
Atlas memandangi arloji di pergelangan tangannya. Lalu beralih pada layar kunci ponselnya. Begitu terus sampai Yuda yang duduk di samping Atlas merasa jengkel.
"Itu tidak akan berubah berapa kali pun kau melihatnya."
"Aku tahu."
Yuda juga sadar kenapa Atlas mendadak terlihat linglung seperti ini. Kemarin adalah hari hitam bagi Eta. Kedua orang tuanya dinyatakan meninggal setelah mengalami kecelakaan tunggal.
Yuda juga tidak bisa memberi saran kepada Atlas untuk mengunjungi Eta. Kunjungan Atlas hanya akan membawa dampak buruk pada Eta. Tetapi, Yuda tidak ingin Atlas terus begini.
"Bagaimana jika sepulang sekolah kita mengunjunginya bersama anggota MPK dan OSIS yang lain?"
"Tidak bisa. Aku harus mengantarkan ibuku ke stasiun sore ini."
"Ouh... mungkin lain kali."
Atlas tak banyak bicara setelahnya. Ketika guru mengajar pun, tidak ada satu pun materi yang menyangkut di otaknya. Semua meluncur begitu saja.
Ini membuatku frustrasi!
...****...
Bel rumah berbunyi nyaring. Ibu Devan yang saat itu masih berada di rumah Eta berinisiatif untuk membukakan pintu. Sebab Eta masih di kamar mandi.
Ketika pintu terbuka, ia terkejut mendapati sekitar sepuluh remaja lelaki dan perempuan yang memakai seragam sekolah.
"Temannya nak Eta?"
Gabriel mengangguk, "Sudah lama tidak bertemu, Bu."
"Oh, kamu yang pernah main ke rumah, ya?"
"Benar."
Salsa mencondongkan badannya pada Gabriel. Penasaran karena seorang wanita paruh baya di rumah Eta ternyata mengenali Gabriel.
"Aku pernah kerja kelompok di rumah Devan."
Salsa ber'oh ria.
"Langsung masuk saja, Eta pasti senang dengan kehadiran kalian."
Ibu Devan mempersilahkan mereka semua masuk dan duduk di ruang tamu. Sementara ia akan memanggil Eta.
Begitu masuk, Gabriel tidak akan heran dengan suasana mencekam rumah Eta. Begitu sunyi layaknya rumah hantu. Seharusnya Eta tinggal di rumah saudaranya sementara waktu sampai hawa negatif di rumah ini keluar semua.
Gabriel juga baru tahu ternyata beginilah isi rumah Eta. Dahulu, ketika berkunjung ke rumah Devan, Gabriel hanya melihat luarnya saja.
Memasuki ruang tamu, Ibu Devan meminta kesepuluhnya duduk. Ia sendiri akan ke dapur untuk membuatkan minuman dan membawa kudapan kecil selagi menunggu Eta selesai memakai pakaiannya.
"Kau kenapa Alan?" Tanya Gabriel.
"Hm?"
"Sejak datang ke rumah Peta, kau tidak bicara sama sekali."
"Yeah, aku hanya merasa aneh."
"Aneh?" Gabriel mengangkat sebelah alisnya.
"Iya, aneh. Di pintu depan, di meja yang ada telepon kabelnya itu. Di sampingnya 'kan ada foto yang ditidurkan posisinya. Tebakanku itu adalah foto keluarga. Dan pelaku yang menidurkan posisi bingkai pasti adalah Peta."
Setelah mendengar Alan, Gabriel baru menyadari itu. Yah, berbeda dari Gabriel yang sekedar melihat dan melupakan. Alan malah terus mengingat dan memikirkannya. Kepekaannya terhadap sekitar cukup mengerikan.
"Apa kau berencana menjadi seorang detektif?"
"Tidak, tuh." Alan menggeleng pelan.
Tak lama kemudian, Ibu Devan datang dengan nampan berisi sepuluh cangkir berisi teh dan makanan ringan pendamping.
"Ibu tidak perlu repot begitu." Gabriel merasa tidak enak. Karena mereka datang ke sini bukan untuk dijamu, melainkan menjenguk Eta.
"Ini tidak merepotkan, kok."
"Dasar orang kaya yang rendah hati." Cibir Alan.
Gabriel mendelik pada Alan. Kalau soal menjadi menyebalkan, Alan ini tidak ada tandingannya. Pantas saja Eta selalu merasa kesal jika Alan berbicara. Gabriel sekarang baru menyadarinya.
Terdengar suara langkah kaki yang begitu samar. Namun karena suasana rumah yang sepi dan kosong, suara itu bisa terdengar nyaring. Di ambang pintu, Eta berdiri memandangi ruang tamu hang telah diisi oleh teman-teman sekelasnya.
Bibir Eta sedikit bergetar, hanya Alan yang sadar. Sedetik kemudian, Eta memaksa wajahnya yang kaku untuk tersenyum palsu. Dia tidak bisa terlihat tidak baik-baik saja sekarang.
"Terima kasih sudah mau datang."
"Oh, di kulkas ada tiramisu buatanku. Sebentar, akan kuambilkan." Ujar Eta lagi.
"Eh? Kau tidak perlu repot."
"Aku tidak kerepotan."
Eta meninggalkan ruang tamu sesegera mungkin. Ia ingat jika ada dua loyang tiramisu di dalam kulkas meskipun salah satunya sudah ada yang dipotong karena Devan memintanya.
Eta membuka laci atas dan mengambil pisau kue. Kemudian ke kulkas dan mengeluarkan dua loyang tiramisu. Daripada terbuang sia-sia, lebih baik memberikannya sekaligus.
"Hei, ada yang perlu dibantu?"
Eta menoleh, kemudian menggeleng.
"Tidak perlu. Seharusnya kau tetap di sana, Alan. Kau 'kan tamu."
"Itu karena kau mengkhawatirkan."
Hening sejenak. Eta menghentikan gerakan tangannya. Pisau kue terhenti di tengah-tengah lapisan tiramisu. Lalu Eta menyunggingkan senyum tipis. Alan memang tahu banyak hal, dialah yang mengkhawatirkan.
"Aku baik-baik saja."
Tanpa persetujuan Eta, Alan malah duduk di kursi dekat meja makan. Terus memperhatikan setiap gerak-gerik Eta. Yah, dari luar dia tampak baik-baik saja.
"Apa ada cara agar aku bisa menyemangatimu?"
Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Alan. Akan tetapi, bukannya merasa terharu, Eta malah melemparkan tatapan heran kepada Alan. Anak ini sepertinya salah makan obat pagi tadi.
"Kau habis tersambar petir, ya?"
"Yeah, anggap saja seperti itu."
Jawaban Alan membuat Eta tertawa kecil. Alan memang menyebalkan dari lahir. Tapi dia selalu bisa menjadi alasan bagi banyak orang untuk bahagia.
Alan yang duduk menghadap langsung dengan sandaran kursi, menyangga dagunya. Kegiatan memotong kue selalu menyenangkan untuk disaksikan.
"Jika aku menjadi cheerleader, apa kau akan tersenyum?"
"Huh? Tergantung."
"Tergantung apanya?"
"Ya... tergantung siapa orangnya."
Alan mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia berdiri dan melangkah menghampiri Eta yang sedang menata kue di atas piring yang lebih lebar dan pipih. Tangan Alan terbuka selebar bahu dan melingkar di antara leher Eta.
"Hah?"
Eta mendadak kehilangan kesadaran selama beberapa detik. Sebelum wajahnya bersemu merah. Menyadari Alan yang memeluknya dari belakang.
"Ap-apa yang kau lakukan?!" Tanya Eta dengan garang. Nyaris saja dia melemparkan pisau kue ke wajah Alan yang padahal tidak tajam.
"Katanya jika kita berpelukan selama 30 detik. Maka kita akan merasa bahagia."
"Kau mulai melantur!"
"Biarkan aku menghitung. 30... 29... 28... 27..."
Seluruh wajah Eta telah merah menyerupai tomat yang matang. Sementara pikiran Eta melayang, Alan terus menghitung mundur.
"26... 25... 24... 23... 22... 21... 20..."
Ketika merasakan hatinya menghangat. Eta tak berontak. Ia membiarkan dirinya tenggelam dalam pelukan Alan. Dan lagi, gumpalan emosi di hatinya memaksa keluar. Eta ingin menangis lagi.
"19... 18... 17... 16... 15... 14... 13... 12...11... 10..."
Seharusnya tidak boleh begini.
"9... 8... 7... 6... 5... 4..."
Tapi, aku tak ingin ini berakhir. Ayah, Ibu...
"3... 2... 1..."
Aku merindukan kalian.
"Kau adalah sosok yang tegar dan hebat, Eta."
TBC