My world

My world
Chapter 35 - Selalu Ada yang Berubah



Saat itu, Eta baru menginjak usia enam tahun. Kegiatan yang paling disukainya adalah menggambar meskipun hanya terlihat seperti goresan acak.


Tangan mungilnya bergerak menarik setiap garis membentuk rumah sederhana. Hanya memiliki satu pintu dengan jendela di kedua sisinya. Tak lupa atap segitiga yang salah satunya diisi oleh cerobong asap.


Ayah Eta yang baru datang langsung duduk di samping Eta sambil membawa sebuah buku. "Itu gambar yang bagus." Pujinya.


"Benarkah?!"


Ayah Eta mengangguk. "Tetapi, Eta harus mewarnai setiap bagiannya. Tidak boleh ada bagian yang kosong. Soalnya ini adalah gambar, bukannya sketsa."


"Begitu, yah."


Eta kecil menghentikan sejenak aktivitas menggambarnya. Mata bulatnya memandangi buku yang dibawa oleh ayahnya.


"Yah, itu apa?" Tunjuk Eta.


"Oh, ini namanya buku atlas."


"Atlas? Apa itu?"


"Kumpulan peta."


"Peta?"


Selain menjelaskan dengan kata-kata, ayah Eta juga membuka halaman pertama pada buku atlas dan memperlihatkannya pada Eta. Telunjuk kecil Eta menunjuk ke salah satu pulau di Indonesia.


"Bentuknya aneh."


"Kita tinggal di sini."


"Tapi, tidak mirip dengan yang Eta lihat."


"Yang Eta lihat hanyalah bagian kecil dari dataran di peta ini. Peta tidak dibuat sebagaimana aslinya, melainkan menggunakan skala tertentu."


Alis Eta mengkerut.


"Skala? Apa lagi itu?"


"Kita akan membicarakannya di lain hari."


Ketika itu, Eta tidak terlalu paham dengan apa yang dibicarakan oleh ayahnya. Namun, Eta adalah sosok yang selalu penasaran akan segala sesuatu hingga mencari ke setiap sudut dan sisi.


Dan di masa depan, Eta jadi mencintai segalanya tentang peta dan atlas. Akan tetapi, Eta akan selalu ingat ucapan ayahnya.


"Semua hal berubah dengan cepat, apalagi hati manusia."


...****...


Tanpa sadar, Eta terus memandangi lukisan pertamanya yang dipajang di pintu kamarnya. Sebuah rumah, jelek sekali jika dilihat. Tapi, dulu rumah itu adalah rumah impiannya.


Jauh sebelum Eta tahu bahwa dia menyukai atlas daripada sekedar gambar tak karuan. Namun, saat ini semuanya berbanding terbalik. Perasaan kagum Eta terhadap setiap buku yang mencakup peta tidak akan sama lagi seperti dahulu.


Entah kenapa, dia yakin akan baik-baik saja walaupun memutuskan membuang semua peta ke pembuangan sampah.


Yah, perubahan terjadi begitu cepat.


"ETA!"


Begitu mendengar suara Devan yang memekakkan telinganya. Kekesalan Eta sudah tidak terbendung lagi. Tapi, dia masih merasa lelah sehingga memutuskan untuk diam saja.


Mata Eta tertuju pada bingkisan berwarna pastel dengan corak yang sangat imut di tangan Devan. Tidak biasanya Devan akan datang ke rumahnya sambil membawa buah tangan.


"Apa itu dari Berlin?" Tanya Eta, itu satu-satunya yang bisa dipikirkan olehnya.


"Bukan. Ini dari teman sekelasmu, untukmu."


Devan menyerahkan bingkisan imut itu kepada Eta. Eta jadi bingung, siapa pula teman sekelasnya yang repot-repot memberikannya bingkisan? Hanya Salsa yang Eta ketahui mau melakukan hal semacam ini.


"Hee... mungkinkah Salsa?" Eta memandangi setiap sudut bingkisan yang khas gadis remaja.


Dahi Eta berkerut.


"Astaga! Yang selalu bersama dengan Gabriel! Aku tidak tahu siapa namanya. Tapi yang pasti, dia tak pernah jauh-jauh dari Gabriel."


Eh? Alan?


Ingatan Eta terlempar ke hari kemarin. Di mana Alan memeluknya. Jangan lupakan Alan yang tiba-tiba memanggil nama Eta dengan benar. Semua itu menimbulkan rona merah di pipi Eta.


"Hei, kenapa kau malu? Tidak. Kau malu atau tersipu?" Devan bertanya penasaran.


"Bukan hal besar." Eta segera memalingkan wajahnya ke arah lain, enggan Devan melihatnya.


"Jangan-jangan...!" Ekspresi Devan berubah syok.


"Jangan berprasangka buruk!"


"Kau mencurigakan sih."


Devan berusaha mengintip isi bingkisan tersebut. "Ayo cepat buka!"


"Tidak. Nanti saja saat kau tak ada."


Eta menyimpan bingkisan itu ke tempat yang lebih aman, di mana Devan tak bisa menjangkaunya. Devan yang menyaksikan Eta cemberut tak karuan.


"Oh ya, mau kau apakan semua itu?"


Devan menunjuk satu kardus besar yang duduk manis di sudut ruangan. Kardus itu berisi semua atlas yang dia miliki beberapa tahun ini. Karena setiap tahunnya pasti akan ada perubahan dataran, Eta terpaksa membeli setiap serinya.


"Mungkin kusimpan saja di gudang."


"Eh? Kenapa?"


Eta tersenyum simpul.


"Bukankah hal yang biasa ketika aku menyukai hal selain atlas?"


Bukannya menjawab Devan, Eta malah balik bertanya yang menjadikan Devan jengkel. Tapi, di sisi lain dia merasa kagum seakan tengah menonton fenomena alam. Bayangkan saja, Eta yang sudah menjadi maniak atlas selama sepuluh tahun terakhir malah mengatakan hal yang paling mustahil dia ucapkan.


Devan termenung, berpikir kalau kematian kedua orang tua Eta adalah alasan utamanya. Atau karena alasan lain. Devan tidak bisa memahami isi pikiran Eta.


Tiba-tiba sosok Atlas muncul dalam pikiran Devan. Jika bukan karena orang tuanya, alasan fenomena ini terjadi pastinya karena Atlas seorang.


"Lalu, bagaimana dengan mimpimu yang ingin menjadi seorang kartografer?"


"Hehe..." Eta tertawa garing, kemudian matanya menangkap selembar kertas berisi lukisan rumah pertamanya. "Kupikir menjadi seorang arsitek bukanlah ide buruk."


"He~"


"Bagaimana keadaan Kak Rea?"


"Hng? Kondisi Kak Rea semakin membaik sejak kemarin. Aku harap dia segera siuman." Eta menyelipkan doa dan harapan untuk kakaknya.


Melihat Eta saat ini, membuat hati Devan berbunga. Ucapannya hari itu tidaklah salah. Sebab bagaimanapun, seorang adik tidak bisa membenci kakaknya. Selalu ada perasaan sayang meski itu sekecil zaitun.


...****...


Sebelum membaringkan tubuhnya ke kasur, Eta meletakkan kacamatanya ke atas nakas. Lelah sekali rasanya. Setiap hari Eta akan mengunjungi kakaknya di rumah sakit. Kak Ida tak pernah mengizinkan Eta bermalam di rumah sakit dan harus ikut pulang dengan ibu Devan, alasannya supaya Eta tidak kelelahan.


Eta memiringkan tubuhnya, mengambil bingkisan berwarna pastel yang disimpan olehnya di laci nakas. Eta penasaran dengan isi bingkisan yang diberikan Alan.


Ketika mengetahui isinya, kedua bola mata Eta membulat sempurna.


"Terima kasih, Alan." Bisiknya.


TBC