
"Berhentilah memberontak! Apa salahnya menuruti ucapan kakakmu, dasar!"
Eta ingat apa yang diucapkan oleh Ibunya saat menamparnya. Perkataan itu sulit diingat, namun setelah ingat malah sukar dilupakan. Ucapannya terngiang-ngiang di dalam kepala Eta.
Rupanya ketika Eta melamun, Ayahnya telah siap berangkat menuju bandara. Menjemput istri dan putri sulungnya. Ayah Eta memandang Eta yang berdiri tak bergeming di tempatnya.
"Eta, Ayah berangkat."
Eta mengangguk. Mesin mobil dinyalakan, menimbulkan suara deru halus. Sembari melihat mobil ayahnya berlalu, Eta melambaikan tangannya hingga mobil hilang di belokan. Tangan Eta turun, begitu juga pandangannya.
"Hati-hati di jalan..." Eta berbisik.
Seharusnya dia mengatakan itu sebelum ayahnya menjalankan mobil. Tapi apalah daya, tidak mudah bagi Eta mengekspresikan dirinya setelah banyak memendam. Karena didikan Ibunya, Eta menekan seluruh keinginan hatinya dalam-dalam.
Eta kembali masuk ke dalam rumah, sendirian. Sejak ayahnya pulang sebulan lalu setelah ia menangis kencang di telepon yang tersambung dengan beliau. Eta jadi tidak suka sendiri.
Tapi tak apa, mereka akan pulang tak lama lagi. Perjalanan ke bandara sendiri membutuhkan waktu sejam. Belum dihitung saat berjalan dan mengambil koper. Yah, mungkin tiga jam lagi mereka pulang.
Srek!
Tidak sengaja Eta menggeser bingkai foto yang terletak di meja telepon kabel. Di rumah ini memang masih ada telepon kabel, tapi ponsel lah yang sering digunakan.
Tangan Eta bergerak memperbaiki bingkai foto ke posisi semula. Namun, tatapannya lekat pada foto yang diambil sepuluh tahun lalu. Sebelum Rea didiagnosa menderita hipokalemia.
Itu adalah saat yang membahagiaakan bagi Eta karena Ibunya belum bersikap dingin padanya. Semua berubah setelah Rea dilarikan ke rumah sakit. Ibunya sempat syok dan pingsan selama hampir 15 menit.
"Kak Rea juga berubah menjadi menyebalkan sejak keluar dari rumah sakit. Berlagak seperti ratu yang semua kebutuhannya harus dipenuhi."
Namun, semenyebalkan apa pun. Eta tak bisa membencinya. Eta akan selalu mengingat kalimat Devan di hari itu. Suatu hari nanti, Eta akan menyadari betapa berharganya hubungan antara dirinya dan Rea.
"Kalau bisa kejarlah aku!"
"Aduh! Jangan menangis, Eta!"
"Astaga, kenapa tanganmu bisa terluka?"
"Apa Eta suka makanan manis? Kakak akan membelikannya untukmu di sekolah. Ada banyak pedagang di sana."
"Yang mana yang Eta suka? Pilih saja!"
"Kakak akan selalu menyayangimu, Eta."
"Eta..."
Kenangan indah itu kembali bergerumul dalam pikirannya. Sudah lama sekali. Hari di mana Rea masih bisa tersenyum lebar kepadanya, untuk dirinya. Juga Ibunya, beliau menunggu kepulangan kedua anaknya setelah bermain di depan rumah sambil merajut.
Mungkin, hanya Ayahnya yang tidak berubah.
"Atau aku memang tak tahu apa pun?"
Eta melangkah ke ruang tamu. Pikirannya menggali ingatan di mana dirinya sering bertukar informasi dengan ayahnya di sini. Hanya mereka berdua, berdiskusi layaknya seorang konspirator.
"Dulunya, Singapura adalah bagian dari Malaysia."
Eta kecil mendongak, memandang ayahnya. "Benarkah? Lalu, kenapa Singapura memisahkan diri dari Malaysia?"
Ayah Eta menggeleng.
"Bukan memisahkan diri, lebih tepatnya dibuang."
Langkah Eta membawanya ke arah dapur. Di ruang penuh aroma masakan inilah Eta banyak bercengkerama dengan Ibunya dulu, sepuluh tahun yang lalu.
"Bagaimana rasanya?"
Eta mencicipi sepotong tiramisu yang dia buat pagi ini untuk menyambut kepulangan Ibu dan Kak Rea. Iris mata Eta berkaca-kaca. Rasa di mulutnya membekas dalam, begitu berkesan.
"Enak."
"Eta, setidaknya jika memasak kue, bagikan pada tetanggamu yang lapar ini!"
Eta melengos. Seharusnya dia tidak membuka jendela ketika kue baru diangkat dari oven. Penciuman Devan ketika lapar setara dengan para anjing pengintai.
"Mana bagianku, hei!"
"Kemarilah, tapi hanya sepotong."
Devan bersorak riang. Dia melompat dari jendela rumahnya, melompati pagar pembatas hingga sampai di depan jendela dapur tetangganya. Tangannya terangkat, Eta menaruh piring dengan potongan kecil tiramisu di tangannya.
"Bukankah kau membuat dua loyang besar?" Devan bertanya-tanya.
"Hei, jika sudah diberi hati jangan minta jantung!"
Devan merengut, dia menerima potongan tiramisu di tangannya dengan setengah hati.
"Terima kasih." Ketus Devan.
"Kau terdengar tidak tulus."
"Eta, Ibumu dan Kak Rea hari ini akan pulang, ya?"
"Iya."
"Kudengar dari Ibu, Kak Rea sudah lulus dan akan wisuda tahun depan. Apa itu benar?"
"Yeah."
Devan mengernyit, "Apa kau tidak senang jika Kak Rea lulus lebih cepat?"
Eta bungkam. Devan yang mengerti lantas tidak menanyakan apa pun lagi. Mulutnya penuh dengan potongan tiramisu yang dia habiskan dalam sekali telan.
"Hati-hati tersedak. Mau minum?" Eta menyodorkan segelas air pada Devan.
Devan menggeleng, "Jika aku minum, maka sensasi rasa tiramisu ini akan hilang dalam sekali teguk. Aku mau mengabadikannya selama mungkin."
"Terserahmu saja."
"Dulu Kak Ida sering bermain dengan Kak Rea. Tetapi setelah lulus SMP, mereka jarang bertemu. Hanya sekedar bertegur sapa. Itu mengerikan." Ujar Devan sambil memandangi tiramisu yang masih dihias Eta.
"Lalu?"
"Hei, Eta. Setelah lulus SMA, kuharap pertemanan kita tak pernah berubah."
"...."
"Aku menyukai hubungan kita yang sekarang."
TBC