
Kesiur angin lembut melalui tanah makam. Warna merah di atas tanah serta aroma khas bunga tabur menambah kesan sunyi. Hanya di tempat inilah, mereka yang bernapas menyaksikan hidup seseorang yang pergi lebih dulu.
Eta mengangkat keranjang rotan yang awalnya diisi bunga tabur. Matanya menyorot dalam, ini bukan kali terakhir. Dan takkan pernah menjadi yang terakhir kalinya Eta berkunjung ke sini.
Senyum tipis terukir di bibirnya.
"Ayah, ibu, Eta pamit pergi. Jangan khawatir, Eta pasti akan merawat Kak Rea."
...****...
Hari ini adalah hari terakhir Eta bersekolah. Nanti, Bella akan menjemputnya sekaligus untuk mengajukan surat pindah sekolah. Mengemasi barang akan menjadi tugas setelah pulang sekolah.
"Apakah sudah siap, Eta?" Tanya Bella yang berdiri di luar kamar Eta.
"Iya sudah, Bu-Bun..da?" Eta tergagap, tidak terbiasa dengan panggilan baru terhadap Bella.
Bella tersenyum geli, kemudian mengusap kepala Eta gemas. "Perlahan-lahan saja, Eta."
Semua terjadi begitu cepat. Memang nama Eta belum dimasukkan ke dalam kartu keluarga Narendra. Tapi, Bella berharap Eta dapat memanggilnya 'bunda' suatu hari nanti.
Berangkat ke sekolah pun, Eta akan diantar oleh Bella. Sungguh, wanita yang bahkan usianya terpaut kurang dari 10 tahun dengan Eta ini bersikap layaknya seorang ibu bahkan tanpa diminta siapapun. Tidak dapat dibayangkan betapa inginnya Bella mempunyai anak dari rahimnya sendiri.
"Oh, kotak itu mau dibawa atau tidak?"
Benar juga, Eta hampir lupa untuk membawa kotak berukuran sedang dengan pita berwarna biru. Ia baru membuatnya semalam. Dan akan diberikan kepada seseorang. Di dalamnya ada sebuah surat, susah payah Eta memikirkan apa isinya. Akhirnya dia hanya menuliskan dua kata saja, parah sekali.
"Ini untuk teman Eta?"
"Iya." Ekspresi Eta berubah kosong selama beberapa saat.
"Semoga dia senang dengan pemberian Eta." Ucap Bella yang tersenyum layaknya mentari pagi.
"Kita akan sarapan? Sa- Eta lupa membuat sarapannya."
"Tentu saja kita akan sarapan! Tenang saja, Bunda membuat sarapan spesial untuk Eta."
Di meja makan, Bella begitu memperhatikannya. Seperti mengambil nasi dan lauk untuk Eta. Duduk di depan Eta, Dirga sarapan dalam diam sambil sesekali melirik ke ponsel.
Perasaan yang berbeda.
Tapi, Eta tidak merasa risih dengan kehadiran dua orang baru dalam hidupnya. Dia akan menerima mereka dengan tangan terbuka lebar. Eta akan baik-baik saja. Dia harus terus melangkah maju.
...****...
"Nanti Bunda akan ke sini sebelum Eta pulang dan mengurus semua berkas kepindahan Eta."
Dari dalam mobil, Bella mengatakannya. Eta mengangguk paham, dia tak tahu harus merespons apa lagi. Bella melambaikan tangannya keluar mobil, kemudian Eta membalasnya. Eta terus memandang mobil Bella hingga hilang termakan jarak.
"Siapa itu?"
"Astaga!"
Eta terkejut setengah mati mendapati seseorang berbicara tepat di sampingnya. Karena Eta tidak sadar kalau ada orang di dekatnya sampai dia berbicara. Eta mendelik, melirik tajam ke sumber suara. Ketika tahu siapa pelakunya, Eta mendecakkan lidahnya cukup keras agar terdengar si pelaku.
"Itu kasar, kau tahu? Aku hanya bertanya."
Alan berbalik, berjalan menuju gedung kelasnya diikuti Eta dari belakang. Eta memandang tas Alan. Entah kenapa, tasnya lebih besar dibanding hari biasanya. Alan ini tergolong murid pemalas, jarang sekali baginya membawa banyak barang di tas. Tapi, jarang bukan berarti tak pernah.
"Apa isi tas itu?"
"Buku dan seragam."
"Seragam futsal?"
Alan mengangguk.
"Jadi kau masih ikut ekskul futsal?"
"Tentu saja. Aku ini punya komitmen."
Eta merotasikan bola matanya jengah. Membual sudah menjadi rutinitas Alan selain menggosip dan mengumpulkan informasi bagaikan Intel.
"Tapi, biasanya kau hanya membawa satu buku dan satu pensil."
"Mulai hari ini aku mau menjadi murid rajin."
"Ini aneh. Kau berubah terlalu cepat."
"Motivasiku berubah, jadi tujuanku juga berubah."
Hari terakhirnya sekolah berjalan begitu lancar. Eta tak mengungkit masalahnya dan tetap bersikap normal sampai di penghujung hari. Entah kenapa, dia tak ingin mengatakan berita kepindahannya kepada teman sekelasnya. Bukan, tak ingin, lebih tepatnya tidak bisa. Lidahnya kaku, sulit diajak kerja sama.
Pada akhirnya, di periode terakhir. Eta tak mengatakan apa pun sampai guru mata pelajaran keluar dan seluruh teman sekelasnya bersiap pulang.
Bagaimana caraku memulainya?
Di tengah kebingungan, mendadak terdengar suara meja dipukul berkali-kali dari meja Alan. "Hei, tolong perhatiannya, Eta ingin menyampaikan sesuatu kepada kalian."
Eta menatap terkejut pada Alan. Tanpa sadar, semua teman sekelasnya yang sibuk memasukkan buku ke dalam tas mulai memperhatikan Eta di depan kelas.
"Woah, Peta. Apakah ada sesuatu yang harus kau sampaikan? Ini tentang MPK OSIS, ya?" Tanya Salsa.
Eta menggeleng perlahan.
"Sebenarnya... besok aku akan pindah ke Singapura."
Ada rasa lega ketika Eta berhasil mengatakan kalimat yang sejak tadi menjadi bebannya. Tetapi, dia sadar kalau reaksi teman-teman sekelasnya adalah kasus lain.
Beberapa dari mereka nampak bingung, percaya tidak percaya. Akan tetapi, ini Eta yang berbicara. Dia takkan bermain-main seperti halnya Alan.
"Kenapa kau mau pindah?" Tanya Gabriel, memecah keheningan dalam kebingungan.
"Seperti yang sudah kalian ketahui jika kedua orang tuaku meninggal dalam kecelakaan tunggal. Kakakku yang adalah satu-satunya keluargaku selamat tapi dia bahkan belum siuman. Sahabat ayahku yang dari Singapura, ingin mengangkatku dan kakakku sebagai anaknya. Itu tawaran yang bagus, aku memikirkan tentang kakakku juga. Jadi, besok aku akan pindah bersama mereka ke Singapura."
Hening. Semuanya tak tahu harus bagaimana. Ini bagus untuk Eta. Tapi sisi negatifnya adalah mereka takkan bisa bertemu Eta kembali. Dia akan ke Singapura, besok.
"Jika kau akan ke Singapura besok, kenapa baru mengatakannya sekarang?" Gabriel bertanya lagi.
Eta menghela napasnya.
"Aku juga baru tahu akan pindah kemarin. Keluarga yang ingin mengadopsiku hanya mengajukan cuti selama lima hari. Jadi..."
"Baiklah, keluargamu adalah pilihanmu. Sejak awal, teman sekelasmu tak bisa menjadi prioritasmu."
Setelah lama terdiam karena terkejut, akhirnya Alan buka suara. Teman yang lain pun dapat paham dengan keputusan Eta. Satu persatu dari mereka mengucapkan selamat tinggal, semoga sukses. Seluruh teman perempuannya memberikan Eta pelukan terakhir.
Hingga saat giliran Gabriel.
"Ini semua terlalu buru-buru." Keluh Gabriel.
"Yeah, kau tak bisa mengendalikan perubahan."
Gabriel tersenyum simpul. "Aku mendoakan yang terbaik untuk kesehatan kakakmu."
"Terima kasih."
"Kuharap impianmu yang ingin menjadi kartografer terwujud. Serta mimpi satunya yang ingin mengelilingi dunia."
Eta tertahan, dia tak berniat mengklarifikasi persoalan itu pada siapapun. Biarlah hanya dia yang tahu, dan mungkin juga Devan.
Perasaanku menjadi lebih baik setelah mengakui yang sebenarnya.
Pelukan erat Eta dapatkan dari Salsa. Dari sifat, Salsa ini sebelas dua belas dengan Raya. Bedanya Raya jauh lebih positif dibandingkan Salsa.
"Jangan pernah melupakanku, oke?" Bisik Salsa, Eta mengangguk sebagai jawaban.
Kelas mulai sepi semenjak satu persatu temannya pergi setelah mengucapkan selamat tinggal kepada Eta. Eta jadi tersentuh mengingat semua ucapan mereka. Menyesal Eta tidak merekamnya sebagai kenang-kenangan.
"Eta, kau melupakanku."
Meski sejak dulu Eta ingin dipanggil dengan benar. Tetapi saat hal itu terjadi, Eta jadi tidak nyaman. Ternyata dia lebih suka dipanggil dengan julukannya daripada namanya.
Eta berbalik, menghadap Alan yang berdiri di depannya. Dekat sekali, Eta dan Alan hanya dipisahkan oleh meja guru. Eta baru tahu jika yang tersisa di kelas hanya dirinya dan Alan.
Tidak sengaja Eta melihat kedua tangan Alan. Jari jemari Alan ditempel oleh plester di sana sini.
"Kenapa tanganmu?" Tanya Eta.
Alan memperlihatkan kedua tangannya pada Eta. "Aku berusaha keras membuat cokelat terbaik untukmu. Komentarmu menyebalkan, jadi aku sangat ingin memperbaikinya."
Huh?
"Aku bersungguh-sungguh."
Eta diam membatu.
"Eta, apa pendapatmu tentang Atlas?"
Segera Eta memalingkan wajahnya ke samping.
"Aku memang bukanlah karakter utama dalam hidupnya. Tetapi, dia adalah judul dalam cerita hidupku." Jawab Eta, senyum manis terukir di bibirnya.
TBC