
Bel pulang terdengar ke seluruh penjuru sekolah. Mereka yang tidak ikut ekstrakurikuler apa pun akan langsung pulang. Hari ini juga akan diadakan tes wawancara untuk para calon pengurus MPK OSIS.
Tes kedua adalah pidato, tema pidato dibebaskan oleh panitia pengurus. Setelah tes kedua, nama-nama yang lolos akan dipilih oleh MPK OSIS yang dibimbing Pembina dan Kesiswaan.
Eta memegang selembar kertas yang berisi pertanyaan yang akan ditanyakan oleh para BPH. Eta di bagian sekretariat bersama Heri, mereka berdua duduk di samping pintu di luar ruang MPK.
"PETA!"
Suara cempreng ini, Eta mengenalnya. Siapa lagi kalau bukan Raya. Gadis itu dengan ekspresi ceria menghampiri Eta yang sudah duduk dengan nyaman.
"Peta, kau bagian pengumpulan formulir?"
"Yeah..."
"Kalau aku sih wawancara!"
"Kau 'kan BPH." Eta menanggapi dengan malas.
Energinya sudah terkuras habis untuk membereskan ruangan yang panjangnya sampai 14 meter dan lebarnya sekitar 5 meter. Untung dia bukan bagian wawancara. Jika iya, maka nada pertanyaannya pasti terdengar menyebalkan bagi para calon pengurus.
"Hehe... rasanya aneh kalau aku jadi Wakil Ketua OSIS."
Eta tidak menanggapi kalimat Raya sebelumnya. Alasan mengapa Raya menjadi seorang Wakil Ketua OSIS masih misteri. Saat pemilihan calon, Eta yang adalah anggota bayangan absen dari pertemuan hari itu. Dia ngeri-ngeri sedap, takutnya dipilih menjadi calon Wakil Ketua MPK.
"Kuharap kalian tidak ceroboh saat membuat LPJ tahunan. Jika sampai isi LPJ banyak kesalahan hingga harus dirombak habis-habisan, BPH dan seluruh anggotanya lah yang akan melakukan revisi." Ujar Eta.
"Benarkah?!" Raya terkejut.
Sebenarnya yang dikatakan Eta tidak sepenuhnya benar. Dia hanya memperingatkan OSIS supaya tidak menyerahkan LPJ tahunan yang asal jadi, sementara MPK harus membaca dan memperbaiki setiap detail isinya.
Fahmi yang adalah anggota pengurus MPK periode ke-39 pernah menceritakan pengalamannya saat itu. Di mana seluruh anggota MPK yang tidak seberapa harus lembur setiap harinya sampai petang hanya untuk merevisi bagian yang rancu.
Eta mendengus malas.
Tugas pertamanya sebagai anggota pengurus MPK adalah membaca seluruh LPJ tahunan dari periode ke-1 hingga ke-39 dari awal sampai akhir. Serta memerhatikan bagian yang disalahkan oleh Kesiswaan. Agar MPK periode selanjutnya tidak melakukan kesalahan sama.
Jadi, sebisa mungkin Eta tidak mau menemukan banyak kesalahan dalam LPJ tahunan periode sekarang. Dia mati-matian belajar membuat LPJ yang baik dan benar melalui semua LPJ tahunan yang sudah dipenuhi berbagai coretan.
Eta sendiri sosok yang perfeksionis. Pantang baginya mengerjakan sesuatu setengah-setengah. Malah menyebalkan jika ada satu saja kesalahan penulisan.
"Sebentar lagi mereka akan datang, kau harus bersiap, Raya. Aku juga pasti akan sedikit sibuk selama beberapa menit ke depan." Eta mengusir Raya secara halus.
"Beberapa menit..."
"Yeah. Pergilah... pergilah..."
Eta mengangguk-anggukkan kepalanya, membiarkan Raya pergi. Eta tidak bohong, karena dia harus mengurus banyak hal di sini. Jika Raya mengacau dan ada formulir yang hilang, maka Eta akan terkena masalah besar.
Bibir Raya mengerucut, "Baiklah..."
"Maaf tapi..." Heri berbisik.
Eta mendekatkan telinganya supaya dapat mendengar dengan lebih jelas.
"Ketua OSIS yang kompeten sangat berkebalikan dengan wakilnya. Apa mereka salah pilih?"
"Tidak tahu." Eta jelas tak mau membicarakan hal ini. Sebab Wakil Ketua MPK juga meskipun sering hadir dalam rapat, bantuannya tidak pernah terasa karena dia sedikit payah.
Eta takkan mengatakan hal buruk tentang kakak kelasnya itu. Dia menyimpan semua argumen di dalam kepalanya. Jadi, dia takkan berkomentar mengenai kinerja Raya yang nyaris transparan.
Tak lama kemudian, terlihat sekumpulan siswa dan siswi yang berjalan mendekat dibimbing oleh Bara. Seperti biasa, Bara yang pandai berbicara sedang berusaha mencairkan suasana tegang akibat sesi wawancara di depan mata.
"Dia sudah datang, ke mana Zidan?" Heri menyeletuk. Jika Bara akan mengurus para calon pengurus OSIS, maka Zidan yang bertugas mengkoordinir calon pengurus MPK.
"Ah, dia di belakang. Lihatlah!"
Eta menunjuk ke belakang para siswa dan siswi yang dipandu Bara. Ternyata calon anggota pengurus MPK tepat di belakang Zidan. Wajah-wajah pengganti Eta dan yang lainnya terlihat memuaskan.
Eta mengangguk, menyetujui kalimat Heri. Bukannya kinerja mereka buruk, tapi besok harus lebih baik lagi dari hari ini.
"Oh, Peta. Kudengar Bu Sarah akan lengser bersamaan dengan kita."
Eta sontak menoleh pada Heri, "Bohong?"
"Astaga, kau tidak tahu? Kabar ini sudah tersebar di kalangan anggota pengurus MPK, meski OSIS belum tahu."
"Aku belum dengar."
"Kau ketinggalan kabar."
Jika seperti itu, maka...
Maka setelah anggota pengurus MPK dan OSIS periode ke-40 lengser, akan ada banyak hal yang berubah dalam kepengurusan MPK dan OSIS.
Yah, kehidupan takkan berjalan tanpa adanya perubahan. Setakut apa pun Eta menghadapinya, perubahan tak bisa untuk dihindari.
Zidan mendekat ke meja diikuti oleh rombongan siswa dan siswi yang akan mengikuti tes wawancara. Eta dan Heri terkejut melihatnya, sebab ada sekitar 40 orang yang berminat masuk dalam kepengurusan.
Heri mendekat pada Eta, berbisik.
"Semoga saja mereka kompeten, tidak hanya menumpang nama."
"Uh huh..."
Eta sedikit tersinggung. Karena dia jarang mengikuti rapat kalau tidak diminta langsung oleh Fahmi sebagai Ketua MPK. Berkali-kali Eta berusaha bolos kumpulan, takut dimarahi ayahnya jika pulang telat. Meski waktu itu ayahnya dinas, Eta yang malas menjadikannya alasan setiap saat. Tapi, sekarang ayah Eta sudah pulang, jadi alasannya bukanlah tipuan lagi.
"Perkenalkan ini Heri dan Peta, anggota komisi A." Zidan memperkenalkan mereka berdua pada para calon pengurus.
"Peta?" Salah satu siswa bertanya heran.
Eta mendecakkan lidahnya.
"Satu angkatan memanggilnya Peta. Namanya Eta sih, tapi karena dia penggila peta maka... ya begitulah asal-usul nama panggilannya." Zidan menjelaskan, sementara para calon pengurus hanya ber'oh ria.
Raut wajah Eta bertambah kesal, tapi dia tidak mengatakan apa pun. Fokus menjalankan tugas adalah nomor satu. Harus segera selesai supaya cepat pulang.
"Silakan verifikasi data di sini. Zidan, kau masuk. Kak Fahmi menunggu di dalam."
"Oh, oke!"
Kertas formulir pendaftaran pertama diletakkan di atas meja. Eta memeriksa kelengkapan data. Isi dari formulir hanya sekedar nama, kelas, nomor telepon, email, hobi dan beberapa lainnya yang berkaitan diri. Isi dari formulir ini juga bukan sebagai kertas pendaftaran semata, tapi juga menjadi acuan bagi para anggota MPK dalam memilah pengurus baru.
"Masuklah."
"Oh, jadi saya langsung masuk saja ya?"
"Iya. Nanti di sana akan ada yang membimbing ke kursimu. Berjuanglah." Eta tersenyum tipis.
"Iya, semangat!" Timpal Heri.
"Terima kasih Kak Heri, Kak Peta."
Apa katanya?
"Jangan dipikirkan, Peta." Ujar Heri.
Eta memperhatikan peserta pertama yang masuk dengan tatapan tajam. Anak ini tidak harus langsung beradaptasi mengakrabkan diri dengan memanggilnya Peta. Sungguh, itu tidak perlu.
"Zidan, aku menandaimu." Ancam Eta.
Heri yang mendengarnya merinding seketika.
TBC