
"Peta, ini disimpan di mana?" Tanya Heri.
Eta menoleh. Dia mendapati Heri yang sedang mengangkat tumpukan berkas formulir pendaftaran. Tidak mungkin disimpan asal-asalan, kalau hilang nanti Fahmi pasti akan marah.
"Ah, aku akan bawa pulang kalau Kak Fahmi tidak meminta dikumpulkan hari ini. Harusnya langsung diberikan pada Pembina."
"Tapi, hari ini Bu Sarah tidak ke sekolah karena tidak ada jam." Terang Heri.
"Jadi, biar kubawa saja."
"Baiklah. Jangan sampai hilang atau Kak Fahmi pasti akan mengamuk." Bisik Heri, agar suaranya tidak terdengar oleh Fahmi.
Eta tersenyum lalu mengangguk paham. Dia mengintip ke dalam. Wawancara sedang dilaksanakan. Dua anggota MPK yang bertugas sebagai seksi publikasi dan dokumentasi sibuk memotret. Sudah menjadi kewajiban bahwa setiap kegiatan yang dilaksanakan haruslah didokumentasikan.
Wajah-wajah yang diwawancarai oleh para BPH tampak beragam. Ada yang terlihat tegang, gugup, percaya diri, dan ada juga yang kebingungan. Yang bingung itu mengingatkan Eta kepada Raya.
"Cewek itu mirip seperti Raya." Celetuk Heri.
Eta mengernyit, rupanya Heri memikirkan hal yang sama dengannya. Bahkan mereka melihat ke arah siswi yang sama. Yah, itu karena gerak-geriknya sama persis seperti Raya ketika belum mengenal seluruh anggota pengurus. Seperti orang hilang, tersesat tak tentu arah.
"Hei, Peta. Kau lihat yang diwawancarai Kak Fahmi?" Heri menunjuk ke sudut ruangan di mana Fahmi duduk berhadapan dengan seorang siswa.
Wajah siswa itu terlihat begitu tenang sekaligus percaya diri. Dilihat dari jauh saja, Eta bisa menebak bahwa dia dapat menjawab semua pertanyaan Fahmi dengan memuaskan. Alias memenuhi ekspetasi Fahmi sebagai Ketua MPK.
"Dia pasti akan lolos. Siapa namanya tadi?"
"Uh... aku tidak ingat. Tapi..." Eta menyipitkan matanya, sementara otaknya berusaha mengingat. "Alan, bukan?"
"Yee! Alan itu nama teman sekelasmu! Kupikir namanya adalah Alpa."
"Huh?"
"Bodoh sekali. Jelas-jelas namanya Erza! Kenapa malah melenceng ke Alan dan Alpa? Jauh sekali!"
Eta dan Heri dikejutkan oleh kedatangan mendadak Zidan di belakang mereka.
"Bocah, jangan mengagetkanku!" Sinis Heri.
"Siapa yang kau panggil bocah?! Dengar ya, ulang tahunku itu Juni dan kau Mei. Kita lahir di tahun yang SAMA! Kita juga sekelas, bodoh." Zidan membalas dengan kesal.
Haduh, mulai lagi. Padahal tadi mereka akur-akur saja.
Perhatian Eta agak teralihkan saat menyadari kedatangan 'sosok' lain. Seorang gadis. Anehnya dia tidak memakai seragam. Sangat cantik dan memesona mata. Siapa saja yang melihatnya, pasti akan dimasukkan oleh pesonanya.
Kulitnya kuning langsat. Iris matanya berwarna cokelat. Bibirnya mungil dengan wajah yang terus. Sungguh, entitas kecantikan ini perlu dipertanyakan dari mana datangnya dan apa keperluannya.
"Siapa itu?"
Selesai dengan pertengkaran bodohnya dengan Zidan, Heri menyadari kedatangan gadis cantik itu juga. Zidan melongok ke arah yang sama dan hanya ber'oh ria.
"Memangnya kau tidak tahu? Dia adalah anggota pengurus OSIS, loh. Risa namanya, dari 12 IPA 1. Dia itu jarang kumpulan, hanya menjadi anggota bayangan, sama sepertimu Peta."
Risa?
Entahlah, dia jadi teringat mengenai nama panggilan Atlas terhadapnya. Atlas selalu memanggil Eta dengan nama Risa, yang mana itu adalah nama teman sekelas Atlas sekaligus anggota pengurus OSIS yang jarang absen muka.
"Kalau dilihat-lihat, sekilas Eta mirip dengan Risa." Cetus Heri.
"Apa? Benarkah?" Tanya Eta.
Heri mengangguk.
"Bedanya, Risa jauh lebih cantik darimu." Heri langsung tertawa terbahak-bahak setelahnya.
Zidan langsung menyikut Heri. Biasanya, perempuan akan tersinggung kalau kecantikannya disandingkan dengan kecantikan orang lain. Dan ini adalah salah satu hal tabu yang tidak boleh dikatakan kepada perempuan di depan wajahnya sendiri.
Namun, Eta menanggapi hal itu dengan santai. Dia malah menatap Risa sekali lagi, seolah tersihir dengan kecantikan luar biasa Risa yang memancar.
"Apa itu alasan Kak Atlas memanggilku Risa? Memangnya kami mirip, ya?" Kali ini Eta menatap Zidan, meminta jawaban.
"Yah... jawabanku sama seperti Heri. Tapi, Peta tetap cantik dengan pesonamu sendiri, jadi jangan insecure." Zidan memberikan jawaban yang lebih baik.
"Aku malah heran kenapa Kak Atlas memanggilku begitu."
"Kenapa?" Tanya Zidan.
"Kak Risa itu sangat cantik. Bagaimana bisa dia berpikir bahwa wajahku mirip dengannya?! Tapi, aku sungguh tidak sadar kalau di sekolah kita ada siswi secantik itu."
Heri mengangguk setuju. Sama seperti Eta, Heri juga baru tahu bahwa Risa sekolah di sini. Padahal jika wajahnya secantik itu, dia pasti akan selalu menjadi sorotan.
"Dia jarang masuk sekolah, itulah kenapa. Bahkan rumornya dia akan pindah sekolah, tapi ternyata itu tidak benar." Zidan menjelaskan kebingungan Eta dan Heri.
"Ouh..."
Tapi, aku masih penasaran kenapa Kak Atlas menyamaiku dengannya? Dia terlalu cantik.
...****...
Fahmi menengok ke ruang OSIS. Karena metode yang mereka gunakan, nampaknya masih akan lama selesai. Belum lagi calon peserta pengurus anggota OSIS itu dua kali lipat lebih banyak dari MPK. Semoga saja hari ini bisa selesai setengahnya.
Melihat Atlas yang sudah keluar dari ruangan, Fahmi segera menghampirinya.
"Atlas!" Panggil Fahmi.
Atlas berbalik, "Ya?"
"Apa sudah selesai?"
Atlas menghela napas panjang.
"Masih jauh dari kata selesai. Kau tahu jika yang ikut tes wawancara ini tidak sedikit. Ditambah hari ini juga kami harus menyortir yang mana yang lolos dan tidak."
"Wah... terdengar sangat berat."
Atlas mengangguk, "Bagaimana dengan MPK?"
"Karena tidak sebanyak OSIS, kami memutuskan untuk melakukan itu setelah tes kedua."
"Enak sekali."
Fahmi mengangguk, itu memang benar. Sejenak ia memikirkan perkataan Zidan. Fahmi mendekat ke arah Atlas membuatnya kebingungan.
"Kenapa?"
"Seseorang datang mencarimu."
Iris mata Atlas membulat sempurna.
"Di mana dia?"
...****...
Eta menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari keberadaan Fahmi. Dia ingin bertanya apakah formulir pendaftaran disimpan padanya atau tidak.
"Kak Fahmi!"
"Oh? Eta, ada apa?"
"Tentang formulir pendaftaran."
Fahmi yang cepat tanggap langsung mengerti. Ia meminta Eta untuk menyimpannya dan diserahkan kepada Pembina, Bu Sarah di hari esok. Kebetulan juga Kesiswaan ada jam mengajar, jadi bisa sekalian.
"Kalau begitu, saya pamit pulang."
"Iya, hati-hati di jalan."
Eta mengangguk. Langkah kakinya berbelok menuju gerbang sekolah. Ruang MPK dan OSIS terletak di samping Ruang BK. Tidak jauh dari gerbang karena hanya perlu melalui lapangan futsal.
Namun, karena melihat sesuatu yang tidak asing. Kaki Eta terhenti. Dia mengintip dari pohon yang batangnya sebesar dua orang dewasa.
"Kak Atlas dan... Kak Risa...?"
Di sana, Atlas dan Risa tengah terlibat dalam pembicaraan serius. Dari raut wajah Risa saja, Eta sudah bisa menebak situasinya. Mereka tidak sedang bercanda. Sayangnya, karena jaraknya terlalu jauh, Eta tidak bisa mendengar apa pun.
"Huh?"
Eta mati kutu saat melihat adegan selanjutnya. Risa malah menjatuhkan dirinya tepat di depan Atlas dan langsung memeluknya.
Apa yang terjadi?
Otak Eta hanya terus menerus menanyakan pertanyaan yang sama.
Dia tidak suka ini. Memang Eta selalu menyepelekan cinta masa remaja alias cinta monyet. Tetapi pada akhirnya, dia menelan ludahnya sendiri.
Hatinya berdesir, menahan emosi. Tidak, jangan salah paham. Eta sama sekali tidak marah. Dia hanya tidak tahu bagaimana menanggapi perasaannya saat ini. Jujur, Eta merasa kecewa.
Apa-apaan ini? Padahal kami tidak punya hubungan apa pun. Aku memang yang terburuk.
Tahu karena itu adalah privasi mereka. Eta jelas tidak mau menonton lebih lanjut. Sebab, dia bukan Raya yang selalu penasaran dan ingin tahu seluk beluknya. Cukup sampai di sini. Lagi pula Eta mendedikasikan dirinya untuk menyukai dalam diam.
Eta membalikkan badannya. Karena tidak lihat-lihat, dia malah menabrak seseorang dengan keras.
"Aduh...!" Eta meringis.
"Woah, Peta. Kalau jalan itu harus lihat-lihat dulu!"
Eta mendongak, menatap sosok yang ia tabrak.
Huh?
TBC