
Pagi hari yang cerah. Kicauan burung terdengar merdu di telinga bagaikan melodi. Langit berwarna biru yang dihiasi awan menjadi pemandangan apik untuk disaksikan.
Di kamarnya, Eta masih berdiri di depan cermin yang setinggi badannya. Sejak tadi dia masih memperbaiki posisi dasi yang seharusnya berkepala segitiga malah jadi segi empat.
"Yosh!"
Masih berpose di depan cermin. Eta merapikan jas berwarna merah maroon yang membalut seragam hitam putihnya. Ini adalah seragam yang ditentukan organisasi karena sesuai jadwal hari ini akan dilaksanakan upacara serah terima jabatan (SERTIJAB) Pembina MPK OSIS.
Pengganti Bu Sarah sendiri adalah Pak Viko. Beliau adalah guru mata pelajaran matematika sekaligus Waka Kurikulum. Eta berharap yang lebih baik lagi untuk organisasi setelah adanya pergantian Pembina.
Dan sebelum para anggota pengurus periode ke-40 turun jabatan. Akan ada pemilihan Ketua MPK dan Ketua OSIS terlebih dahulu. Para pengurus yang memilih tiga calon Ketua MPK dan Ketua OSIS. Barulah setelah itu diadakan pemilihan serempak yang diikuti seluruh masyarakat sekolah.
Setelah tiga hari izin sekolah, Eta masih merasa berat untuk meninggalkan rumah. Ibu Devan yang menjaga Rea bergantian dengan Kak Ida, jadi sebenarnya Eta tidak perlu khawatir. Keadaan Rea juga berangsur-angsur membaik, itu kabar yang melegakan.
Eta berjalan ke arah dapur. Simpel saja sarapan pagi ini. Hanya omurice (omelet nasi) yang didampingi segelas air putih.
Eta melirik ke kulkas. Dia ingat jika pemberian Alan dimasukkan ke sana. Alan memberikannya sekotak cokelat. Rasanya terlalu manis, jadi Eta tidak bisa menghabiskannya sekaligus.
"Ah, sudah jam tujuh. Aku harus bergegas."
...****...
Saat kaki Eta melangkah masuk ke kelas. Semua penghuni kelas seketika terdiam. Salsa yang paling terkejut. Dia segera berlari dan memeluk Eta dengan erat. Kemudian Eta balas memeluk Salsa.
"Kenapa kau tidak bilang akan masuk? Aku bisa menjemputmu!"
Eta menggeleng pelan. Tidak ingin merepotkan Salsa, juga teman-temannya yang lain. Eta menghampiri kursinya yang sedang diduduki oleh Alan. Karena Gabriel duduk di samping Eta, jadi Alan yang duduk di kursinya saat mengobrol dengan Gabriel.
"Oh, selamat datang kembali."
"Aku ke sini untuk mengomentari cokelat buatanmu." Eta mencibir Alan.
Alan langsung tersenyum kaku, ternyata Eta tahu.
"Cokelatnya terlalu manis dan agak gosong. Bentuknya juga sama sekali tidak cantik. Selain itu, pengemasannya aneh. Yang bagus hanya bingkisannya saja." Komentar Eta dengan jujur.
"Yeah, aku tahu buatanku banyak kekurangan."
Gabriel menyaksikan interaksi antara Eta dan Alan yang sudah tidak aneh lagi jika mereka saling mengejek. Semua berawal dari sikap menyebalkan Alan yang selalu mengganggu Eta.
"Kau membuatkannya cokelat? Luar biasa." Gabriel bersuara.
Kali ini Alan yang cerewet tidak banyak berkomentar. Padahal tak ada siapapun yang tahu tentang pemberiannya yang dititipkan pada Devan. Alan membuat cokelat itu karena melihat adik perempuannya yang sedang membuat kue cokelat untuk kekasihnya. Jadi Alan sekalian membuatkannya untuk Eta.
"Ya, entah karena ada angin apa. Aku takut jika dia berubah menjadi aneh setelah berkunjung ke rumah-" Kalimat Eta tergantung begitu saja, dia sadar telah mengatakan hal tabu. Mengingatnya saja menjadikan Eta tak mampu berpikir jernih.
Sedangkan Alan malah tersenyum sumringah.
"Kenapa, Peta?"
"Tidak ada." Eta menjawab cepat.
"Jangan-jangan kau sudah jatuh cin-!"
Belum genap ucapan Alan, Eta secepat kilat melemparkan tasnya tepat di wajah Alan.
"Beraninya kau berasumsi seperti itu. Otakmu sudah rusak, ya?" Ujar Eta dengan nada dingin.
"Kau ini gengsi sekali." Sindir Alan.
Eta tak merespons.
...****...
Upacara serah terima jabatan hanya akan dihadiri oleh anggota pengurus MPK OSIS periode ke-40 dan periode ke-41. Dan tentu saja dua orang yang menjadi sorot utama, Bu Sarah dan Pak Viko.
Atlas memegang bendera OSIS dan Fahmi memegang bendera MPK. Sebagai Wakil Ketua OSIS, Raya terus berdiri mendampingi Atlas. Berbeda dengan MPK yang menggunakan jas, para OSIS mengenakan rompi hitam.
"Kapan pemilihan Ketua MPK dan Ketua OSIS?"
Eta melirik Erza yang tengah berbincang dengan Vion. Tidak banyak yang Eta ketahui tentang hari pemilihan. Tapi yang pasti, semuanya akan dilaksanakan sebelum ujian tengah semester. Perkiraan mungkin di awal bulan Agustus.
"Awal Agustus, mungkin." Erza menjawab singkat pertanyaan Vion.
Karena upacara akan segera dilaksanakan. Seluruh anggota pengurus OSIS membuat enam baris ke samping. Dan pengurus baru membuat barisan lain di samping paling kiri. Anggota pengurus MPK berbaris di sisi lain lapangan.
Di tengah lapangan, Bu Sarah dan Pak Viko berdiri saling berhadapan. Di belakang Bu Sarah ada Atlas yang memegang bendera OSIS. Sedang di belakang Pak Viko ada Fahmi yang memegang bendera MPK.
Jabatan Pembina MPK OSIS secara resmi disahkan ketika Bu Sarah menyerahkan bendera OSIS kepada Pak Viko.
Tepukan tangan yang begitu meriah dari seluruh peserta upacara terdengar bergemuruh. Beberapa siswa dan siswi yang belum pulang pun menyaksikan dari lantai dua dan tiga.
Hari itu, Pak Viko sah menjadi Pembina MPK OSIS yang baru.
...****...
"Eta, sebelum pulang, tolong kamu simpan bendera ini ke ruang MPK."
Fahmi menyerahkan bendera MPK kepada Eta. Seperti biasa, Eta selalu pulang lebih awal. Paling mentok jam lima sore karena saat itu jadwal bus terakhir di rute 13. Eta takkan pulang bersama Raya apalagi Atlas.
"Baik."
Dengan berlari kecil Eta menuju ruang MPK untuk menyimpan bendera.
Di tengah jalan, Eta tanpa sengaja berpapasan dengan Atlas. Eta menghentikan langkahnya, begitu pula dengan Atlas. Eta membuang pandangannya, nampak enggan menatap wajah Atlas.
"Yang di rumah sakit, terima kasih sudah menemaniku." Kata Eta, suaranya begitu lirih.
Awalnya Atlas tidak paham. Namun, ternyata ucapan Eta merujuk pada malam di mana kedua orang tuanya kecelakaan dan dinyatakan meninggal.
"Owh, aku cemas padamu jadi..."
"Pokoknya, semuanya sudah selesai."
"Apa?"
"Jangan bicara akrab kepadaku lagi."
Eta sudah memutuskan. Dia takkan berinteraksi lagi dengan Atlas setelah mereka lepas jabatan. Devan mungkin benar, dia hanya merasa kagum kepada Atlas karena kepintarannya. Semua yang menjadi kelebihan Atlas, Eta mengaguminya. Hanya sekedar kagum. Itu bukan cinta.
Karena aku bukan Risa, aku tak bisa meneruskan ini.
TBC