My world

My world
Chapter 22 - Suatu Saat Nanti...



"Jadi, yang mana yang kau sukai? Peta atau atlas?"


Wajah Eta kembali menghangat jika mengingat ucapan Atlas. Meski mungkin saja pertanyaan Atlas tidak menjurus ke sana, Eta tetap dibuat salah tingkah. Ditanya hal seperti itu oleh orang yang disukainya membuat hatinya berdebar tak karuan. Terlebih lagi ekspresinya saat itu terlihat meyakinkan.


Karena tidak bisa menjawab dan untungnya bus kota sudah datang, Eta lantas meninggalkan Atlas tanpa memberikan jawaban apa pun. Eta baru tahu ternyata Yuda menjemput Atlas di halte, tak lama setelah pintu bus tertutup.


"Eta ada di kamar?"


Eta langsung mengambil posisi duduk mendengar suara ayahnya dari luar kamarnya.


"Masuk saja, Yah."


Pintu terbuka lebar, Ayah Eta masuk. Beliau duduk di pinggir kasur anaknya. Memandang putri bungsunya dengan lembut. Pandangannya terlihat seperti ingin mengatakan banyak hal, tetapi tak bisa.


"Kenapa, Yah?" Eta memecah keheningan.


Ayahnya menghembuskan napas lelah.


"Ayah minta maaf..."


Eta tertegun, "Untuk apa?"


"Untuk segalanya. Mungkin Eta merasa jika dikesampingkan karena kondisi Rea. Rea pernah jatuh sakit dan dirawat selama seminggu, lumpuh, tak bisa berjalan karena kekurangan kalium. Maaf jika Eta merasa begitu karena Ayah. Mustahil Eta tak pernah merasakannya."


Eta menundukkan kepalanya, membenarkan dalam hati.


Bohong jika Eta tak pernah merasa iri. Berpikir jika orang tuanya pilih kasih. Kondisi kesehatan Rea memang kurang baik sejak kecil. Rata-rata denyut jantungnya juga kurang. Sampai Eta hendak mencelakakan dirinya sendiri supaya bisa mendapat semua perhatian itu.


Namun, semua berkat Devan. Devan yang absurd dan humoris itu. Yang selalu bersikap santai tapi juga mampu menyentuh hati orang lain dengan sikap dan kata-katanya. Devan menyadarkannya, jika keputusan Eta tidak lain adalah bencana lainnya untuk keluarga kalau benar terjadi. Dan hal itu hanya akan membuat keluarganya semakin kacau.


"Ayah tahu sekali kemampuan hebat yang Eta miliki. Kemampuan yang membuat Eta terjauhkan dari situasi-situasi serius."


Eta mendongak.


"Berhentilah berpura-pura tidak tahu, nak."


Ketika ayahnya menatap matanya dengan serius. Eta tahu, dia tidak bisa menghindari percakapan ini. Situasi ini bukan pertama kali untuknya. Ayahnya selalu menatapnya begini saat topik pembahasan adalah Rea, putri sulungnya.


"Ayah tahu jika Eta benci untuk menerima fakta yang tidak disukai. Tapi, menghindarinya dengan cara berpura-pura tidak tahu adalah ciri seorang pengecut."


Eta diam tak berkutik.


Ayah Eta mengulum senyum tipis.


"Cita-cita Eta menjadi seorang kartografer, kan? Kencintaan Eta terhadap peta tidak diragukan lagi."


"Itu karena... Ayah lah yang mengenalkan Eta pada peta. Ayah memberikan buku atlas super besar yang mencakup peta seluruh benua secara lebih detail. Saat itulah, Eta merasakan hal tak biasa. Perasaan kagum terhadap sesuatu."


"Kenapa Eta mengagumi peta?"


"Karena..." Eta tersendat, tidak tahu harus mengatakan apa. Mendadak otaknya kosong. Hal dasar yang menjadi alasannya mengagumi peta mendadak hilang dari ingatannya. Atau memang itu tak pernah ada?


"Karena kagum...?" Eta malah menggunakan pertanyaan sebagai jawabannya.


Ayahnya tertawa kecil. "Kenapa malah bingung? Bukankah hal biasa jika memiliki alasan untuk mengagumi sesuatu? Kagum bukanlah perasaan cinta yang memang tak butuh alasan untuk itu."


Eta mengangkat sebelah alisnya. Mengapa ayahnya mendadak membahas mengenai cinta? Padahal Eta dilarang keras mempunyai pacar, dan itu sudah menjadi peraturan tak tertulis di rumah ini.


"Suatu saat nanti Eta mungkin bosan pada peta."


"Itu tidak mungkin! Eta sangat mengaguminya, menyukainya. Sampai-sampai impian Eta adalah menjadi kartografer karena pengaruh peta." Eta dengan cepat membantah.


"Semua hal berubah dengan cepat, apalagi hati manusia."


Kepala Eta terasa berat, pusing memikirkan ke mana arah pembicaraan ini sebenarnya. Ayahnya selalu bisa menyambungkan satu topik ke topik yang lainnya meskipun tak berhubungan sama sekali.


"Begitu juga suasana rumah ini."


"...."


"Ayah tahu Eta kecewa dengan sikap Ibu. Ibu tak mau Eta menolak keinginan Rea dan berujung pada hal sama, Rea dilarikan ke rumah sakit. Alasan Ibumu seperti itu karena dulu Rea punya saudara kembar."


Huh? Aku tak pernah mendengarnya!


"Saudara kembar Rea meninggal di dalam kandungan. Beberapa menit setelah Rea lahir. Setelah itu, Ibumu dibuat lebih syok lagi ketika Rea lahir dengan kurang beruntung. Air ketuban memenuhi kepala kecilnya, yang kemudian membuatnya terlihat sangat besar. Dadanya seperti tertanam ke dalam, sulit sekali bagi kakakmu bertahan hidup. Mungkin karena itulah Ibumu marah saat Eta menentang Rea. Tapi, Ayah akui tindakan Ibumu salah."


"Karena itulah, Ayah ingin memberitahukan Eta sesuatu."


Ayah Eta memegang kedua pundak Eta. "Jika Ayah dan Ibu sudah tiada, tolong jagalah Rea."


...****...


"Karena inilah aku lebih suka berpura-pura tidak tahu." Eta mendengus sebal.


Di sebelahnya, Devan yang sedang nonton TV sambil ngemil kacang menyodorkan toples pada Eta. Segera Eta menggeleng, dia tidak nafsu makan apa pun setelah pembicaraan sore tadi dengan Ayahnya.


Karena Ayahnya sibuk bekerja di kamar. Eta memutuskan mengunjungi rumah Devan di malam harinya. Hanya untuk menonton acara kesukaan Devan yang membosankan itu. Sebab Eta merasa canggung jika kelamaan di rumahnya.


"Berpura-pura tidak tahu?" Devan tersenyum miring. "Cara menghindari masalah yang sangat pengecut!"


Eta melengos. Rupanya berada di rumah Devan tidak membuatnya merasa lebih baik.


"Selain kacang, ada biji ketapang juga. Kau mau?" Kali ini Devan menyodorkan toples yang lebih kecil berisi biji ketapang.


Eta memutuskan menerimanya. Lumayan sebagai pengganjal lapar. Ayahnya melewatkan makan malam karena sibuk bekerja. Eta juga langsung kabur ke rumah Devan setelah percakapan, jadi dia tidak sempat memasak makan malam.


Eta memakannya dalam diam. Matanya memang menonton acara TV, tapi pikirannya melalang buana. Memikirkan percakapan serius dengan Ayahnya yang sebenarnya ingin dia hindari. Nah, lihat betapa pengecutnya dirinya. Eta takkan tersinggung jika Devan mengejeknya pengecut lagi.


"Dunia ini berjalan maju, Ta. Dan di masa depan, orang tuamu tidak akan selalu bersamamu. Kau tahu 'kan maksudku? Tidak ada yang abadi di dunia ini." Celetuk Devan.


Lihatlah sekarang, Devan sedang mengeluarkan jurus menyentuh hati orang lain dengan teknik ceramahnya.


"Aku tahu..." Ujar Eta setengah tidak rela. "Tapi, saat Ayah mengatakan itu seperti-"


"Eta, keabadian adalah fana. Tempat yang kita tinggali, dunia ini semu. Tidak akan ada yang mampu bertahan hingga selama-lamanya, bahkan cinta."


Dahi Eta menyatu.


Cinta lagi? Kenapa selalu dikaitkan dengan cinta?


"Tahu tidak? Separuh dari pasangan yang usia pernikahannya sudah lama sekali. Mereka bertahan bukan karena cinta, melainkan komitmen. Ah, tapi aku tidak mengatakan semua pasangan seperti itu loh. Itulah kenapa, komitmen selalu menjadi nomor pertama dalam rumah tangga."


"Perkataanmu yang sok bijak itu membuatku jengkel."


"Hei-!"


"Tapi kau benar."


Devan yang hendak protes, mengurungkan niatnya.


"Omong-omong, apa kau menyayangi Kak Rea?"


Eta mengangkat bahunya malas.


"Tidak tahu, aku selalu kesal dengan tabiat buruknya." Eta mendengus kesal.


"Tapi kau selalu melaksanakannya 'kan?"


"Itu karena..."


Eta terdiam. Devan mengatakan yang sebenarnya. Tapi, dia percaya jika semua itu terjadi hanya agar dia tidak dibenci oleh Ibunya sendiri. Dia 'menyayangi' kakaknya supaya 'disayang' oleh Ibunya.


"Cinta itu tak punya alasan, seharusnya begitu. Apalagi kalian adalah saudara kandung. Ikatan darah tak bisa berbohong. Aku dan Kak Ida juga begitu, kok. Sekesal apa pun aku kepadanya, aku tak bisa membencinya."


"Situasi kita berbeda, Devan."


"Aku mengerti. Tapi ketika kau bertukar posisi dengan orang lain, menjalani kehidupanmu sebagai orang itu. Kau akan tahu betapa sulitnya jika kau menempatkan diri di posisi orang lain."


"Kau sedang bertengkar hebat dengan Kak Ida?"


"Tidak. Aku hanya memberikan contoh, Eta."


"...."


"Jangan terlalu dipikirkan, Eta. Suatu saat nanti kau akan tahu betapa berharganya hubungan di antara kalian berdua. Kuharap kau tak pernah membenci Kak Rea."


TBC