
Motor Atlas diparkir dengan sembarangan di depan sebuah rumah. Buru-buru Atlas berlari dan mengetuk pintu rumah serta memencet bel secara bersamaan.
"Iya, siapa?"
Seseorang keluar dari pintu dan langsung terkejut melihat Atlas terengah-engah. "Eh, Kak Atlas? Ada apa pagi-pagi ke sini?" Tanya Devan.
"Di mana Eta sekarang?!"
"Huh? Dia tidak memberitahu Kak Atlas?" Devan mengangkat sebelah alisnya.
Atlas menggeleng, "Dia hanya bilang akan pergi. Aku juga kaget saat ke sini dan melihat rumahnya yang seperti tidak berpenghuni lagi. Makanya aku langsung ke rumahmu."
"Yah, Eta 'kan memang sudah pergi."
"Ke mana?!" Atlas bertanya tidak sabaran.
Setelah membuka kotak, terdapat buku atlas dan sepucuk surat yang ditempel di dinding kotak. Isi suratnya hanya satu kalimat, simpel sekali. Amat sangat menggambarkan Eta.
"Au revoir"
Menyebalkan sekali isinya.
Hanya dengan membaca kalimat itu saja. Atlas tahu bahwa Eta takkan pernah kembali. Karena yang dia ucapkan bukanlah "sampai jumpa lagi" melainkan "selamat tinggal".
"Dia terbang ke Singapura."
"Apa katamu?"
Atlas yang syok hampir saja kehilangan dirinya. Untung dia mampu mengendalikan kepalanya supaya tidak memberi perintah menendang orang di depannya.
"Kupikir Eta memberitahumu."
Atlas mengernyit. "Dia takkan memberitahukan itu."
"Kenapa?" Tanya Devan.
"Memangnya dia tidak pernah cerita apa pun padamu?" Atlas bertanya retoris.
Devan terdiam, dia paham dengan cerita mana yang Atlas maksud. Tentu saja perkara nama panggilan yang Atlas sempat berikan kepada Eta tanpa Eta tahu kejelasannya.
Segera setelah Eta mengetahui tentang kebenaran di balik nama panggilannya. Eta berkata bahwa ini memang benar-benar cinta monyet, dan Devan tak bisa menyangkalnya lagi. Dia tidak akan menyemangati Eta untuk memperjuangkan Atlas. Karena percuma, Atlas bahkan tidak melihat Eta sebagaimana dirinya sendiri.
"Itu kesalahan fatal." Devan menyeletuk pedas.
Apalagi, mereka semakin menjauh setelah kecelakaan yang dialami keluarga Eta. Eta tidak masuk sekolah hingga tiga hari lamanya. Dan setelah Eta masuk, dia meminta agar Atlas menjauh dan jangan berbicara padanya lagi.
Setelah itu, Tuan Narendra dan istrinya datang untuk mengangkat Eta sebagai putri mereka sekaligus membiayai biaya rumah sakit Rea yang terbilang besar. Rea dikirim ke Singapura lebih dulu dari Eta.
Eta yang tidak mempunyai kerabat lagi tidak mungkin menolak. Ditambah kesembuhan Rea adalah nomor satu baginya. Jelas Eta akan memilih pindah bersama kedua orang tua angkatnya. Ayahnya selalu berpesan agar Eta selalu menjaga kakaknya.
"Ucapan perpisahannya kepadamu sangat buruk." Komentar Devan.
Atlas terdiam. Itu memang sangat buruk.
"Tetapi, itu lebih baik daripada tidak sama sekali."
"Kau benar." Atlas berbisik sampai suaranya tidak terdengar oleh Devan.
Devan tersenyum tipis, "Apa kau akan menyusulnya? Cerita cinta monyet ini akan berakhir dramatis jika kau menyusul Eta. Akan lebih greget lagi kalau kau berhasil membuat Eta tidak jadi pindah ke Singapura."
"...."
"Yeah, skenario itu hanya ada dalam novel."
Atlas menatap lurus Devan, ekspresinya penuh akan rasa percaya diri. Itu benar. Dia tidak bisa begitu saja diam seperti orang bodoh dan membiarkan Eta semakin menjauh.
"Terima kasih atas saranmu, Devan."
Devan dibuat kebingungan.
Kalimat yang barusan dikatakan olehnya hanya sekedar gurauan. Dia tidak menyangka jika Atlas akan menanggapinya secara serius. Lagi pula jarak dari sini menuju bandara tidaklah dekat, ditambah penerbangan Eta sebentar lagi.
"Aku harus bergegas sebelum pesawatnya lepas landas."
Atlas berlari ke motornya yang sempat dia parkir secara sembarangan di depan gerbang rumah Devan. Tanpa mengatakan apa-apa lagi kepada Devan, dia memacu gas dan meninggalkan pekarangan rumah Devan.
Atlas melajukan motornya dengan kecepatan penuh. Sebenarnya mustahil bagi Atlas bisa sampai tepat waktu, tapi secercah harapan itu masih ia pegang erat-erat.
Berpikir optimis, Atlas!
Sesampainya di bandara, secepat mungkin Atlas langsung memarkirkan motornya dan masuk ke dalam bandara sambil berlari. Tidak tahu harus ke mana, Atlas mendatangi petugas di dekatnya.
"Permisi, Pak."
"Ya, ada yang bisa saya bantu?" Petugas itu bertanya dengan ramah.
"Jam berapa penerbangan menuju Singapura pagi ini?"
"Oh, jam tujuh pagi."
Eh...
Atlas melihat ponselnya dengan wajah pucat.
Pukul 07:07.
"Bohong..." Desis Atlas.
Sontak Atlas mendongakkan kepalanya, memandang langit kebiruan yang membentang sejauh mata memandang. Kapas halus berwarna putih yang menggantung di kaki langit bergerak didorong angin sepoi. Pemandangan yang memukau.
Namun, bukan keindahan alam yang menjadi fokus utama Atlas.
Pesawat yang masih terbang landai yang bergerak ke arah utara lah yang menjadi titik fokusnya. Matanya lekat menatap badan pesawat yang semakin lama semakin mengecil hingga hilang tertutup awan.
Atlas mengepalkan tangannya. Mati-matian dia berusaha menahan air matanya yang tidak terbendung lagi. Atlas mulai terisak. Benar, Atlas menangis. Bukan karena dia lemah, tapi karena dia memiliki hati. Sebab, bukan ini akhir yang dia inginkan.
Atlas menyesal. Sangat menyesal. Seandainya dia bisa lebih cepat menyadari perasaan Eta saat itu. Cinta monyet yang membuat hati sebal tujuh turunan.
Sebenarnya tidak ada yang salah. Bukan salah Eta maupun Atlas. Ini juga bukanlah kesalahan Devan yang tidak memberitahu Atlas. Semuanya hanya soal perbedaan waktu. Lagi pula sejak awal mereka berada di halaman yang berbeda.
Devan benar.
Hidup yang mereka jalani tidak seindah dalam dongeng.
Atlas mengambil ponsel di sakunya. Memeriksa apakah Eta memutuskan memblokir nomornya. Bahkan jika pun tidak, Atlas tidak bisa menghubungi Eta yang sedang berada di ketinggian. Hal itu akan berbahaya bagi seluruh penumpang pesawat.
"Aku menyukaimu, Eta..."
...****...
"Pesawat Eta pasti sudah terbang."
Devan menatap langit yang penuh dengan gumpalan awan putih. Hari ini berawan, benar apa kata pembawa acara yang berada di segmen prakiraan cuaca.
Matanya melirik rumah sebelah yang sudah tidak ada kehidupan di dalamnya. Dengar-dengar rumah ini akan disewakan dan si penyewa akan datang minggu depan.
Devan tertawa pilu.
"Jatuh cinta di waktu yang berbeda ternyata lebih memilukan daripada cinta ditolak."
TBC