My world

My world
Chapter 19 - Pelukan Hangat



Sesampainya di rumah, Devan buru-buru pergi ke dapur dan mengambilkan air untuk Eta. Karena Eta yang memaksa cepat pulang, mereka tidak mampir ke warung hanya untuk membeli air mineral. Padahal kerongkongan Eta pasti sudah kering kerontang.


Devan sengaja membawa Eta ke rumahnya. Karena di kondisi Eta yang seperti ini, pasti sulit meminta kunci rumah padanya. Ditambah, di rumah Devan ada Ibunya, jadi dia takkan kesulitan jika Eta membutuhkan apa-apa.


"Minumlah dulu." Devan menyerahkan gelas berisi air putih pada Eta.


Eta mengangguk pelan. Dengan tangan gemetar Eta menerimanya. Susah payah dia menelan air putih karena kerongkongannya terasa sempit sekali. Dadanya yang sempat sesak sudah terasa lebih baik.


"Mau minum lagi? Atau kubuatkan teh lemon?"


Eta menggeleng, dia tidak mau merepotkan Devan lebih jauh. Walaupun Devan adalah tetangga sekaligus sepupunya. Eta termasuk orang yang tidak enakan.


"Tapi... kubuatkan saja ya?" Devan bersikeras.


Eta menatapnya tajam.


"Kau tunggu saja di sini dan teh lemonnya akan segera datang."


Tidak ada gunanya menolak Devan. Dia ini sangat keras kepala. Eta menghela napas panjang. Rasanya dia ingin kembali menangis.


Pintu rumah Devan terbuka. Seorang wanita paruh baya datang, itu adalah ibu Devan. Beliau bergegas menghampiri Eta yang tampak akan menangis lagi.


"Kamu bisa merehatkan diri dulu di sofa. Sambil tidur pun tak apa." Ucapnya.


Eta terkejut. Matanya yang lelah dan mengantuk karena baru saja menangis kembali cemerlang. Posisi duduknya malah tegak, sama sekali tidak rileks.


"Tidak perlu tegang, nak Eta. Tante tidak gigit kok."


"Bukan begitu, Tante! Maaf merepotkan karena mendadak kemari." Ujar Eta, mata sembapnya masih tercetak jelas.


Ibu Devan tersenyum menenangkan, tangannya terbuka lebar untuk memeluk Eta lalu mengusap lembut punggungnya. Bola mata Eta melebar. Ini adalah kehangatan yang tidak pernah dia dapat dari ibunya. Justru Ibu Devan yang memberikannya pelukan hangat ini.


Mata Eta kembali berat ingin menumpahkan air mata sekali lagi. Namun Eta menahannya. Toh, Ayahnya berjanji akan pulang malam ini. Setelah beliau pulang, Eta baru bisa menangis sepuasnya.


Dari arah dapur, Devan membawakan gelas yang sangat besar berisi teh lemon. Ibunya nyaris melemparkan sendal ke arah anaknya karena menggunakan wadah sebesar gentong hanya untuk Eta seorang. Dia memang selalu absurd karena Eta adalah teman masa kecilnya. Devan sudah melakukan hal-hal semacam ini sejak SMP.


"Ya ampun Ibu, maksudku jika Eta mau tambah 'kan bisa langsung isi ulang saja dari sini. Tidak perlu bagiku untuk bolak-balik dapur." Devan beralasan.


"Terserahmu saja, nak." Ibu Devan menatap Devan sinis.


Hampir saja Eta tertawa kencang melihat kelakuan Devan dan Ibunya. Mereka adalah keluarga hangat nan harmonis. Jika ayah Devan ada di sini, maka tingkah mereka akan semakin absurd lagi. Eta percaya kalau keanehan Devan adalah warisan ayahnya, bukan karena berteman dengannya.


Dan benar saja, Devan bahkan mengantongi gelas yang lebih kecil di saku celananya untuk digunakan Eta minum. Kegunaan gelas sebesar gentong itu tidak ada bedanya dengan termos.


"Jika kamu malas, kenapa tidak pakai termos saja?" Ibu Devan mengangkat sebelah alisnya.


Devan terdiam, menyadari kebodohannya.


"Benar juga."


Ibu Devan menepuk dahinya, lelah karena anaknya yang payah ini. Mungkin anaknya ini punya prinsip 'kalau ada yang susah, kenapa harus yang mudah?'.


"Sudah terlanjur juga. Jangan coba-coba menambah cucian piring." Ancam Ibu Devan yang melihat anaknya hendak kembali lagi ke dapur.


Akhirnya Devan menaruh gelas super besar dan mini itu di depan Eta. "Silakan diminum, kritik dan saranmu akan sangat berguna." Ujarnya sambil memberikan jempol.


"Devan!"


Eta tersenyum tipis. Interaksi mereka selalu bisa membuat Eta tertawa. Tapi suasana hati Eta yang tak kunjung membaik membuatnya tak bisa menikmati kehangatan keluarga tetangganya.


"Jika mau tidur, Eta ke kamar Kak Ida saja."


Eta mengangguk, namun tidak mungkin baginya melakukan itu. Eta hanya berkunjung sebentar sambil menunggu Ayahnya pulang. Kalau dia tidur di sini, maka dia takkan tahu kapan Ayahnya pulang.


"Tante harus keluar dulu, bahan masakan dapur sudah menipis." Ibu Devan beralih menatap anaknya. "Jangan sampai kamu membuat Eta menangis lagi."


"Apa?! Bahkan yang pertama bukan salahku, Bu!"


Pintu rumah ditutup dengan kencang. Sepertinya Ibu Devan enggan mendengar omong kosong anaknya lebih jauh. Suaminya akan pulang pukul tujuh nanti, dia harus bersiap memasak makan malam.


"Devan..." Eta berbisik.


Spontan Devan menoleh.


"Terima kasih."


Devan menarik sudut bibirnya, kemudian mengangguk senang.


"Berlin marah tidak, ya? Kau malah memilih mengantarku pulang."


"Hari ini Berlin tidak masuk. Masuk pun dia akan mengerti situasinya. Kita ini sahabat selamanya."


"Syukurlah kalau begitu."


"Malah justru aku yang mengkhawatirkan. Sepertinya Ketua OSIS itu melihatku yang mengantarmu pulang. Semoga saja aku tidak dipukul olehnya saat sekolah besok."


"Dia itu Ketua OSIS, tidak mungkin dia memukul murid biasa sepertimu karena alasan tak jelas."


Dahi Devan mengernyit, "Alasan tak jelas?"


Eta menggosok-gosok matanya yang perih akibat menangis terlalu lama. Dia sudah tidak pernah menangis selama dua tahun terakhir, dan sekarang menangis histeris membuatnya kelelahan.


"Apa kau mengantuk?" Tanya Devan.


Eta mengangguk.


"Bagaimana jika kau tidur di kamar Kak Ida saja?"


"Tidak perlu, aku tidur di sofa saja." Eta segera membaringkan tubuhnya di atas sofa. "Berikan aku selimut yang paling tebal di rumah ini."


Devan menatap Eta horor. "Dengar ya, tuan putri. Jika Ibuku melihatmu tertidur di ruang tamu. Dia pasti akan menyuruhku tidur di luar malam ini. Dan juga, berani-beraninya kau meminta request untuk selimutnya."


"Apa yang salah dengan itu? Setidaknya seorang lelaki yang belum menikah harus tidur di luar rumah sekali seumur hidupnya. Cepat ambilkan saja selimutnya!"


"Heh!"


Devan tidak protes lebih jauh. Eta memang menyebalkan dalam suasana hati apa pun. Tak tahu juga kenapa Ibunya lebih pro kepada teman masa kecilnya ini. Devan segera mengambil selimut paling tebal di rumahnya, lebih tepatnya selimut yang digunakan kedua orang tuanya.


Sekejap saja Devan sudah kembali sambil membawa selimut berwarna krim. Tangannya memeluk lebar selimut paling tebal di rumah ini. Devan baru kepikiran betapa susahnya selimut ini ketika dicuci, melebihi celana jeans.


"Ini dia selimut paling tebal di rumahku."


"Kau memang teman masa kecil terbaik."


Eta tersenyum tipis.


Senda gurau barusan telah menjadikan suasana hati Eta membaik. Sangat baik malah. Syukurlah keadaan Eta tidak semakin memburuk. Karena selama ini, Devan belum pernah melihat Eta menangis lagi setelah kejadian dua tahun lalu.


Eta tak pernah mau bicara penyebabnya. Tapi, Devan dapat menebaknya tanpa kesulitan berarti. Pertengkaran hebat antara Eta dan Ibunya lah yang menjadi sumber utama. Hanya itu yang Devan tahu, alasan pertengkaran tempo hari tak pernah diketahuinya hingga detik ini.


Pada dasarnya, Eta sangat suka memendam masalahnya sendirian. Seolah berbagi kisah adalah tabu bagi Eta meski hal itu bisa meringankan beban di hatinya.


"Dulu juga..." Kalimat Devan terhenti di tenggorokan. "Yah, itu dulu."


...****...


Samar-samar bisa terdengar suara deru mobil. Eta juga sadar bahwa ada dua orang yang sedang berbincang tak jauh darinya. Tubuh Eta diguncang dengan keras sampai ia memaksa matanya terbuka lebar.


Eta menatap jengkel Devan yang membangunkan dirinya dengan kencang. Tidak bisakah dia melakukannya lebih lembut? Eta tak bisa membayangkan bagaimana perlakuan Devan terhadap Berlin kalau begini caranya.


"Apa...?" Tanya Eta dengan suara khas orang bangun tidur.


"Ayahmu sudah pulang, Eta."


Bola mata Eta bersinar cerah. Abaikan keinginan sebelumnya. Bahkan jika Devan membangunkan dirinya dengan menyiram air, Eta rela sekali.


Tanpa basa-basi, Eta melemparkan selimut super tebal itu ke sisi lain sofa. Dia beranjak bangun dan berlari keluar. Devan juga langsung menyusulnya dari belakang. Ini sudah tengah malam, tapi Devan yang sering begadang hanya untuk main gim jelas adalah makhluk malam.


Eta berdiri tak bergeming, menghadap Ayahnya yang sedang berbicara dengan Ayah Devan. Beliau pasti pulang sebelum makan malam dan Eta ketiduran sampai tengah malam.


Ayah Eta tersenyum lebar, melebarkan ukuran tangannya. Bersiap menerima pelukan anaknya. Eta terkesiap, kakinya melangkah maju menuju tempat Ayahnya. Tiga detik setelahnya, Eta sudah menyambar Ayahnya dengan pelukan eratnya.


"Ayah... aku rindu..."


"Ayah pulang."


Eta mengangguk dalam pelukan Ayahnya.


"Selamat datang kembali."


TBC