Nathan & Nathali

Nathan & Nathali
*NN 27



Si pria malah tersenyum lebar. Senyuman yang cukup manis untuk dilihat. Tapi tidak bagi Nata. Karena hanya dengan sebuah senyum saja tidak akan mampu membuka hati Nata yang tertutup rapat.


"Maaf nona. Saya sudah membuat anda kaget. Bahkan, saya juga mungkin membuat nona merasa sangat kesal. Mm ... nama saya Birin, Nona. Anak .... "


"Birin ...! Kenapa kamu malah keluyuran!? Kerajaan kamu belum kelar nih."


Suara teriakan itu membuat perhatian si pemuda yang bernama Birin juga Nata langsung teralihkan. Sontak, keduanya langsung melihat ke arah di mana suara itu berasal.


Sebenarnya, suara itu sungguh tak asing lagi bagi Nata. Karena ini adalah taman favorit Nata, jadi dia juga cukup kenal dengan pengurus taman tersebut.


Ya, suara tadi memang berasal dari seorang pria paruh baya yang sudah puluhan tahun menjadi pengurus taman indah ini. Nata kenal dengan orang tua itu karena dia cukup sering datang. Apalagi ketika waktu pertama kali patah hati, hampir setiap hari ia datang ke taman itu setelah pulang sekolah.


Dia akan menghabiskan waktu sisa setelah pulang sekolah ke taman tersebut. Meskipun hanya sebentar, tapi itu sudah membuat hati Nata bahagia.


Nata bangun dari duduknya. Bapak pengurus taman itu pun langsung bisa melihat wajah Nata dengan baik. Dan, dia langsung mengenal Nata setelah melihat wajah Nata.


"Eh, non Nata." Si bapak berucap dengan senyum manis.


Sama seperti anaknya yang langsung meninggalkan pekerjaan ketika melihat Nata, bapak tersebut juga melakukan hal yang sama. Berjalan cepat untuk menghampiri Nata secepat.


"Pak Amit, apa kabar?" tanya Nata sambil mengulurkan tangan setelah si bapak berada di dekatnya.


"Baik, non Nata. Non Nata apa kabarnya nih? Udah lama bapak gak pernah lihat non Nata datang ke sini. Mm ... apa semua baik-baik aja, Non?"


Pertanyaan itu langsung membuat Birin jadi bingung. Sepertinya, ayahnya cukup mengenal perempuan yang baru pertama ia temui dengan cukup baik. Karena hal tersebut, Birin pun hanya bisa menjadi penoton saja sekarang.


Sementara Nata, dia tidak langsung menjawab pertanyaan pak Amit. Karena sejujurnya, pak Amit pun memang cukup kenal Nata dengan baik. Karena pertama kali Nata datang ke tempat ini, pak Amit lah yang berusaha menghibur Nata meskipun tidak berhasil sama sekali.


Karena melihat Nata hanya diam. Birin pun berpikir dua harus mencairkan suasana yang sedang membeku karena pertanyaan sang ayah.


Benar saja, pertanyaan itu mampu mencairkan suasana yang sedang membeku. Terbukti dari Nata yang langsung menatap Birin dengan cepat.


"Ayah? Kamu ... anak pak Amit?" Nata berucap dengan nada tak percaya.


"Iya, non Nata. Dia Sobirin, panggilannya Birin. Dia anak bapak yang waktu itu tinggal di desa bersama neneknya. Sekarang, setelah neneknya tiada, dia kembali pulang dan ikut membantu bapak bekerja menjaga taman ini, non."


Pak Amit dengan cepat menjawab. Sementara sang anak hanya bisa ternganga karena niatnya untuk menjawab sudah keduluan oleh si ayah.


"O ... oh. Jadi dia anak lelaki bapak itu? Mm sudah lama kenal dengan pak Amit, baru kali ini bertemu dengan anak yang selalu bapak ceritakan dulu pada saya."


Dan, mereka bertiga pun ngobrol bersama. Tercipta suasana hangat saat mereka bertiga ngobrol. Nata pun bisa sedikit melupakan kesedihan dan masalah yang sudah ia alami sebelumnya.


Ditambah lagi, Birin ini adalah pria yang pandai menghibur. Dia juga suka bercanda. Nata langsung merasa akrab walau baru pertama kali bertemu dengan dia.


Dari pagi, kini langsung beralih siang dengan cepat. Tak terasa, mereka ngobrol cukup lama sampai lupa akan waktu. Kerjaan pak Amit dan Birin pun tertunda, dan mereka memutuskan untuk melanjutkan pekerjaan mereka merawat tamam besok harinya saja.


"Mm ... non Nata beneran ingin pulang aja? Gak mau mampir ke rumah kami, Non?" Pak Amit langsung menawarkan untuk singgah sebelum. tawaran itu Birin buat.


"Iya, Non. Mampir ke rumah kami aja. Ini udah cukup siang lho. Ibu pasti udah masak. Ya ... meskipun tidak seenak dan semewah masakan yang pernah non Nata makan. Tapi, masakan ibu ku juga sangat enak lho, Non." Birin yang sejak awal berniat untuk mengajak Nata mampir, tentu langsung menyambut ucapan ayahnya dengan cepat.


"Mm ... pak Amit, mas Birin. Untuk hari ini, kayaknya gak bisa deh. Temanku udah beberapa kami menghubungi aku. Aku ada janji buat bertemu dengannya siang ini. Dan ... lagian aku punya rapat penting nanti sore. Maaf ya," ucap Nata dengan nada penuh sesal.


...______________________________________________...


Catatan. "Teman-teman, maaf untuk komen yang belum sempat aku balas. Sekarang, sedang sangat sibuk. Ngejar target bulanan. Maklum, bentar lagi puasa. Harap maklum yah semuanya. Tolong jangan kesal kalo komennya belum ada yang aku balas. Terima kasih banyak atas dukungan kalian. Aku rajin nulis juga karena kalian yang selalu mendukung aku. Meski komen belum aku balas satu persatu. Tapi komennya udah aku baca kok. Love you all ....