
"Astaga, padahal di class meeting terakhir kita. Aku berharap bisa melawanmu." Yuda berceletuk.
Itu benar. Pertandingan kemarin adalah kejutan besar dan tak terduga dari kelas X IPA 8. Mereka berhasil mengalahkan XII IPS 1 dengan skor 3 - 2. Final tahun ini hanya diisi oleh jurusan IPA. Padahal biasanya selalu mempertemukan dua jurusan. Baru tahun ini terjadi perubahan.
"Yah... kemarin adalah pertandingan hebat. Rupanya kami punya penerus yang bisa diandalkan." Timpal Atlas.
Fahmi mengangguk, sambil tertawa kecil. Jarang sekali Fahmi menunjukkan ekspresinya. Jujur, tak bisa dipungkiri jika dia kecewa berat. Namun, ini adalah hasil dari usaha mereka. Mereka sudah berusaha semaksimal mungkin, tetapi pihak lawan punya kualitas di atas mereka.
"Berjuanglah. Aku takkan mendukung tim manapun karena tahun ini tak ada jurusan IPS."
"Kau sangat pilih-pilih, Fahmi." Atlas tersenyum simpul.
Eta tidak banyak berbincang. Hari ini sejak bangun pagi tadi, suasana hatinya buruk. Tidak tahu kenapa, dia hanya merasa sangat buruk. Saking buruknya, dia melewatkan sarapan dan makan siang karena malas memasak.
"Peta mau menonton kami, tidak?" Tanya Yuda.
Eta menggeleng pelan, "Patroli."
Karena sebentar lagi akan dimulai. Eta bangun dari duduknya, berjalan menjauh menuju tempat parkir sekaligus toilet, lokasi paling rawan. Fahmi dan Yuda sadar jika ada yang aneh dengan Eta hari ini. Dia memang penyendiri, tapi dia bukanlah pemurung.
Mulut Atlas terkatup sempurna. Suaranya enggan keluar untuk memanggil nama Eta. Dia hanya bisa diam sambil memandangi punggung Eta yang semakin menjauh.
...****...
Saat ini Eta sedang terduduk di pos satpam yang tepat menghadap tempat parkir siswa. Hari ini adalah final class meeting, semua siswa dan siswi memilih untuk menonton pertandingan, tanpa terkecuali.
Matanya menatap kosong ke depan. Dua satpam yang biasanya berjaga di pos sedang patroli singkat. Satunya di gerbang sekolah, dan yang satunya lagi tengah mengelilingi tempat parkir.
Eta menatap ponselnya. Lebih tepatnya memandangi foto keluarganya. Mereka berempat berpose bahagia di depan kamera. Foto ini adalah kebohongan manis yang selalu disimpan oleh Eta. Faktanya, kenyataan tak seindah ekspetasi.
Sekali saja, Eta sangat ingin melihat Ibu dan kakak perempuannya tersenyum dengan tulus kepadanya, tidak lebar pun tak apa. Eta hanya ingin merasakan bagaimana rasanya dicintai oleh mereka. Karena keluarga Eta bukan hanya Ayahnya saja.
Meskipun Ayah dan Ibunya tidak pulang lama. Biasanya Eta takkan merasakan perasaan kosong seperti. Rasa rindu mendadak menyeruak di dalam dadanya. Bergejolak meminta bertemu. Namun, Eta baru bisa menyambut kepulangan mereka bertiga bulan depan. Satu bulan bukanlah waktu yang sebentar. Apalagi dia mulai merasa kesepian.
Bulir air mata terjatuh membasahi pipinya. Eta kesepian. Dia merasakan rindu yang amat mendalam. Eta sangat ingin memeluk keluarganya saat ini juga. Walaupun Ibu dan kakak perempuannya tidak menyukainya.
Air mata itu menetes ke atas permukaan ponsel yang masih menampilkan foto palsu itu. Eta menutup jendela ponsel. Dia menelepon Ayahnya. Eta sudah tak tahan lagi.
Dengan tidak sabar dia menunggu Ayahnya mengangkat panggilannya. Sepuluh detik, dua puluh detik, hingga setengah menit berjalan sia-sia. Eta hanya mendengar bunyi denyut panggilan.
Panggilan terputus setelah satu menit tidak diangkat. Eta tidak menyerah, dia menelepon nomor Ayahnya sekali lagi. Kali ini sama saja seperti percobaan pertama, sambungannya terputus.
Tangisan Eta sudah semakin tidak bisa dibendung. Dadanya sesak karena dia kesulitan bernapas.
Hal ini adalah wajar karena emosi jiwa seseorang dapat mempengaruhi pola pernapasannya. Saat menangis terus-menerus bisa menyebabkan ketidaknyamanan di tenggorokan dan hidung. Sebab berkurangnya oksigen ke paru-paru.
Eta tahu betul penyebabnya mulai merasakan sesak napas. Tapi, dia tidak bisa menghentikan air matanya yang terus mengalir. Bahkan Eta mulai sesenggukan yang membuat napasnya semakin tak beraturan.
Di percobaan kelimanya menelepon. Akhirnya Ayahnya menjawab. Eta senang setengah mati. Sulit baginya menyembunyikan tangisannya dari Ayahnya.
"Halo, Eta? Maaf baru Ayah angkat teleponnya. Tadi Ayah sedang di luar dan baru kembali ke rumah. Ayah lupa membawa ponsel."
Saking senangnya mendengar suara sang Ayah. Eta tidak bisa berkata apa pun. Ingin sekali dia menangis lebih kencang. Betapa rindunya ia kepada pemilik suara di seberang telepon.
"Ayah... pulang... Eta rindu..." Eta tak peduli pada alasan Ayahnya yang tidak menjawab panggilannya. Dia langsung mengutarakan isi hatinya yang sedang meluap-luap. Rintihan suara tangisnya pasti disadari Ayahnya.
"Eta? Kamu menangis, nak?"
Dari seberang telepon, suara Ayah Eta berubah panik. Eta menjawab dengan suara sesenggukan khas orang menangis. Karena napasnya sesak, sulit baginya berbicara. Yang barusan saja dia mengatakannya dengan susah payah.
"Ayah akan pulang sekarang juga. Mungkin akan tiba waktu malam."
Eta mengangguk kecil. Meski dia tahu bahwa Ayahnya tak melihatnya. Panggilan diputus oleh Ayahnya. Eta tahu kalau Ayahnya pasti sedang bergegas bersiap pulang.
"Cepatlah pulang..."
Eta berjalan lunglai. Dia keluar dari pos satpam. Karena matanya menatap lurus ke bawah, Eta tidak sadar jika ada orang di depannya. Tubuh Eta menubruknya dengan keras.
"Ouch... astaga kau harus berhati-hati, Eta."
Eta mendongak. Sosok yang amat dikenalnya. Menatapnya dengan senyuman hangat. Sedetik kemudian setelah melihat kondisi Eta, raut wajahnya berubah panik.
"Ya ampun Eta, kau baik-baik saja?"
Eta merunduk dalam. Matanya lagi-lagi tak bisa membendung tangisan yang keluar. Dia paling tak bisa ditanya seperti itu jika sedang sedih. Pasti responsnya adalah menangis.
Tangannya bergerak mencengkeram seragam sosok di depannya.
"Devan... pulang..."
...****...
Suara gemuruh memenuhi lapangan futsal. Pertandingan berakhir dengan kelas XII IPA 1 yang keluar sebagai pemenang. Pertandingan yang hebat, skor akhirnya adalah 2 - 1. Sulit sekali mencetak skor lebih banyak karena masing-masing tim luar biasa permainannya.
Yuda berlari memeluk Atlas. Keringat yang mengucur deras adalah bukti betapa sulitnya mereka mendapatkan kemenangan. Atlas tertawa bahagia. Beberapa anggota kelasnya berlari menghampiri mereka.
Fahmi dan Raya juga turut memberikan selamat kepada Atlas dan kelas XII IPA 1 yang menjadi pemenang tahun ini.
"Selamat, itu tadi pertandingan yang luar biasa." Puji Fahmi.
Atlas hanya mengangguk. Sementara Yuda yang senang dipuji mulai mengeluarkan omong-kosong menyebalkannya. Dia memang narsis dan penuh percaya diri. Entah apa yang dilihat pacarnya dari Yuda.
Atlas mengusap wajahnya yang berkeringat. Dia menatap ke sekitar namun tak menemukan wajah yang ia cari. Padahal Atlas berharap dia menonton pertandingannya hari ini.
"Di mana dia?" Tanya Atlas pada Fahmi dengan suara kecil. Bahaya jika Yuda mendengar dan menggodanya karena ini.
"Patroli. Biasanya sih di tempat parkir."
"Tapi, pertandingannya sudah berakhir. Dia pasti mendengarnya. Kenapa dia tidak ke sini?" Atlas bertanya-tanya.
"Lantas mengapa tidak kau saja yang menghampirinya? Kau 'kan tahu bahwa emosinya sedang tidak stabil hari ini."
Atlas terdiam. Sesaat sebelum pertandingan, ia melihat Eta dalam keadaan buruk. Eta jarang menjadi emosional. Namun, jarang bukan berarti tidak pernah.
"Aku akan menyusulnya. Dia di tempat parkir 'kan?"
Fahmi mengangguk sebagai jawaban.
Diam-diam Atlas menyelinap keluar dari kerumunan. Langkah kakinya membawanya menuju tempat parkir. Namun, baru setengah perjalanan ke sana, dia sudah melihat Eta.
Langkah kakinya berhenti. Atlas membeku di tempat.
Eta tidak sendirian di sana.
Jelas sekali Eta sedang menangis. Wajahnya kusut, hidungnya memerah, matanya sembap nyaris bengkak. Apa yang terjadi padanya selama Atlas bertanding? Hal itu yang pertama kali dipikirkan Atlas.
Yang lebih mengejutkannya lagi adalah sosok di depan Eta. Seragam sekolahnya sudah basah kuyup karena tangisan Eta. Jempol tangannya bergerak mengusap lembut mata Eta yang terus banjir air mata.
Atlas mencengkeram dadanya. Sesak sekali. Ini bukan kali pertama dia merasakannya. Dia tidak suka dengan gejolak emosi ini. Tidak nyaman dan hanya membuat dada sakit.
"Bukankah dia tidak mempunyai pacar?"
TBC