
Gabriel yang melihat jemputannya sudah tiba segera berdiri. Dia menghampiri Mamanya. Sebagai orang tua, Mama Gabriel sangat tahu apa yang terjadi pada putranya. Mata sembap itu terlalu jelas.
"Peta..."
Saat Gabriel hendak memanggil Eta untuk masuk ke dalam mobil. Dia melihat ternyata ada dua orang lainnya yang tidak dia sadari sebelumnya.
"Ketua OSIS."
"Gab, sepertinya Eta tidak akan pulang bersama kita."
"Eh? Tapi 'kan-"
"Gab sayang, perhatikan situasinya."
Tidak paham dengan ucapan Mamanya, Gabriel menatap Eta penuh tanda tanya. Ketika Eta menggeleng, Gabriel tahu bahwa Eta tidak akan pulang bersama dengannya. Mungkin dia akan pulang bersama Ketua OSIS dan temannya itu.
"Kalau begitu, aku duluan. Hati-hati, oke?"
Eta mengangguk. Dia diam memandangi mobil yang terus melaju membelah jalanan. Setelah mobil itu tak terlihat lagi, dia kembali menatap Atlas dan Yuda.
"Aku harus mengantar Rania pulang." Ujar Yuda, memecah keheningan.
"Baiklah. Jangan ngebut, kau membawa pacarmu."
"Oke!"
Setelah Yuda juga pergi, hanya tersisa Eta dan Atlas. Atlas menoleh pada Eta yang belum buka suara sejak tadi.
"Risa, ayo kita pulang."
Eta mengerutkan keningnya, "Ini terasa aneh."
"Aneh kenapa?" Bingung Atlas.
"Biasanya, saat rapat OSIS, Kak Atlas takkan pernah mengantarkanku pulang tak peduli kita searah. Makanya, aku selalu pulang dengan Raya. Tapi sekarang? Tiba-tiba saja ingin mengantar pulang, padahal tadi bisa saja aku bersama temanku. Aku ke sini bersamanya, jadi pulang juga harus begitu."
Atlas tersenyum tipis, "Kamu tidak suka pulang dengan motor?"
"Bukan. Aku hanya merasa aneh saja dengan tingkah Kak Atlas hari ini."
"Di luar sekolah, kamu tidak berbicara formal kepadaku."
"Itu tidak perlu. Tingkah Kak Atlas membuatku kesal."
"Lalu, kenapa kamu tidak pulang saja bersamanya?"
Eta tidak menjawab, dia berjalan lebih dulu menuju tempat parkir meskipun ia tidak tahu yang mana motor Atlas. Eta tidak pernah mengingat motor Atlas, dia lebih ingat motor milik Raya.
Dengan cepat Atlas menyamai langkah Eta. Tidak seperti gadis kebanyakan, Eta selalu berjalan dengan cepat. Dia terlihat lambat hanya ketika sedang berjalan dengan teman perempuannya.
"Apa dia menembakmu?"
Heran dengan pertanyaan Atlas yang tiba-tiba, Eta lantas menghentikan langkahnya dan memandang heran Atlas. Namun, Atlas seperti tidak menerima basa-basi.
"Bukan. Dia ingin menembak Raya, tapi aku mengatakan kepadanya bahwa Raya sudah memiliki pacar." Eta kembali berjalan cepat menuju tempat parkir.
"Kenapa dia mendekatimu dibanding Raya?"
"Raya adalah temanku, tentu dia memanfaatkan kesempatan ini."
"Tapi, dia menangis dipelukanmu."
"Aku yang memeluknya lebih dulu."
"Kenapa?"
"Ada apa ini? Mengapa Kak Atlas sangat peduli?"
Atlas terdiam, dia menyadari bahwa tingkahnya barusan di luar dugaan. Dia berjalan melewati Eta yang masih terus memberikannya tatapan bingung dan setengah kesal.
"Bukan apa-apa, ayo kita pulang."
...****...
Hari ini, Eta bebas untuk pulang tanpa harus menengok keadaan dan mengawasi ruangan OSIS sampai petang lagi. Dia telah dibebastugaskan oleh Ketua MPK, Kak Fahmi. Eta kembali menjadi anggota bayangan.
Seperti dugaan Eta, kelas berjalan dengan sedikit aneh karena Gabriel yang sering melamun bahkan di tengah kelas saat guru masih mengajar. Eta sudah memberitahu masalah kemarin pada Alan, jadi Eta bisa tenang terhadap Gabriel karena ada Alan yang menemaninya.
"Dia tampak mengenaskan. Sebelumnya dia dipenuhi cinta dan harapan, sekarang dia terlihat sangat putus asa." Gumam Eta.
"Risa."
Eta tidak akan terkejut lagi dengan panggilan ini. Meskipun tidak tahu alasannya apa, tapi Eta mulai menerima Atlas yang memanggilnya seperti itu.
"Kak Atlas, ada perlu apa?"
"Aku tahu kamu pasti akan pulang."
"Tentu, tidak ada yang harus kulakukan lagi di sini."
Atlas terkejut, Eta benar-benar sudah membuang semua keformalan yang selama ini dia tunjukkan pada kakak kelasnya. Kejadian kemarin ternyata punya imbas yang sangat besar. Atlas bukan tidak menyukainya, dia hanya perlu beradaptasi kembali. Seperti halnya Eta yang menerima begitu saja dipanggil Risa olehnya.
"Mau pulang bersama?" Tawar Atlas.
"Eh?" Eta terkejut, namun dia disadarkan kembali. "Tidak perlu. Bagaimana jika Pembina salah paham dan mencopot jabatan Kak Atlas sebagai Ketua OSIS? Aku jelas tak mau merasa bersalah. Sebentar lagi akan ada pergantian kepengurusan, lebih baik jangan membuat masalah sampai hari itu."
"Ah, benar juga. Selesai class meeting. Akan ada wawancara untuk pengurus baru, ya? Aku penasaran berapa banyak pendaftar tahun ini. Apa sebanyak saat angkatan kita?"
"Tidak tahu persis. Tapi, kita harus bersiap. Aku duluan."
"Ya. Hati-hati di jalan."
Segera Eta meninggalkan Atlas. Sejak kejadian kemarin, ia pikir bahwa Atlas akan canggung kepadanya. Ternyata Atlas malah menjadi semakin berani. Eta jelas tak mau mengikuti permainannya yang tidak jelas. Kalau Pembina tahu, maka habislah mereka berdua.
"Dia mendadak sangat ramah kepadaku, ada apa dengan itu!"
Biasanya Atlas memang ramah, tapi hari ini ramahnya kelewatan. Eta jadi takut melihatnya yang seperti itu. Setelah hari kemarin, Atlas malah terlihat terlahir kembali, seperti orang baru yang berwujud sama.
Hanya Eta yang berada di halte, ia menunggu bus sambil memainkan ponselnya. Membaca berita dalam dan luar negeri yang menarik untuk dibahas. Beberapa berita sangat berkaitan erat dengan dunia politik, Eta yang tidak terlalu paham tentu tidak banyak komentar seperti para netizen yang biasanya asal ketik dan kirim itu.
Setiap negara pasti punya masalahnya masing-masing. Tapi, ada beberapa negara yang sekarang sedang dilanda masalah yang sama. Yaitu penurunan jumlah populasi.
Negara dengan angka kelahiran paling kecil saat ini ditempati oleh Jepang dan Korea Selatan. Hal ini menjadi masalah bagi negara itu sendiri jika mereka kehilangan remaja dan hanya menyisakan para lansia, lama-lama negara mereka akan punah karena kehabisan penduduk.
Berbagai upaya dilakukan oleh pihak pemerintah. Mereka menyediakan banyak kemudahan bagi rakyat yang mau menikah dan mempunyai anak.
"Eh, Jepang akan menerapkan sistem semacam itu untuk mencegah berkurangnya populasi? AI sebagai biro perjodohan, luar biasa sekali."
Bus datang lima menit kemudian, Eta menyimpan ponselnya dan berjalan mendekati bus. Sebelum masuk, dia membiarkan seorang gadis keluar terlebih dahulu. Dilihat dari fisiknya, gadis ini mungkin seumuran atau lebih muda darinya.
Pandangan mereka bersibobrok, gadis dengan lesung pipi dan gingsul itu tersenyum manis pada Eta. Terpaksa Eta juga harus tersenyum balik kepadanya agar tidak dikira sombong.
Masuk ke dalam bus, dari dalam Eta bisa tahu bahwa gadis manis barusan berjalan menuju arah sekolahnya. Itu hanya dugaannya saja, belum tentu benar.
"Yah, bukannya aku peduli juga."
TBC