My world

My world
Chapter 33 - Yang Tiada Terasa Berharga



Ketika bangun di esok paginya. Rasanya kedua mata Eta berat sekali untuk dibuka. Sejenak dia melamun sebelum mengambil posisi duduk dan memakai kacamatanya.


Eta melirik ke arah jam dinding, pukul tujuh pagi. Hari ini dia akan izin sekolah. Ibu Devan pasti sudah menginformasikan terkait ketidakhadirannya kepada wali kelasnya. Eta mendengar dari ibu Devan, Pak Rahmat akan datang hari ini. Kemarin Pak Rahmat tidak bisa datang karena ada di luar kota.


Agendanya hari ini adalah mengunjungi kakak perempuannya di rumah sakit ditemani Ibu Devan. Kakaknya akan dipindahkan ke ruang rawat inap setelah berhasil melewati masa kritis. Eta sangat bersyukur Rea masih bertahan.


Dia benar-benar bersyukur.


Sejak kemarin mulut Eta terasa kering. Dia hanya minum sedikit saja. Padahal idealnya manusia itu harus minum air putih sebanyak dua liter setiap harinya. Atau setara dengan delapan gelas. Tetapi semua kejadian itu membuatnya lupa untuk makan dan minum.


"Di mana gelasnya?"


Keluar dari kamarnya, Eta mencium aroma yang begitu enak dari arah dapur. Mata Eta membulat. Bergegas ia berlari ke dapur. Ternyata di sana ada ibu Devan yang sedang memasak nasi goreng. Sederhana memang, tapi itu cukup. Lagi pula Eta tidak nafsu makan, dia takkan makan banyak. Tiga sendok pun sudah terasa kenyang.


"Bibi?"


Mendengar suara serak Eta, ibu Devan berbalik badan. Memandang teduh anak gadis dari kedua sahabatnya. Apalagi Rea masih terbaring lemas di rumah sakit.


"Duduklah, sayang. Bibi sudah buatkan sarapan untukmu, lumayan sebagai pengganjal perut. Eta 'kan semalam tidak makan."


Eta mengangguk. Badannya lemas sejak semalam. Bahkan tidur pun tidak nyenyak karena perut yang keroncongan.


Eta menarik kursi ke belakang dan duduk. Di depannya sudah tersaji sepiring nasi goreng yang masih hangat. Asapnya masih mengepul.


"Terima kasih, Bibi."


Ibu Devan menarik sudut bibirnya ke atas. Sorot matanya memancarkan kelembutan. Kedua anaknya, Ida dan Devan mungkin akan seperti ini jika ditinggalkan olehnya dan suaminya. Yah, ia tak boleh memikirkan hal buruk.


Eta sedikit terperanjat saat merasakan tepukan pelan di pucuk kepalanya. Kemudian tepukan itu berubah menjadi usapan lembut.


"Rea pasti akan mampu melewati masa kritisnya. Kamu hanya perlu memberikannya dukungan."


Eta mengangguk. Setelah sarapan, dia bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Ibu Devan telah menunggu di luar rumah.


Saat Eta mengambil sendalnya di rak samping pintu. Sesuatu mengalihkan perhatiannya. Bingkai foto yang diletakkan di atas meja bersamaan dengan telepon kabel.


Eta terdiam memandangi foto. Tangannya terangkat ke arah bingkai dan mengubah posisinya menjadi menghadap ke bawah.


Tidak ada lagi yang tersisa.


...****...


Bukan hal aneh bagi bangunan serba putih itu memiliki aroma obat begitu kuat. Karena bualan para orang tua, anak-anak bahkan ketakutan jika mendengar kata 'rumah sakit'. Sampai rumah sakit dijadikan sarang hantu di film-film horor.


Eta sama sekali tidak terganggu dengan atmosfer rumah sakit yang berat atau bau darah yang menyengat. Tidak heran karena ini adalah ruang IGD.


Biaya perawatan Rea ditanggung oleh uang simpanan Eta. Uang tabungan yang akan digunakan oleh Eta untuk terbang ke Singapura. Semua uang di rekening ayahnya belum bisa dicairkan. Dan lagi, masalah rekening ayahnya adalah urusan ayah Devan. Eta yang tak paham tidak mungkin ikut campur.


Dengan tatapan kosong dia menyaksikan keseluruhan aktivitas para perawat yang bergerak cepat memindahkan kakaknya dari IGD.


Kondisi Rea begitu mengenaskan. Salah satu kakinya hancur tak berbentuk, dokter bilang hanya amputasi yang bisa 'memperbaiki' Rea. Bukan hanya itu, kepala Rea yang terbentur keras saat kecelakaan kemungkinan besar akan mengakibatkan stroke sebab pembuluh darah di kepala yang pecah.


Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir Eta. Lidahnya begitu kelu. Ia menggigit bibirnya tanpa sadar. Sudah tak terbendung lagi air matanya.


Di samping Eta, ibu Devan menariknya masuk ke dalam pelukannya. Saat ini, Eta sangat rapuh. Menangis adalah satu-satunya cara bagi Eta untuk melampiaskan emosinya.


"Nak Eta?"


Suara yang Eta kenali. Itu adalah wali kelasnya, Pak Rahmat. Ternyata Pak Rahmat langsung mengunjungi Eta di rumah sakit. Segera setelah melihat Pak Rahmat mendekat, Eta menghapus air matanya dengan kasar.


"Apakah anda ibunya Devan?"


"Itu benar, Pak. Untuk saat ini juga saya adalah wali Eta." Ibu Devan mengatakannya dengan nada pelan. Khawatir Eta yang mendengarnya akan bereaksi buruk.


"Begitu."


Pak Rahmat lalu menatap ke arah Eta. Wajahnya yang merah, mata bengkak serta hidung yang berair. Tak lupa dengan pakaian yang lecek dan celana longgar. Lengkap sudah penampilan berantakan Eta.


Sebagai seorang guru, Pak Rahmat harus bertindak sebijaksana mungkin. Dia adalah figur orang tua Eta di sekolah.


Pak Rahmat tersenyum tipis.


"Kamu adalah anak yang kuat, Eta."


Eta menarik sudut bibirnya, senyum formalitas.


...****...


"Aku khawatir pada Peta, kenapa kemarin kita tidak melayat?"


Gabriel menatap tanya pada Alan. Namun Alan malah hanya mengangkat kedua bahunya acuh. Niat mereka juga ingin melayat ke rumah Eta. Tetapi kemarin ada sembilan periode, alias mereka pulang begitu sore. Dan pastinya mayat kedua orang tua Eta telah dimakamkan.


Etika melayat sendiri haruslah ketika mayat itu masih ada di rumah duka. Tidak sopan jika mereka datang beramai-ramai ke rumah Eta sedangkan kedua orang tuanya telah dimakamkan. Terlebih lagi, Eta pasti membutuhkan waktunya untuk sendiri.


"Situasinya sama sekali tidak pas."


"Benarkah?"


"Kudengar Pak Rahmat mengunjungi Peta langsung di rumah sakit."


"Kenapa Pak Rahmat malah ke sana?" Mendadak Salsa ikut nimbrung dan duduk di antara Gabriel dan Alan.


"Kakaknya Eta selamat dari kecelakaan itu. Tapi dia mendapatkan luka yang sangat parah dan dirawat di rumah sakit."


Gabriel menautkan alisnya, "Dari mana kau tahu semua itu?"


"Tidak penting dari mana aku mengetahuinya. Yang lebih penting adalah apakah kalian mau ikut denganku menjenguknya?"


"Tentu saja! Kapan?" Tanya Salsa antusias.


"Hari ini, setelah pulang sekolah kita akan langsung ke sana."


TBC