My world

My world
Chapter 13 - Babak Penyisihan



Setelah pulang sekolah. Biasanya para murid sudah ramai di gerbang sekolah, menunggu jemputan atau angkutan umum untuk pulang. Namun, hari ini adalah hari pertama class meeting. Akan ada empat pertandingan, artinya ada delapan tim yang akan bertanding.


Sistem waktu di sini akan sedikit diubah. Dengan waktu permainan 10 × 2 menit dengan istirahat selama 5 menit, itu waktu bersihnya saja.


Sebelum pertandingan dimulai, ada upacara pembukaan yang akan dibuka langsung oleh Kepala Sekolah. Ini adalah alasan utama kenapa hari pertama hanya ada empat pertandingan. Karena waktunya sudah berkurang untuk upacara pembukaan.


Eta tidak akan menghadiri upacara pembukaan apalagi menonton pertandingan. Fahmi sudah memberikannya amanat untuk membantu seksi keamanan. Jadi, saat ini dia sedang mengamati situasi dan kondisi di tempat parkir.


Motor-motor berderet rapi. Ada dua satpam yang berjaga dengan tambahan dua CCTV, tak perlu pengawasan ketat dari seksi keamanan. Eta bisa melihat bahwa beberapa murid yang tidak berminat untuk menonton sedang mengambil motor mereka.


"Di sini aman terkendali, ada satpam juga."


Baru saja mau menuju lokasi selanjutnya, Eta menangkap sosok Raya dan Defri di tengah-tengah ratusan motor. Eta langsung menghampiri Raya sebelum gadis itu naik ke motor Defri.


"Raya! Mau ke mana?"


Raya menyadari kedatangan Eta. "Peta, ya? Aku akan pulang bersama Defri. Lagi pula, semua tugasku sudah selesai. Tidak ada lagi yang bisa kulakukan di sini. Jadi, lebih baik aku pulang saja."


"Eh? Apa kau lupa pesan Kak Fahmi?"


Eta mengingatkan Raya pada ucapan Fahmi yang mengatakan bahwa tidak ada anggota pengurus yang boleh pulang, lebih baik membantu seksi keamanan atau memungut bola. Yang penting jangan pulang duluan.


"Tenang saja. Aku akan izin pada Kak Atlas."


Eta setengah percaya pada ucapan Raya.


"Baiklah."


Defri sudah bersiap menarik gas motornya sebelum Eta mendekat padanya. "Jangan membawanya kencang-kencang, Raya ada di belakangmu."


Defri mengangguk paham. Walau terlihat cuek, sebenarnya Eta adalah orang yang cukup perhatian terhadap hal-hal kecil seperti ini apalagi jika menyangkut temannya, Raya.


Setelah memastikan Raya duduk dengan benar di jok belakang, Defri memacu motornya meninggalkan tempat parkir. Eta belum beranjak satu inci pun dari posisi semula, masih menatap motor Defri yang semakin mengecil ditelan jarak.


"Tempat mana lagi yang rawan? Toilet?" Eta bertanya pada dirinya sendiri.


Ia melangkahkan kakinya menuju toilet siswi, setelah itu baru memeriksa toilet siswa. Toilet adalah tempat rawan terjadinya pacaran di luar batas. Ada beberapa kasus sejenis yang tercatat di BK, dan ini menjadi pelajaran bagi semua warga sekolah.


Di sepanjang jalan teramat sepi, kebanyakan siswa memang menonton di lapangan. Suasana saat ini cenderung suram, seperti sedang melewati kuburan.


Eta melihat ke dalam toilet memastikan tidak ada aktivitas mencurigakan. Jika menemukan toilet yang pintunya tertutup, Eta mendahulukan mengetuk pintu. Dan jika tak ada yang menjawab, barulah dia memberanikan diri untuk membukanya.


Selesai memeriksa ke dalam sepuluh pintu toilet, dan menyimpulkan bahwa semua aman-aman saja. Eta meninggalkan toilet siswi. Ia mengirim pesan pada anggota pengurus lelaki untuk memeriksa toilet siswa. Karena mustahil baginya untuk melangkahkan kaki ke dalam sana.


"Tidak ada masalah sama sekali di sini."


Eta berjalan terus melewati gedung laboratorium IPA, bergerak menuju ke belakang gedung dan menemukan empat murid lelaki yang membuka bungkus rokok.


Kenapa mereka nekat merokok di lingkungan sekolah?


Tidak ingin memulai keributan, akhirnya Eta hanya memotret wajah mereka diam-diam. Lalu dengan cepat meninggalkan tempat itu sebelum mereka memergokinya.


Jelas Eta tak mau memulai keributan dengan mereka. Dari penampilan saja, mereka terlihat seperti berandalan. Baju tidak dimasukkan, tidak pakai dasi, panjang rambut melewati telinga, dan telinga mereka seperti bekas ditindik. Bahkan sepertinya mereka menggunakan anting hanya di satu telinga.


Namun naas, ia ditemukan oleh mereka sebelum berhasil melangkah lebih jauh. Tubuh Eta terdiam kaku. Salah satu dari berandal sekolah itu mencengkeram kuat pundaknya.


"Hapus fotonya." Ancamnya.


Sejak awal Eta adalah orang yang keras kepala. Dia tidak akan semudah itu menghapus foto wajah mereka sebelum mengirimkannya pada Kesiswaan hanya karena takut diancam oleh mereka.


Eta menggeleng.


"Oh? Oke."


Siswa yang mencengkeram bahu Eta kemudian memberikan kode kepada teman-temannya untuk mendekat. Jika Eta merasa lebih terancam lagi, maka dia akan menghapus fotonya, begitulah pikiran mereka berjalan.


Eta tersenyum miring, mengejek. "Beraninya lawan perempuan. Keroyokan pula. Apa kalian masih punya harga diri?"


Siswa itu naik pitam, dia mencengkeram bahu Eta lebih kuat hingga gadis itu meringis. Eta secepat kilat menyembunyikan ponselnya ke saku rok supaya tiga siswa lainnya tidak mengambilnya.


Tapi, sejak awal saku rok bukanlah tempat paling aman sedunia untuk menyembunyikan barang bukti. Salah satu dari ketiga siswa itu dengan lancangnya mulai merogoh saku rok Eta.


"Hei, beraninya kalian!" Kesal Eta, berusaha melepaskan cengkeraman kuat di bahunya.


Siswa itu berhasil mengambil ponsel Eta. "Apa sandinya?"


Eta bungkam. Tidak peduli cengkeraman di bahunya membuatnya semakin mati rasa. Eta tidak punya ingatan super, mungkin saat besok akan ditunjukkan pada Kesiswaan tanpa bukti, Eta takkan ingat.


Siswa yang mengambil paksa ponsel Eta kesal karena tidak mendapat jawaban. Dia menarik kerah baju Eta sampai kaki gadis itu terangkat dari permukaan tanah.


"Lo tuli, ya? Cepet kasih sandinya?!" Geramnya.


"Kau butuh?" Eta menantang balik.


Ack, sial. Ponsel baruku!


"Kalian berempat berani sekali mengeroyok lawan jenis. Sama sekali tidak keren, bung!"


Eta mengenal suara ini. Itu adalah suara Yuda, yang berdiri tak jauh dari mereka. Tubuh siswa yang menahannya barusan limbung ke tanah dengan kasarnya. Eta melirik, Atlas telah melepaskan satu pukulan menggunakan kamus 2.040 halaman.


Di sisi lain, Yuda sudah melesatkan sepatunya tepat ke wajah siswa lainnya yang memegang ponsel Eta. Eta merasa ngeri melihat ponselnya yang terjun bebas ketika siswa itu kehilangan keseimbangan. Untungnya, Atlas sigap menangkap ponsel Eta sebelum mencium permukaan tanah.


Eta menghela napas lega. Dia menatap Yuda dengan kesal. Bagaimana bisa Yuda dengan tidak berhatinya nyaris mengorbankan ponselnya? Itu sama sekali tidak keren! Yuda harus belajar lebih banyak lagi dari Atlas.


"Aku adalah Ketua OSIS, kalian ingat?" Ujar Atlas.


Atmosfer di sekitar mereka mendadak suram. Aura dingin menjalar keluar yang asalnya dari Atlas. Yuda sendiri dibuat bergidik ngeri saat melihat temannya berubah dalam sekejap.


Jangankan Yuda, Eta yang posisinya paling dekat dengan Atlas saja yang seharusnya merasa aman malah merasa yang paling terancam. Dua siswa lain yang menyerang Eta barusan menciut, mereka jatuh bahkan sebelum Atlas mengatakan kalimat legendarisnya.


"Merokok di lingkungan sekolah. Tidak memakai atribut sekolah sesuai aturan. Rambut melewati telinga. Memakai anting. Tidak ada logo sekolah. Mengancam siswi dengan cara berkeroyok. Pelanggaran berlapis tingkat dua akan langsung diberikan SP 2. Ikut aku ke Ruang Kesiswaan!"


Tidak ada perlawanan lagi dari para siswa berandal itu. Yuda sigap mendekat, memaksa dua orang yang masih baik-baik saja untuk segera berjalan ke Ruang Kesiswaan. Sementara dua sisanya yang dipukul Atlas oleh kamus dan terkena sepatu Yuda masih meringis kesakitan.


Mereka berdua terpaksa untuk berdiri karena tatapan mata Atlas yang terus tertuju kepada mereka. Hanya dengan menatapnya saja, Atlas sudah berhasil mengancam mereka. Eta merasa bahwa semua usahanya barusan sia-sia saja.


"Ini," Atlas memberikan ponsel Eta kembali.


Tidak ada ucapan apa pun lagi setelah Eta menerima ponselnya. Atlas mengambil sebelah sepatu Yuda yang tergeletak di tanah, kotor karena debu. Dia berjalan di belakang, menutur Yuda dan keempat siswa berandal.


"Apa-apaan tadi itu? Dia membuatku takut."


...****...


Setelah mengelilingi banyak sudut sekolah yang rawan dijadikan lokasi terjadinya kenakalan remaja seperti kasus sebelumnya. Eta kembali ke lapangan. Ternyata pertandingan pertama sudah selesai, dilanjutkan ke pertandingan kedua. Begitu juga dengan permainan di lapangan basket, sudah masuk dua tim lainnya, bersiap memenangkan babak penyisihan.


Melihat kedatangan Eta, Fahmi berjalan mendekat. "Kudengar dari Atlas kamu dikeroyok empat siswa. Apa kamu baik-baik saja?"


"Terima kasih sudah mengkhawatirkan saya, Kak Fahmi. Saya baik-baik saja."


"Syukurlah."


Eta mengalihkan pandangannya ke lapangan. Peluit wasit sudah berbunyi, pertandingan telah dimulai.


"Siapa dua tim yang menang sebelumnya?"


"XII IPS 3 dan X IPA 8." Jawab Fahmi.


"Eh? Jadi, X IPA 8 menang atas XI IPA 3?! Luar biasa anak-anak baru itu." Eta berdecak kagum.


Memang benar jika di posisi teratas saat ini adalah XII IPA 1 dan XII IPS 1, dilihat dari para siswanya yang hampir satu kelas mengikuti ekskul futsal. Tetapi, kemampuan XI IPA 3 juga tidak bisa diremehkan. Tidak disangka X IPA 8 berhasil menumbangkan mereka di babak awal.


"Kelasmu besok bertanding dengan XI IPA 2 'kan?"


Eta mengangguk. Kalau melawan XI IPA 2, kelasnya yang tidak begitu hebat dalam futsal pun bisa optimis menang. Bukannya meremehkan, tapi memang begitu kenyataannya.


Waktu terus berlalu sampai dua pertandingan tersisa selesai. Hari ini, babak penyisihan bagian pertama meloloskan empat kelas, yaitu XII IPS 3, X IPA 8, X IPS 1 dan XI IPS 4. Sesuai jadwal yang telah dibuat, tidak ada pertandingan lagi.


Semua anggota pengurus dikerahkan untuk membereskan semua properti dan menyapu halaman yang kotor. Merapikan peralatan seperti bola ke gudang olahraga.


Sekarang sudah pukul setengah enam. Mega merah telah memenuhi langit. Semilir angin berembus dengan kencang karena malam akan tiba.


"Risa, pulang sendiri?" Tanya Atlas.


Eta mengangguk. Raya sudah pulang bersama pacarnya. Tidak ada yang akan menjemputnya karena di rumah pun tidak ada siapa-siapa. Jadwal bus selanjutnya sejam dari sekarang, lama sekali.


"Kamu bisa pulang bersamaku." Tawar Atlas dengan senyum ramahnya. Wajah menyeramkan yang ia tunjukkan sebelumnya telah lenyap.


Tawaran yang bagus.


Eta mengangguk, ia merasa lega karena tidak perlu menunggu selama sejam untuk bus kota.


"Biasanya kamu pulang bersama Raya. Di mana dia?"


"Raya sudah pulang bersama pacarnya sebelum upacara pembukaan class meeting. Memangnya dia tidak meminta izin pada Kak Atlas?" Eta merasa janggal.


"Huh? Tidak." Atlas menggeleng mantap. Meski dia sibuk, Atlas tidak pernah meninggalkan ponselnya dan mematikan bunyi notifikasi.


"Eh?"


Ke mana anak itu?


TBC