
Tiba-tiba Eta terdiam. Dia terkejut dengan reaksinya sendiri saat melihat kedekatan antara Atlas dan Risa. Tidak tahu kenapa malah merasa marah dan kecewa. Padahal sudah jelas dirinya dan Atlas tidak memiliki hubungan apa-apa.
Terlepas dari fakta bahwa Eta menyukai Atlas. Dia sudah bertekad untuk mengabaikan perasaannya sendiri demi masa depan yang cerah. Terlalu fokus pada asmara di usia dini takkan menghasilkan sesuatu yang bagus. Dan itu kenyataannya.
Eta mendengus, berusaha meredam kekesalan yang bergejolak dalam dirinya. Dia tidak suka menjadi emosional, itu menguras tenaganya seperti halnya olahraga.
"Eta."
Terkejut, ini sudah sekian lama Eta tidak dipanggil dengan benar oleh Atlas. Dia selalu dipanggil Risa olehnya. Teman-temannya yang lain pun sama saja.
"Kenapa?" Eta tidak sadar dan tidak tahu jika suaranya berubah ketus.
"Eh? Apa kau marah kepadaku?" Tanya Atlas.
"Tidak. Suasana hatiku memang buruk sejak datang ke sekolah."
"Apa itu? Kau tidak suka ke sekolah?" Atlas berniat bercanda.
Namun, hanya reaksi dingin yang didapatkannya dari Eta. Biasanya Eta memang malas meladeni orang. Tetapi, dia masih tahu batasan dan tidak akan membuat orang lain merasa tidak nyaman di dekatnya. Ini terasa ganjil.
Terdengar suara Yuda yang memanggil namanya. Atlas segera pamit pada Eta untuk menyusul Yuda. Pasti ini perkara LPJ tahunan. Karena MPK sudah mencak-mencak pada OSIS agar cepat diselesaikan minggu ini.
Membuat LPJ tahunan sebenarnya sama saja dengan membuat LPJ setiap kegiatan. Hanya saja ini versi kinerja para OSIS selama satu periode dalam setiap seksi bidangnya. Termasuk juga para BPH.
Dalam musyawarah besar juga akan ditanyakan setiap pertanggungjawaban mereka. Apakah semua tugas dilaksanakan atau tidak, yang bertanya tentu bagian MPK. Karena MPK sendiri selalu mengingatkan setiap tugas seksi bidang hingga mulut mereka berbusa. Di grup chat juga senantiasa diingatkan di malam harinya.
"Eta," Panggil Fahmi.
"Ya?"
"Hari ini jangan pulang dulu, kita akan melakukan revisi LPJ tahunan."
"Mereka sudah menyerahkannya?" Eta bertanya-tanya.
Pasalnya benda keramat itu belum diserahkan hingga pagi ini oleh Ketua OSIS. Meja Fahmi masih bersih dari tumpukan kertas yang menjadi hasil pertanggungjawaban kinerja OSIS selama satu periode.
"Mereka berjanji akan menyelesaikannya hari ini juga dan menyerahkannya saat pulang sekolah."
"Ouh... apa mereka tidak masuk kelas?"
"Saya dengar para guru akan rapat dari periode keenam hingga pulang sekolah. Oh, tentu saja para murid akan dipulangkan lebih cepat. Jadi, Atlas mengambil kesempatan ini untuk menyelesaikan LPJ tahunan." Papar Fahmi.
Kira-kira LPJ tahun ini berapa halaman, ya?
Sebagai contoh LPJ tahunan periode-periode sebelumnya yang sangat tebal dengan lebih dari seratus halaman. Eta menduga bahwa LPJ tahunan kali ini juga akan sama seperti para pendahulunya. Memikirkannya saja sudah membuat Eta berencana bolos kumpulan.
"Sampai 50 lembar tidak, ya?" Eta bergumam.
"Sepertinya sampai."
"Untung saja saya selalu mengingatkan dan mengawasi sekbid 1, 2, dan 3 meski jarang ikut rapat."
"Oh, Risa?"
Eta hendak protes ketika mendengar Fahmi memanggilnya Risa. Tetapi, dia salah paham. Fahmi benar-benar memanggil Risa, bukan hanya guyonan seperti Atlas.
Risa mendekati Eta dan Fahmi. Kali ini dia memakai seragam sekolah, tidak seperti tempo hari yang mengenakan pakaian kasual. Eta takkan terkejut jika Risa adalah 'bunga sekolah' ini.
"Apa kau yang namanya Eta?"
"Ah, iya. Kenapa?"
"Bisa ikut aku sebentar?"
"Hm?"
...****...
Saat ini Eta dan Risa sedang berada di halaman. Tepatnya di belakang gedung olahraga. Tempat ini sangat sepi karena terletak di ujung sekolah. Eta bahkan bisa melihat tembok besar yang membentang di samping mereka yang mengelilingi bangunan sekolah.
"Ada apa?" Tanya Eta, sudah tiga menit berlalu dan Risa tak kunjung berbicara.
"Ini tentang Atlas."
Oh, kukira apa.
"Dulu, sebelum bergabung dengan OSIS, kami berpacaran."
Mendadak Eta mengangkat sebelah alisnya. Kenapa Risa malah menceritakan mengenai dirinya dan Atlas kepada Eta? Jelas sekali Eta adalah orang luar dalam hubungan mereka.
"Kau tahu, bukan? Terkadang jika seorang perempuan merasa sangat dicintai. Rasa cintanya pada pria itu akan hilang." Lanjut Risa.
Bola mata Eta membulat sempurna. Tentu saja dia pernah mendengar hal ini. Kasusnya bukan satu atau dua. Sebagian besar perempuan di dunia, tanpa terkecuali, mengalami fenomena ini.
Jika dikaitkan dengan kasus Atlas dan Risa. Mungkin saja Risa adalah tipe orang yang jatuh cinta tapi akan ilfeel jika perasaannya dibalas dengan takaran yang lebih dari dirinya. Aneh memang. Tapi kejadiannya selalu berulang pada orang yang berbeda-beda.
"Ah, yeah." Eta yang tidak tahu harus merespons apa hanya menanggapi seadanya.
"Dan karena perasaan muak itu, aku jadi jarang sekolah karena malas bertemu dengannya. Kami kehilangan kontak selama berbulan-bulan. Terakhir kali kami berkomunikasi sepertinya seminggu setelah pelantikan MPK OSIS."
Uwah... Kak Risa ini bukannya seorang...
Ekspresi Eta saat menatap Risa berubah drastis. Ini adalah salah satu dari ratusan alasan Eta menolak cinta monyet. Kalau tidak si lelaki, maka si perempuan yang brengs*k.
"Tetapi, setelah lama lost contact, aku mulai merindukannya."
What the freak!
"Aku datang untuk menemuinya tempo hari. Tapi, dia malah menjauhiku. Bukankah itu kasar? Aku dan dia belum putus!"
"O-oh..."
Tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Di samping itu, Eta merasa kagum dengan makhluk semesta yang satu ini. Urat malunya pasti sudah dicabut semua.
"Kenapa mengatakannya kepadaku?"
"Itu karena aku sadar akan sesuatu."
"....?" Eta mengangkat sebelah alisnya, penasaran.
"Kau mirip denganku, meski sudah pasti aku lebih cantik."
Aku menyesal pernah memujinya! Dia berkali-kali lipat lebih menyebalkan dari Alan!
"Dia juga memanggilmu Risa, bukan?"
"Eh? Iya..."
"Jika seperti itu, bukankah dia masih menyukaiku?"
Sudah cukup Eta menghadapi tingkah narsis kakak kelasnya yang jarang terlihat di sekolah ini. Menjawab tidak pun, Eta takut salah. Sebab, jika Atlas masih menyebut-nyebut nama Risa. Bukankah sudah jelas jawabannya?
Eh?
Eta termangu. Otaknya terus menyambungkan benang yang masih kusut. Menyatukannya hingga sedemikian rupa.
Atlas selalu memanggilnya Risa, setiap saat. Dan ternyata Risa adalah nama pacarnya, bukan mantan. Jika begitu, itu berarti Atlas masih menganggap Risa sebagai pacarnya terlepas dari keduanya yang hilang kontak hampir setahun hanya karena Risa 'hilang rasa'. Alasannya hilang rasa pun benar-benar di luar nalar.
Intinya, Atlas merindukan Risa. Tetapi logika miliknya masih berjalan untuk tidak melanjutkan hubungannya dengan gadis yang menjauhinya lebih dulu.
Bukan hanya itu, poin utamanya adalah...
Apakah aku hanya pengganti?
Eta menghembuskan napasnya, menghilangkan rasa jengkel dan marah.
"Kau terlalu berbelit-belit! Katakan yang sebenarnya, kenapa kau mengatakan semua ini kepadaku?"
Risa mendecak.
"Apa kau tidak menyadari sesuatu?"
"Hentikan basa-basimu!"
Risa tampak gusar, dia menunjuk Eta tepat di wajahnya.
"Kau telah merebut Atlas dariku!"
Belum sempat Eta membalas kalimat Risa yang ambigu. Ada tangan lain yang memegang tangan Risa dan menjauhkannya dari wajah Eta. Segera, si pemilik tangan berdiri menghadap Risa.
"Hentikan permainanmu, kenapa kau membawa-bawa orang lain?" Atlas bertanya sambil meredam amarahnya. Sama sekali tidak keren jika menggunakan fisik dalam melawan seorang gadis.
Risa menggertakkan giginya.
"Tapi, kau telah selingkuh dariku dengan adik kelasmu sendiri!"
"Selingkuh? Aku pikir hubungan kita sudah berakhir setelah dua bulan kau terus menghindariku."
Risa bungkam, seakan seluruh umpatan yang hendak dia tujukan pada Eta tertelan sepenuhnya. Risa menatap Eta dengan benci.
Aku ingin keluar dari situasi ini.
Eta hanya bisa mengeluh dalam hatinya.
"Kita sudahi saja di sini. Aku sudah tidak bisa menanganimu. Aku tidak tahu apa yang kau inginkan." Putus Atlas.
"Apa?! Tapi aku tidak mau!"
"Cukup, kita sudah selesai. Aku akan menganggapmu sebagai teman, tidak lebih. Anggap saja kita tidak pernah berpacaran sebelumnya."
Risa tidak bisa melawan lagi. Bagaimanapun, dia adalah pihak yang pertama mengawalinya. Membuat jarak di antara mereka berdua. Dan sekarang, Atlas telah mengakhirinya.
Atlas berbalik, menghadap Eta yang sudah jelas sekali ingin pergi dari situasi ini. Memangnya orang mana yang mau ikut campur dalam drama cinta monyet ini? Tidak ada. Pengecualian untuk Alan, dia menyukai permainan menebak dan gosip.
"Maaf telah melibatkanmu."
"Yeah, itu bukan masalah besar."
Eta berbohong pada kondisinya. Melihat kesempatan yang ada, Eta segera berbalik untuk kembali ke ruang MPK. Namun, langkahnya terhenti. Dia menatap wajah Atlas dengan senyum terpaksa.
"Oh, omong-omong, namaku adalah Eta. Bukan Peta apalagi Risa."
Atlas seketika diam membeku."
"Jika lupa namaku, tolong tanya. Jangan malah memanggil dengan nama orang lain."
...****...
"Kenapa kau ke sini lagi?"
Devan menatap malas Eta yang sibuk memakan biji ketapang sambil menonton TV. Di depannya bahkan sudah tersaji jus tomat, pasti ibunya yang membuatkannya.
"Aku menumpang sampai sore. Nanti 'kan aku mau memasak makan malam untuk Ayah."
"Hei," Devan menajamkan tatapan matanya. "Kau baru saja menangis?"
"Diamlah, terlalu jujur bukanlah pilihan bagus."
"Oh? Ketua OSIS lagi?"
Eta tidak menjawab.
Devan mengangguk takzim. Dia mengambil tempat di samping Eta. Dari samping, wajah Eta sudah terlihat merahnya. Mata sembap, hidung yang masih berair. Pokoknya wajah Eta saat ini sangatlah mengerikan.
Pelukan Eta pada boneka beruang super besar semakin erat.
"Kau adalah sahabatku yang pintar, hebat dan kuat."
"Kenapa memujiku? Pasti ada maunya." Eta mencibir dengan suara seraknya.
"Kau tahu? Yeah, sebenarnya aku rindu pada kue tiramisu buatanmu."
"Jangan meminta yang macam-macam."
"Hehe..." Devan terkekeh.
Tanpa disadari, Eta menarik sudut bibirnya. Senyum yang tipis, sangat tipis. Bahkan Eta sendiri tidak menyadari itu. Selain keluarganya, sahabatnya adalah tempat Eta untuk 'pulang'.
"Terima kasih untuk segalanya, Devan."
Devan tersenyum lebar.
"Kau selalu bisa mengandalkanku!"
TBC