Nathan & Nathali

Nathan & Nathali
*NN 38



Salsa yang dapat tatapan langsung merasa serba salah kembali. Dia dengan ragu menatap Nathan juga mama Nathan secara bergantian.


"Maaf tante, kak Nathan. Apa aku salah bicara barusan? Jika iya, maafkan aku. Aku hanya bicara apa yang ada dalam pikiranku saja."


Mendengar kata-kata yang Salsa ucapkan, mama Nathan segera berucap. "Ee ... kamu itu nggak salah kok, Salsa. Ya ampun, dasar anak polos. Lugu banget kamu, Nak."


"Than, kamu maklumin aja apa yang dia katakan. Gadis polos kek Salsa emang agak langka, Nak. Jadi, dia ini pilihan terbaik jika ingin dijadikan istri. Gak ada sandiwaranya sama sekali."


Mama Nathan malah menjadikan hal tersebut kesempatan untuk memuji Salsa agar Nathan bisa tertarik. Sayangnya, Nathan tidak bisa menerima pujian itu. Sementara Salsa, ia pun hanya bisa tersenyum kecil saja.


Senyum malu-malu akibat pujian yang mama Nathan berikan. Tapi, matanya tidak memperhatikan Nathan, melainkan, memperhatikan Niko yang ada tak jauh darinya saat ini.


Pertemuan itu berakhir dengan makan malam di luar. Mama Nathan tidak ingin makan di sana karena merasa tidak nyaman dengan Nata. Niat makan malam di luar Salsa sambut dengan sangat bahagia. Sementara Niko juga merasa sedikit lega akibat makan malam di luar. Karena dengan begitu, dia tidak akan menyaksikan Nathan yang terus merendahkan Nata lagi malam ini. Apalagi di depan orang tua Nathan sendiri. Hal yang sungguh tidak mengenakkan hati.


.....


Satu minggu telah pun berlalu. Hubungan antara Nata dan Nathan masih tetap buruk. Tidak ada perubahan sedikitpun. Sementara hubungan Niko dan Nila semakin erat saja.


Keduanya sudah banyak menghabiskan waktu bersama di luar. Yah, meskipun dengan alasan pekerjaan, atau alasan untuk membahas hubungan sahabat mereka masing-masing. Yang jelas, hubungan mereka bertambah erat saja.


Nathan yang semakin semena-mena membuat Nata merasa agak tidak kuat lagi. Tapi, Nila dan Niko selalu memberikan ia semangat. Hingga dia mampu melewati satu minggu terakhir dengan sabar.


"Kau bukan majikan di sini, Nat. Ingat itu!" Nathan bicara dengan nada tinggi ketika Nata menegur Salsa yang sudah menjatuhkan vas bunga akibat kecerobohan Salsa.


Yah, Salsa jadi sering datang ke vila tersebut setelah malam itu. Entah apa alasannya, yang jelas, dia semakin sering menampakkan wajahnya di depan Nata.


"Tetap aja, dia gak ada hak buat negur kamu. Karena status kamu lebih tinggi dari dia di sini."


Sontak, ucapan itu membuat mata Nata melebar. Entah kenapa, ucapan itu terasa sangat menyakitkan hati Nata. Entah karena Nathan yang membela gadis lain di depannya. Atau memang karena kata-kata itu terlalu kasar. Yang jelas, hati Nata sangat sakit sampai tidak bisa bersabar lagi.


"Apa kamu bilang!? Status aku lebih rendah dari dia!? Oh, sungguh kau orang yang begitu memandang status ternyata. Kalau begitu, gak salah kamu di sakiti oleh perempuan lain sebelumnya. Karena kamu sendiri memang pantas untuk di sakiti, Tuan muda Nathan Murad yang terhormat. Tapi sayang, tidak punya pikiran!"


Sungguh kata-kata yang luar biasa kerasnya. Ucapan itu langsung memukul mental terdalam Nathan. Karena setelah ucapan itu Nata ucapkan, tubuh Nathan terasa membeku seperti batu yang sangat keras.


"A-- apa!? Kamu bilang apa ... barusan?" Nathan berucap dengan suara bergetar. Dengan tangan menggenggam erat, dia menatap tajam ke arah Nata yang ada di hadapannya saat ini.


Belum sempat Nata menjawab, atau Nathan melanjutkan ucapannya, Salsa yang ada di antara mereka langsung ambil bagian. Dia langsung menjadi penengah dengan cara berdiri di antara Nathan dan Nata.


"Cukup. Kenapa kalian malah bertengkar semakin hebat? Ini hanya masalah kecil sebelumnya."


"Diam!" Nathan dan Nata reflek berteriak dengan nada tinggi ke arah Salsa. Hal tersebut langsung membuat Salsa jadi kaget bukan kepalang.


Karena teriakan itu pula, Salsa jadi membatu selama beberapa detik. Hingga akhirnya, dia tidak bisa menahan perasaan terkejutnya itu. Maklum, anak manja mama tidak pernah mendengar teriakan keras. Mana dari dua orang sekaligus lagi. Tentu sangat mengejutkan buat Salsa sekarang.


"Haiks, kalian ini kok malah membentak aku sih? Niat aku itu baik. Ingin menghentikan perdebatan di antara kalian. Kenapa kalian malah membentak aku?"


"Ini semua gara-gara kamu. Coba aja kamu tidak datang dan bikin masalah. Maka vila ini tidak akan ada keributan. Paham!?" Nathan bicara dengan nada kesal pada Salsa. Setelah itu, dia menoleh ke arah Nata.


"Dan, ini juga karena kamu. Gak tahu diri kamu ini yah. Sudah numpang di sini. Malah bikin rusuh. Perempuan itu selalu menyebalkan. Selalu bikin rusak suasana."