
"Apa Peta ada?"
Raya bertanya kepada salah satu siswa kelas XI IPS 2. Di belakang Raya, ada Atlas dan Yuda mengekorinya. Hari ini kegiatan mereka adalah membagikan surat pemberitahuan kepada para pengurus MPK untuk kegiatan yang akan datang, yaitu perekrutan pengurus MPK OSIS yang baru.
"Eh? Ha-hari ini Peta tidak masuk..." Gabriel menjawabnya dengan gugup.
Ternyata Gabriel masih menyimpan rasa untuk Raya. Namun, setelah mendengar jika Raya punya pacar, Gabriel memutuskan mundur teratur. Dia belum mendapatkan update informasi tentang Raya yang sudah putus.
Alan yang di sebelahnya tersenyum penuh makna.
"Kenapa dia tidak masuk?" Kali ini Atlas yang bertanya.
Menggantikan Gabriel yang gugup parah, Alan menjawab. Dia menggelengkan kepalanya tanda tak tahu. "Keterangannya sih izin karena ada urusan keluarga. Kami sekelas hanya tahu sebatas itu."
"Begitu, maaf sudah mengganggu waktu kalian. Permisi." Raya pamit diikuti oleh Atlas dan Yuda.
Selepas kepergian mereka, Gabriel akhirnya bisa bernapas normal. Jantungnya berdebar-debar melihat Raya. Untung dia bisa berbicara ketika ditanya.
...****...
Di koridor gedung IPS, Atlas dan yang lainnya masih sibuk membagikan surat pemberitahuan. Sebenarnya tidak sulit karena anggota pengurus MPK hanya berjumlah 14 termasuk BPH (Badan Pengurus Harian). Sangat jauh berbeda dengan OSIS yang sampai 41 anggota.
"Oh, bukankah dia yang kemarin?" Celetuk Atlas.
Belum sempat Raya dan Yuda bertanya. Atlas bergegas berjalan mendahului mereka. Atlas menepuk bahu Devan yang memang berjalan memunggunginya.
"Wow, Ketua OSIS. Ada perlu apa?" Devan nyaris saja mengumpat, tapi melihat pelakunya adalah Ketua OSIS dia tidak jadi keceplosan.
"Kemarin Ri- maksud saya Eta bersamamu, bukan? Hari ini dia tidak masuk, apa kamu tahu?" Tanpa basa-basi Atlas bertanya.
Devan mengangguk, "Di surat keterangannya izin. Dia ada urusan keluarga."
"Saya tahu itu. Tapi, urusan keluarga itu-"
"Kenapa tidak langsung ke rumahnya saja, Ketua OSIS? Ketua OSIS sudah tahu 'kan di mana rumah Eta? Jika ada yang perlu disampaikan, langsung saja datang ke rumahnya." Devan memberi saran.
Lebih tepatnya dia tidak mau dititipkan apa pun dari si Ketua OSIS ini untuk Eta. Dia hanya tak mau, pokoknya titik. Lagi pula ini kesempatan besar untuk mempertemukan Atlas dengan Ayah Eta yang baru kembali tadi malam.
"Ah, kamu benar."
Devan bersorak riang dalam hatinya.
Sungguh, ini akan menjadi semakin menarik.
...****...
Di rumah, Eta asyik memasak menu makan siang spesial favorit Ayahnya. Sudah lama dia tidak melakukan ini. Saat Ayahnya pulang pun, Eta tak pernah sebahagia ini.
Ayah Eta yang melihat anaknya bergelung di dapur seorang diri hanya menggeleng sambil tersenyum. Ia menghampiri anaknya, mencoba masakan yang masih setengah jadi.
"Eh? Ayah, itu belum matang!"
"Wow, rasanya sangat enak. Eta sangat pandai memasak sama seperti Ibu."
Eta senang saat dipuji Ayahnya. Tapi, ketika Ayah menyebutkan Ibu. Parameter kebahagiaan Eta turun hingga separuhnya. Ibunya tidak pulang untuknya, padahal di telepon Eta sudah menangis histeris.
"Bagaimana keadaan Ibu?"
"Ibumu sangat baik. Sepertinya dalam waktu dekat Ibumu akan mengunjungi Rea. Dia harus dibesuk atau pola makannya akan berantakan lagi."
"Lagi?"
"Yeah, Rea sulit diatur. Berkali-kali diperingatkan tetap saja dilanggar. Padahal ini semua demi kesehatannya." Ayah menghembus napas panjang.
Eta termenung. Kakaknya sama sekali tidak mengalami perubahan sejak tiga setengah tahun lalu. Dia memang pintar, tapi sayangnya Rea adalah pemalas yang keras kepala. Yang dikatakan Ayahnya juga tidak salah, semua itu adalah untuk kesehatan Rea sendiri. Penyakitnya memang tidak mematikan, tapi kalau dibiarkan juga bukan hal baik.
Bel rumah berbunyi. Sebelum Eta membukakan pintu, Ayahnya sudah lebih dulu melakukannya. Betapa terkejutnya Eta mendapati sosok Atlas di balik pintu.
Kak Atlas?!
Eta menatap takut-takut pada Ayahnya yang tak kunjung bersuara sejak membukakan pintu. Eta tahu akan bagaimana respon Ayahnya. Atlas jelas takkan disambut dengan baik oleh tuan rumah.
"Selamat siang, Om."
"Selamat siang. Ada keperluan apa datang kemari?"
Atlas merogoh sesuatu dari dalam tasnya. Dia mengeluarkan amplop panjang yang isinya adalah surat pemberitahuan. Eta sudah tahu dari grup chat khusus anggota pengurus MPK. Surat itu dikirimkan dalam bentuk soft file. Tapi, Pembina sudah menegaskan bahwa OSIS juga perlu memberikannya dalam bentuk hard file.
"Saya hanya ingin memberikan surat pemberitahuan ini kepada Eta, Om." Atlas segera menyerahkan surat tersebut kepada Ayah Eta.
Eta tertegun. Ini kali pertama dirinya mendengar Atlas memanggil namanya setelah sekian lama. Sehari setelah wawancara, Atlas sudah memanggilnya dengan sebutan 'Risa' dan itu membuatnya jengkel. Padahal sebelum wawancara, Atlas memanggil namanya dengan benar.
"Hanya ini saja?" Tanya Ayah Eta.
Atlas mengangguk.
"Kenapa tidak dititipkan kepada Devan saja?"
"Ah, soal itu..." Atlas ragu untuk menjawabnya.
"Jika hanya itu saja, urusanmu di sini sudah selesai 'kan?"
Eta meringis. Saat Ayahnya mengatakan itu, dia sedang mengusir Atlas secara halus. Dia menatap Atlas, memberi kode bahwa Atlas harus segera pulang atau dia akan mendapatkan masalah lebih lanjut.
"Benar, hanya itu saja. Saya pamit, Om dan Eta."
Eta menatap kepergian Atlas sambil merasa kasihan kepadanya. Sudah datang ke sini tapi tidak diterima baik-baik. Ayahnya tidak pernah suka jika Eta membawa kenalan lelaki ke rumahnya. Ayahnya akan selalu berasumsi kalau orang-orang yang mendekati kedua anaknya tanpa melalui dirinya adalah sampah.
"Ayah seharusnya berhenti bersikap seperti itu. Maksudku, aku jadi merasa tidak enak padanya." Ujar Eta, setelah memastikan motor Atlas belok di perempatan.
"Apa dia pacarmu?"
"Apa? Tentu saja bukan! Aku tak pernah punya pacar seumur hidup. Kami hanya satu organisasi. Dia adalah Ketua OSIS di sekolah kami."
Ayah Eta tetap menatap Eta dengan pandangan tidak percaya. Tapi, selama Devan tidak melaporkan apa pun tentang kedekatan Eta dengan seseorang. Maka Ayah Eta akan percaya untuk kali ini.
Eta memandangi punggung Ayahnya yang berjalan menuju dapur. Eta segera meninggalkan rumah, dia melompati pagar yang membatasi rumahnya dan rumah Devan.
Beruntung Devan sedang berkebun. Devan yang tidak menyadari kedatangan Eta mendadak disambar dari belakangnya.
"Aduh! Kau ini kenapa menyerangku sih?!" Devan mengaduh pelan.
Tanpa menjawab pertanyaan Devan yang sebelumnya. Eta menarik baju Devan hingga temannya itu tertarik maju beberapa senti.
"Kau pikir aku tidak tahu?!"
"Apa sih maksudmu!"
"Kak Atlas datang ke rumahku untuk mengantar surat pemberitahuan." Kini Eta mengecilkan volume suaranya. "Aku tahu itu ulahmu. Kak Atlas takkan punya inisiatif semacam itu!"
"Bukankah bagus jika dia mengikuti saranku? Ketua OSIS bisa bertemu dengan Ayahmu secara langsung." Devan menaik-turunkan alisnya dengan jahil.
Eta menepuk keras keningnya, "Sepertinya kebodohanmu sudah tak ada obatnya! Kau sendiri tahu kalau Ayahku itu sensitif kepada para lelaki yang datang ke rumah tapi bukan kenalannya!"
"Ouh... gawat, aku lupa." Devan mengumpat.
Devan menyadari kesalahannya. Pada dasarnya, kesan pertama adalah yang paling utama. Tapi, Atlas sudah mengacaukan kesan pertama itu di depan Ayah Eta. Jika mereka berdua bertemu lagi, pastinya tidak akan berjalan semulus paha model.
"Maafkan aku, Eta."
"Sudah terlanjur juga."
Devan tahu masalahnya semakin rumit. Selain larangan Ayahnya, Eta juga terhalang peraturan organisasi jika ingin berpacaran dengan Atlas. Satu-satunya jalan adalah menunggu Atlas lengser jabatan, itu pun kalau Ayah Eta merestui.
Tapi, yang paling penting di atas semua itu adalah...
"Kau harus berhenti mencomblangkan kami. Ini tidak seperti Kak Atlas menyukaiku juga. Aku pernah bilang 'kan kalau semua ini hanya cinta monyet? Semuanya akan berakhir setelah dia lulus."
Devan terdiam membatu.
"Aneh, kau bilang sendiri padaku kalau kau tak akan ikut campur."
Mulut Devan semakin tertutup rapat.
"Kau harus berhenti atau aku akan marah padamu."
TBC