My world

My world
Chapter 14 - Toxic Relationship



"Jujur Raya, kenapa kau tidak meminta izin pada Kak Atlas? Kau bilang akan melakukannya." Eta menginterogasi Raya.


Sejak Atlas mengatakan bahwa dia tidak tahu ke mana Raya pergi. Hanya satu yang bisa disimpulkan oleh Eta. Raya tidak meminta izin pada Atlas untuk pulang duluan.


Sayangnya, Raya memilih bungkam. Tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulutnya. Dia sempurna diam. Jangankan bersuara, melirik pun tidak. Matanya tertuju penuh pada Eta, namun tatapannya nampak kosong.


Ada yang aneh dengannya.


Eta bukanlah seorang detektif. Tapi, dia tahu persis bahwa sesuatu telah terjadi kemarin. Pasalnya, ketika pulang bersama Defri, Raya tampak ceria dan baik-baik saja. Tidak ada yang salah. Kejanggalan baru terlihat hari ini.


"Raya, apa kau mendengarku?"


Lagi-lagi tak ada jawaban.


Saat ini Eta sedang berada di kelas Raya, XI IPA 1. Demi mendengarkan jawaban Raya, Eta dengan berani memasuki gedung IPA sendirian.


Setelah bertanya kepada teman sekelas Raya. Mereka mengatakan bahwa Raya baru tampak aneh hari ini, sesuai dugaan Eta. Saat Eta bertanya di mana Defri, ternyata dia absen hari ini.


Anehnya, meski Eta mengenal Raya sebagai gadis supel yang disukai banyak orang. Dirinya yang saat ini Eta hadapi seperti orang lain. Bahkan teman-temannya pun menjauh, bertolak belakang dengan fakta yang menyatakan jika Raya memiliki banyak teman dan disukai oleh mereka.


Buktinya, di saat ada yang aneh dengan Raya, tidak ada satu pun yang mendekatinya dan bertanya. Seakan mereka enggan ikut campur.


"Baiklah. Jika kau tidak mau mengatakan apa pun, maka aku takkan ikut campur." Putus Eta.


Karena percuma saja dia bertanya, Raya hanya akan menganggapnya angin lalu. Tapi, tarikan kecil di seragamnya membuat Eta mengurungkan niatnya. Raya mendongak, menatapnya masih dengan wajah pucat dan pandangan kosong.


"Break." Lirih Raya.


Satu kata dari Raya mampu menjelaskan segalanya bagi Eta.


Kemarin, Raya dan Defri pulang tanpa menonton pertandingan. Entah mereka singgah ke rumah makan, kafe atau mampir ke rumah Raya dahulu. Dan di sanalah semua kejanggalan Raya dimulai.


Eta tidak tahu detailnya, tapi saat ini Raya dan Defri sedang break atau begitulah istilahnya. Eta lebih suka menyebutnya putus yang tertunda.


Di situasi seperti ini, Eta yang mempunyai pengalaman nol dalam percintaan, tak tahu harus bagaimana. Eta memilih kembali duduk, kini di sebelah Raya. Raya menyandarkan kepalanya pada bahu Eta.


Meski Raya sudah memberitahukan kondisinya, Eta tetap tidak mengerti mengapa teman-teman sekelas Raya menjauhinya.


Eta menggelengkan kepalanya. Tidak seharusnya dia memikirkan hal ini. Karena Raya tidak dalam suasana hati yang baik. Dia harus lebih memperhatikan kondisi Raya.


"Peta, aku lelah."


"Ya. Beberapa hari ini kau sudah berjuang keras."


Eta mengelus lembut bahu Raya, berusaha menegarkannya.


"Aku lelah karena sudah berbohong pada diriku sendiri, selama ini."


...****...


"Berjuanglah, Alan."


Mendengar teman-temannya menyemangatinya, Alan mendadak merasa terharu. Dia memang payah dalam pelajaran, selalu dihukum guru karena telat atau tidak mengerjakan tugas. Jadi, teman sekelasnya sendiri selalu meremehkannya.


Tapi, hari ini justru berbeda. Pertandingan futsal yang akan mempertemukan tim kelas mereka dengan XI IPA 2. Alan ditunjuk sebagai kapten tim oleh wali kelas mereka, Pak Rahmat.


Eta menghampiri Alan, dia memberikan handband padanya. "Ini adalah jimat kemenangan dariku."


"Eh... aku tidak memercayai hal seperti itu." Ujar Alan.


"Dengar, aku mempersiapkan itu semalaman."


"Oh? Jadi, apa yang kau inginkan?"


Eta mengangkat tangannya, pose meminta. "Terima kasihnya mana?"


"Wah, bagaimana jika aku memberikanmu pelukan saja daripada sekedar ucapan terima kasih?" Tawar Alan, dia menaik turunkan alisnya.


Belum selesai Eta menjawab, Gabriel segera menjauhkan Alan dari gadis itu. Alan terbiasa mengatakan hal seperti itu untuk main-main, tapi Gabriel hanya waspada kalau saja Alan bersungguh-sungguh melakukannya.


"Kalian mulai memainkan drama suami-istri murahan lagi." Cibir Gabriel.


"Sudah, jangan ribut. Alan, kau tidak akan mendapatkan pelukan dariku. Oh ya, Pak Rahmat akan menonton pertandingan kalian, berusahalah dengan keras untuk menang."


Alan dan keempat siswa lainnya mengacungkan jempol mereka, tanda sudah siap untuk bertanding.


"Aku akan duduk di samping Pak Rahmat dan akan menjadi yang paling kencang menyemangati kalian!" Ucap Salsa, lalu nyengir kuda.


Teman sekelas lainnya mengangguk. Mereka semua kompak tidak langsung pulang dan memilih menonton pertandingan Alan dan yang lainnya. Mereka akan menyemangati dari sisi lapangan bersama Pak Rahmat.


Eta tersenyum melihat betapa kompaknya kelas mereka. Tidak peduli apa kata orang lain yang selalu menyebut kelas mereka bar-bar. Eta tetap bahagia bisa sekelas dengan mereka semua. Semuanya bersatu, tanpa ada yang merasa lebih hebat.


"Kalau begitu, aku akan ke kelas Kak Fahmi lalu setelah itu baru berkeliling." Pamit Eta.


Dia berjalan melewati lorong panjang gedung IPS yang berada di sebelah lapangan futsal. Sementara gedung IPA ada di sebelah lapangan basket. Lapangan futsal dan basket sendiri bersebelahan.


Dari jendela, Eta bisa melihat lorong gedung IPA yang ramai. Beberapa murid sudah mengambil posisi duduk yang nyaman untuk menonton. Diantara banyaknya siswa-siswi, Eta bisa menemukan Raya yang masih berdiri di depan kelasnya.


Raya tidak menjelaskan alasannya memutuskan break dengan Defri. Tetapi, sejatinya Eta adalah orang asing dalam hubungan mereka. Tidak ikut serta lebih jauh adalah pilihan paling tepat.


Sepertinya Raya menyadari arah tatapan Eta kepadanya. Mulutnya bergerak, mengucapkan sesuatu. Eta mengerti apa yang dia ucapkan.


'Kemarilah'.


...****...


Di ruang kelas XI IPA 1. Tidak siswa atau siswi lain, mereka semua asyik menonton di luar. Hanya ada Eta dan Raya yang duduk di sudut kelas. Eta memperhatikan Raya, menunggunya.


"Apa kau mau mendengarkan curhatanku?" Bisik Raya.


Tanpa jeda, Eta mengangguk. "Jika kau bersedia menceritakan, maka aku akan dengan senang hati memberikanmu telinga."


Raya tersenyum pilu.


"Kau memang yang terbaik, Peta."


Hening sejenak. Eta dengan sabar menunggu untuk mendengarkan kalimat Raya. Jika Raya mau terbuka padanya, dia siap menerima semua curahan hati Raya.


"Aku secara langsung memergoki Defri bermain di belakangku."


Bola mata Eta membulat sempurna, ia dapat menyadari kejanggalannya. "Apa maksudmu dengan 'secara langsung'?"


Raya tertawa kecil, terdengar pilu.


"Biasanya aku hanya memergokinya diam-diam. Tapi, kemarin berbeda. Setelah dia mengantarkanku pulang ke rumah. Rupanya dia tidak sengaja meninggalkan kunci rumahnya saat singgah sebentar di rumahku. Tentu saja, aku mengunjungi rumahnya, mungkin saja dia sedang kebingungan mencari kuncinya setelah sampai di sana. Tidak disangka, di tengah perjalanan, aku melihatnya..."


Cerita Raya terpotong. Liriknya matanya yang sarat akan perasaan sedih dan kecewa menatap langsung bola mata Eta. "Kau pasti berpikir kalau aku aneh 'kan?"


"Iya, sangat." Eta menjawab jujur. Seperti biasa, jawaban darinya adalah kebenaran pahit yang tidak mau didengar oleh sebagian besar orang.


Raya menghela napasnya panjang. "Aku juga tidak mengerti kenapa bisa sebodoh ini. Bukan sekali dua kali aku memergokinya. Tapi, aku tak bisa memutuskan hubungan kami. Bahkan saat ini pun, kami hanya break."


Aku mengerti. Kalau Raya, setelah break pun dia pasti akan kembali lagi bersama Defri.


"Defri adalah pacar pertamaku, mungkin itu alasan kenapa aku tidak bisa membiarkan hubungan kami berakhir begitu saja." Sambung Raya.


Raya terus bercerita, dan Eta mendengarkan tanpa menginterupsi. Setelah cerita Raya selesai. Dia memandang Eta, wajahnya pucat pasi. Matanya seperti mata ikan yang sudah mati.


"Kau adalah yang terbaik, Peta. Dalam membuat keputusan." Lirih Raya.


Suaranya yang kecil nyaris dikalahkan oleh sorakan para siswa yang mendukung tim kelas mereka. Sesuai janji Salsa dan yang lainnya, dukungan untuk kelas XI IPS 1 terdengar yang paling keras. Entah Pak Rahmat ikut berteriak atau tidak, usianya sudah setengah baya, beliau takkan kuat.


"Lalu?" Eta mengerutkan alisnya, dia tahu ke mana arah pembicaraan ini akan mengalir.


"Beritahu aku, jawab aku. Hubungan kami ini... seharusnya bagaimana?"


"Eh?"


Jadi, dia sedang bertanya kepadaku apakah lebih baik mereka putus atau tidak? Astaga, padahal aku tak mau ikut campur terlalu dalam.


TBC