
Di akhir pekan, Eta tidak terbiasa pergi ke mana-mana. Jika ada kerja kelompok, barulah dia akan keluar dari rumahnya. Karena orang tuanya sedang pergi dinas dan kakak perempuannya sekolah di luar kota, sendirian di rumah sudah menjadi kesehariannya.
Dia hanya menghabiskan waktu dengan belajar menyunting video, menonton TV atau sekedar bermain ponsel. Terkadang juga dia menghabiskan waktu seharian penuh untuk menatap dan mempelajari atlas.
Ponselnya berdering, seseorang menelepon.
Eta menghentikan aktivitas memasaknya, dia melihat nomor yang menelepon. Panggilan masuk dari Ayahnya. Eta mengernyit. Jarang sekali Ayahnya menelepon, pasti ada sesuatu yang penting.
"Halo, Ayah?"
"Eta, anakku. Bagaimana keadaanmu di rumah? Maaf, Ayah dan Ibu tidak akan pulang minggu ini."
Mendengar ucapan Ayahnya, Eta sama sekali tidak terkejut. Ini bukan kali pertama mereka menunda kepulangan, biasanya karena ingin mengunjungi putri sulung mereka di luar kota. Karena kebetulan, Ayah dan Ibunya dinas di kota tetangga kakak perempuannya tinggal.
Karena sudah sering terjadi, Eta tidak pernah kecewa ketika mendengar berita ini. Orang tuanya akan dinas hingga dua bulan lamanya dan hanya berada di rumah selama tiga hari sebelum kembali ke dinas ke luar kota lagi.
Setelah sekolah di tempat jauh pun, kakaknya tidak pernah pulang ke rumah meskipun jatah liburan semester adalah enam minggu. Karena Ayah dan Ibu mereka yang akan mengunjunginya, kakaknya jadi merasa tidak perlu pulang. Lagi pula, pulang pun di rumah hanya akan ada Eta. Hubungan mereka tidak pernah akur, sudah sejak lama.
"Jadi, bulan depan?" Tanya Eta dengan nada datar.
"Sepertinya begitu. Awalnya Ayah ingin segera pulang. Tapi, lagi-lagi Ibumu..."
"Tidak apa-apa, Ayah. Aku bisa menjaga diri di rumah." Nada suara Eta berubah lembut.
Hubungan Eta dengan Ibu dan kakaknya memang tidak harmonis. Tetapi, Ayahnya adalah orang yang paling perhatian kepadanya dibanding siapapun.
"Kami akan pulang bersama kakakmu, Eta. Karena semester ini kakakmu sudah lulus, tahun depan dia akan wisuda."
Kini, Eta tidak bisa menyembunyikan raut wajah terkejut. Hubungan Eta dan kakaknya memang tak baik. Tetapi, kabar kakaknya akan pulang seharusnya diketahui olehnya.
Apakah hubungan kami seburuk itu?
"Be-begitu, ya."
"Untungnya Eta sangat pandai memasak. Jika Eta setiap hari makan makanan cepat saji, kami di sini akan khawatir pada kesehatanmu. Karena inilah kami selalu mengunjungi Rea, dia jarang sekali memasak."
"Itu benar."
"Ayah tutup teleponnya, ya? Jangan lupa jaga kesehatanmu."
"Iya, Ayah."
Sambungan telepon terputus. Eta segera menaruh ponselnya di atas meja. Dia duduk sambil menjulurkan kakinya di sofa. Terus mengganti siaran, mencari acara yang bagus.
Pikirannya seakan mengambang. Tidak tahu harus berkomentar apa. Kakak dan Ibunya selalu menganggap dirinya tidak ada sama sekali. Makanya mereka tidak rindu dengan rumah, karena ada Eta di sana. Eta merasa senang sebab Ayahnya mengingatnya dan memberinya kabar.
Bahkan saat di rumah pun, Eta tidak berkomunikasi dengan Ibunya. Ia lebih sering mengobrol dengan Ayahnya. Entah dari mana situasi ini bermula, tapi keberadaan Eta seolah hanya menjadi benalu dalam keluarga. Seperti anak angkat saja.
"Jika Kak Rea pulang, hidupku pasti takkan tenang."
...****...
Tiga setengah tahun silam. Saat Rea masih berada di rumah. Seminggu sebelum keberangkatannya ke luar kota untuk kuliah. Dia sibuk memeriksa barang bawaan, takutnya ada yang kelupaan. Rea tidak ingin ada satu pun yang tertinggal, karena jarak dari kotanya ke kota tempatnya kuliah sangat jauh.
"Kak, apa bisa angkat kopernya dulu ke atas lemari. Aku mau membersihkan kamarmu."
Eta memasuki kamar Rea sambil membawa penyedot debu. Namun, Rea tidak menggubris ucapan adiknya sedikitpun. Dia hanya naik ke kasur, tanpa mengangkat kopernya ke atas lemari seperti permintaan Eta.
"Kak, kopernya-"
"Angkat saja sendiri. Aku ini tidak boleh kelelahan. Kenapa kau tidak mengerti juga? Apa kau tidak bisa mengangkatnya? Dasar lemah." Sinis Rea.
Eta mendengus kesal. Meskipun amarahnya sudah bergejolak. Jelas dia tak mau memulai pertengkaran dengan Rea, apalagi kakaknya itu akan segera ke luar kota.
Jika bertengkar pun, Eta akan kalah sebab Ibu mereka selalu berpihak pada Rea dan kerap meminta Eta untuk mengalah. Mengabaikan fakta kalau Eta adalah seorang adik, dia dituntut harus bersikap dewasa. Padahal kakaknya lebih tua enam tahun darinya.
Minggu depan, aku akan bebas dari keseharian menyebalkan ini.
Eta segera mengangkat dua koper besar di lantai sambil terus mengumpat dalam hatinya. Sekesal-kesalnya dia, Eta tetap menghormati orang yang lebih tua darinya dengan tidak mengatakan kata-kata kasar, meskipun dia sangat ingin meneriakkannya.
"Hari ini aku mau makan omurice." Celetuk Rea.
Eta berusaha menebalkan dinding kesabarannya. "Telurnya sudah habis. Kemarin malam Kak Rea bilang ingin semur ayam 'kan? Aku sudah memasaknya, tinggal dihangatkan kembali jika sudah dingin."
"Tapi, telurnya-"
Sebelum Eta berhasil melanjutkan kalimatnya, Rea mengambil uang dari laci dan segera melemparkannya pada Eta. Untung refleks Eta cukup bagus untuk menangkap uangnya sebelum terjatuh ke lantai.
"Itu uangnya! Sekarang kau bisa membeli telur 'kan?" Tanya Rea dengan wajah menyebalkan.
Ini bukan masalah uang! Aku tak ingin pergi ke minimarket dua kali dalam sehari!
Namun, sekali lagi. Eta harus mengalah. Di satu hari ia mengobrol serius dengan Ayahnya. Di sana Ayahnya meminta Eta untuk memasak apa pun yang Rea mau agar putri sulungnya itu mau makan. Sebab Rea pernah dibawa ke rumah sakit karena tidak mau makan selama tiga hari penuh, dan alasannya adalah menu yang dimasak Eta tak sesuai seleranya. Sejak hari itu, Eta belajar untuk memasak banyak menu agar ketika Rea mau makan, dia tidak perlu repot mencari resep ataupun membelinya dari luar.
Rea sendiri punya lidah yang sensitif. Dia sangat pilih-pilih kalau makan di luar. Eta tidak tahu apa yang akan terjadi pada Rea setelah kakaknya itu ke luar kota. Ia harus bisa memasak sendiri daripada membelinya dan hanya terbuang sia-sia karena 'tidak selera'.
Selain masakan rumah, Rea hanya mau makan makanan cepat saji. Jelas itu bukan pilihan sehat untuk Rea yang punya tubuh rentan.
"Padahal aku adalah adiknya, kenapa aku diperlakukan seperti pembantunya saja! Ayah tidak akan pulang sampai jam makan malam. Dia pasti akan berulah hingga saat itu."
Eta pulang dari minimarket dengan sekantung telur di tangannya. Dia melihat sekeliling, ternyata ada bazar buku yang diadakan hingga sore nanti di jalan utama. Bazar itu ramai didatangi orang, bahkan lebih banyak daripada pembeli di pasar loak dan toko buku tempatnya biasa mencari buku.
"Mungkin ada sesuatu yang menarik di sana."
Eta iseng melihat-lihat buku yang dipajang di etalase bagian sejarah dunia. Walau tidak minat dengan pelajaran sejarah, Eta tetap memaksa dirinya membaca buku-buku yang menceritakan sejarah dunia.
"Bangkitnya Singapura dari Keterpurukan?"
Eta ingat sejarah Singapura. Ayahnya menceritakan sejarah negara itu secara singkat ketika obrolan rutin mereka.
Awalnya Singapura adalah bagian dari negara Malaysia. Tetapi, karena Singapura tidak memiliki sumber daya alam, Malaysia segera membuangnya dari bagian negara mereka.
Di tengah keterpurukan itu, pemimpin negara Singapura putar otak dan menemukan suatu cara untuk memajukan negara mereka. Yaitu dengan mengembangkan sumber daya manusia mereka menjadi lebih bermutu.
Itu adalah cerita kebangkitan yang hebat dari negara terbuang seperti Singapura.
Saat ini, mereka menjadi salah satu dari negara maju. Dengan banyak keunggulan yang bahkan melampaui negara-negara yang lebih besar.
"Singapura memang sangat hebat. Suatu hari nanti, aku ingin pergi ke sana."
Sampai di rumah, Eta mendengar suara sendok berdenting di ruang makan. Rupanya Rea duduk di sana sambil memakan semur ayam buatannya pagi ini, yang beberapa saat lalu tidak dia sentuh karena mau makan omurice. Namun, lihatlah sekarang, dia memakannya dengan lahap.
"Kau membeli telur lama sekali, perutku sudah lapar. Jadi, kumakan saja semurnya. Daripada masakanmu menjadi sia-sia."
Tidak ada komentar dari Eta, dia berjalan lurus ke dapur untuk menyimpan telur di kulkas. Isi kulkas penuh setengahnya karena Rea yang sangat pilih-pilih makanan. Jadi, kulkas harus menyediakan banyak bahan masakan. Tapi, kejadian seperti tadi bisa saja terulang lagi di lain waktu.
"Et-"
Rea hendak memanggil Eta, tadi Eta langsung mengangkat tangannya seolah meminta Rea untuk tidak mengatakan apa pun. Setelah itu, Eta berjalan ke kamarnya tanpa menengok ke belakang lagi.
Menyebalkan.
Sebelum ke kamarnya, Eta sudah mengambil beberapa makanan ringan dari kulkas. Jadi, saat dia mengurung diri di kamar, dia takkan begitu kelaparan hingga waktunya makan malam.
Baru saja membuka bungkus keripik kentang, pintu kamarnya diketuk dari luar. Dengan langkah malas Eta menghampiri pintu dan membukanya.
Betapa terkejutnya ia mendapati sosok Ibunya berdiri di depan kamarnya tanpa ekspresi apa pun, sangat datar. Tetapi, tatapan Ibunya selalu berhasil membuat Eta tak berani berontak dan melawan balik.
Ibunya mulai membuka mulut, sedang berbicara sesuatu pada Eta. Anehnya, Eta tidak dapat mendengar sepatah kata pun keluar dari mulut Ibunya, terdengar samar. Eta pun dibuat kebingungan.
Namun, tangan Ibunya terangkat ke udara dan bergerak cepat menghantam pipinya. Saat itulah, Eta bangun dari mimpi buruknya di tengah hari. Ingatan empat tahun silam yang sudah buram, namun dapat membuatnya tertekan. Kalimat Ibunya tidak pernah sampai padanya, padahal itu terakhir kalinya Ibunya mau berbicara kepadanya.
"Apa yang Ibu katakan saat itu? Aku tidak ingat."
Tangan Eta bergerak untuk menyentuh pipi kirinya yang dalam ingatan itu ditampar oleh Ibunya sendiri. Tidak tahu alasannya apa, dia mendadak ditampar seperti itu.
"Ini tidak bagus. Aku masih terlalu muda untuk melupakan banyak hal."
Ponsel Eta berdering kembali, kali ini hanya sebuah pesan singkat dari Salsa. Dia mengirimkan kabar bahwa kelas mereka akan menghadapi kelas XI IPA 2 untuk babak penyisihan nanti.
"Semoga beruntung."
TBC