My world

My world
Chapter 23 - Hitungan Mundur



"17,9 miliar?!" Pekik Eta.


Matanya melotot ke arah ponselnya. Dagunya sudah jatuh setelah membaca artikel terbaru tentang Singapura hari ini. Eta iseng memeriksa harga rata-rata rumah di Singapura, dan ternyata dia harus dikejutkan dengan fakta ini.


Awalnya, harga rata-rata rumah termahal dipegang oleh Hong Kong, namun justru sekarang Singapura lah yang berada di urutan pertama.


Gabriel menoleh pada Eta, "Kenapa?"


"Ah, aku hanya sedang memeriksa harga rumah di Singapura. Dan hasilnya benar-benar di luar dugaanku."


"17,9 miliar?"


Eta mengangguk.


"Kau ingin membeli rumah di sana, Peta?"


"Tidak. Sudah kubilang aku hanya ingin berkunjung ke Singapura, bukan tinggal di sana."


"Lalu, kenapa kau harus mengecek harga rumah di sana?"


"Iseng."


Ya ampun, kebutuhan sehari-hari mereka juga pasti sangat mencekik untukku.


Eta ingat hari di mana ayahnya pernah pergi ke Singapura selama seminggu. Ayah bilang dia mau bertemu teman lama. Di sana Eta baru tahu, rupanya ayahnya punya kenalan di Singapura.


Bel istirahat pertama berbunyi nyaring, terdengar hingga seluruh penjuru sekolah. Hari ini Eta tidak sempat membuat bekal, bahkan sarapan pun nyaris kesiangan. Jangan salahkan Eta yang bangun telat, tadi malam dia terus memikirkan ucapan Ayahnya. Dia punya kebiasaan overthinking sebelum tidur.


"Mau ke kantin, Peta?" Tanya Salsa.


Eta mengangguk, "Jangan menitip padaku, oke?"


Salsa terkekeh, dia menggeleng cepat.


"Tidak. Aku hanya mau ke kantin bersamamu."


"Kalau itu sih tak apa."


Tapi, sampai di pintu kelas. Ada Atlas dan Raya yang berdiri di sana, seperti sedang menunggunya. Dan benar saja, begitu Raya melihat sosok Eta, dia melambaikan tangan meminta Eta mendekat.


"Oh, apa kau ada rapat?"


"Tidak... kurasa..." Eta menjawab ragu.


Akhirnya, Eta mendekat dan Salsa pergi ke kantin sendirian. Beberapa detik setelah Eta mendekat, ternyata Fahmi juga muncul. Berbeda dari ekspresi kakunya saat rapat. Di luar itu, Fahmi sehangat matahari pagi.


"Yang lainnya bagaimana? Sudah berkumpul?" Tanya Fahmi.


"Ya, tinggal kalian berdua saja." Jawab Atlas.


Fahmi berjalan memimpin menuju ruang OSIS. Karena undangannya dari OSIS, tentu saja rapat kali ini dilaksanakan di ruang OSIS. Ruang MPK baru akan digunakan saat sesi wawancara berlangsung.


"Melihat wajahmu, kau kebingungan 'kan?" Atlas berbisik pada Eta.


Mau tak mau, Eta mengangguk.


"Astaga, apa kau tidak membaca suratnya?"


"Nah..."


"Hari ini jadwalnya membagikan formulir. Setiap kelas minimal mengirimkan satu perwakilan, tak ada jumlah maksimal. Tahap seleksi dan sesi wawancara akan dimulai hari ini, setelah pulang sekolah. Jika hari ini tidak selesai, batas sesi wawancara adalah sampai besok."


Tak sadar ternyata mereka berempat telah sampai di ruang OSIS. Ruangan ini sangat besar hingga mampu menampung 41 anggota pengurus OSIS ditambah 14 anggota pengurus MPK.


Luasnya nyaris menyamai ruang guru. Dengan fasilitas yang telah disediakan oleh sekolah. Seperti papan tulis, ATK, printer, lima laptop dan dua komputer. Untuk dokumentasi, sekolah bahkan menyediakan kamera DSLR. Dan sebagai penunjang ketika presentasi, ada proyektor lengkap dengan papan putihnya.


Semua anggota pengurus duduk sesuai seksi bidang. Begitu pula dengan MPK, duduk sesuai komisi masing-masing dari A, B, C dan D. Seperti biasa, Atlas dan Fahmi bertugas sebagai moderator.


"Baiklah, tanpa basa-basi lagi. Saya menginfokan agenda hari ini adalah penyebaran formulir ke setiap kelas. Perwakilan setiap kelas minimal satu. Dilarang tidak mengirimkan wakil. Tidak ada jumlah maksimal, jadi dalam satu kelas boleh mengirimkan sebanyak apa pun.


"Teknis penyebarannya adalah, akan ada dua anggota OSIS dan seorang MPK di satu kelompok. Kelompok akan dibagi menjadi enam. Pembagian akan dilaksanakan sekarang. Sekretaris, tolong tulis nama-namanya di papan tulis." Papar Atlas.


Yuda mengangguk. Dia mengambil spidol di kotak ATK dan berdiri tepat di depan papan tulis. Siap menuliskan nama-nama setiap anggota yang akan turut menyebarkan formulir.


"Eta dan Heri jangan dimasukkan dalam daftar nama. Mereka akan membantu membereskan ruangan MPK bersama BPH." Ujar Fahmi.


Yuda mengangguk.


Setelah selesai membagi kelompok. Formulir pendaftaran diserahkan ke setiap kelompok, OSIS maupun MPK.


Eta dan Heri yang bukan BPH akan membantu mempersiapkan ruang MPK yang akan digunakan sebagai tempat wawancara. Teknis wawancara antara MPK dan OSIS cukup berbeda.


OSIS ingin wawancara dilakukan di depan semua calon pengurus. Sedangkan MPK lebih suka melakukan wawancara wajah dengan wajah, alias saling berhadapan.


Alasan OSIS menggunakan metode begitu supaya melatih mental para calon pengurus di depan semua orang. Latihan dasar pertama adalah public speaking. Sementara metode yang digunakan MPK supaya lebih efisien dan tidak memakan banyak waktu. Intinya, kedua metode memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.


Bagi Eta yang malas mengeluarkan banyak waktu dan tenaga. Metode yang digunakan MPK jauh lebih cocok untuknya. Dia hanya perlu bertanya dan menilai layaknya seorang HRD. Dan segera, mereka yang hari ini diwawancarai akan menggantikannya di periode ke-41.


"Kak Fahmi, apa pertanyaannya sudah disiapkan?" Tanya Eta setelah selesai menata ruangan sedemikian rupa.


"Iya, kertas yang ada di atas meja itu." Fahmi menunjuk.


"Oh, oke!"


Ruangan MPK sebenarnya bersebelahan dengan ruangan OSIS. Tapi, karena jarang digunakan, ruangan ini harus dibersihkan dengan tenaga ekstra. Sedangkan ruang OSIS yang sering dipakai, hanya perlu menata kursi dan meja.


"Kak Fahmi lebih suka dengan metode OSIS atau MPK dalam sesi wawancara ini?"


Fahmi menatap Eta yang tengah mengambil beberapa lembar kertas. Sejak awal anggota pengurus MPK tidaklah banyak, yang bertugas untuk mewawancarai juga hanya BPH saja. Eta yang mengurus formulir pendaftarannya bersama Heri.


"Secara kualitas, tentu saja metode OSIS. Tapi, para pendaftar juga bukannya sedikit. Jadi..."


Eta mengangguk. Pasti sulit. Belum lagi memilah peserta yang lulus seleksi. Jika memakai metode OSIS, waktunya terlalu sempit.


Padahal, serah terima jabatan akan dilaksanakan paling lambat tiga minggu lagi. Tiga minggu terhitung waktu yang sebentar untuk mengurus calon pengurus baru. Belum lagi OSIS harus segera menyelesaikan LPJ tahunan. MPK harus revisi habis-habisan sebelum musyawarah besar tahunan dan diserahkan kepada Pembina MPK OSIS serta Kesiswaan. Benar-benar bulan stres.


"Apa mereka belum menyerahkan LPJ tahunan?" Eta memperhatikan gerak-gerik para OSIS dari jendela.


"Belum. Atlas berjanji akan menyerahkannya Senin depan. Dia baru saja mengumpulkan LPJ class meeting beberapa hari lalu."


"Senin depan? Kita tidak punya banyak waktu untuk revisi sampai musyawarah besar tahunan." Eta menghela napas lelah, masalah revisi pasti tidak akan ada habisnya.


"Ayo bekerja keras hingga kita lengser!" Ujar Fahmi, menyemangati seluruh anggota pengurus MPK.


"YA!!!"


TBC