My Beloved

My Beloved
Episode 6



Suasana kembali sunyi lagi, El terlihat melirik ke arah Sean berkali-kali memperhatikan raut wajahnya yang terlihat tidak ramah. El ingin menanyakan hal itu tapi ia terlalu malas dan akhirnya memutuskan untuk bungkam saja.


Setelah melewati perjalanan panjang yang begitu sunyi, akhirnya mereka pun sampai di rumah. Mereka berdua terlihat berjalan masuk ke dalam rumah tanpa mengucapkan satu patah kata pun, melihat situasi ini membuat El begitu geram dengan sikap Sean yang terlihat murung sepanjang jalan pulang. Akhirnya karena tidak tahan dengan situasi ini dan El juga merasa ikut bersalah dengan yang dilakukan Jessi tadi kepada Sean, akhirnya El meruntuhkan egonya untuk memulai percakapan dengan Sean


“Apakah kau lapar? Aku sangat lapar sekarang, dan ingin makan, apa kau mau dibuatkan sesuatu untuk dimakan?” Tanya El kepada Sean sembari berjalan ke arah dapur, langkahnya sudah hampir sampai ke dalam dapur tetapi ia tidak mendapatkan jawababn apapun dari Sean, pria itu hanya berdiri diam melihat ke arah Elaine dengan serius, melihat hal itu membuat El kesal dan kembali bertanya kepada Sean dengan nada yang sedikit membentak


“Apa kau tuli setelah bermain ski? Kenapa kau tidak menjawab ku dan hanya berdiri diam disana dengan memandangku seperti itu?” Ucap El dengan ketus, namun lagi-lagi Sean tidak menjawab dan semakin menatap El dengan lebih serius, hal ini membuat El semakin kesal


“Astaga tuan, kau ini kenapa? Aku tau aku memang sangat cantik, tapi kau jangan terlalu menunjukkan seperti itu, nanti aku jadi takut kepadamu” ucap El sembari jalan mendekati Sean


“Kau kenapa? Bicaralah, sejak tadi kau bahkan tidak mengeluarkan satu patah katapun dari mulut mu, apa kau menjadi bisu?” Tanya El lagi dengan nada yang lebih ketus didepan hadapn Sean, namun Sean malah semakin menatap El, membuat El begitu frustasi dan akhirnya menarik Sean untuk duduk di meja makan, dan dia beranjak ke dapur untuk membuat makanan. Setelah selesai membuat makanan akhirnya dia kembali ke meja makan dan menghidangkannya untuk Sean


“Ini makanlah, aku tahu kau lapar, jadi makanlah dan setelah itu kumohon berbicaralah meskipun hanya satu kata saja” ucap El sambil memberikan piring berisi makanan beserta sendok kepada Sean


“Terima kasih” ucap Sean langsung menyantap makanannya, mendengar ucapan Sean itu membuat El kaget dan menatap ke arahnya dengan heran. Karena sebelumnya Sean tidak pernah mengucapkan kata “Terima kasih” kepada El seumur hidup El yang akan berusia 22 tahun ini


“Kau bilang apa tadi? “Terima kasih”? Apakah aku tidak salah dengar?” Ucap El dengan kegeranan menatap Sean. Orang yang ditatap malah serius makan tanpa melihat ke arah El sama sekali, hal ini tentu saja membuat El jadi kesal lagi


“Sudahlah, mungkin aku salah dengar tadi, mungkin telingaku bermasalah karena daritadi bersama orang yang tidak berbicara sama sekali” ucap El sambil melanjutkan makannya.


Setelah selesai makan, El pergi ke dapur membersihkan peralatan yang digunakan oleh dia untuk makan dan memasak tadi, sedangkan Sean terlihat masih duduk di meja makan dan masih tetap diam. Setelah menyelesaikan urusannya di dapur, El hendak menuju kamarnya namun ia melihat Sean masih duduk diam di meja makan, melihat hal ini membuat El kembali bertanya pada Sean dengan ketus


“Mau sampai kapan kau duduk disana? Kau tidak mau tidur?” Tanya El dengan mengeraskan nada bicaranya, namun Sean kembali bungkam


“Astaga ya Tuhan apa kesalahan yang aku perbuat sehingga aku harus menghadapi orang seperti ini, dia bahkan tidak mengeluarkan satu patah katapun dari mulutnya, aku lebih baik jika dia berisik kepadaku dari pada diam seperti ini, sungguh tidak nyaman” guman El dalam hati dengan wajah putus asanya, ia pun menarik Sean untuk naik ke kamarnya Sean


“Masuklah Tuan, ini mari berbaringlah di kasurmu ya, dan pejamkan matamu mimpilah yang indah oke” ucap El sambil membaringkan Sean dengan kasar di tempat tidur


“Kau ini kenapa? Coba ceritakan kepadaku, aku tidak tahan melihat kau bersikap seperti ini, dan aku merasa seperti orang gilang yang hanya berbicara sendiri dari tadi” ucap El dengan kesal kepada Sean karena dia tidak memejamkan matanya malah semakin diam


“Kumohon bicaralah, kau sangat membuatku takut, apa kau kerasukan? Apa kau sakit?” Ucap El lagi sambil menggoyangkan badan Sean, tapi tetap tidak ada hasil, Sean tetap membungkam mulutnya dengan rapat. Dan El sudah menyerah akhirnya pergi ke kamar miliknya sendiri, namun sebelum El pergi, ternyata Sean menarik tangan El dengan cukup kuat sehingga membuat El terjatuh duduk di paha Sean, membuat suasana begitu canggung antara El dengan Sean. El pun membcoba berdiri, namun Sean menahan dan memeluknya dengan erat, El memberontak ingin melepaskan diri namun Sean melontarkan kata yang membuat El terkejut


“Biarkan seperti ini sebentar aku mohon, aku lelah” ucap Sean dengan nada lembut sambil mengeratkan pelukannya kepada El, El pun hanya menurut, karena dia merasa pria ini memiliki sedikit masalah, namun dia tak ingin bertanya masalah apa itu. Setelah berpelukan selama beberapa menit akhirnya sean melepaskan pelukannya dan mereka saling memandang sejenak, sebelum akhirnya El langsung berdiri dengan cepat di depan Sean.


“Apakah sudah lebih baikkan?” Tanya El


“Iya sudah sedikit lebih baik, apakah kau tidak ingin bertanya apa masalah ku?” Ucap Sean menatap El


“Tidak usah, aku tahu kau pasti tidak mau menceritakannya kepadaku, jadi aku tidak mau membuang waktuku untuk bertanya padamu, tidurlah, besok aku akan membawamu pergi ke kampusku terlebih dahuli, kemudian aku akan membawamu pergi jalan-jalan lagi.” Ucap El


“Baiklah” saut Sean


“Tapi sebelumnya, aku tahu kau menjadi diam seperti ini karena pertanyaan Jessi. Aku tidak paham kenapa kau begitu tidak suka diberikan pertanyaan seperti itu sampai begini, tapi aku yakin kau pasti punya satu cerita yang tidak bisa kau jelaskan kepada kami. Jadi aku ingin meminga maaf atas nama Jessi, dia tidak bermaksud seperti itu, dia belum tau tentang dirimu karena aku tidak menjelaskannya telebih dahuli tentangmu pada Jessi, jadi ku mohon besok bersikaplah lebih baik kepada Jessi, karena besok dia juga akan ikut pergi dengan kita. Yasudh istirahatlah, aku juga ingin istirahat dulu.” Ucap El meninggalkan kamar Sean


“Selamat malam” ucap Sean saat El sudah menutup pintu kamarnya


Setelah itu mereka akhirnya beristirahat. Sean memang memiliki sedikit masalah dengan pertanyaan yang di berikan oleh Jessi tadi saat di mobil, itu semua karena dulu ia memiliki seorang kekasih yang begitu sangat dicintai oleh Sean, bahkan orangtua Sean juga sudah sangat mengenal kekasihnha ini. Namun saat Sean bermaksud ingin melamar kekasihnya ini satu bulan yang lalu, ternyata Sean malah menangkap basah kekasihnya ini sedang bercumbu mesra dengan seorang pria di apartment mereka, hal ini membuat hati Sean begitu hancur dan semenjak itulah dia sangat benci saat ada yang betanya mengenai “pacar” karna dia akan kembali mengingat masa-masa menyakitkan itu lagi. Liburannya kali ini memang merupakan rencana ibunya untuk membuatnya melupakan masalah itu dan bisa lebih baik lagi.