
Rapat OSIS kali ini dihadiri oleh Fahmi dan Eta sebagai Ketua dan anggota MPK. Semua anggota OSIS yang masuk dalam kepengurusan ataupun tidak, wajib hadir hari ini untuk membahas kesiapan acara class meeting.
"Bagaimana persiapannya? Bagian acara, tidak ada yang terlupakan?" Tanya Fahmi.
Dia memastikan bahwa acara class meeting ini tidak boleh ada yang gagal. Koordinator lapangan juga harus gesit. Fahmi memperingatkan jika ada yang leha-leha dalam menjalankan tugasnya, maka akan ada sanksi yang harus diterima.
"Untung aku sekretaris, jadi hanya sibuk di awal. Di hari pelaksanaan, tugasku hanya menonton." Bisik Raya pada Eta di sebelahnya.
"Ya, ya." Eta membalas dengan malas.
Apa dia tidak ingat bahwa LPJ adalah tugasnya?
Fahmi terus menanyakan bagaimana tugas setiap bagian, apakah sudah selesai atau belum. Fahmi juga menekankan kepada bagian penanggung jawab untuk tidak lalai.
"Khawatir ada alumni dan dari sekolah lain yang ikut menonton, seksi keamanan harus ekstra memperhatikan mereka. Jika mereka memulai keributan, maka bubarkan saja! Lalu, untuk yang nekat berpacaran di tempat sepi atau merokok, juga bubarkan! Kalau para pelaku adalah siswa siswi di sini, pastikan foto wajah mereka dan laporkan pada Kesiswaan.
"Juga, beberapa anggota yang sudah tidak punya tugas. Lebih baik kalian berpencar. Membantu seksi keamanan atau membantu mengambil bola. Keluarkan saja semua bolanya, jadi saat bola keluar lapangan bisa langsung diganti, tidak perlu menunggu bolanya diambil. Itu bisa menghemat waktu pertandingan.
"Kalian sudah dengar bukan kalau dalam satu waktu akan diadakan dua pertandingan sekaligus? Selain di lapangan futsal, kita akan menggunakan lapangan basket."
Semua yang ada di dalam ruangan saling bertatapan. Mereka tidak pernah mendengar tentang hal itu. Bahkan Atlas sebagai Ketua OSIS, ataupun Yuda sebagai Ketua Pelaksana.
"Jangan katakan pada saya jika kalian tidak tahu tentang ini?" Tanya Fahmi dengan wajah garangnya.
Beberapa anggota menggeleng dengan takut-takut. Entahlah, aura yang dikeluarkan oleh Fahmi tidak ada bedanya dengan guru killer yang paling terkenal di sekolah ini, Pak Oman.
Fahmi langsung menatap Yuda. "Apa maksudnya ini? Saya sudah memberitahukannya kepada kamu, bukan? Makanya saya meminta kamu untuk menggeser ring basket dan memposisikan gawang di sana."
Gawat. Apa yang dilakukan Ketua Pelaksana itu sih?!
Eta meringis dalam hatinya. Sedangkan Atlas memandang Yuda dengan tatapan tanya. Yuda menggeleng pelan. Sebelum Fahmi semakin kesal, Yuda segera berdiri. Eta memandang ngeri, kakak kelasnya itu benar-benar tidak pandang bulu.
"Kami akan menyelesaikannya hari ini."
"Pertandingannya lusa. Seharusnya semua sudah selesai hari ini. Saya tak ingin besok masih ada yang belum siap. Besok hanya tinggal pemeriksaan saja, tidak lebih. Tolong selesaikan hari ini." Perintah Fahmi.
Salah seorang anggota OSIS mengangkat tangannya. "Apakah kita masih punya gawang lagi?"
"Ada. Tanyakan pada bagian SARPRAS (Sarana Prasarana). Gawang disimpan di gudang olahraga bersama dengan jaringnya juga. Saya pegang kata-katamu, hari ini harus selesai." Ujar Fahmi pada Yuda yang dibalas oleh anggukan.
"Eta, urus sisanya. Saya akan mengantarkan Bu Sarah dulu." Pamit Fahmi.
"Ya, Kak Fahmi. Hati-hati di jalan."
Raya bergerak mendekati Atlas yang belum beranjak dari tempatnya. "Kak Atlas, sadar tidak kalau anggota pengurus MPK itu didominasi oleh siswa jurusan IPS seperti Kak Fahmi dan Eta?"
"Saya sadar, kok. Kebanyakan guru mereka memang sangat ketat terhadap waktu. Telat semenit saja akan dihukum. Makanya kita lebih sering melihat anak IPS yang dihukum. Itu karena guru kita jauh lebih santai kalau soal waktu. Mereka juga datangnya tidak sepagi guru-guru IPS."
"Tapi, dilihat dari manapun juga guru IPS terlihat lebih ramah bagi saya. Buktinya mereka berbicara dengan murid-murid seperti bicara dengan teman sebaya."
Atlas terkikik geli. Itu benar. Dibanding dengan para guru IPS, para guru IPA didominasi oleh mereka yang berkepribadian kaku. Memang ada yang menyenangkan, tapi kebanyakan yang tidak.
Sebaliknya, sesuai jurusan mereka yaitu sosial. Tentu guru-guru IPS kebanyakan adalah mereka yang pandai bersosialisi. Di sanalah para murid merasa nyaman dengan betapa santainya guru mereka saat menyampaikan materi dengan diselingi oleh humor garing yang entah kenapa selalu membuat perut tergelitik.
Meskipun orang-orang menganggap bahwa jurusan IPA itu lebih dipandang. Di sekolah ini, Atlas malah merasa sebaliknya. Jurusan IPS nampak menyenangkan baginya. Walau hasil didikan para guru IPS terlihat seperti para pemimpin diktator, contohnya Eta dan Fahmi.
"Saya harus membantu Yuda membawa gawang ke lapangan basket."
"Semangat, Kak Atlas!" Raya memberikan semangat.
Saat Atlas melewati Eta. Gadis itu menatapnya tanpa ekspresi berarti. Mungkin saja kelalaian Yuda barusan agak mengurangi nilai OSIS di mata Eta. Eta harus mengawasi mereka semua lagi hari ini karena kecerobohan Yuda.
"Sebenarnya aku tidak peduli. Setiap orang pernah melakukan kesalahan. Kak Yuda juga berniat memperbaiki kesalahannya. Hari ini pokoknya harus selesai." Eta mengulang kalimat Fahmi sebelumnya.
"Jaringnya langsung dipasang?" Tanya Atlas.
"Iya. Langsung saja supaya tidak kerja dua kali. Bagaimana jika kelupaan lagi? Bahaya jika sudah hari pelaksanaan belum dipasang."
Atlas mengangguk. Tanpa sadar dia tertawa geli. Di saat seperti inilah Eta sangat mirip dengan Fahmi. Semua produksi IPS benar-benar mengerikan. Mereka mempengaruhi orang di sekitar hanya dengan ucapan saja.
"Kekuatan dari ucapan memang luar biasa." Bisik Atlas.
"Apa?"
"Tidak ada." Atlas menggeleng pelan.
Atlas bergegas menuju gudang olahraga untuk membawa gawang bersama yang lainnya. Semua lelaki dikerahkan. Tidak ada yang bisa mengambil kesempatan bermalas-malasan di ruang OSIS.
Eta masuk kembali ke ruangan OSIS, di sana Raya sudah duduk manis di depan laptopnya. Dilihat lebih jelas, ternyata dia sedang memeriksa rundown yang telah dibuat. Seksi acara jelas harus membawanya ke mana-mana supaya tidak kebablasan.
"Apa masih ada fotocopy rundown-nya? Aku mau meminta satu." Tanya Eta pada Raya.
Raya mengangguk dan memberikan Eta satu. "Di hari pelaksanaan, ayo kita menonton bersama!"
"Tidak bisa. Kak Fahmi menugaskanku untuk menjadi tenaga tambahan untuk seksi keamanan supaya tidak ada yang macam-macam." Eta menggeleng menolak.
"Ya ampun, tidak seru!"
"Apa Defri ikut main?" Tanya Eta, dia duduk di sebelah Raya.
"Itu tidak mungkin. Defri anggota klub basket bukan futsal."
"Mungkin saja dia bisa main futsal juga."
"Futsal itu terlalu brutal, itu yang Defri katakan."
"Begitu."
Eta memandang keluar jendela. Di lapangan, para lelaki susah payah memindahkan gawang yang berat ke lapangan basket. Tenaga enam remaja lelaki ternyata masih kurang untuk membawa gawang.
"Peta. Kau masih belum memberitahukanku kelanjutan dari kisahmu itu." Raya menyenggol bahu Eta.
"Kisah?"
"Yap. Kisah cinta pertamamu, hehe!"
Eta menatap Raya tanpa minat. Dia memang satu spesies dengan teman sekelasnya yang selalu kepo dan juga hobi menggosip.
"Aku tidak mempunyai kewajiban untuk menceritannya kepadamu." Eta menolak keras.
"Eeh! Tapi, aku penasaran!"
"Sudah kubilang, Raya..."
Eta membuang pandangannya ke arah lain, membuat Raya kebingungan. Eta memang sangat tidak suka membicarakan kehidupan pribadinya.
"Kisah itu sudah tamat setelah masa pertukarannya selesai."
TBC