My world

My world
Chapter 31 - Insiden



Telepon berdering dengan kencang. Itu berasal dari telepon kabel. Eta merasa aneh, tidak ada yang pernah menelepon orang rumah dengan telepon kabel. Jika itu kenalan, pasti akan menelepon ke ponsel, bukan telepon rumah.


"Hei, siapa itu?" Tanya Devan sembari berusaha mencomot potongan tiramisu yang lain, namun diharapkan oleh Eta.


"Tidak tahu."


Eta dengan cepat menutup jendela dapur, mencegah Devan mengambil lebih banyak potongan tiramisu. Dia berjalan ke tempat di mana telepon kabel berada.


"Halo, dengan keluarga Ruzain. Ada yang bisa dibantu?"


Lama Eta mendengarkan lawan bicaranya. Matanya membulat sempurna saat setelah mendengarkan keseluruhan berita yang diberikan dari seberang telepon.


"Bohong! Ini modus penipuan!"


Devan yang masuk lewat pintu rumah setelah jendela dapur ditutup pun, melihat Eta yang berteriak 'bohong' langsung menghampirinya. Tatapan matanya memancarkan rasa penasaran.


Siapa yang menelepon? Apa yang dikatakan olehnya sampai Eta tidak percaya? Bukankah jarang sekali ada orang yang menelepon lewat telepon rumah?


Ada banyak sekali pertanyaan di benaknya.


Mula-mula, siapa identitas si penelepon?


Ekspresi Eta mengeras. Dia menarik tangan Devan menuju rumah sebelah, dan berhenti tepat di depan motor Devan.


"Apa?" Devan bertanya bingung.


"Bawa aku ke rumah sakit sekarang juga."


"Kau sakit?"


"Bawa saja sekarang!"


Devan menelan salivanya berat. Eta yang pemalas tapi juga sedikit humoris ini tengah marah besar. Salah berbuat saja maka Devan akan langsung terkena imbasnya.


"Oke-oke, tenanglah. Rumah sakit mana?"


"Aku lupa namanya. Tapi, rumah sakit itu berada di belakang gedung sekolah."


"Oh, yang itu. Sebentar, aku akan mengambil helm untukmu dulu."


Eta mengangguk, dia berusaha bersikap tenang.


Tadi, ternyata yang menelepon adalah pihak rumah sakit. Mereka memberitahukan bahwa terjadi kecelakaan mobil yang korbannya langsung dilarikan ke rumah sakit tersebut.


Seorang pria dan dua wanita. Pihak polisi menemukan nomor telepon itu di dalam saku korban pria. Tanpa banyak acara, pihak polisi langsung meminta resepsionis menelepon nomor tersebut.


Eta tentu tidak langsung percaya. Modus ini banyak digunakan oleh para penipu. Tapi, jika pihak rumah sakit yang Eta teriaki pembohong itu mampu menginformasikan berada di rumah sakit mana, kemungkinan berita itu bohong sangatlah kecil.


"Ini, pakailah supaya aman." Devan keluar dari rumahnya sambil membawa helm dan memberikannya kepada Eta.


Eta mengangguk, segera memakainya.


...****...


Sampai di halaman rumah sakit, Eta langsung melepas helm dan berlari masuk ke dalam gedung tanpa menghiraukan panggilan Devan. Bukan saatnya dia menjawab semua itu. Kekhawatiran Eta jauh lebih besar dari rasa penasaran Devan.


Di meja resepsionis, Eta segera menanyakan posisi kedua orang tuanya serta kakaknya. Saat menyebut 'korban kecelakaan', Eta diberitahukan bahwa ketiga korban dibawa ke ruang ICU, tidak perlu menyebutkan nama.


Devan menyusul Eta dari belakang dengan susah payah. Ini aneh. Eta tidak pernah berlari secepat ini bahkan dalam tes olahraga. Terakhir kali Eta berlari cepat adalah ketika mereka dikejar anjing liar.


Sesampainya di depan ruang ICU, Eta terlihat tidak sabar ingin mendobrak pintu di depannya. Untung saja ada Devan yang cekatan menarik Eta. Memintanya untuk tenang.


"Tenanglah. Dokter dan para perawat pasti sedang berjuang menyelamatkan mereka."


Ponsel Devan berdering, ada pesan masuk. Itu berasal dari tetangga di seberang rumahnya yang berprofesi sebagai polisi di POLSEK setempat. Beliau mengirimkan pesan bersama foto sebuah mobil yang ringsek.


Devan terkejut melihatnya.


[Kak Rendi POLSEK: Ada berita buruk. Ketiga keluarga Ruzain mengalami kecelakaan tunggal. Penyebab kecelakaan diduga adalah rem mobil yang rusak. Kau harus memberitahukan ini pada Eta.]


Devan menengok pada Eta. Wajahnya pucat pasi. Menunggu kepastian, apakah benar jika ketiga korban kecelakaan di ruang ICU adalah keluarganya? Eta jelas enggan menebak. Dia ingin tebakannya salah. Namun Devan tahu jika informasi yang diberikan rumah sakit tidaklah keliru.


"Eta, pasti lelah terus berdiri. Ayo duduk."


"Eta..."


Devan berjalan mendekat pada Eta. Dia memberikan ponselnya. Memperlihatkan isi pesan dari Kak Rendi, tetangga mereka.


"Lihatlah Eta, kau harus menerima kebenarannya. Mobil ayahmu ada di POLSEK saat ini."


"Bohong..." Suara Eta terdengar bergetar hebat.


...****...


"Ini hasil check-up rutinnya. Kondisi matamu sudah semakin membaik. Apa sekarang kamu bisa melihat warna merah?"


"Benar, Dokter."


Dokter memberikan selembar kertas berisi hasil pemeriksaan rutin. Atlas menerimanya dengan senyum mengembang. Bagaimana tidak, kondisi matanya sudah semakin membaik semenjak beberapa minggu terakhir.


Sudah sejak kecil dia kehilangan kemampuan untuk melihat beberapa warna. Sekilas memang terdengar seperti buta warna, tapi sedikit berbeda. Atlas bisa membedakan warna, tapi dia tidak bisa melihat beberapa warna, contohnya merah, kuning, dan jingga. Dan sebagai ganti melihatnya sebagai hitam dan putih.


Namun, belum lama ini dia berhasil melihat warna merah lagi setelah sekian lama. Ini adalah perkembangan pesat. Tentu saja Atlas bahagia sekali.


"Pemeriksaan selanjutnya adalah dua minggu lagi. Semoga saja langkah-langkah selanjutnya, nak Atlas bisa melihat semua warna."


Atlas mengangguk.


Dia segera keluar dari ruangan dokter tersebut. Berjalan melewati lorong yang panjang. Ketika di lantai dasar, Atlas melihat dua orang yang sangat dikenalinya.


"Eta?"


Melihat Eta yang menunduk dalam membuatnya cemas. Devan yang di sampingnya pun turut menenangkannya. Tanpa sadar, Atlas melangkah menghampiri mereka berdua.


Devan yang pertama sadar akan kedatangan Atlas. Sementara Eta masih tertunduk dalam. Dilihat dari jauh pun, Atlas tahu jika Eta baru saja menangis. Kerah bajunya basah.


"Ketua OSIS? Kebetulan sekali. Bisakah menemani Eta sebentar? Saya mau ke POLSEK." Kata Devan, langsung berdiri.


"Huh? Memangnya apa yang terjadi?" Atlas dibuat bingung.


"Tidak ada waktu untuk menjelaskan. Saya terburu-buru. Tolong temani dia sebentar."


Setelah mengatakan itu, Devan bergegas menjauhi ruang ICU. Atlas yang bingung tidak punya pilihan lain. Lagi pula dia senggang.


Atlas duduk di samping Eta. Dari dekat Atlas baru bisa sadar kalau tubuh Eta gemetaran. Atlas berpikir jika Eta kedinginan karena pendingin ruangan. Atlas melepaskan jaketnya dan memakaikannya pada Eta.


Eta melirik sekilas, wajahnya nampak kusut setelah menangis. Bukan Devan yang berada di sampingnya, melainkan Atlas.


Dalam posisi ini, bertanya apa yang terjadi pada Eta bukanlah hal bagus. Jadi, Atlas memilih bungkam.


"Kenapa...?" Eta bertanya dengan suara serak.


"Devan yang memintaku menemanimu. Dia harus ke POLSEK dulu sebentar. Tenang saja, dia akan segera kembali."


"Oh."


Tidak ada respons lain dari Eta. Atlas jadi cemas sekaligus penasaran. Seharusnya setelah kejadian tempo hari, melihatnya lagi, Eta pasti langsung menjauh. Tapi sebaliknya, hari ini dia banyak diam.


Atlas memandangi pintu ruang ICU yang masih tertutup rapat. Lampu di atas pintu berwarna merah, ada pasien dalam keadaan darurat. Dan pasti pasien itu adalah kerabat Eta.


Bersamaan dengan itu, lampu di atas pintu berubah menjadi hijau. Pintu terbuka lebar, seorang dokter keluar dari dalam dengan jas putihnya.


Eta yang terlihat tidak bertenaga menghampiri sang dokter. Atlas memegangi Eta dari belakang, khawatir dia terjatuh saking lemasnya dia. Atlas tak tahu dari kapan Eta menunggu di sini, yang pasti sudah lama karena air matanya telah mengering.


"Dokter, bagaimana keadaan Ayah, Ibu dan Kakak saya?" Tanya Eta, suaranya masih bergetar dan serak. Sepertinya Eta siap menangis kembali.


Dokter di depan mereka berdua menggelang pelan.


Tangan Eta terjatuh lemas. Atlas yang berdiri di belakang Eta merasa bahwa Eta kehilangan tenaganya untuk berdiri. Bukan hanya itu, Eta semakin lama kehilangan kesadarannya.


"Eta? ETA?!"


TBC