
"Alan..."
Eta menggigit bibirnya, dia bertemu dengan orang yang paling tidak dia harapkan. Bukannya apa, tapi sesuai julukannya. Manusia menyebalkan ini terlalu peka untuk dibohongi oleh lidah.
Sekuat mungkin Eta menekan gejolak emosi di dalam dirinya. Meledak di depan Alan bukanlah hal bagus sama sekali. Alan memang bukan tipe penggosip, tapi Eta hanya berjaga-jaga.
"Kenapa kau masih ada di sekolah jam segini?"
"Yeah, kau ingat jika aku masuk klub futsal beberapa hari sebelum class meeting? Latihannya sangat menyenangkan, jadi kuteruskan saja. Kata Pembina Ekskul, aku ini punya bakat terpendam."
Mulai lagi sifat narsisnya ini.
"Baguslah kalau begitu."
"Apanya?" Tanya Alan.
"Maksudku, bagus karena sekarang kau tidak langsung pulang setelah sekolah. Akhirnya kau punya ekskul juga untuk diikuti." Eta menjawab asal.
Sebagian dari jawabannya sebenarnya benar. Meski anggota bayangan, dia tetap setengah rajin untuk mengikuti rapat. Jadi, dia merasa iri kepada para siswa dan siswi yang selalu langsung pulang setelah bel berbunyi di periode terakhir.
"Kau sangat aneh."
Eta menunduk, dalam hati masih menata hatinya. Dia enggan untuk menangis di depan Alan. Alan pasti akan mengejeknya karena dia sudah mendengar Eta berkali-kali meremehkan cinta monyet.
"Hm?"
Saat itulah Eta menemukan hal yang menarik. Ia baru sadar setelah beberapa menit berbicara dengan Alan. Ternyata, di lengan Alan terlingkar sebuah handband. Dan itu adalah pemberian Eta untuk jimat kemenangan class meeting.
"Apa itu? Kau masih memakainya?"
"Oh, kau baru menyadarinya. Setelah dipakai, jimat ini memberikanku banyak keberuntungan saat bertanding." Alan menunjuk handband di lengannya dengan bangga.
Eta menautkan alisnya.
"Sungguh? Padahal kau meremehkan mahakarya buatanku ini sebelumnya. Lagi pula, kemenangan itu ditentukan oleh kemampuan dan keberuntungan. Jimat seperti ini tidak akan berpengaruh."
"Hei, ucapanmu sangat bertolak belakang dari yang sebelumnya."
Eta berbalik, hendak meninggalkan Alan. Dia juga ngeri kalau ketahuan berada di sini oleh Atlas ataupun Risa. Pokoknya jangan sampai kedua orang itu menyadari keberadaannya.
Alan melirik kecil, melihat ke tempat di mana Eta mengintip sebelumnya. Ia menarik sudut bibirnya ke atas.
"Risa."
Deg!
Dengan cepat Eta merespons. Dia berbalik lagi menghadap Alan yang malah melempar senyum penuh makna kepadanya. Mata Eta menatap menusuk. Dugaannya tidak pernah salah tentang si manusia paling peka satu sekolah ini.
"Cinta monyet itu seperti petir. Terjadi sangat cepat lalu berakibat fatal jika terkena olehnya."
"...."
Senyum Alan semakin lebar.
"Untung saja itu masih jatuh cinta. Akan gawat jika sudah masuk fase sakit cinta. Tahap selanjutnya adalah obsesi dan itu sama sekali tidak sehat. Tapi, orang seperti Peta jelas tidak akan memasuki fase sakit cinta apalagi obsesi."
Mata Eta menyipit.
"Aku tidak mengerti ucapanmu."
"Yeah, tapi aku sangat mengerti ucapanku. Karena aku pernah mengalaminya. Bahkan lebih dulu darimu."
Alan terdiam. Senyum di wajahnya sempat menghilang selama beberapa detik dan kembali lagi. Jika Eta melihatnya dengan jeli. Saat ini Alan terkesan seperti orang yang berbeda.
"Di tahun kedua SMP, aku menyukainya. Dia tidak banyak tingkah, pintar dan punya senyuman yang manis. Sayang sekali, dia menyukai orang lain. Karena patah hati, aku keluar dari ekskul. Dulu aku sangat bodoh 'kan? Untung sekali sakit cintaku tidak berubah menjadi obsesi."
Suasana hening tercipta. Mungkin diamnya Alan adalah karena dia sedang bernostalgia tentang gadis yang disukainya ketika kelas dua SMP. Alan mengatakannya sebagai kebodohan, dan Eta menyetujuinya. Namun, Alan melontarkan satu kebohongan dalam kalimatnya.
Senyum Alan merekah. Kali ini tidak terkesan mengerikan seperti sebelumnya. Hanya senyum penuh keceriaan seperti semangat pagi.
"Ayo anggap percakapan ini tidak pernah terjadi."
Tatapan Eta berubah miris.
Alan...
Dia berbohong tentang obsesinya.
"Apa ada gosip terbaru?"
Nyaris saja Eta menimpuk Devan dengan bantal di pelukannya. Tapi berhubung dia sedang dalam mode gadis kalem, Eta takkan melakukannya. Ditambah dia tidak punya energi setelah semua tekanan untuk emosinya. Ingin sekali Eta meledakkan emosi dalam dirinya.
"Kau tahu Devan, ternyata Risa bukan hanya sekedar nama panggilan."
Setelah sekian lama bungkam, akhirnya Eta berbicara. Melihat kesempatan diceritakan berita hangat oleh Eta, Devan jelas tidak mau menyia-nyiakannya. Dia langsung mengambil posisi ternyaman untuk mendengarkan.
"Jadi, ada apa?"
Hening.
"Kau ingat kalau Kak Atlas memanggilku Risa, bukan?"
"Iya, lalu?" Devan mengangguk cepat, menunggu kelanjutan cerita.
"Itu adalah nama teman sekelasnya, Risa. Sepertinya dia memanggilku seperti itu karena aku mirip dengannya. Bedanya, Kak Risa lebih cantik dariku." Jelas Eta.
Devan kembali mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Dan kau tahu? Tadi, aku melihat Kak Risa memeluk Kak Atlas."
Mata Devan terbuka, dia terkesiap. Langsung duduk di samping Eta dengan tatapan tak percaya. Otaknya yang jarak digunakan untuk berpikir mendadak seperti mendapat petunjuk.
"Eta, tidak mungkin kau tidak tahu apa yang terjadi. Mungkin saja mereka punya hubungan lebih dari teman tapi terhalang oleh peraturan organisasi. Karena katamu Kak Risa juga anggota pengurus OSIS."
"Aku tahu."
"Lalu?"
Eta mengernyit, perasaan tidak enak inilah yang sejak tadi menggumul di hatinya. Perasaan kecewa yang amat sangat. Namun, pertanyaan besar Eta adalah...
"Kenapa aku merasa kecewa?"
Devan melongo, menepuk dahinya dengan keras. Ayolah, ini tidak seperti Eta tidak pernah membaca novel romansa. Sehingga dia sama sekali tidak mempunyai petunjuk kenapa merasa kecewa. Setidaknya sekali saja dia pernah membaca novel romansa atau menonton versi drama.
"Kau pernah mengatakan kepadaku bahwa kau menyukai Atlas."
"Hum? Menyukai atlas? Ya, tentu saja."
"Tidak. Bukan atlas buku, melainkan orang."
"Ouh..." Wajah Eta seketika menghangat, lalu dia mengangguk kecil dengan wajah bersemu layaknya stroberi matang.
"Kau yakin itu bukan sekedar rasa kagum seperti halnya Alois?"
Eta menoleh, tatapannya berubah risih. "Kenapa malah dihubung-hubungkan dengan Alois sih?"
"Sebab jika kau menyukai Kak Atlas karena kelebihan yang dia miliki. Maka, itu bukan suka ataupun cinta melainkan rasa kagum. Jujur saja, kau tidak bisa menyebut Alois sebagai cinta pertamamu karena kau hanya kagum pada kecerdasannya."
"Tetapi, menyukai seseorang tanpa alasan itu bukannya tidak masuk akal? Tidak logis. Jika tidak logis, maka aku tidak percaya." Eta bersikeras dengan prinsipnya. Sudah tidak diragukan lagi kalau Eta adalah tipe orang yang tak percaya pada mitos dan legenda.
Lagi-lagi Devan nyaris membuang teman masa kecilnya ke dalam got di samping rumah. Bagaimana bisa Eta memelihara kebodohan? Oke, dia peringkat umum kedua, tapi dia bodoh dalam percintaan.
"Kapan kau akan paham tentang percintaan sih?" Devan mengeluh.
Mendengar curhatan Eta. Bukan seperti dia sedang cemburu karena cinta, melainkan bertanya-tanya kenapa merasa kecewa dan marah. Itu menyebalkan bagi Devan yang sudah khatam dunia asmara dari prolog hingga epilog.
"Huh? Bercinta?"
"WOI!" Kesal Devan.
Dia mengempaskan tubuhnya keras ke badan sofa. Masih sebal melihat betapa tumpulnya Eta mengenai cinta. Yah, Ayahnya tidak pernah mengajarkan tentang itu. Ketika mereka berbicara, pasti hanya menyangkut pengetahuan umum, ensiklopedia, bencana alam dan banyak lagi yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan cinta.
Devan sendiri tidak punya otak motivator apalagi psikolog. Dia hanya menyatakan apa yang terpikirkan olehnya. Sederhana sekali memang.
"Jika kau menyukai seseorang, namun tidak tahu kenapa bisa menyukainya. Maka itulah cinta sejati. Kau telah jatuh cinta."
Eta tetap tidak setuju dalam hatinya. Sesuatu yang tidak memiliki alasan itu aneh. Hukum sebab-akibat itu seharusnya berlaku juga dalam kemunculan perasaan romantis.
"Kemungkinan perasaanmu pada Kak Atlas juga hanya sebatas kagum. Kau kesal saat gadis bernama Risa ini memeluknya bukan karena kau menyukai Kak Atlas. Tetapi kau tidak suka jika idolamu dekat dengan seseorang. Saat ini posisimu seperti penggemar artis Korea dan Kak Atlas adalah idolamu."
Kenapa perasaan cinta itu harus diistimewakan sampai-sampai dianggap masuk akal meskipun tanpa logika?
TBC