
Suasana kelas XI IPS 2 agak suram. Tendangan penalti Alan memang masuk. Tapi, mereka tetap kalah setelah Rama gagal menyamakan mencetak gol.
Wajah Alan terlihat muram, namun tak berapa lama wajahnya itu berubah ceria. "Pertandingan bagus semuanya!"
Semua siswa di kelas XI IPS 2 memusatkan perhatian mereka pada Alan yang berdiri di tengah kelas dengan ekspresi secerah matahari paginya.
"Kita memang kalah. Tapi, lihat sisi baiknya! Kita sudah berhasil mencapai semifinal. Dan ini adalah hasil yang sangat bagus untuk kelas kita yang tidak unggul di bidang olahraga futsal."
Semua siswa dan siswi saling berpandangan. Benar apa kata Alan. Ini adalah hasil yang luar biasa didapatkan oleh mereka. Padahal yang anggota klub futsal di kelas hanya Alan seorang, dan dia juga baru masuk dua minggu lalu.
Tetapi, mereka bisa sampai di titik ini. Melewati banyaknya pertandingan menegangkan. Meski tidak sampai final. Namun, berhenti di semifinal juga bukanlah berita buruk.
Atmosfer di kelas berubah menjadi lebih baik. Wajah ceria mereka kembali dalam sekejap. Seorang siswa berdiri sambil memukul meja.
"Ayo kita makan besar hari ini! Gabriel yang akan mentraktir!"
Semua orang berseru riang. Gabriel yang tidak tahu apa-apa mendadak ditunjuk untuk mentraktir teman sekelasnya hanya mengangguk sambil tertawa lepas. Salsa dan Alan yang terbawa suasana langsung keluar kelas diikuti yang lainnya.
Gabriel yang berjalan di paling belakang. "Ayo, Peta. Apa yang kau tunggu?"
"Aku tidak bisa ikut bersama kalian."
"Apa? Kenapa?"
"Aku harus mengawasi pertandingannya sampai selesai. Selain itu, akan ada evaluasi kegiatan sebelum pulang sekolah. Maafkan aku. Mungkin lain kali." Jujur Eta.
Sebenarnya dia sangat ingin ikut. Tetapi, tugasnya sebagai anggota organisasi harus dia prioritaskan lebih dulu saat ini. Lain kali, jika Gabriel mentraktir kelas lagi, dan saat itu Eta lengser. Maka, dia akan ikut.
"Baiklah, bagianmu akan dibungkus saja." Gabriel mengangguk.
"Eh? Itu tidak perlu!"
"Tidak apa, aku yang akan mengantarkannya langsung ke rumahmu." Bujuk Gabriel.
"Memangnya kau tahu di mana rumahku?" Eta bertanya curiga.
"Tentu saja."
"Bagaimana kau bisa mengetahuinya?!" Berang Eta.
Selama ini, Eta lah yang selalu berkunjung ke rumah Gabriel. Gabriel tidak pernah melakukan hal sebaliknya, yaitu mengunjungi rumahnya. Di sekolah ini, tidak banyak orang yang mengetahui di mana rumahnya. Hanya beberapa saja, termasuk tetangganya, Devan, Raya dan Atlas.
Tapi, Gabriel sama sekali tidak pernah. Jadi, Eta merasa curiga. Bahkan hari di mana mereka pergi ke Pameran Duniapun, Gabriel tidak sempat mengantarkannya pulang karena ada Atlas di sana.
"Ouh, soal itu... aku dan Devan berada di kelas yang sama saat di tahun pertama. Aku sering berkunjung ke rumahnya untuk mengerjakan tugas. Di sanalah, aku tahu tentangmu."
"Lebih baik tidak usah, sungguh. Itu akan merepotkanmu." Eta menolak halus sekali lagi.
...****...
Eta kembali ke lapangan futsal. Pertandingan kedua akan mempertemukan XII IPS 1 dan X IPA 8. Hal yang mengejutkan melihat tim dari anak-anak baru itu bisa sampai di semi final.
Tanpa disadari, Atlas sudah berdiri di belakang Eta dengan sekaleng kopi instan. Dengan sengaja Atlas menempel kaleng kopi yang dingin ke pipi Eta. Eta terkejut, hampir saja dia berteriak dan merusak tenggorokannya.
Eta menatap Atlas yang tersenyum jahil. Sebelum Eta berkomentar lebih jauh, Atlas segera memberikan kaleng minuman lain yang isinya jus jeruk.
"Oh, jadi Kak Atlas tahu aku suka minuman asam." Eta menerimanya tanpa banyak protes, ditambah lagi setelah berkeliling barusan dia mulai merasa haus.
"Tentu saja. Aku selalu melihatmu membelinya."
"Tetapi, aku tidak sering meminum ini."
Eta menaruh kaleng minuman jeruk ke meja yang disediakan untuk para juri dan wasit yang bertugas. Eta duduk di kursi kosong, dia mengambil botol air minum yang ia kantongi dalam sakunya.
Dia meminum air putih dahulu sebelum akhirnya membuka kaleng minuman jeruk. Atlas yang melihatnya hanya bisa melongo. Tidak disangka pola hidup Eta jauh lebih sehat darinya.
"Minum minuman dingin terlebih lagi instan saat sedang kehausan bukanlah hal bagus. Kita akan lebih cepat merasa haus nantinya."
"Ah... kau tahu tentang hal itu juga." Atlas nyaris tak bisa berkata-kata, soalnya dia sering minum air dingin setelah berolahraga supaya dahaga cepat hilang.
"Hal seperti itu berseliweran di internet."
"Bagaimana jika minum air dingin setelah olahraga?"
"Kalau itu tidak ada masalah, kurasa. Katanya, air dingin itu bisa menurunkan suhu tubuh yang meningkat saat berolahraga." Jelas Eta.
"Jadi, tidak ada masalah, ya."
"Tetapi, tetap saja. Yang berlebihan itu tidak baik." Eta mengingatkan.
Raya berjalan menghampiri Eta. Sejak tadi dia mencari keberadaan Eta tapi tak kunjung menemukannya. Eta menghilang darinya setelah pertandingan antara XII IPA 1 dan XI IPS 2 selesai.
"Peta, aku mencarimu ke mana-mana!" Raya menggembungkan pipinya.
"Aku ada di kelasku setelah pertandingan."
"Begitu."
Raya melirik Atlas yang duduk di samping Eta. Mendadak dia tersenyum penuh makna, menatap Eta yang sepertinya tidak memperhatikan. Seperti biasa, temannya yang satu ini terlalu fokus dalam menjalankan tugas terlepas dari julukannya sebagai anggota bayangan.
"Aku harus menyemangati Kak Fahmi dulu, dia 'kan akan bertanding. Bye-bye!"
"Kau tidak akan menyemangati Fahmi?" Tanya Atlas.
"Benar juga. Nanti saja, deh."
Atlas menggeleng pelan. Setelah pertemuan mereka di Pameran Dunia tempo hari. Interaksi antara Eta dan dirinya mengalami banyak perubahan. Eta yang biasanya sopan, kini menganggapnya seperti teman sebaya. Meski, tak bisa dipungkiri bahwa Eta tetap menambahkan embel-embel 'Kak' ketika memanggilnya.
"Sebulan lagi kita akan lengser, ya..."
"Benar. Sebulan lagi..."
Eta terdiam. Sebulan lagi juga orang tuanya akan pulang dari dinas, bersama Kakaknya yang sudah lulus. Kakaknya akan wisuda tahun depan. Tidak tahu apakah dia akan datang atau tidak. Kakak perempuannya itu pasti takkan peduli terhadap kehadirannya.
Setelah mereka lengser, semester gasal akan berakhir. Libur semester selama tiga minggu hingga sebulan lamanya lalu kembali masuk di semester genap.
Eta jadi kepikiran tentang masa depannya. Sebagai pecinta peta, cita-citanya adalah menjadi seorang kartografer. Dia selalu memikirkan hal ini sejak lulus sekolah dasar.
Apa yang akan kulakukan di masa depan?
Eta mencuri lihat Atlas. Sejak masuk ke dalam anggota organisasi, Eta menyukainya. Tidak tahu apakah suka atau sekedar rasa kagum seperti kesannya pada Alois saat di SMP.
Ia tidak mau memikirkannya lebih lanjut. Eta suka menjadi realistis. Dia lebih suka menjalani hal-hal yang berguna untuknya di masa depan daripada mengurus urusan percintaan, yang mana menurutnya sia-sia untuk dilakukan. Tidak ada hal bermanfaat yang bisa didapatkan. Eta menyimpulkannya dari kejadian putusnya Raya dan Defri. Ia jadi semakin ragu.
Eta bersikeras mengatakan kepada Devan bahwa dia hanya akan membiarkan perasaannya ini. Entah akan semakin menghilang atau malah membesar, Eta tidak akan memerdulikannya.
"Risa!"
Panggilan Atlas cukup untuk mengejutkan Eta. Sebenarnya Atlas sama sekali tidak berteriak. Namun, karena Eta melamun makanya dia terkejut.
"Apa?" Refleks Eta bertanya dengan nada tinggi.
"Kau marah padaku?" Atlas bertanya bingung.
"Tidak. Hanya refleks karena terkejut."
"Kau pasti sedang melamun."
Tebakan Atlas tepat sasaran.
Sejatinya, Eta adalah orang yang ambisius meski orang-orang selalu melihatnya sebagai pribadi yang santai. Orang-orang juga menganggapnya tidak peduli, padahal dia adalah orang yang selalu memikirkan banyak hal secara mendalam sampai tidak bisa tertidur ketika malam datang. Eta juga tidak banyak tersenyum, tapi ia bisa dengan mudah tertawa.
"Ya. Hal yang biasa untuk dilakukan."
"Melamun apa?"
"Masa depan."
Atlas tidak bergeming. Orang di sampingnya ini, yang selalu membolos saat rapat MPK OSIS, ternyata setiap hari memikirkan bagaimana masa depannya.
"Hal yang tidak terduga darimu. Abnormal. Anomal-"
Kalimat Atlas terpotong. Seluruh penonton di lapangan yang masih tersisa mulai berisik. Bertanya-tanya dengan wajah penuh kebingungan.
Atlas berusaha mencari tahu apa yang sedang terjadi. Rupanya, X IPA 8 berhasil mencetak gol pertama mereka di menit keenam. Penonton yang mengira bahwa XII IPS 1 akan unggul, tidak mengira bahwa mereka mendapat lawan yang sulit.
"Mereka benar-benar kejutan." Atlas berkomentar, dia bersiul penuh kekaguman.
"Kejutan yang tidak terduga." Timpal Eta.
Atlas terkekeh.
"Kejutan itu selalu tidak terduga, Risa."
TBC