My world

My world
Chapter 29 - Hingga Saatnya Tiba



Di dalam ruang OSIS, sedang dilaksanakan musyawarah besar tahunan. Eta dan seluruh anggota MPK lain yang melakukan revisi LPJ hingga tadi malam tampak memiliki kantung hitam di bawah mata.


Ketua MPK serta BPH, Pembina MPK OSIS dan Kesiswaan duduk di podium terdepan layaknya hakim di pengadilan. Berperan sebagai moderator.


Di baris meja sebelah kanan terdapat seluruh anggota OSIS. Sementara di sebelah kirinya adalah MPK. Terdapat wajah-wajah baru juga di sana. Mereka adalah siswa dan siswi yang terpilih sebagai anggota pengurus MPK dan OSIS periode ke-41. Tujuan mereka diikutkan dalam musyawarah besar ini ialah untuk ajaran di tahun berikutnya.


Eta memberikan secarik kertas ke belakang yang dioper secara estafet. Tepat di belakang anggota MPK adalah para pengurus baru, dan yang duduk di belakang Eta adalah Erza.


"Oper ke belakang, bagikan ke semuanya. Jangan sampai ada yang tidak pegang." Ujar Eta, dan Erza mengangguk paham.


Setelah ini, serah terima jabatan akan dilakukan. Dan tugasku telah selesai.


...****...


Seluruh rangkaian acara musyawarah besar telah dilaksanakan. Memakan waktu hingga dua jam lamanya untuk mencapai semua kesepakatan. Bahkan dalam kegiatan ini juga, beberapa calon Ketua MPK dan Ketua OSIS telah ditentukan.


Sudah tidak perlu dipertanyakan lagi untuk MPK. Erza adalah kandidat terkuat. Fahmi sendiri yang mempromosikannya, sama sekali tidak ada keraguan. Eta sedikit kecewa karena tidak ada kandidat perempuan. Padahal selama 40 periode MPK, belum ada seorang pun perempuan yang mampu memegang jabatan Ketua MPK.


"Saya berharap banyak kepadamu, Erza." Fahmi menepuk kedua pundak Erza seolah dia yakin jabatannya akan turun pada Erza.


"Iya, terima kasih atas dukungannya, Kak Fahmi." Erza tersenyum, wajahnya penuh percaya diri.


"Kak Fahmi, memangnya boleh terlalu berpihak? Kandidat lain akan merasa cemburu jika Kak Fahmi pilih kasih." Celetuk Eta.


Di tengah-tengah percakapan Fahmi dan Erza, Eta datang menyela. Itu semua karena Fahmi terlalu jelas berpihak pada Erza. Seharusnya dia lebih netral. Meski berpihak, upayakan untuk tidak menunjukkannya di khalayak ramai.


Mendengar Eta, Fahmi mengangguk. Dia lupa bahwa jabatan Ketua MPK masih dipegang olehnya. Erza yang berdiri di samping Fahmi menatap penasaran pada Eta, kemudian mengulum senyum.


"Kak Peta jangan khawatir, Kak Fahmi hanya memberi sedikit dorongan. Saya akan berusaha keras dalam pemilihan periode ke-41."


Eta mengernyitkan dahinya. Tapi dia tidak berkomentar lebih jauh. Sudah menjadi rahasia umum jikalau semua orang memanggilnya Peta. Hanya Devan dan Fahmi yang dijadikan pengecualian. Bahkan para anggota pengurus MPK yang baru juga memanggilnya demikian. Eta tidak bisa protes. Semua ulah Zidan dan Heri yang memprovokasi mereka.


"Siapa yang Kak Peta dukung?" Erza bertanya lagi.


Eta kembali berpikir. Hanya ada tiga orang yang dijadikan calon Ketua MPK. Salah satunya adalah Erza, yang memang sudah ditandai oleh Fahmi. Sisanya adalah dua orang dengan nilai tertinggi saat tes wawancara serta pidato yang kedua dan ketiga, yaitu Shen dan Vion.


"Itu rahasia, kamu seharusnya tahu LUBER dan JURDIL dalam pemilihan." Jawab Eta setelah berpikir panjang.


"Yah, itu sangat terdengar seperti Kak Peta." Erza tertawa kaku.


"Eta, kamu yakin akan selesai sampai di sini saja? Padahal kalau mau, kamu bisa seperti Heri dan Zidan yang masih ikut andil dalam organisasi meski nama mereka tidak tertera dalam kepengurusan. Karena bagaimanapun, mereka membutuhkan banyak guru untuk belajar berorganisasi." Fahmi sekali lagi melakukan penawaran.


Sudah beberapa kali Fahmi menawarkan Eta agar tidak benar-benar memutus hubungan sepenuhnya dengan organisasi. Karena Eta masih di tahun keduanya hingga semester depan. Namun jawaban Eta tidak akan berubah.


"Maaf Kak Fahmi, tapi saya tidak bisa." Eta menggeleng pelan.


Fahmi menghela napasnya, lalu mengangguk.


Terdengar suara Bu Sarah yang memanggil Fahmi, jadi dia segera merapat. Meninggalkan Eta dan Erza dalam keheningan.


Erza sedikit melirik kakak kelasnya itu. Bagi dirinya, Eta memang terlihat malas. Tapi, sekalinya turun tangan pasti hasil kerjanya akan selesai dengan cepat, kualitasnya pun tidak main-main. Erza tahu itu, Eta adalah seorang perfeksionis meski tidak memperlihatkannya.


Jika saja ada senior seperti Eta yang mengawasi kinerja pengurus MPK angkatannya. Itu akan lebih bagus, sangat bagus malah. Takkan ada yang berleha-leha karena Eta akan rajin menanyakan setiap perkembangan. Tapi apa boleh buat, Eta juga berpegang teguh pada pendiriannya. Rujukan dari siapapun tak akan berpengaruh padanya.


"Kalau begitu, aku pulang duluan."


"Oh, hati-hati di jalan, Kak Peta." Ujar Erza.


Eta berjalan keluar ruangan OSIS. Tapi sebelum itu, dia berpapasan dengan Atlas di ambang pintu. Wajah Atlas tampak kelelahan setelah semua pertanyaan yang diajukan anggota MPK terhadap kinerja OSIS selama satu periode.


"Maaf," Atlas berbisik, nyaris tidak terdengar.


"...."


"Aku benar-benar minta maaf atas segalanya." Atlas berkata lagi, dia segan ketika melihat Eta tidak bereaksi apa pun.


Eta melangkah lagi, kini berhadapan langsung dengan Atlas. Mereka dipisahkan oleh jarak setengah meter. Tatapan Eta tidak berubah. Tak mengeras ataupun melunak. Lama Eta terdiam, membuat Atlas merasa tidak nyaman.


"Memangnya Kak Atlas punya salah apa?"


Atlas terperangah, dia menatap Eta tak percaya.


"Sampai jumpa, oh? Apakah seharusnya selamat tinggal?"


"....!"


...****...


Eta membuka pintu rumahnya. Ternyata ayahnya sudah berada di rumah dan sedang berkutat di dapur. Sebab tadi pagi, ayahnya bilang akan pergi ke rumah temannya untuk acara reuni SMA.


"Ayah, aku pulang!" Eta berseru riang, dia memeluk ayahnya.


"Selamat datang kembali, Eta. Bagaimana rapatnya? Berjalan lancar?"


Eta mengangguk. Dia memandangi seisi dapur yang agak berantakan. Sepertinya ayahnya baru saja memasak banyak makanan dilihat dari banyaknya alat masak yang kotor di wastafel. Anehnya, hanya dua mangkuk mi kuah instan dengan tambahan telur mata sapi di atasnya yang tersaji di meja makan.


"Ayah memasak?"


"Ah, iya. Tapi, Ayah gagal berkali-kali. Akhirnya Ayah memutuskan membuat mi dengan telur mata sapi untuk makan siang. Apa Eta tidak suka?"


Wajah ayahnya yang terlihat merasa bersalah membuat Eta nyaris tertawa terbahak-bahak. Dari dulu hingga saat ini kemampuan memasak ayahnya tak pernah mengalami progres.


"Eta suka semua yang Ayah masak! Setidaknya, yang ini bisa dimakan." Eta menunjuk ke atas meja makan dan langsung duduk setelah meminta ayahnya duduk terlebih dahulu.


Dulu, ayahnya lebih parah dari ini. Bahkan untuk membuat mi instan yang berkuah, Ayah selalu gagal sebab terlalu banyak diberi air hingga rasa kuahnya hambar.


"Syukurlah, sepertinya Rea tidak pandai memasak karena Ayah, ya."


Mendengar nama kakaknya disebut, Eta terlihat sedikit murung. Dia ingat bahwa hubungannya dengan Rea sudah sangat parah. Seperti kaca yang retak namun masih bertahan, hanya dengan satu ketukan saja semuanya bisa hancur berantakan.


Namun, Eta tidak mau membahas tentang Rea ataupun ibu dengan Ayahnya.


"Omong-omong, kenapa Ayah mendadak masak? Padahal bisa menunggu Eta saja." Eta menyeruput kuah mi.


"Oh, itu karena sore ini Ibu dan Kakakmu sudah sampai di kota. Ayah akan menjemputnya di bandara. Dan sebelum itu, Ayah ingin menyambut kepulangan mereka berdua dengan memasak untuk mereka."


Huh?


Eta berhenti mengunyah telur setengah matang buatan ayahnya. Rasanya agak sedikit asin, tapi ini masih layak untuk dimakan. Lebih dari itu, informasi ayahnya harus dicerna lebih dahulu.


"Ibu dan Kakak akan pulang hari ini?" Tanya Eta.


"Itu benar."


"...."


TBC