku panggil pelayan untuk mengusir kamu."
"Baik! Aku pergi sekarang. Dasar tidak punya hati. Pria sama saja. Tidak tahu malu. Semua tidak punya hati!"
Setelah berkata seperti itu, Nata lalu meninggalkan kamar Nathan. Dengan pintu yang sedikit ia banting, Nata pergi secepatnya dari vila itu tanpa menghiraukan sapaan dari para pelayan yang ia temui.
Entah kenapa, hatinya terasa sakit akibat kata-kata yang Nathan katakan. Sambil berjalan, buliran bening itu jatuh perlahan padahal sudah ia tahan dengan sekuat tenaga.
"Dasar sial. Kenapa harus menangis sih? Aku kan nggak sedih sekarang. Aku gak mau nangis kok. Kenapa air mata ini malah jatuh," kata Nata sambil berjalan cepat meninggalkan vila tersebut menuju mobil.
Nata tiba di dalam mobil, dia masuk ke dalam dengan cepat. Untuk beberapa saat, Nata terdiam memikirkan apa yang baru saja terjadi. Selama lebih dari lima menit, dia berusaha menenangkan dirinya dengan sekuat tenaga hingga akhirnya dia berhasil.
Setelah berhasil, Nata pun pergi meninggalkan vila tersebut menuju taman. Sebuah taman yang indah. Yang letaknya ada di pinggir kota. Nata harus menghabiskan waktu lebih kurang dua jam baru bisa tiba di taman tersebut.
Gosip itupun terdengar oleh pak Yahya yang baru saja turun dari kamar Nathan. Diapun langsung merasa penasaran dengan apa yang para pelan perempuan itu bicarakan.
"Barusan, kalian bicara soal apa? Siapa yang menangis saat keluar dari kamar tuan muda?"
Pak Yahya berucap sambil menuruni anak tangga.
"Eh, pak Yahya." Salah satu pelayan berucap langsung bangun dari duduknya yang dia duduki adalah anak tangga tempat pak Yahya ingin lalui.
"Itu, Pak. Soal nona muda yang tadi baru datang. Mm ... kasihan sih sama si nona muda. Dai turun dari lantai atas dengan air mata yang jatuh. Kita sapa juga dia gak nyahut. Kelihatannya, dia sangat sedih." Salah satu pelayan berucap dengan nada prihatin.
"Iya, pak Yahya. Kasihan itu si nona muda. Pasti sudah diomeli oleh tuan muda."
"Bukan diomelin, tapi kena marah tuh. Tuan muda kan suka marah sesuka hati. Gak mikir bagaimana perasaan perempuan sih."
"Hush! Jangan ngomong gitu kamu. Bahaya kalo tuan muda dengar. Bisa-bisa, kamu akan kehilangan pekerjaan kamu sekarang."
"Benar tuh. Jangan ngomong sembarangan. Tuan muda emang agak sedikit galak. Tapi hatinya itu baik kok. Jika tidak, mana mungkin kita digaji dengan gaji yang mahal. Makanan yang enak, kita bisa makan sesuka hati."
Begitulah para pelayan mengatakan soal Nathan. Mereka tidak menghiraukan keberadaan pak Yahya sebagai orang yang paling dekat dengan Nathan selama ini. Sedangkan pak Yahya pula, dia malah tetap diam dengan apa yang para pelayan itu katakan. Hingga pada akhirnya, salah seorang pelayan baru menyadari kalau diantara mereka ada orang kepercayaan Nathan.
"Ssst ... ada pak Yahya. Kok malah ngomongin tuan muda sih," kata salah satu diantara mereka dengan nada pelan.
Seketika, mereka semua langsung mengubah ekspresi mereka masing-masing. Tentu saja mereka langsung merasa tidak enak hati juga takut. Karena mereka baru aja bicara tentang Nathan sesuka hati.
"Ee ... pak Yahya. Maaf ya, tolong jangan katakan dengan tuan muda apa yang sudah kami bicarakan barusan."