
Hari demi hari berlalu. Pertandingan demi pertandingan telah dilewati. Hingga akhirnya sampai di semifinal. Di mana menyisakan empat tim unggul, yaitu XII IPA 1, XII IPS 1, XI IPS 2 dan X IPA 8.
"Hebat sekali X IPA 8 bisa sampai di titik ini." Komentar seorang siswa saat melihat bagan pertandingan.
"Tapi, ini gawat, mereka bertemu dengan XII IPS 1 untuk memperebutkan posisi di final." Timpal siswa lainnya.
Kelas Eta juga, XI IPS 2 akan bertanding dengan jagoan jurusan IPA, XII IPA 1. Artinya, kelasnya akan berhadapan langsung dengan kelas Atlas dan Yuda. Ini bukan berita bagus, Eta yakin mereka akan dikalahkan di semifinal.
Di kelas, Alan dan yang lainnya tengah bersiap. Mereka akan bertanding pertama. Kemudian baru XII IPS 1 melawan X IPA 8.
Eta menghampiri Alan. "Berjuanglah. Masih ada sedikit harapan untuk kita menang."
Alan tersenyum miring, "Kau menyemangatiku tapi mengatakan 'sedikit'. Sepertinya kau adalah tipe orang pesimis."
"Bukan begitu, aku hanya realistis. Kelas XII IPA 1 itu, kau tahu 'kan kalau mereka..."
"Ya. Mereka adalah tim unggulan di jurusan IPA. Parahnya lagi ada penerus mereka yang akan melawan senior kita. Tapi, aku belum kehilangan harapan. Lagi pula..." Alan menyentuh handband di lengan kirinya. "Siapa yang akan kau dukung?"
Eta mengernyit. Tidak paham atas pertanyaan Alan. Hal seperti seharusnya tidak perlu dipertanyakan lagi. Tentu Eta akan mendukung tim kelasnya.
"Kenapa kau menanyakan hal yang tidak perlu? Aku pasti mendukung kalian." Eta menjawab tanpa bergeming.
"Heh! Memangnya aku sepolos anak itu?" Alan melirik pada Gabriel yang masih memasukkan buku-buku ke dalam tasnya. "Jangan lupa kalau aku ini adalah lelaki paling peka di seluruh sekolah."
"Kau berlebihan."
Alan berbisik pada Eta, "Aku memang pemalas, itu sudah pasti. Orang yang tidak mengenalku bahkan menganggapku seperti berandalan karena seragamku yang tidak rapi. Tapi, aku ini suka memperhatikan sesuatu. Kau menyukainya 'kan? Sayangnya cintamu terhalang peraturan organisasi."
Eta tercengang.
"Nah, melihat reaksimu. Aku pasti benar 'kan? Jangan meremehkanku, Peta."
Alan berdiri, berjalan di belakang teman-teman satu timnya menuju lapangan futsal. Eta tidak bergeming. Alan menepuk pelan puncak kepala Eta tanpa mengatakan apa pun lagi.
Pertama Raya, lalu Devan. Dan sekarang? Alan juga menyadarinya.
Eta menghela napasnya, lalu mengacak rambutnya dengan frustrasi.
"Apa aku sangat payah dalam menyembunyikannya?" Eta berbisik.
...****...
Sebelum memulai patroli. Eta mendatangi kumpulan anggota pengurus organisasi yang mengerubungi Atlas, Fahmi dan Yuda. Hari ini adalah semifinal.
Sebenarnya bagi dua tim yang gagal menuju final tidak akan dipertandingkan lagi dan sudah resmi menjadi runner up kedua. Hadiah yang diberikan oleh pihak sekolah juga lumayan.
Atlas menyadari kehadiran Eta. "Risa, kau akan menonton?"
"Tidak. Aku akan patroli." Eta langsung menjawab.
"Eh, kau menjawabnya tanpa ragu." Jawab Atlas, kemudian senyum lembut terbit di bibirnya. "Risa, siapa yang akan kau dukung?"
Déjà vu.
"Kenapa mendadak bertanya seperti itu?" Eta tidak langsung menjawab.
"Tim kelasku akan bertanding melawan tim kelasmu."
"Ouh. Tentu saja aku akan mendukung tim kelasku. Memangnya ada angin apa sampai aku mendukung tim kelas Kak Atlas dan Kak Yuda?"
"...."
"Lagi pula kalau masalah satu organisasi, seharusnya aku mendukung Kak Fahmi." Sambung Eta lagi.
Fahmi tertawa, menyetujuinya. Atlas adalah Ketua OSIS. Di sisi lain, Eta adalah anggota pengurus MPK. Benar kata Eta, jika dia ingin mendukung anggota pengurus yang satu organisasi dengannya, maka itu haruslah Fahmi, bukannya Atlas.
Atlas tidak bisa berkata-kata lagi. Memang salah jika berdebat dengan Eta, dia bisa dengan mudahnya mematikan argumen lawan.
Yuda yang duduk di samping Atlas pun tertawa kecil. Ternyata saat di mana Atlas kehabisan argumen selalu terasa menyenangkan. Apalagi Eta yang menjadi lawan bicaranya.
Di samping Fahmi, Raya juga tidak bisa menyembunyikan senyumannya.
Setelah diskusi tempo hari dengan Eta. Raya dengan mantap memutuskan hubungannya dengan Defri. Entah bagaimana semua masukan Eta selalu ditanggapi dengan serius oleh Raya, meskipun itu adalah candaan sekalipun. Kali ini juga, Raya mengambil keputusan berdasarkan Eta.
Eta tidak tahu bagaimana kelanjutannya. Akar masalah di sini adalah Raya dan Defri akan sekelas hingga semester genap berakhir. Itu juga jika di tahun ketiga mereka tidak sekelas lagi. Sistem mengacak kelas murid ini juga masih ada kemungkinan untuk mempertemukan dua murid yang sudah pernah sekelas di tahun pelajaran sebelumnya.
Tetapi, Eta tidak akan bertanya lebih jauh. Mengungkit nama Defri lagi, artinya akan membuka luka lama Raya. Padahal saat ini Raya sudah mulai menyembuhkan diri dan hatinya.
"Pertandingan antara XII IPA 2 dan XI IPS 2 akan dimulai lima menit lagi. Diperkenankan kepada anggota tim untuk bersiap dan berkumpul di lapangan."
Suara Bara terdengar lewat pengeras suara, dia adalah anggota pengurus yang bertugas sebagai seksi acara.
"Pertandingannya akan dimulai. Aku harus mulai berpatroli." Ujar Eta.
"Peta, aku ikut." Raya segera mengekor di belakang Eta.
...****...
Merasa cukup berkeliling. Eta dan Raya kembali ke lapangan futsal. Eta agak canggung saat sepanjang jalan Raya tidak mengatakan apa-apa. Hanya diam dan terus murung. Padahal Eta berpikir bahwa keadaan Raya sudah semakin membaik.
"XII IPA 1, SEMANGAT!"
"JANGAN SAMPAI KALAH XI IPS 2!"
Semua teriakan itu terdengar sangat nyaring saat Eta semakin mendekati lapangan. Ternyata pertandingan sengit terjadi diantara XII IPA 1 dan XI IPS 2.
Mereka seri, 2 sama. Itu sangat hebat. Ternyata tim kelasnya bisa menyamai XII IPA 1. Karena hasil yang seri, awalnya akan diberikan tambahan waktu selama 10 menit. Namun, karena mereka sama-sama kuat, hingga akhir pertandingan hasilnya masih sama. Pada akhirnya, wasit memutuskan kemenangan ditentukan oleh tendangan penalti.
Eta tidak tahu bagaimana bisa teman sekelasnya yang keempat dari mereka tidak ikut ekskul futsal bisa menyeimbangi XII IPA 1. Ditambah Alan yang baru memasuki ekskul futsal dua minggu sebelum class meeting rupanya punya potensi besar.
Kembali ke lapangan. Tendangan pertama berasal dari tim XII IPA 1. Dia tampak bersiap, begitu juga dengan kiper dari kelasnya. Tendangan dilesatkan. Dia gagal menambah angka.
Eta menggertakkan giginya. Hanya perlu satu angka saja. Jika mereka berhasil mencetak satu gol, semuanya akan berakhir dan mereka akan keluar sebagai pemenangnya. Tapi, jika gagal. Maka, ini akan terus berlanjut.
Dari kelasnya, Bagas akan melepaskan tendangannya. Dia maju ke tengah lapangan, kiper tim lawan sudah bersiap menerima serangan.
Semua orang gugup, begitu pula dengan Eta. Jika yang bertanding bukan kelasnya, dia takkan setegang ini. Di lapangan sendiri, Bagas mengambil ancang-ancang untuk menendang.
Satu, dua, tiga.
Hitungan mundur Eta sudah selesai. Bagas gagal mendapatkan angka untuk unggul. Alias pertandingan antara kelasnya dan kelas XII IPA 1 belum selesai sampai di sini.
Pemain kedua yang akan melakukan tendangan penalti rupanya adalah Atlas. Tidak perlu waktu lama, dia berhasil melepaskan satu tendangan yang menjebol gawang lawan. Sialnya, dia berhasil menjebol gawang kelasnya.
"Gawat." Desis Eta.
Eta bergegas menghampiri tim kelasnya berada. Ternyata yang selanjutnya akan melakukan tendangan penalti adalah Alan. Jika Alan gagal mencetak angka, sudah pasti tim mereka akan berhenti di semifinal.
Dengan perasaan berkecamuk dia mendekati Bagas. Bagas menyadari kedatangan Eta. Wajahnya pucat pasi. Mereka memiliki kekhawatiran yang sama.
Alan sudah membawa bola ke tengah lapangan. Ekspresinya penuh dengan kegugupan. Sedangkan jauh di belakangnya, Atlas memandang penuh.
Kumohon!
"Alan!" Teriak Eta.
Mendadak Eta menyesali perbuatannya saat menyadari perhatian semua orang tertuju kepadanya. Apalagi tenggorokannya menjadi sakit setelah berteriak. Padahal teriakannya masih terhitung normal jika dibandingkan dengan siswi-siswi lain dengan suara melengking yang menyakiti pendengaran.
Alan menoleh pada Eta yang masih menahan rasa malu. Dia menutupi perasaan malunya dengan tanpa melihat ke sekelilingnya. Teman-teman sekelasnya menatap Eta dengan heran.
Eta tidak peduli. Pandangan penuh tekad dia tunjukkan pada Alan. Tangannya terkepal ke udara, berusaha menyemangati Alan.
"Peta..." Bisik Alan. Dia tersenyum penuh percaya diri. Mengambil ancang-ancang untuk melepaskan tendangan keras demi bisa mencetak gol.
Alan siap melepaskan tendangan. Atmosfer di lapangan semakin berat. Semua orang terutama murid kelas XI IPS 2 dan XII IPA 1 benar-benar penuh ketegangan. Menunggu hasil, siapa yang akan memenangkan pertandingan kali ini untuk maju ke final.
Tendangan keras telah dilepaskan Alan. Semua orang berharap dalam hatinya agar tim yang mereka dukung bisa menang, termasuk Eta.
Sedetik kemudian, mereka tertegun melihat hasil pertandingan. Atlas menatap tidak percaya, juga Yuda yang berdiri di sampingnya. Lapangan futsal hening sejenak.
Salsa berdiri, bersorak penuh untuk memecah keheningan, "GOL!!!"
TBC