My world

My world
Chapter 27 - Pengurus Baru



"Berhentilah menyangkal, kau belum jatuh cinta seumur hidupmu."


Entah kenapa, hanya dengan mengingat ucapan Devan kemarin. Hatinya merasa kesal. Dia kesal karena Devan menganggap semua perasaannya terhadap Alois maupun Atlas sekedar kagum pada idola. Tetapi yang membuatnya lebih kesal lagi adalah harus menelan fakta jika cinta tidak bisa dijelaskan oleh logika.


Masalahnya, bahkan peristiwa aneh pun masih bisa dijelaskan secara ilmiah dan itu masuk akal. Kenapa entitas yang disebut 'cinta' ini istimewa dan tidak masuk di akal.


"Peta, kau mau pulang bersama?"


Gabriel dan Alan berdiri di ambang pintu sambil menghadap Eta yang masih sibuk memasukkan buku-buku ke dalam tasnya.


Eta menggeleng.


"Hari ini ada tes pidato untuk para peserta calon pengurus MPK."


Gabriel mengangguk. Biasanya mereka memang pulang bersama naik bus kota dengan Alan juga. Tetapi akhir-akhir ini, Eta disibukkan dengan kegiatan organisasi yang padat.


"PETA!"


Hampir saja jantung Gabriel loncat dari tempatnya. Suara nyaring nan cempreng menggema di seluruh ruangan dan lorong. Eta mendelik kesal, dia tahu pelakunya. Juga Alan, dia mengambil langkah mundur kembali memasuki kelas, berdiri di samping Eta.


Raya melangkah ke kelas Eta dan berpapasan dengan Gabriel yang berdiri di ambang pintu sambil memegangi dadanya, masih terkejut.


Raya tersenyum lebar pada Gabriel yang malah memperparah kondisi jantungnya. Senyuman Raya sangat manis dan memesona.


"Dia sudah putus 'kan?" Alan berbisik pada Eta.


"Yeah, sejak class meeting." Jawab Eta.


"Wow! Sudah kuduga! Apa kau yang menyarankannya untuk putus?"


Eta melirik, menatap selidik.


"Bagaimana bisa kau berpikir begitu?"


"Kemampuanku 'kan tebakan yang selalu benar."


Tidak percaya sepenuhnya dengan mulut Alan. Meskipun sekilas dia tak ada bedanya dengan para penggosip yang selalu menyebarkan berita. Nyatanya Alan adalah pembohong ulung. Makanya Eta tak pernah percaya semua ucapan Alan karena sulit membedakan mana yang benar dan tidak dari cara penyampaiannya yang ambigu.


"Kau pasti tahu sesuatu." Eta berbisik tajam.


"Nah, aku hanya pernah melihat mantan pacarnya bermesraan bersama perempuan lain."


"...."


"Berkali-kali."


Tidak ada komentar lain dari Eta. Seharusnya dia tidak heran lagi dengan kemampuan Alan yang menyerupai seorang Intel. Dia pandai dalam mencari informasi. Bahkan katanya, Alan mampu masuk ke deep web hanya karena kurang kerjaan.


"Peta?"


Karena melamun, Eta tidak sadar bahwa Raya sudah berada di depannya. Gabriel sendiri masih di ambang pintu, berusaha menetralkan debaran jantungnya.


"Ayo!" Raya segera menarik pergelangan tangan Eta.


"Aku duluan ya, Alan, Gabriel!" Ujar Eta.


"Yap!" Alan melambaikan tangannya. Sedangkan Gabriel hanya mengangguk, wajahnya semerah tomat.


...****...


Zidan memeriksa poin hasil wawancara kemarin. Poin tertinggi didapatkan oleh Erza. Dia nyaris mendapatkan poin sempurna jika saja ekspresi wajahnya bisa diolah lagi.


Menjadi seorang anggota organisasi bukan berarti harus terus berada di balik layar. Mereka juga harus mampu dalam menjadi eksekutor. Bahkan Eta saja yang punya demam panggung, terus berlatih agar bisa berbicara dan berinteraksi dengan audiens di depan umum. Semua itu butuh kerja keras.


Pada dasarnya, para organisator punya banyak sekali topeng yang mereka gunakan saat berada di depan publik. Dilarang keras membawa masalah pribadi ke dalam organisasi. Kesalahan paling fatal adalah jika para pengurus benar-benar sekedar 'berbicara', tidak ada interaksi. Akibatnya audiens akan merasa bosan.


Maka dari itu, mereka yang masih belum mampu akan diasah kemampuan public speaking oleh para senior. Mungkin jika Eta masih mau menjadi anggota pengurus periode ke-41, maka dia juga akan mengajarkannya kemampuannya itu pada mereka.


"Apa Kak Fahmi akan mempromosikannya sebagai calon Ketua MPK periode ke-41 pada Bu Sarah?" Tanya Heri.


"Tidak tahu. Sebenarnya saya memprioritaskan kelas 11, tapi jika kelas 10 ada yang lebih berkualitas, kenapa tidak?" Jawab Fahmi.


Eta mengangguk, setuju saja pendapat Fahmi.


"Memangnya Heri mau?" Tanya Eta.


Heri langsung menggelengkan kepalanya. Dia paling anti menjadi ketua. Takut tidak bisa memimpin dengan baik, tidak kompeten dan tidak bisa menjadi contoh yang baik. Yah, alasan klasik. Bahkan Eta pun menggunakan alasan itu.


"Baiklah, tes pidato akan dimulai. Segera bergerak ke pos masing-masing, tidak ada yang leha-leha." Perintah Fahmi.


Seluruh BPH dan anggota pengurus MPK menggangguk serempak. Ini akan menjadi tugas terakhir mereka sebelum LPJ tahunan diserahkan kepada Pembina dan Kesiswaan di musyawarah besar tahunan.


Oh, aku harus mengabari Ayah karena pulang telat. Semoga saja Ayah tidak marah.


...****...


"14 peserta dengan nilai tertinggi."


"Nilainya sudah diakumulasikan?"


Ketika Eta sedang melihat poin-poin para peserta sekaligus menjumlahkannya untuk mendapat 14 nama yang akan lolos sebagai anggota pengurus MPK.


Fahmi berjalan mendekat. Membantu Eta untuk menyelesaikan tugas-tugas yang belum selesai.


Pengumuman para peserta yang lolos akan dibarengi dengan OSIS. Dan karena OSIS belum melaksanakan tes pidato, nama-nama pengurus OSIS periode berikutnya belum keluar. Mungkin besok atau lusa.


"Kak Fahmi, tolong tanyakan pada Kak Atlas apakah LPJ tahunan sudah selesai atau belum. Seharusnya benda keramat itu sudah diserahkan minggu ini." Omel Eta.


"Saya belum menanyakannya lagi. Akan saya chat saja."


"Lebih cepat lebih bagus. Kita tidak punya banyak waktu sampai musyawarah besar tahunan."


Agenda hari ini untuk MPK adalah menyerahkan daftar nama peserta yang lolos seleksi kepada Bu Sarah, Pembina mereka.


Eta meregangkan badannya, pegal sekali setelah duduk dan menatap laptop selama satu jam lebih. Matanya berpencar, sekaligus untuk menggerakkan lehernya yang kaku.


Oh...


Matanya tak sengaja menangkap sosok Atlas yang berjalan menuju Ruang OSIS. Dia tidak sendiri, ada Risa di sampingnya yang memeluk lengan Atlas.


Namun, Atlas yang masih ingat dengan peraturan tertulis pasal 9 ayat 1, langsung saja melepaskan dirinya dari Risa dengan wajah risih.


Eta mendengus.


Pemandangan yang merusak mata.


TBC