
Saat itu adalah hari di mana pertukaran pelajar diadakan. Ada sekitar 20 murid yang dikirim dari Perancis. Salah satu dari murid pertukaran itu memberikan pidato sambutan, namanya Alois.
Sambutan yang dia berikan cukup untuk memberikan kesan pada orang-orang bahwa dia cerdas dan bijaksana. Sesekali dia tersenyum ramah di tengah penyampaian pidatonya. Semua pasang mata menatap kagum padanya tanpa terkecuali.
Di detik itulah, Eta merasa bahwa dia yang tidak pernah jatuh cinta mulai menaruh perhatian pada Alois. Ia selalu mencuri kesempatan melirik Alois yang kerap bersama sahabat karibnya, Benett.
Warna kulitnya yang seperti kulit buah zaitun. Hidung dan alisnya terlihat tegas. Bola matanya yang sedikit lebih besar dengan iris berwarna hijau, warna mata yang paling langka di seluruh dunia yang hanya dimiliki oleh 2% populasi umat manusia.
Itu bukanlah cerita yang indah. Bukan pula cerita bak di negeri dongeng. Jika dibukukan, pasti akan berjalan dengan sangat membosankan karena Eta dan Alois tak pernah bersinggungan lebih jauh. Kalaupun diangkat menjadi film, pasti akan langsung tamat dalam semenit penayangan.
Meskipun membosankan, tapi itu adalah satu tahun yang berharga bagi Eta. Kesan Alois yang cerdas, elegan dan penuh kepercayaan diri akan membekas kuat di ingatan Eta. Walaupun gadis itu hanya bisa memandanginya dari jauh, ia merasa cukup.
"Selamat tinggal cinta pertamaku."
Eta menghanyutkan setangkai mawar ke laut pasang. Saat itu mereka tengah study tour, minggu terakhir sebelum kenaikan kelas. Sebelum Alois, Benett dan yang lainnya pulang kembali ke Perancis. Mereka hanya di sini selama dua semester.
"Memori yang manis."
Ketika Eta bergumam seperti itu, Gabriel menatapnya dengan heran. Tidak biasanya Eta mengatakan kata 'manis'. Eta terlihat baru saja selesai dari mode melamunnya, dia mulai mengigau hal-hal aneh.
Setelah jam pelajaran selesai dan masuk ke waktu istirahat pertama. Eta tidak langsung mengeluarkan kotak bekalnya, dia malah melamun cukup lama. Awalnya Gabriel ingin menyadarkannya, khawatir Eta kerasukan.
Eta sendiri menutup memori manisnya sambil tersenyum tidak jelas. Dia masih ingat wajah Alois meskipun sudah lama tidak bertemu. Yah, mereka takkan pernah bertemu kembali. Kemungkinannya kurang dari 1% hari itu akan datang.
"Jadi, orang sepertimu juga punya memori yang manis." Komentar Alan di sebelah Gabriel.
Eta mendelik kesal. Alan yang asal ceplos dan hobi menggosip ini sangat berbeda jauh dari temannya yang ramah lingkungan. Bersyukur saja Alan tidak membongkar rahasia Gabriel selama ini.
"Tentu saja! Kau pikir aku ini robot!"
"Aku mendengarmu mengatakan Perancis." Ujar Alan.
Wajah Eta merona merah. Ternyata dia mengigau selama mode melamunnya. Yang lebih memalukannya lagi adalah Gabriel dan Alan mendengarnya. Tak apa jika itu Gabriel, namun Alan beda urusan.
"Jangan beritahu siapapun tentang itu, Alan!" Ancam Eta, tidak boleh ada yang tahu apalagi Raya.
"Tenang saja, aku akan tutup mulut. Rahasia Gabriel pun aman, mulutku terkunci rapat."
"Kau tetap mencurigakan bagiku."
Gabriel mengambil salah satu kursi dan membawanya duduk di depan Eta. Sementara kursi di depan Eta sendiri sudah ditempati oleh Alan. Entahlah, baginya posisi ini seperti mereka sedang bergosip.
"Apa Perancis adalah salah satu negara yang ingin kau kunjungi?"
"Eh? Kau tahu tentang itu, Gabriel?" Eta terkejut.
Gabriel mengangguk, kemudian menoleh pada Alan. Secara tak langsung menunjuk bahwa Alan adalah orang yang memberitahukannya. Eta melirik tajam Alan yang seenaknya mengambil kotak bekal dari tasnya.
Tanpa merasa berdosa, Alan memulai sesi mencicipi isi kotak bekal Eta. "Seperti biasanya, kau tidak pernah mengecewakan. Kau adalah sosok istri yang ideal."
"Hush! Jangan membicarakan tentang suami istri. Memangnya kau berniat menikahi Eta?" Sergah Gabriel, dia masih sensitif persoalan cinta.
"Apa? Itu mustahil." Elak Alan.
"Kau menyebalkan, Alan. Mendadak mengacaukan lamunanku dan menjajah isi kotak bekalku. Kembalikan!" Eta merebut kembali kotak bekalnya sebelum Alan berhasil menelan suapan kedua.
"Jadi, kembali ke topik sebelumnya. Kau mau ke Perancis setelah ke Singapura, Eta?"
Eta mengangguk pelan. Impiannya untuk pergi ke berbagai negara bukanlah sesuatu yang harus dirahasiakan. Ditambah Gabriel tidak akan mengoloknya, dia akan menyemangati Eta agar bisa menggapai impian itu. Tidak tahu Alan akan bereaksi bagaimana, dia menganggap semua hal dengan santai.
"Perancis adalah negara kedua yang ingin aku kunjungi."
"Kedua?"
"Iya. Yang pertama adalah Singapura, kau ingat? Paris adalah kota romantis. Bahkan bahasa Perancis dinobatkan sebagai bahasa paling romantis di dunia."
Aku ingin mengajak Ayahku pergi ke sana.
"Begitu rupanya. Pantas saja saat kita ke Pameran Dunia itu kau hanya fokus ke beberapa negara saja. Apa Finlandia termasuk?" Gabriel tersadar jika mereka Eta berkali-kali mengucapkan Singapura, Perancis dan beberapa negara lainnya saat di Pameran Dunia.
"Iya. Finlandia termasuk. Negara mereka adalah negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia. Aku ingin melihatnya secara langsung."
Eta mengunyah nasi dan lauknya. Alan mulai membuka bungkus roti, merasa bahwa percakapan ini akan panjang sampai jam istirahat usai.
"Tidak berurutan pun tidak apa-apa. Aku hanya ingin mengelilingi dunia dan melihat bagaimana kehidupan berjalan di sana."
"Omong-omong tentang Perancis. Apa hanya karena itu adalah negara romantis? Tidak ada alasan lain?" Tanya Alan.
Pipi Eta kembali semerah tomat. Tentu dia tak mau mengatakan bahwa alasan lainnya ingin ke Perancis adalah karena dia ingin mengunjungi negara asal dari cinta pertamanya, itu sangat memalukan.
Alan menghentikan kunyahan rotinya, dia menatap Eta menyelidik. Kemudian tersenyum menyeringai. Alan mulai terkekeh tidak jelas, membuat Gabriel dipenuhi pertanyaan. Gabriel tidak sepeka Alan. Alan memang didesain sebagai pria yang dapat dengan mudah menebak perasaan seorang wanita.
"Tidak perlu dijawab. Aku mengerti, hehe..." Alan terkekeh.
"Memangnya kau mengerti apa?" Timpal Eta dengan wajah kesal.
"Aku tidak mengerti." Kata Gabriel.
Alan segera menepuk pundak temannya itu sambil tersenyum miring. "Tak apa, kawan. Itu bukanlah hal yang menyenangkan untuk dibahas. Mari kita bahas tentang perjuanganku di pertandingan futsal besok melawan anak-anak IPA itu."
"Oh ya, XI IPA 2 itu lumayan kuat."
"Lumayan belum berarti bisa ditumbangkan. Puncak tertinggi saat ini adalah XII IPA 1. Mereka semua maniak futsal. Lalu, setelah itu baru XII IPS 1."
Eta tidak terlalu mendengarkan percakapan Gabriel dan Alan setelahnya. Bahkan dia memakan bekalnya dengan lambat. Setelah mendengar XII IPA 1, tentu yang ada di pikirannya adalah Atlas. Dia dan Yuda termasuk ke dalam tim inti di klub futsal. Pantas kelasnya sulit dikalahkan saat class meeting.
Sebentar lagi akan masuk ke semester kedua. Mereka akan lengser dari jabatan. Atlas akan sibuk untuk ujian kelulusan dan serangkaian ujian lainnya.
Sepertinya Eta akan memendam perasaannya lagi. Cinta monyet memang tidak perlu diurusi begitu dalam, karena perasaan kagum itu hanya selewat. Segera, setelah Atlas lulus maka Eta akan melupakan perasaannya untuk sekali lagi.
Dia hanya perlu pura-pura tidak tahu. Dengan panggilan khusus yang diberikan Atlas, ataupun keramahan Atlas. Tidak ada makna yang lebih dalam dari tingkah Atlas sejauh ini. Mungkin, dia akan menghanyutkan mawar kedua di liburan semester gasal ini.
Bulan depan juga kakaknya akan pulang. Meski sudah lulus, dia tetap akan wisuda di tahun depan. Selama saat itu, dia akan berada di rumah dan kembali ke luar kota untuk wisuda.
Eta ingat kalau kakaknya hanya perlu kuliah selama 3,5 tahun untuk lulus. Tidak heran Ibu mereka lebih membanggakan kakaknya daripada dirinya. Rea jelas jauh di atas Eta jika itu soal kepintaran.
Semakin bertambah usia, semakin banyak hal yang menjadi beban pikiran.
TBC