
Di sisi lain, makan siang Niko dan Nila berantakan karena amukan Nathan. Dia yang kesal akan apa yang sudah Nata katakan langsung menghubungi Niko secepatnya. Lalu, Nathan meminta Niko datang bertemu dengannya.
"Ya Tuhan. Ini hari libur, Than. Kamu bisa gak sih gak ganggu aku di hari libur, hm? Aku juga ingin menikmati hariku dengan baik."
"Apa!? Kamu bilang apa barusan? Ingin menikmati hari dengan baik? Bagus, kalau begitu, aku akan kirimkan kamu ke daerah Timur Tengah. Di sana, kamu bisa menikmati hari dengan baik bersama padang pasir yang gersang, juga unta yang banyak. Bagaimana?"
Mendengar ancaman itu, mau tidak mau, Niko langsung meninggalkan Nila. Untung saja Nila adalah perempuan yang pengertian. Sebagai sahabat, sekaligus asisten, mereka berdua cukup paham dengan apa yang harus mereka lakukan. Karena itu, Nila tidak ambil pusing dengan rencana makan siang yang gagal.
"Sekali lagi, Nila. Maafkan aku yang harus pergi sekarang. Aku yakin, ini pasti ada hubungannya dengan Nata. Karena itu, Nathan tidak bisa tinggal diam sendirian."
"Aku gak papa. Kamu pergi saja. Makan siang kita bisa dilanjutkan lain waktu. Lagian, kita juga sudah sering makan siang bersama, bukan?"
"Mm ... mungkin iya ada hubungannya dengan Nata. Tapi, aku masih belum dapat kabar jika memang ada masalah besar. Oh, mungkin Nata belum siap untuk menghubungi aku, Nik."
"Mm ... iya kali. Ya sudah kalo gitu, aku pergi sekarang."
Nila hanya mengangguk menjawab apa yang Niko katakan. Selanjutnya, Niko meninggalkan Nila dengan langkah besar. Bergegas pulang untuk bertemu Nathan adalah pilihan terbaik meski hatinya sangat kesal dengan Nathan saat ini.
Hampir satu jam berlalu, akhirnya, Niko tiba di vila. Saat itu, dia melihat Nathan yang duduk menyendiri di taman. Jika begitu, hanya ada dua anggapan yang bisa Niko pikirkan. Jika tidak sedang bahagia, maka sangat banyak masalah. Karena Nathan tidak akan ada di taman jika tidak ada dua perasaan tersebut.
'Aku yakin sekarang, Nathan pasti banyak masalah atau sedang marah besar. Karena dia sudah lama tidak merasa bahagia. Maka taman ini juga sudah lama tidak ia kunjungi. Padahal ada di samping rumah. Dasar,' kata Niko dalam hati sambil terus berjalan mendekat.
"Ehem. Nathan. Aku .... "
"Lo ke mana aja sih? Lama banget baru munculnya?"
Baru juga Niko mau bicara, Nathan yang memang sedang kesal langsung nyembur saja. Hal tersebut membuat Niko harus menarik napas dalam-dalam, lalu melepas napas tersebut dengan kasar.
Nathan terdiam. Mungkin karena benaknya sangat membenarkan apa yang Niko ucapkan barusan. Maka dari itu, dia tidak menjawab apa yang Niko katakan sesegera mungkin.
"Sebenarnya, ada masalah apa sih, Than? Kenapa kamu begitu kesal saat ini? Sampai-sampai, kamu tidak bisa menunggu aku selesai makan terlebih dahulu saat ingin bertemu."
Nathan langsung menatap tajam Niko.
"Ini soal Nata. Aku ingin segera mengusir dia dari vila ku. Aku sudah tidak ingin dia tetap tinggal di sini. Dan, katakan padaku apa kamu sudah bercerita tentang masa laluku padanya!"
Sedikit rasa takut tiba-tiba muncul dalam hati Niko saat ini. Ingin menyangkal, tapi tidak bisa. Terpaksa, dia menjawab pertanyaan Nathan dengan jujur.
"Ya. Aku sudah menceritakan semuanya pada Nata." Niko berucap dengan suara pelan.
Ucapan itu langsung membuat Nathan naik darah kembali. Dengan wajah penuh amarah, dia langsung membentak Niko. "Kenapa! Kenapa kamu ceritakan!? Apa kamu sangat ingin dia menertawakan aku, Niko!?"
"Tidak. Aku tidak ingin dia menertawakan kamu, Than. Aku bercerita karena hanya untuk kebaikan kalian berdua. Perjodohan itu sudah diatur karena kedua tetua merasa kalian cocok."
Nathan langsung tertawa karena ucapan Niko barusan. Sungguh, hatinya merasa sangat geli sekali dengan kata cocok untuk dirinya dengan Nata.
"Hah? Kamu bilang kami cocok? Yang benar saja, Niko. Kau tahu, karena dia aku malu. Karena dia, aku merasakan rasa sakit yang sudah susah payah aku lupakan beberapa tahun yang lalu. Dan, karena dia, aku merasa sangat kesal hari ini."
"Karena kau sudah mengatakan masa laluku padanya, Nata dengan sesuka hati mengatakan kalau aku yang salah. Aku pantas dibenci oleh perempuan. Dan, aku tidak pantas untuk mendapatkan cinta. Apa itu kebaikan yang kamu maksudkan untuk aku, Niko?"
"Nathan! Sebenarnya, apa yang Nata katakan itu mungkin benar."
Makin memerah mata Nathan akibat pembenaran Niko atas kata-kata yang Nata ucapkan barusan. Sungguh, dia tidak percaya dengan apa yang baru saja kupingnya dengar.