My world

My world
Chapter 8 - Pameran 'Dunia' II



Eta menatap malas Gabriel. Hatinya sudah dibuat berdebar tak karuan, tapi semua itu berakhir sia-sia. Pria ini sedang menyatakan perasaannya pada Raya lewat Eta.


"Gabriel." Panggil Eta.


"Ya?" Gabriel menatap Eta dengan serius, rona merah di pipinya nampak samar.


"Kenapa kau mengatakan ini kepadaku?"


"Itu... karena kau adalah teman Raya." Gabriel menjawab dengan wajah tersipu malu, kini mukanya semerah tomat.


Eta mengernyit tidak mengerti, "Mari kita jabarkan masalah ini. Kau menyukai Raya, tapi malah mengajakku kemari dan mengatakan bahwa kau menyukai Raya kepadaku, begitu?"


Gabriel mengangguk tanpa mengatakan apa pun.


"Intinya, apa kau ingin aku memperkenalkanmu kepada Raya? Dan kau berpikir, itu adalah langkah awal sebelum pada akhirnya kau berniat mendekati Raya untuk memacarinya. Aku salah?"


Kali ini Gabriel menggeleng.


"Jadi, aku tidak salah." Eta terbatuk kecil, menghilangkan perasaan kesal di hatinya karena merasa terkhianati. Bukannya dia ingin berharap, tapi tindakan Gabriel awalnya terlalu jelas. "Gabriel, apa kau tahu..."


Gabriel menoleh pada Eta, menunggu temannya itu melanjutkan kalimatnya dengan sabar.


"Raya sudah memiliki pacar."


Sedetik kemudian, tubuh Gabriel membeku. Wajahnya yang malu-malu barusan tergantikan oleh ekspresi syok. Pastinya, dia tidak mengetahui bahwa Raya telah memiliki pacar. Pantas saja Gabriel mendekati Eta, dia ingin Eta mengenalkannya pada Raya.


"Kau tidak tahu?" Tanya Eta.


Gabriel menggeleng keras.


Aneh. Padahal Raya dan pacarnya itu selalu menebar cinta warna-warni ketika mereka bersama. Orang-orang yang melihatnya akan langsung tahu bahwa mereka pacaran. Tapi, manusia yang satu ini...


Tidak habis pikir dengan lambatnya Gabriel jika soal percintaan, Eta hanya mendengus malas. "Pacarnya Raya itu, kalau tidak salah namanya Defri. Dia adalah salah satu anggota inti klub basket. Sepertinya dia dari kelas XI IPA 1."


Gabriel kembali tersadar, "Bukankah dia adalah pria populer yang digemari banyak wanita karena ketampanannya?"


Mau tak mau, Eta mengangguk membenarkan. Meskipun menurutnya sendiri, Defri ini agak sinting untuk ukuran pria tampan.


"Pantas saja. Haish, aku bahkan sudah kalah sebelum berperang." Gabriel menghembuskan napas dengan gusar.


Tidak. Defri bahkan sudah menang sebelum kau memutuskan untuk terjun ke medan perang.


"Pokoknya, tidak peduli kau temanku, aku takkan membenarkan semua tindakanmu jika kau berniat memisahkan Raya dan Defri. Karena Raya terlihat sangat bahagia ketika bersama si tampan yang populer itu." Eta mengorek telinganya dengan malas.


Melihat Gabriel yang sedih, Eta jadi bersimpati. Awalnya dia memang kesal karena sudah diberi kode-kode jelas yang ternyata dia salah tangkap. Tapi, pada akhirnya, Gabriel tetaplah temannya.


Menurut Eta yang bahkan tidak pernah pacaran sekalipun, Gabriel adalah orang yang payah dalam hal cinta. Dia sangat kikuk dan canggung di depan gadis yang ia sukai. Seharusnya Eta sadar, karena Gabriel selalu bersikap santai di sekitarnya. Parahnya lagi, temannya yang kaya tujuh turunan ini bahkan tidak bisa menarik perhatian para gadis dengan uangnya.


Secara penampilan, Gabriel memang sangat sederhana. Tapi, pakaian sederhananya ini harganya tidak main-main. Apa orang-orang buta makanya selalu salah menilai Gabriel hanya seorang siswa lembek yang bahkan tidak pernah bisa lulus praktik olahraga.


Eta memperbaiki kacamatanya, "Jangan khawatir. Kau mungkin masih bisa berteman dengannya."


"Tidak, ah. Daripada merasa sakit hati, lebih baik aku menjauh dan mengobati patah hatiku dulu."


Eta menepuk-nepuk pundak Gabriel pelan, upaya menenangkan pria yang sedang patah hati ini. Memang sulit menerimanya, karena sekilas Gabriel serius untuk mendekati Raya. Sayangnya, dia telat lima langkah dari Defri.


"Aku penasaran bagaimana kau bisa menyukai Raya." Gumam Eta.


"Heh?"


"Ah! Kau tidak perlu menceritakannya kalau tidak ingin. Mengingat Raya tidak baik untuk hati dan jiwamu." Sergah Eta.


"Tak apa. Aku sudah mendekatimu dengan niat buruk sejak awal. Hanya Alan yang mengetahui hal ini, selanjutnya adalah kau."


Eta segera memperbaiki posisi duduk, mencari posisi paling nyaman untuk mendengarkan cerita. Dia bahkan rela menunda untuk menghabiskan crêpe miliknya.


"Itu semua bermula dari pemilihan anggota MPK dan OSIS. Ketika sesi perkenalan, Raya tampil lebih dulu dibandingkan aku. Dia sangat hebat, kemampuan berbicaranya di depan khalayak ramai membuatku terkesan dan mengaguminya."


Aku ingat Gabriel mendadak blank dan berakhir tidak terpilih sebagai anggota pengurus MPK OSIS.


"Eh, jangan katakan padaku alasan kau mendadak blank waktu itu adalah..." Eta menduga-duga.


Gabriel hanya tertawa kecil, "Kau benar. Aku menjadi tidak fokus ketika berdiri di depan dan Raya memperhatikanku. Semua usahaku selama tiga minggu berlatih menjadi sia-sia. Padahal setelah sesi perkenalan, masih ada sesi wawancara. Tapi, aku gugur di tahap pertama."


Aku merasa beruntung.


Sungguh, Eta tidak mengira bahwa kenyataan pahit yang menampar keras-keras ekspetasi Gabriel bisa membuatnya sejatuh ini. Eta bisa melihat bahwa ada sesetes air mata yang mengalir melewati pipi Gabriel. Pria itu tengah patah hati.


Walaupun bukan salahnya Gabriel menangis. Dalam hatinya, Eta tetap merasa bersalah, tidak tahu kenapa.


Gabriel segera membendung air matanya yang jatuh dengan lengannya. Dia menunduk dalam agar tidak ada orang yang tahu bahwa dia menangis. Namun, Eta duduk di sebelahnya. Mustahil dia tidak tahu.


Eh?! Apa yang harus kulakukan saat ini?


Tidak tahu harus berbuat apa. Karena ini kali pertama ada seorang lelaki yang menangis di hadapannya. Biasanya dia hanya menghadapi para perempuan, dan yang dia lakukan hanyalah duduk diam menemaninya sampai tangisan mereka habis sambil memeluknya. Tapi, tidak tahu apakah cara ini ampuh untuk lelaki.


Dengan ragu dan hati-hati, Eta membawa Gabriel ke dalam pelukannya. Kemudian dia mengelus punggung Gabriel dengan lembut, memberitahukan bahwa Eta ada bersamanya.


Meskipun terkejut, tangis senyap Gabriel terus berlanjut. Dia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Eta. Karena tidak berani memeluk Eta kembali, akhirnya dia hanya mencengkeram ujung pakaian Eta.


"Jika kau bisa menerima ini dengan lapang dada, kau sangat hebat, Gabriel."


Tidak ada jawaban dari Gabriel, menangis tanpa suara dan hanya sesenggukan. Eta bahkan rela mengulur waktu lebih lama untuk menghabiskan crépe-nya untuk teman sekelasnya ini.


"Kau pasti bisa menemukan yang lebih baik dari Raya. Tidak peduli jika itu sekedar cinta monyet karena kita masih remaja labil. Aku berharap kau segera menemukannya." Bisik Eta lagi.


Kini, Eta bisa merasakan Gabriel mengangguk di lehernya.


Eta tersenyum tipis.


Cinta memang sepaket dengan rasa sakit.


...****...


"Kita pulang?" Tanya Eta.


Ia menatap Gabriel yang masih menatap kosong ke tanah dengan mata sembapnya. Bahkan pundak Eta masih basah akibat dibanjiri oleh air mata. Crêpe Eta sudah habis, tapi milik Gabriel masih utuh, dia tidak selera makan setelah menangis.


"Apa aku terlihat seperti baru saja menangis?"


"Sangat."


"Seperti biasanya kau selalu menjawab dengan jujur, huh." Gabriel tersenyum getir.


"Kau ingin aku membohongimu?"


"Tentu saja tidak."


"Kita pulang?" Tanya Eta sekali lagi.


Gabriel mengangguk kecil. Dia mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Pasti dia akan meminta dijemput oleh supir yang saat berangkat tadi mengantar mereka. Tidak tahu apakah Mama Gabriel akan ada di sana.


"Dia akan datang dalam setengah jam kalau jalan lancar."


"Ayo kita kembalikan ID-card ini dulu."


Di dekat meja registrasi, Eta dan Gabriel duduk menunggu untuk dijemput. Setelah mengembalikan ID-card, Gabriel diam membisu dengan tatapan kosongnya. Bagi Eta, ini sangat berbahaya jika Gabriel memikirkannya lebih lanjut.


"Risa?"


Eta tertegun, dia mengenali nama panggilan ini. Nama panggilannya yang diberikan oleh Ketua OSIS yang disukainya. Eta segera menoleh ke sumber suara untuk menemukan sosok Atlas berdiri tak jauh darinya bersama dengan Yuda.


Atlas juga tak mengatakan apa pun lagi. Matanya terus memperhatikan. Pria di samping Eta tampak seperti baru saja menangis, matanya sembap. Dan ketika melihat pundak Eta yang basah, Atlas bisa menerjemahkan keadaan ini dengan sekejap.


Mobil keluarga Gabriel berhenti di depan mereka berempat tak lama kemudian. Duduk di samping sang supir, Mama Gabriel dengan senyum khasnya menyapa Eta.


"Anak-anak, sudah selesai berkelilingnya?"


Atlas menatap mobil mewah di sampingnya dengan wajah ditekuk. Dugaannya barusan sepertinya tepat sasaran.


Eta mendadak berubah canggung, situasi ini membuat perutnya sakit.


Astaga, atmosfernya sangat berat.


TBC