
"Tunggu, Nona! Kenapa ingin pergi buru-buru? Sebaiknya, kita bicara saja berdua agar nona tidak merasa bosan saat menunggu atasan nona bertemu dengan atasan saya. Karena kebetulan, saya juga sedang tidak ada kerjaan saat ini."
Dengan tatapan kesal sekaligus tidak nyaman, Nila langsung menatap Niko. "Maaf, aku masih banyak kerjaan lain sekarang. Dari pada aku melayani kamu bicara, lebih baik aku duduk sendirian. Itu akan lebih baik."
Bukannya tersinggung dengan apa yang Nila ucapkan, Niko malah tertawa. Hal itu membuat Nila merasa bingung dengan apa yang Niko lakukan.
Selanjutnya, Niko lalu menjelaskan semua yang telah membuat Nila merasa tidak nyaman. Dan pada akhirnya, mereka berdua pun siap bicara dengan tenang.
Sementara itu, saat Niko dan Nila bicara baik-baik, Nathan dan Nathali malah bicara dengan keadaan yang cukup canggung. Karena sejak pertemuan pertama, Nata masih saja tidak merasa nyaman dengan Nathan. Meski wajah si pria tergolong yang sangat tampan, tapi dia tetap merasa tidak tertarik dengan pria yang sekarang ada di depannya. Karena itu, dia tidak ingin bicara lama-lama dengan Nathan.
"Aku langsung bicara pada pokok permasalahannya saja sekarang. Kedatangan aku ke sini hanya untuk mengajak kamu bekerja sama," kata Natha dengan nada yang sedikit tegang.
Ungkapan itu membuat Nathan menyipitkan satu matanya. Dia merasa bingung dengan apa yang Nata katakan.
"Maksud kamu apa? Kerja sama dalam masalah apa, Nona?"
"Jangan pura-pura tidak tahu. Karena aku yakin, anda tidaklah bodoh sebagai pria, bukan? Anda pasti sudah tahu siapa saya, tuan muda? Karena itu, mari bicara terus terang saja sekarang."
Nathan langsung terkekeh karena geli hati. Dia yang biasanya serius, kini malah ingin bersikap bar-bar di depan perempuan yang akan ia nikahi karena sifat tegas yang perempuan itu miliki. Nathan merasa tertarik dengan Nata saat ini. Karena itu, dia ingin terus menggoda Nata dengan berbagai cara.
"Nona Nathali sangat lucu ternyata. Aku memang bukan pria bodoh. Tapi, aku juga bukan pria yang serba tahu, Nona. Anda minta aku untuk bekerja sama, tapi tidak mengatakan dengan rinci prihal kerja sama yang anda inginkan dengan saya. Apa ... Nona ingin mempercepat pernikahan kita?"
"Aku tidak bisa menolak perjodohan yang papa dan mama ku buat. Karena itu, aku datang ke sini untuk bicara dengan kamu. Kita bisa menikah, tapi hanya berpura-pura saja. Bersikap layaknya pasangan hanya di depan keluarga. Sedangkan saat berdua, kita adalah orang asing yang tidak perlu mencampuri masalah pribadi satu sama lain."
Nata menjelaskan panjang lebar pada Nathan. Sontak, Nathan langsung menatapnya dengan tatapan lekat.
'Perempuan ini cukup menarik juga. Baru kali ini aku bertemu dengan perempuan yang sama sekali tidak tertarik dengan wajahku. Dia malah dengan lantang menyatakan kalau dia tidak ingin menikah dengan aku. Selama ini, sudah banyak perempuan yang mengejar aku dengan apa yang aku miliki. Tapi dia, malah menyatakan tidak untuk bersama jika bukan karena terpaksa.'
'Entah karena alasan apa, aku juga tidak tahu. Tapi, perempuan yang seperti ini sungguh langka. Karena itu aku tidak boleh melepaskannya. Jikapun tidak cinta, setidaknya aku tidak salah menerima dia sebagai pasangan. Karena dengan keberadaan dia, aku juga akan terbebas dari yang namanya perempuan gila yang suka ngejar-ngejar karena harta dan wajah yang aku miliki,' kata Nathan dalam hati.
Sementara itu, Nata yang merasa semakin kesal dengan sikap Nathan, kini sedang menggenggam erat tangannya. Ingin rasanya dia gebrak meja itu ketika melihat Nathan tidak menjawab apa yang ia katakan. Apalagi saat Nathan menatapnya dengan tatapan lekat, Nata rasanya ingin langsung memukul wajah Nathan.
Tapi sayang, itu tidak bisa ia lakukan. Karena sebagai seorang perempuan yang terdidik, bersikap kasar itu adalah pilih terburuk yang harus ia ambil. Selagi ia bisa menahan diri, kenapa harus ia melakukan pilihan terakhir itu.
"Maaf tuan muda, jangan berpikir terlalu lama. Apalagi menatap seseorang yang bukan milik anda. Itu adalah hal yang dangat-sangat tidak baik yang sudah anda lakukan sekarang," kata Nata dengan nada kesal mengingatkan Nathan.
Nathan yang diingatkan pun langsung tersenyum. "Nona bisa saja. Mm ... bukankah nona ini adalah calon istri saya. Jadi, apa yang saya lakukan sebelumnya tidaklah salah. Saya menatap apa yang seharusnya saya tatap, bukan?"
Wajah Nata terasa agak panas akibat pertanyaan itu. Dia yang kesal, kini sepertinya sudah hilang kendali. Pria yang ia anggap bisa ia ajak kerja sama sebelumnya, eh malah tidak sama dengan apa yang ia bayangkan. Hal yang sungguh sangat mengesalkan buat hati Nata.