
"Siapa itu?"
Dari jauh, Eta dapat melihat kehadiran dua orang asing yang berdiri di depan pintu rumahnya. Seorang pria seusia mendiang ayahnya yang berpakaian formal. Serta seorang wanita berusia sekitar pertengahan dua puluh dengan segala macam benda bermerek melekat di tubuhnya. Eta tidak yakin, tapi sepertinya mereka adalah pasangan suami istri.
Karena penasaran, Eta memutuskan menghampiri mereka berdua.
"Permisi, paman dan bibi ini siapa, ya?" Eta bertanya tanpa banyak basa-basi.
Si pria paruh baya berbalik menghadap Eta. Aura yang dikeluarkannya luar biasa. Dia sangat berkharisma. Sekali lihat saja Eta tahu bahwa pria ini adalah sosok pemimpin yang dikagumi banyak orang.
"Apa namamu adalah Viani Eta Ruzain?"
"Itu benar. Paman ini siapa?"
"Saya adalah sahabat Zifar, mendiang ayahmu. Nama saya Dirga Narendra." Pria paruh baya bernama Dirga itu memberikan Eta kartu namanya. "Dan dia Bella, istri saya."
Aku benar! Tapi, istrinya terlihat masih muda.
"Kalau begitu, silakan masuk. Lebih baik bicara di dalam." Eta mempersilahkan Dirga dan Bella masuk.
Dia juga mengarahkan kedua orang yang katanya sahabat mendiang ayahnya ini ke ruang tamu. Eta tidak terlalu tahu siapa saja teman ayahnya, tapi untuk saat ini Eta memutuskan percaya.
Setelah menyajikan dua teh hangat beserta kudapan sebagai pendampingnya. Eta duduk di hadapan pasangan Narendra.
"Kami turut berduka atas kabar kematian Zifar dan Chika. Juga, apa benar jika Rea masih di rumah sakit dan terserang stroke?"
Mau tak mau Eta mengangguk. Rupanya Dirga mengetahui banyak hal. Bukan hanya nama ayah, ibu, Eta serta kakaknya. Dirga pun tahu keadaan Rea di rumah sakit yang mengalami stroke.
Dirga menyesap teh dengan perlahan lalu meletakkan cangkirnya kembali ke atas piring kecil.
"Di Singapura, Zifar telah amat sangat membantu kami berdua. Kami ingin sekali membalas semua kebaikan Zifar."
"Singapura?" Beo Eta.
"Oh? Saya belum memberitahumu? Saya dan ayahmu saling kenal di Singapura."
Jadi, dia kenalan ayah di Singapura!
Dari wajahnya saja, sudah sangat jelas Eta syok dengan kedatangan sahabat ayahnya. Singapura memang tidaklah jauh jika dilihat di peta karena masih di dataran yang sama dengan salah satu pulau di Indonesia, walau sisanya terhalang perairan. Tapi tetap saja, tidak semua orang Indonesia pernah ke sana sebab masalah ekonomi.
Meski Eta meninggalkan mimpinya sebagai seorang kartografer. Tak ayal keinginan Eta untuk mengelilingi dunia tetap ada. Mendengar Singapura, Eta mendadak sangat ingin ke sana.
"Dan tujuan kami datang menemui kamu di sini adalah untuk menjadikanmu anak angkat kami."
"....!"
Mata Eta membelalak. Tentu dia masih syok atas kematian kedua orang tuanya tiga hari lalu. Ditambah datang sahabat ayahnya yang ingin mengangkatnya sebagai anak.
Eta menggigit bibir bawahnya.
"Bagaimana dengan Kak Rea?"
"Demi pemulihan yang lebih maksimal. Rencananya kami akan memindahkan Rea ke Singapura juga dan dirawat di sana."
Tawaran yang sangat bagus juga menguntungkan. Eta tidak bisa merawat Rea seorang diri. Dia juga tak mungkin terus menerus mengandalkan keluarga Devan. Biaya perawatan Rea pun tidaklah murah, lama-lama Eta akan kehabisan dana karena tak adanya pemasukan.
"Eta," Panggil Bella dengan intonasi yang lembut. "Kami sangat berharap kamu menerima tawaran ini."
"Jika saya menerimanya, apa saya dan Kak Rea akan pindah ke Singapura?" Tanya Eta.
Dirga mengangguk takzim.
"Apa saya bisa kembali ke Indonesia?"
Inilah kecemasan terbesar Eta bilamana dia menerima tawaran keluarga Narendra. Eta memang senang karena Dirga serta istrinya akan menunjang segala macam kebutuhan Rea. Namun di sisi lain, kalau pindah ke Singapura berarti takkan kembali ke Indonesia, itu termasuk masalah serius. Artinya Eta takkan sesering itu mengunjungi makam kedua orang tuanya.
"Mungkin tidak setiap tahun."
"Tidak setiap tahun?" Eta terkejut mendengarnya.
Padahal negara yang ditinggali keluarga Narendra ini adalah Singapura, bukan salah satu dari negara di Eropa. Eta terkejut jika dirinya tak bisa pulang ke Indonesia bahkan hanya untuk setahun sekali.
"Ya. Saya tidak punya banyak waktu luang. Selain itu, membiarkan anak dibawah umur naik pesawat sendiri rasanya agak riskan." Dirga beralasan.
Alasan Dirga sangat masuk di akal. Jikapun Eta berani, Dirga dan Bella takkan mau mengambil resiko sebesar itu.
Eta terdiam.
"Biarkan saya berpikir dulu."
...****...
Seperti biasa, jika Eta sedang tidak ingin berada di rumahnya, dia akan lari ke rumah Devan. Sedangkan Dirga dan istrinya akan ke hotel dan kembali di esok sore.
"Jadi, kau bingung?"
Eta mengangguk.
"Kenapa dibuat bingung? Kau 'kan tidak punya kerabat lagi di sini. Kakek dan nenekmu sudah wafat. Kedua orang tuamu adalah anak tunggal. Kau tak bisa terus hidup sendiri di sini. Walaupun aku yakin Ibu akan menerimamu, tapi tetap saja..." Devan nampak ragu melanjutkan kalimatnya.
Devan benar. Sebenarnya Eta tidak perlu bingung. Apalagi kondisi Rea yang masih membutuhkan perawatan jangka panjang meski berangsur-angsur membaik.
"Aku tak bisa meninggalkan kampung halamanku begitu saja." Eta berbisik pilu.
"Ah, kau mengkhawatirkan makam kedua orang tuamu? Singapura itu dekat, kau bisa kembali kapan saja."
Eta mengernyit.
"Di sanalah letak masalahnya! Pak Dirga mengatakan jika aku tak bisa kembali bahkan hanya untuk setahun sekali karena kesibukannya. Selain itu, dia juga tak bisa membiarkanku naik pesawat sendirian ke sini."
Inilah yang Devan tidak perhitungkan. Keluarga Narendra memang berkecukupan, tapi mereka tetap bukanlah tikus pemerintahan yang korupsi sampai punya banyak uang untuk bolak-balik Singapura dan Indonesia setiap saat. Di sisi lain, mungkin jadwal Dirga memang sepadat itu.
Devan menepuk pelan pundak Eta, berupaya memberikannya semangat.
"Tentang makam, jangan khawatir. Aku, ayah dan ibu yang akan mengurusnya dengan baik hingga kau kembali lagi ke Indonesia. Ingatlah, Kak Rea butuh untuk terus dirawat. Tetapi kondisi keuanganmu sangat memprihatinkan. Uang hasil kerja ayahmu juga tak bisa menanggung biaya rumah sakit sampai bulan berikutnya."
"...."
"Aku jadi heran, rumah sakit itu bisnis macam apa sih?"
Eta melirik Devan dengan sinis.
"Apa pelayanan kesehatan di seluruh dunia juga sama?" Lanjutnya.
"Kau membahas hal paling tabu, Devan."
"Bukankah hal paling tabu dibicarakan adalah oknum tikus berdasi yang selalu tergoda untuk korupsi?"
"Kau berniat membantuku atau tidak?"
"Ya, ya. Aku hanya mengingatkanmu saja. Jadi, apa keputusanmu?"
Eta tertunduk dalam. Kedua tangannya terkenal erat. Eta sadar bahwa cepat atau lambat dia harus mengambil keputusan. Tidak, dia harus melakukannya dengan cepat karena kesehatan kakaknya dipertaruhkan. Sebab hingga detik ini, Rea masih belum siuman.
"Aku akan menerimanya..." Ujar Eta, suaranya kecil sekali.
Devan tak bicara lagi. Dia mengusap pundak Eta, membesarkan hati teman masa kecilnya. Devan selalu berharap bahwa ikatan diantara mereka tak akan pernah berubah meski terpisah oleh jarak. Ia tak ingin mengulang sejarah antara Rea dan Ida.
...****...
Mendengar kepuasan Eta, Bella tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Sejak dulu, dia ingin memiliki seorang anak. Namun, Tuhan berkata lain. Rahimnya harus diangkat karena sebuah penyakit. Di masa terpuruknya, Dirga mengatakan akan mengadopsi anak dari temannya.
Bella tak bisa menahan tangisannya. Memang Eta tidak lahir dari rahimnya sendiri. Tetapi, dia akan menyayangi Eta seperti anaknya sendiri. Dan untuk Rea, Bella akan merawatnya sepenuh hati hingga Rea pulih sepenuhnya.
"Senang mendengar jawabanmu. Mulai saat ini, kamu bisa memanggil saya 'ayah' jika kamu mau."
Eta mengangguk kecil. Dia akan berusaha.
Bella menghampiri Eta dan memberikannya pelukan hangat. Pelukan seorang ibu. Jauh di lubuk hatinya, Eta merasa senang sekaligus sedih.
"Kita akan ke Singapura lusa jam tujuh pagi."
Mata Eta membelalak.
"Lusa?! Kenapa cepat sekali?"
"Saya hanya mengambil cuti selama lima hari."
"Begitu."
Sorot mata Eta terlihat sedikit kecewa. Bella kembali memeluk Eta, menguatkan hati anak gadisnya itu.
"Eta masih punya waktu esok hari jika ingin mengucapkan selamat tinggal."
Selamat tinggal? Apa itu artinya aku takkan bertemu mereka lagi?
TBC