My world

My world
Denial



Apakah saat ini aku menyangkal kedekatan kami? Kami memang sedekat apa? Toh pun kami pernah dekat. Tepatnya itu dulu, sekarang aku yang takut dengan perasaan nyaman itu dengannya.


Dia selalu seperti mengajak diriku berdebat. Aku lelah dan sering geleng-geleng padanya.


Aku bersalah padanya. Telah memanfaatkan dirinya dalam urusan pribadiku. Aku memang pernah menyukainya lebih dari seharusnya dan karena itulah aku harus sekuat tenaga menjaga jarak dan sikap padanya. Menjauh untuk menjaga.


Aku kini seperti mengabaikannya, harapannya begitu. Nyatanya tidak semudah itu. Tapi apapun itu, akulah orang yang harus menjaga diri untuk bisa lebih berhati-hati lagi.


Dia tidak mau mengandalkan orang lain, dia hanya bisa menurunkan ekspektasi dirinya. Itu semua terasa kontras. Yang lebih tepatnya dia tidak mau terluka sehingga dia lebih memilih terlebih dahulu sebelum luka sebenarnya. Padahal luka yang disiapkan itu belum tentu sama bahkan bisa lebih ringan dari yang dipikirkannya itu.


Aku rasa semuanya telah damai. Aku merasa memang sudah saatnya mengakui bahwa aku telah merasa bisa mengembalikan posisinya seperti sedia kala. Alhamdulillah, kini sangat terlihat bahwa aku kini bisa bersikap wajar padanya. Aku sangat senang dan bersyukur.


Disukai itu sangat wajar dan tidak perlu merasa istimewa. Yang istimewa itu jika telah dicintai, karena jika telah dicintai maka dia tentu saja tetap akan bisa menjaga dan tidak akan pernah lagi dari segala kekurangan diri ini.


Aku kini merasa, bahwa kehadirannya membuatku makin mulai penasaran dengan kepribadian koleris. Anggap saja sedang simulasi, tp belum tentu bisa relevan sih tapi paling tidak kini aku rasa. Semuanya telah kembali seperti sedia kala.


Malu rasanya. Sungguh memalukan. Luar biasa deh.


Aku merasa dekat dengannya padahal itu semua tidak benar.


Aku hanya marasa dan itu sangat memalukan.


Aku malu pada diriku sendiri. Aku dengan bodohnya mau melepas izzahku. Mau jika dia menghampiriku dan menemaniku berbicara. Hanya berdua. Bodoh sekali. Pemikiran macam apa aku ini? sungguh sangat memalukan.


Tidak akan melakukannya lagi. Aku tidak mau lagi mengiginkan hal memalukan itu. Aku sungguh bodoh mengharapkan hal itu. Benar- benar bodoh dan sungguh sangat memalukan.


ini baru hari pertama, masih ada lima hari kedepan kebersamaan kami. Aku pikir apa memangnya? Tidak lagi. Aku malu dan sangat bodoh mengharapkan bisa berbicara padanya.


Entah mengapa. Aku merasa dia tadi seperti selalu berada di sekitarku dan aku selalu terbantu olehnya. Tapi tidak boleh juga aku mengarapkan lebih. Tidak boleh.


Apa karena aku terlalu kesepian? Hingga merasakan hal bodoh ini. Sedih rasanya menyadari diri ini punya perasaan bodoh seperti ini.


Aku tidak mau punya perasaan seperti itu ke klienku sendiri. Aku sungguh malu. Sangat dan sangat malu.


Saat melihat matanya yang hangat. Aku merasa seperti selalu dipantau olehnya. Aku bodoh jika merasakan hal seperti itu. Itu hanya asumsiku belaka. Tepatnya hanya prasangka ku saja. Dan itu semua tidaklah benar. Sama sekali tidak seperti itu.


Baiklah, kuatkan hati. Jangan pernah lagi berfikir bahwa dia punya hati. Jangan pernah merasa dipantau dan jangan pernah lagi mengira dia selalu ada di sekitarmu. Karena semua itu adalah asumsi yang tidak benar dan sama sekali merusak akal sehat.


Berhenti dan lakukan sikap wajar padanya.