
"Apa kau masih menyukainya?"
"Yeah, perasaan kagum itu tetaplah ada."
"Kagum?" Beo Alan.
Jawaban yang tidak terduga dari Eta. Sosok yang selama ini Alan perhatikan selalu memandangi Ketua OSIS secara diam-diam. Bagaimana bisa dia mengatakan bahwa itu adalah caranya dalam menghadapi seseorang yang dikaguminya?
"Itu yang dikatakan Devan. Katanya, aku mungkin hanya kagum pada Kak Atlas, tidak lebih."
"Dan kau memercayainya?"
"Aku yakin dia tidak berbohong."
Alan tertawa geli. Pengaruh Devan ternyata besar juga. Alan berpikir jika batu penghalang terbesar adalah Atlas, tapi ternyata itu adalah Devan.
Teman masa kecil memang mengerikan.
"Apa kita masih bisa terhubung?"
"Kan masih ada ponsel, kau bisa meneleponku. Kau ini bodoh atau apa sih?"
"Eh? Memangnya kau mau jika aku meneleponmu? Kau tidak akan menolak panggilan dariku 'kan?"
"Mana mungkin!"
"Apa aku bisa meneleponmu setiap Minggu?"
"Hari Minggu?" Eta mengulang kalimat Alan.
Alan mengangguk.
"Kurasa tidak..."
"Bagaimana dengan setiap bulan?"
"Kalau itu baru bisa! Tapi sepertinya panggilan pertama harus aku yang menelepon nomormu."
"Terserahmu saja. Asalkan kita tetap terhubung, aku menerima apa pun keputusanmu."
...****...
Perasaan hampa menyeruak dalam hatinya ketika Eta meninggalkan kelasnya untuk terakhir kali. Eta memandangi sekelilingnya. Mungkin saja Bella sedang berada di ruang guru mengurus kepindahannya.
Dengan langkah berat Eta berjalan keluar sekolah sambil membawa toothbag di tangan kirinya. Matanya berpencar liar mencari kehadiran seseorang.
"Di mana dia?"
Aneh, ketika dicari saja tidak ada. Tapi, ketika tidak dicari, mendadak dia dengan amat sangat mudah ditemukan.
"Ayo cepat lari sepuluh kali mengitari lapangan futsal!"
Dari jauh, Eta bisa mendengar suara Pak Arya yang berteriak kepada sekumpulan siswa. Salah satunya ada Alan di sana. Eta lupa, hari ini ekskul futsal latihan. Padahal pagi tadi Alan membawa tas besar yang isinya ada seragam latihan futsal. Meskipun begitu, tidak ada Atlas di sana.
Hal biasa jika siswa dan siswi tahun ketiga tidak mengikuti ekskul apa pun atau kalaupun masih ikut, mereka akan jarang ekskul. Tahun ketiga harus fokus pada pelajaran mereka karena ujian kelulusan tinggal menghitung bulan.
"Ini sulit."
Sebelum menemui Atlas, Eta lebih baik berpamitan pada Pak Viko. Sebab pada dasarnya Eta belum benar-benar melepas jabatannya sebagai anggota pengurus MPK.
Kebetulan Pak Viko sedang berjalan menuju ruang guru. Bergegas Eta mendekatinya.
"Pak Viko," Panggil Eta.
Pak Viko menghentikan langkahnya.
"Oh, namamu Eta, bukan? Ada apa?"
"Itu... sebenarnya ada sesuatu yang ingin saya sampaikan."
Eta menceritakan secara singkat dan padat tentang pindahnya dia ke Singapura. Pak Viko mendengarkan dengan takzim hingga Eta selesai bercerita.
"Jadi begitu, kamu sudah membantu banyak dalam organisasi. Saya mendengar itu dari Bu Sarah. Terima kasih banyak, Eta."
Eta mengangguk. Ternyata mudah saja berbicara dengan Pembina MPK OSIS yang baru. Beliau adalah orang yang paham akan situasi. Lagi pula keadaan Eta sama sekali tidak memungkinkan untuknya menetap di Indonesia.
Sejenak Eta terdiam, kemudian menggelengkan kepalanya pelan. Gadis itu mengulum senyum. Tidak ada perasaan bahagia di wajahnya, hanya ekspresi pilu.
"Sepertinya tidak perlu."
"Sangat disayangkan, mereka akan bertanya-tanya tentang kepergianmu."
"Saya hanya memberitahukan ini pada teman sekelas saja juga bapak."
"Jangan-jangan yang berbicara dengan Pak Rahmat itu..."
"Itu Bunda- ibu angkat saya."
Selesai berpamitan pada Pak Viko. Eta lanjut mencari keberadaan Atlas. Setidaknya, dia juga harus mengatakan sesuatu kepada Raya atau Yuda. Mungkin Zidan dan Heri serta anggota pengurus baru periode ke-41. Jika dia masih mempunyai waktu.
Tepat waktu. Atlas sedang duduk di depan perpustakaan. Takut Atlas pergi dan menghilang lagi, Eta berlari menghampirinya. Atlas menyadari kedatangan Eta, spontan dia langsung berdiri.
Eta yang benci dan jarang melakukan olahraga, berlari kurang dari 10 detik saja terlihat terengah-engah dan kehabisan napas. Eta menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar.
"Eta, kau baik-baik saja?"
Tanpa berbicara satu patah kata pun, Eta segera menjulurkan tangannya untuk memberikan kotak sepanjang jari hingga ke sikunya kepada Atlas. Mata Atlas memancarkan raut tanya. Eta yang tidak mau berbicara dengan Atlas, benar-benar tak mengatakan apa pun. Atlas dibuat bingung.
Mulut Atlas sedikit terbuka, hendak mengatakan sesuatu. Namun gerakan tangan Eta menghentikannya. Eta mengangkat tangannya, meminta Atlas diam.
"Kau masih marah kepadaku?"
Eta tak menjawab.
"Oh ya, besok pagi bisakah kau meluangkan waktu untukku? Aku mau berbicara kepadamu."
Lama Eta tidak bereaksi. Raut wajahnya yang semula datar, sedikit berubah. Eta tersenyum, sangat tipis, seakan dia tidak ikhlas ketika melakukannya.
Atlas tertegun, ada yang salah di sini.
"Eta, aku-"
"ATLAS, KAU DIPANGGIL PAK VIKO DI RUANG GURU!"
Teriakan Yuda membuat Atlas menggantungkan kalimatnya. Dia nampak geram, namun tidak bisa protes karena yang memanggilnya adalah sang Pembina baru.
"Pokoknya, jangan lupa besok. Sampai jumpa lagi!"
Atlas berlari meninggalkan Eta di belakang. Eta masih diam tak bergeming di tempatnya. Senyum di wajahnya hilang dalam hitungan detik.
"Selamat tinggal."
...****...
Sesampainya di rumah, Atlas langsung membaringkan tubuhnya ke atas kasur. Kotak pemberian Eta ia tempatkan di nakas samping kasurnya. Kedua matanya asyik memandang ke atas, padahal tak ada apa pun di sana.
Hari ini sungguh melelahkan. Hari pemilihan sudah dekat. Dan tentunya, tugasnya sebagai Ketua OSIS bukan berleha-leha hanya karena dia akan digantikan.
"Besok, aku akan mengatakannya pada Eta. Kalau aku sebenarnya..."
Kelopak matanya terasa berat, Atlas tertidur lelap kurang dari lima menit saking lelahnya dia.
Malam terasa sunyi, hanya terdengar derik serangga bagaikan lagu pendamping tidur. Bulan purnama bersinar terang sekali. Setelah sepuluh jam, tempat bulan digantikan oleh matahari.
Kicauan burung yang hinggap di jendela sangat bising. Ditambah suara alarm yang sudah berbunyi sejak lima menit yang lalu. Sebuah tangan meraihnya dan mematikannya.
"Ya ampun, saking lelahnya kemarin. Badanku jadi pegal semua."
Hal pertama yang menjadi fokus utama Atlas setelah bangun tidur adalah kotak pemberian Eta yang duduk manis di atas nakas. Atlas lupa untuk membukanya semalam.
Tangan Atlas terjulur, meraih kotak. Dengan mudah dia dapat membuka kotak meskipun ada pita yang menghalangi.
Kotak telah dibuka, Atlas mengeluarkan isinya.
"Hei, ini...!"
TBC