
Di sebuah kafe dengan gaya minimalis. Dinding-dinding dicat warna kayu supaya terkesan lebih alami. Apalagi kafe ini terletak di samping kebun, kesan alamnya semakin terasa.
Seorang gadis yang mengenakan blus polos berlengan panjang berwarna pastel dipadukan celana hitam sepanjang mata kaki masih duduk di sana. Menunggu klien selama satu jam terakhir.
Ia melirik ke jam tangannya lagi dengan tidak sabar. Kali ini, jika dalam sepuluh menit orang itu tidak datang. Maka, dengan berat hati dia akan pergi dari kafe. Karena percuma saja menunggu yang tidak pasti.
Ponselnya bergetar, ada notifikasi yang masuk. Gadis itu terlonjak girang mendapati siapa yang mengirimkannya pesan. Nama kontak 'Raya' terlihat jelas di sana.
[Raya : Peta! Apa kabar? Kabarku di Indonesia baik-baik saja. Banyak hal terjadi di sini setelah kau memutuskan pergi ke Singapura. Oh, bulan depan aku akan melaksanakan pertunanganku. Kuharap kau mau datang.]
Pesan singkat tersebut dibaca oleh gadis itu dengan cepat. Ia juga langsung mengetik pesan balasannya pada Raya. Sudah lama sekali dia tidak bertukar pesan dengan Raya selama setahun terakhir.
Sebab dia tengah sibuk menjalankan profesi barunya sebagai seorang arsitek amatir. Aneh rasanya. Karena ketika ia masih duduk di bangku SMA, ia berambisi untuk menjadi seorang kartografer.
Namun, hanya beberapa hari beberapa hari sebelum ujian semester gasal. Tujuannya berubah, dan dia memutuskan menjadi seorang arsitek hebat. Motivasinya sebagai kartografer mulai buram setelah ia diterima di universitas ternama di Singapura.
"Syukurlah, Raya bertemu cinta sejatinya."
Ia turut merasa senang dengan berita pertunangan Raya. Hebat sekali temannya yang sultan itu bisa mendapatkan hati Raya. Yah, ada banyak hal yang berubah setelah dirinya pindah ke Singapura dan tinggal bersama keluarga angkatnya.
Sementara Raya baru akan bertunangan. Teman masa kecil sekaligus tetangganya itu, Devan sudah menikah sejak setahun lalu. Sebulan lalu Devan mengonfirmasi kehamilan istrinya padanya. Ia turut bersuka cita mendengarnya.
Teman yang paling ia ingat juga karena rajin bergosip dengan para siswi. Alan berencana akan melanjutkan S2 di Amerika. Hingga detik ini, Eta rutin melakukan panggilan telepon dengan Alan setiap bulannya di tanggal 10.
Sudah hampir tujuh tahun ia berada di Singapura tanpa pernah sekalipun pulang ke Indonesia. Dia mulai merindukan teman-temannya di sana.
Gadis itu kembali memandangi foto bersama Pembina dan seluruh anggota pengurus MPK dan OSIS periode ke-40. Ia tidak menyangka, Ketua OSIS dan Risa pernah berpacaran. Sedangkan, dirinya yang mempunyai kemiripan dengan Risa selalu dipanggil dengan nama itu.
Mungkin, Ketua OSIS itu adalah cinta masa SMA yang akan sangat dikenang olehnya. Masa putih abu yang sangat berkesan dan tiada duanya. Pada akhirnya, semua itu adalah masa lalu.
Warna kulitnya seperti kulit buah zaitun. Hidung dan alisnya terlihat tegas. Bola matanya yang sedikit lebih besar dengan iris berwarna hijau, warna terlangka di seluruh dunia. Memesona seluruh pasang mata yang memandangnya.
Pria itu meninggalkan kesan cerdas, elegan dan penuh percaya diri kepada setiap orang yang ditemuinya. Sekali lihat, orang-orang mungkin akan jatuh cinta padanya.
"Sorry I'm late. My watch turned out to be wrong and showed the time one hour late. I didn't notice. Have you been waiting a long time¹?" Ucap pria itu dengan nada penuh penyesalan.
(¹Maaf, saya telat. Ternyata jam saya keliru dan menunjukkan waktu satu jam lebih lambat. Saya tidak menyadarinya. Apa anda sudah lama menunggu?)
Gadis itu mendongak. Dalam sedetik, perasaan kesal di hatinya berubah menjadi terkejut. Seseorang pernah berkata, 'kejutan itu selalu tidak terduga'. Dan yah, dia berkata jujur.
Saat ini, hal tak terduga di hadapannya adalah kejutan yang tidak tahu harus bagaimana dirinya menanggapi.
"Alois?" Tanyanya dengan aksen Perancis yang kental.
"Me connaissez-vous?²" Pria itu refleks bertanya dengan bahasa negaranya.
(²Anda mengenal saya?)
Gadis itu tidak bergeming. Kedua matanya menunjukkan sorot yang tidak dapat dideskripsikan. Luar biasa sekali takdir mempertemukan mereka sekali lagi.
Padahal, dia tidak pernah berharap akan bertemu cinta pertamanya di negara impiannya. Bukannya mustahil, tapi kemungkinannya amat sangat kecil. Namun, sekali lagi...
Kemungkinan itu adalah ruang kecil bagi harapan untuk bergerak.
TBC