
Rumah keluarga Ruzain ramai. Para pelayat datang dengan pakaian hitam, tanda berduka cita. Beberapa orang mendatangi Eta, meminta Eta untuk bersabar atas kematian kedua orang tuanya. Namun, Eta tidak terlalu mendengarkan. Pikirannya sudah kosong sejak kedua orang tuanya dinyatakan meninggal.
Semuanya terjadi begitu cepat. Padahal kemarin siang dia baru mendengar berita kepulangan Ibu dan Kak Rea dari Ayahnya. Dan ayahnya berniat menjemput mereka berdua di bandara. Namun, keadaan berubah begitu cepat.
Devan dan Ibunya lah yang mengurus para pelayat. Sebab dengan kondisi Eta sekarang, dia pasti takkan mampu. Matanya bahkan bengkak parah setelah semalaman menangis tak henti-henti.
"Van, ambilkan Eta air."
Devan mengangguk.
Lima menit kemudian, Devan kembali dengan segelas air. Dia mendekati Eta yang masih menatap kosong tubuh kaku kedua orang tuanya yang siap dimakamkan.
"Eta, minumlah dulu."
Eta menggeleng. Di situasi begini, tidak ada yang bisa menerobos melewati kerongkongannya. Padahal yang membuat pikirannya tidak jernih adalah karena dia kekurangan air.
"Pemakaman akan segera dilakukan."
Suara itu berasal dari salah seorang yang membantu Eta dalam mengurus pemakaman kedua orang tuanya. Ibu Devan lah yang memanggilnya.
"Ayolah Eta, minum dulu baru setelah itu kita ikut ke makam."
Akhirnya Eta minum walau hanya satu tegukan.
...****...
Pemakaman dilaksanakan dengan khidmat. Tidak ada yang mengobrol, hanya terdengar isak tangis dari kerabat terdekat. Eta yang air matanya sudah kering, tak mampu untuk menangis lagi. Dia hanya memandangi proses pemakaman dengan tatapan gamang sampai selesai.
Satu demi satu para pelayat meninggalkan makam. Hanya menyisakan Eta, Devan beserta kedua orang tuanya.
Eta bingung. Kecelakaan hari itu membuat ia harus kehilangan dua sosok paling dihormatinya. Hanya kakaknya saja yang selamat. Rea masih terbaring di rumah sakit, belum sadar. Baru saja pagi tadi dipindahkan dari ruang ICU.
"Bagaimana rasanya?"
Saat itu Ibunya bertanya pada Eta tentang bagaimana rasa ayam panggang yang dibuat pertama kali olehnya. Eta ingat sekali, senyum hangat Ibunya.
Juga, Ayah yang selalu menyayangi dirinya.
"Tolong jagalah Rea."
Kalimat itu kembali terngiang dalam ingatannya. Air mata yang tak kuasa Eta tahan lagi merembes keluar. Suasana senyap melingkupi sekitar.
Devan yang biasanya dipenuhi ide dalam membuat lelucon untuk menghibur Eta, jadi tak bisa memikirkan apa pun. Lagi pula, yang Eta butuhkan saat ini bukanlah seseorang untuk menghiburnya. Melainkan dia yang akan selalu menemani di sisinya.
Eta menghapus air matanya dengan kasar. Matanya yang besar semakin terlihat bengkak seperti habis disengat tawon.
Sejak tadi Eta menahan diri untuk menangis dengan menggigit bibirnya. Dia melakukannya secara tidak sadar sampai berdarah karena menggigit dengan terlalu kuat.
"Kita pulang, Eta." Ajak Devan, sebab mereka sudah berada di sini satu jam setelah pemakaman selesai. Dan yang mereka lakukan hanyalah memandangi gundukan tanah yang telah ditancap batu.
"Ayolah Eta, kau belum makan sejak kemarin sore."
"Memangnya siapa yang mau makan di saat seperti ini!" Eta meninggikan suaranya.
"Tapi-"
"TINGGALKAN AKU SENDIRI!"
Devan tertegun. Eta, yang selalu berkata tak mampu berteriak keras takut menyakiti pita suaranya, namun sekarang dia melewati batasan itu. Devan ngilu, takut pita suara Eta pecah.
Akhirnya, demi tidak membangkitkan amarah terpendam Eta. Devan memutuskan terus berdiri di samping Eta sampai gadis itu mau pulang.
Ayah dan Ibu Devan akan kembali ke rumah untuk membereskan barang-barang serta rumah Eta yang berantakan setelah didatangi para pelayat. Juga memasak, jika Eta mau makan.
Demi teman masa kecil sekaligus tetangganya ini. Devan rela memaksa kakinya terus berdiri padahal sudah kram. Padahal kalau Eta pingsan, Devan harus menyediakan punggungnya untuk menggendongnya.
Devan menatap punggung Eta pilu.
Bahu Eta bergetar hebat, gadis itu terlihat rapuh.
...****...
Dari kejauhan. Rupanya Atlas ikut serta menuju pemakaman bersama Yuda. Hanya saja, setelah Eta menangis karena ulahnya. Atlas berusaha menjaga jarak agar perasaan Eta tidak semakin buruk.
"Kau yakin tidak mau ke sana?" Tanya Yuda yang duduk di sebelahnya.
Yuda sudah merasa pegal setengah mati setelah hampir setengah jam dia berdiri. Sedangkan rekannya itu, Atlas masih tetap berdiri di posisi sama sejak satu jam yang lalu. Tak bergeming. Atlas baru akan pergi jika Eta juga sudah pergi.
"Apa salahnya jika kau muncul di hadapannya?"
Atlas mengerutkan alisnya.
"Yuda, aku tahu kau ingin sekali mendorongku supaya berdiri di hadapannya. Aku tahu kau mengejekku sebagai pengecut karena tidak berani mendekatinya. Tetapi, sejatinya ini adalah hal terbaik yang bisa kulakukan."
Yuda terdiam.
"Ini bukan tentang apa yang kuinginkan. Tapi apa yang dia butuhkan."
"Atlas..."
"Saat ini yang Eta perlukan adalah waktu untuk menerima kenyataan kepergian kedua orang tuanya. Bukan dihampiri oleh orang yang paling tidak ingin dia temui. Aku pengecut, memang. Aku hanya ingin memenuhi kebutuhan Eta, yaitu menjauh darinya. Karena aku tidak akan tahu apa yang akan terjadi jika tetap nekat juga. Mungkin, kemungkinan terburuknya..."
Atlas menggantungkan kalimatnya, membuat Yuda penasaran. Namun, Atlas sama sekali tak berniat menyelesaikan kalimat itu. Karena lebih baik tidak dikatakan atau hal itu malah menjadi kenyataan.
"Ini tidak seperti di drama. Ketika aku datang menghampirinya, dia menangis dalam pelukanku dan hubungan kami akan membaik dengan sendirinya. Tidak akan seperti itu. Manusia itu berbeda-beda. Jangan sama-ratakan dengan pandangan idealmu."
TBC