My world

My world
Chapter 15 - A T L A S



Teriakan penyemangat untuk teman sekelas yang sedang bertanding di tengah lapangan semakin lama semakin keras. Apalagi ketika kelas XII IPA 1 dipanggil. Banyak siswi dari kelas lain pun bersorak lebih kencang karena Ketua OSIS kebanggaan mereka akan bertanding.


Eta menatap dari jauh. Sudah dia duga bahwa Atlas akan terjun ke lapangan sebagai tim inti, bahkan dia juga berperan sebagai kapten tim. Benar-benar sosok ideal bagi para wanita.


Wajahnya yang beberapa saat lalu dipenuhi aura suram sudah menghilang entah ke mana. Digantikan dengan wajah cerah dan senyuman semangat matahari miliknya. Lupakan ekspresi malam musim dinginnya, saat ini dia adalah pagi di musim semi.


Yuda juga terlihat di tengah lapangan. Dengan percaya dirinya dia melambai kepada para penonton. Seharusnya dia berhenti beramah-tamah seperti itu kalau tidak ingin ada yang salah paham. Soalnya dia sudah punya pacar.


Pertandingan kelas XI IPS 2 melawan XI IPA 2 juga sudah selesai beberapa menit yang lalu. XI IPS 2 keluar sebagai pemenang. Eta menghela napasnya lega. Di kelas, Alan pasti akan mengagungkan dirinya dengan cara yang menyebalkan. Padahal masuk perempat final saja belum.


Eta menoleh ke belakangnya, Raya sudah bersiap dengan tas di punggungnya. Hari ini dia akan pulang lebih cepat lagi. Sebagai seorang Wakil Ketua OSIS, Eta bisa mengatakan bahwa Raya belum kompeten dalam menjalankan tugasnya. Tapi, apalah daya, Raya benar-benar hancur saat ini. Dipaksa bertugas pun pasti takkan benar.


"Aku akan meminta izin pada Kak Atlas setelah pertandingannya selesai." Ujar Eta, memecah keheningan diantara mereka.


Raya hanya mengangguk lesu, tatapannya kembali kosong.


Pandangan Eta masih melekat pada punggung Raya. Langkah kakinya yang selalu diiringi keceriaan itu menghilang dalam beberapa jam. Memang benar apa kata orang, mereka yang tersenyum paling lebar sebenarnya adalah mereka yang paling tersakiti.


Namun, demi menjaga senyum orang-orang di sekitarnya, dia mempertahankan topeng itu.


"Hubungan kami ini... seharusnya bagaimana?"


Pertanyaan itu terus bergerumul di dalam pikirannya. Pada akhirnya, Eta benar-benar hanya menjawab sesuai pendapatnya saja. Dia tidak mengatakan apa yang baik dan buruk. Namun, hal yang dilakukan Defri jelas adalah salah. Hubungan mereka harus segera diakhiri tak peduli Raya masih mencintainya atau Defri meminta maaf.


"Kupikir, kalian harus putus. Melanjutkan hubungan tidak sehat semacam itu, hanya akan membuatmu terus makan hati."


Eta mengantarkan Raya hingga ke gerbang sekolah. Tanpa berbalik lagi, Raya terus berjalan meninggalkan lingkungan sekolah. Seperti hari kemarin, hari ini juga dia tidak membawa motor. Yah, mengendarai kendaraan apa pun saat suasana hati buruk itu berbahaya. Salah-salah bisa mengalami kecelakaan.


Teriakan para siswi terdengar semakin kencang saja, bahkan Eta yang berada di gerbang luar sekolah saja bisa mendengarnya. Mereka benar-benar brutal. Kalau Eta, dia takkan melakukannya. Berteriak seperti itu akan membuat pita suaranya rusak.


"Parahnya lagi mereka sekelas. Apa besok Raya akan masuk sekolah, ya? Dia sangat tidak kompeten. Aku menarik kata-kataku sebelumnya." Eta bicara pada dirinya sendiri.


Sejenak dia terdiam di gerbang sekolah. Sepertinya Raya sudah mencapai halte bus. Sebuah motor mendekat pada Eta dengan suara mesin yang familiar. Tentu saja Eta akan ingat, hampir setiap hari dia mendengarnya dulu.


"Eta, kenapa hanya berdiri di sini?"


Eta mendongak. Itu benar adalah Devan. Bukan sekedar siswa yang punya jenis motor sama dengannya. Dia adalah tetangga Eta, sekaligus satu-satunya orang di sekolah yang memanggil namanya dengan benar selain Ketua MPK, Fahmi.


Dulu mereka sering berangkat dan pulang bersama sampai Devan mendapatkan pacar. Dengan berat hati Eta harus beralih ke bus kota.


"Ah, aku baru saja mengantarkan seseorang. Kau sendiri?"


"Aku baru saja mengantar Berlin pulang. Dia tidak bisa menonton pertandinganku hari ini karena Ibunya akan melahirkan."


"Begitu. Semoga adiknya bisa lahir dengan sehat."


Devan mengangguk.


"Kau mau menonton pertandingan Atlas 'kan?"


"Tidak tahu. Aku harus membantu seksi keamanan."


"Eh? Seharusnya kau menontonnya!"


"Kenapa memangnya?" Eta mengangkat sebelah alisnya.


"Yah, kan yang bertanding adalah Atlas."


"Lalu? Itu sama sekali tidak ada hubungannya denganku. Ada atau tanpaku juga dia akan menang, kurasa."


"Huh? Kau masih berani mengatakan itu? Bukankah kau menyukainya?" Devan bertanya bingung.


Detik itu juga, wajah Eta sempurna merah persis seperti tomat. Dengan suara yang gemetaran dia berkata, "Ba-bagaimana kau bisa tahu?! Aku tak pernah memberitahumu!"


Sementara wajah Eta sudah tidak bisa dikondisikan lagi. Berbeda dari saat Raya yang mengetahuinya, Eta tidak semalu ini. Sebab Devan adalah teman 'lelakinya', rasanya aneh dibandingkan jika itu perempuan. Apalagi Devan yang paling tahu tabiat aneh Eta.


"Kau tidak mengolok-olokku 'kan?" Tanya Eta, pipinya terasa panas.


"Tentu saja tidak. Saat kau menyukai Alois pun sama saja. Hanya saja aku tidak banyak berkomentar. Kau pun sama ketika tahu aku menyukai Berlin, tidak banyak omong."


Eta menyetujui dalam hati.


Ketika Eta memergoki Devan yang selalu memperhatikan Berlin dengan tatapan yang berbeda dari cara dia menatap orang lain. Dari sanalah Eta tahu. Dan dia tidak banyak bicara apalagi mengejeknya tentang itu. Malah, Eta yang membantu Devan berkenalan dengan Berlin karena ketika di tingkat pertama Eta dan Berlin sekelas.


Eta memainkan anak rambutnya. "Jangan katakan apa pun kepadanya."


"Apa itu berhubungan dengan jabatan kalian?"


"Iya. Kami adalah anggota organisasi yang terlibat sumpah dan wajib mematuhi setiap peraturan. Pasal 9 ayat 1, anggota organisasi dilarang berhubungan romantis dengan anggota pengurus lainnya." Eta menjawab dengan wajah murung.


"Kau baik-baik saja? Sebentar lagi kalian akan lengser. Itu berita bagus untukmu."


Eta menggeleng. "Devan, kau yang paling tahu aku. Aku tidak percaya dengan cinta monyet, makanya aku tidak menjalani hubungan romantis dengan siapapun di masa sekolah. Kejadian di SMP adalah salah satu contohnya."


"Alois tidak mengetahui apalagi mengenalmu. Berbeda dengan Atlas, kalian satu organisasi. Eta, masih ada kemungkinan."


"Maaf, Devan. Keputusanku sudah bulat. Saat ini, aku sedang fokus untuk sekolah, demi bisa mewujudkan impianku menjadi seorang kartografer. Kau tahu bahwa aku sangat menyukai atlas."


"...."


"Sampai jumpa." Eta melambai, berniat melanjutkan patrolinya.


"Atlas yang mana?" Teriak Devan.


Eta terdiam.


"Apa maksudmu?" Tanya Eta, tidak paham.


"Kau menyukai atlas buku atau Atlas si Ketua OSIS?"


Tidak ada jawaban keluar dari mulut Eta, mulutnya terkatup sempurna.


"Eta, tolong jawab aku."


"...."


"Apa kau menyukai Atlas?"


Eta berbalik, dia menarik sudut bibirnya. Seulas senyum penuh kehangatan terbit di wajahnya.


"Ya, sangat!"


Devan tertegun, "Apa kau tahu Atlas mana yang kumaksud?"


"Intinya, aku sangat menyukai Atlas."


"Jadi, Atlas mana yang kau maksud sekarang?"


Eta tersenyum lebar, memperlihatkan deretan gigi putihnya. "Ayolah Devan, Atlas yang kita maksud adalah sama 'kan? Kau tidak keliru. Kita berada di halaman yang sama."


Devan mengulas senyum tipis.


"Kuharap kau salah tentang teori cinta monyetmu itu."


TBC