My Beloved

My Beloved
Episode 4



Mama dan El sudah selesai memasak, saat ini mereka berempat sedang menyantap makan siang mereka dengan lahap. Tiba-tiba papa memulai pembicaraan


“Sean, apakah kamu sudah menentukan besok akan kemana?” Tanya papa


“Ehm belum om, aku sudah lama tidak datang kemari jadi aku tidak terlalu paham mana tempat yang sekiranya bagus dan enak untuk dikunjungi, apakah om punya saran?” Tanya Sean


“Heem...om juga sebenarnya tidak terlalu sering berlibur di sini, dikarenakan pekerjaan om yang cukup sibuk mengurus restaurant, tapi om yakin ada seorang yang sangat paham dengan tempat-tempat yang bagus disini” kata papa


“Siapa om?” Tanya Sean


“Tentu saja Elaine, dia ini kan suka sekali bepergian apabila sedang libur. Jadi om rasa kamu bisa ditemani oleh Elaine untuk liburan mu kali ini, benar kan nak?” Ucap papa


“Kamu tenang saja nak Sean, tante sudah meminta El untuk menemanimu bepergian selama kau disini, jadi kau tidak perlu khawatir” saut mama


“Iyaa pa, El sudah tau dari mama bahwa aku harus menemani Sean pergi selama disini” jawab El sambil menyendok makanannya ke mudlutnya


“Bagus lah nak kalau begitu. Kamu sudah dengar kan Sean, jadi besok kamu bisa pergi bersama El saja yaa.” Ucap papa kepada Sean


“Iya om” jawab Sean


Saat ini mereka sudah menyelesaikan makan siang mereka, akhirnya Elaine pamit ke kamarnya untuk bebersih dan beristirahat, begitupun dengan yang lain


Saat Elaine selesai bebersih dia terlihat sedang mengirmkan pesan untuk Jessi


“Jessi, besok aku mau pergi untuk bermain ski, apakah kau bisa ikut dengan ku?” Elaine mengirimkan pesan tersebut kepada Jessi


Tak lama kemudian ponsel El berdering menandakan ada panggilan masuk dan itu adalah Jessi yang menelepon.


“Halo Jes, bagaimana apakah kau bisa ikut?” Tanya El setelah mengangkat telepon Jessi


“Astaga bahkan aku belum sempat mengucapkan ‘halo’ tidak sopan sekali” ucap Jessi


“Kenapa kau tiba-tiba ingin bermain ski? Bukannya kau tidak pandai bermain ski? Terakhir saat kita pergi kesana kau hanya menghabiskan waktumu utuk terjatuh selama bermain ski” ucap Jessi


“Heem sebenarnya aku juga malas, tapi aku disuruh untuk mengantar anak dari sahabat mama untuk jalan-jalan, jadi mau tidak mau aku harus pergi” ucap El


“Wah siapa itu? Apakah dia seorang pria atau wanita?” Tanya Jessi


“Seorang Pria” jawab El dengan malas


“Wah... apakah dia tampan? Tinggi tidak? Apakah dia punya pacar? Tanya Jessi dengan beruntun


“Apakah kau hanya akan terus bertanya tentang pria itu kepada ku? Aku bertanya apakah kau bisa ikut atau tidak denganku besok, jika kau begitu penasaran dengan dia, maka kau harus melihat dan bertanya padanya sendiri.” Jawab el dengan kesal


“Hahaha... kenapa kau begitu marah? Aku hanya bertanya saja El. Heem kebetulan besok aku tidak ada janji, jadi ku putuskan akan ikut, dan aku juga penasaran dengan pria itu aku akan menanyakan semuanya kepada dia” ucap Jessi dengan semangat


“Baiklah, aku akan menjemputmu besok pagi yaa.. sampai jumpa besok Jes, aku mau tidur siang dulu..bye.” Jawab El lalu mengakhiri panggilannya secara cepat


“Baiklah bye..tut tut tut... hem anak ini benar-benar tidak sopan” ucap Jessi sambil melihat ke layak ponselnya yang sudah tidak tertera tanda panggilan lagi


Pagipun tiba. Semalam papa, mama, El dan Sean hanya menghabiskan waktu untuk makan malam lalu kembali ke kamar mereka masing-masing lagi untuk tidur.


“Hari ini jadi pergi kan nak?” Tanya mama kepada El


“Jadi ma, tapi nanti El mau jemput Jessi dulu sebelum berangkat ke tempat ski” jawab El sambil memakan rotinya


“Oh jessi ikut? Kalau begitu kalian harus hari-hati yaa nak, jagain Sean yaa” ucap mama


“Iya ma, jessi ikut. Iya ma nanti El jagain kalau perlu El rantai tangannya sama tangan El biar dia gk ilang” jawab El dengan penuh penekanan


“Hahaha... astaga anak papa ini, kenapa harus sampai di rantai nak?” Saut papa


“Ya habis mama sepertinya sangat khawatir dengan dia dari pada aku pa, jadi biar mama tenang ya aku rantai saja pa, biar tidak bisa sembarang pergi” jawab El dengan wajah cemberut sambil memakan sarapannya dengan malas, Sean yang mendengar ucapan El pun ikut menimpali


“Baiklah aku tidak masalah bila harus di rantai dengan mu, tapi aku rasa kau akan sangat menyesal nanti bila melakukannya” ucap Sean dengan senyum menyeringai


“Huh dasar, kau beruntung sekali disini ada mama dan papa yang begitu membela mu” ucap El di dalam hatinya sambil memandang Sean dengan tatapan tidak suka


“Ya sudah ma, pa. Aku mau pergi dulu, sebelum kesiangan menjemput Jessi, dia pasti akan mengomeliku.” Ucap El


“Baiklah, hati-hati ya nak, jangan pulang terlalu malam, jalan berbahaya apabila malam hari” ucap papa


“Iya pa, hei tuan muda apa kau sudah selesai makan? Ayo cepat berangkat” kata El


“Sudah, ayo berangkat” ucap Sean


“Bye ma, pa. El berangkat yaa” ucap El sambil melambaikan tangannya begitupun dengan Sean


Merekapun sudah berada di mobil untuk menjemput Jessi. Mereka melewati perjalanan tanpa saling berbicara. El fokus menyetir sedangkan Sean duduk di sampingnya sambil sesekali melirik El.


Setelah perjalanan yang sunyi, akhirnya mereka sampai di rumah jessi, dan terlihat jessi sudah berdiri di depan rumahnya.


“Hei Jessi, ayo naik” sapa El lewat dalam mobil yang diturunkan kacanya sedikit


“Hei El, baiklah” saut Jessi sambil menaiki mobil


“Tunggu dulu, aku rasa lebih baik aku yang menyetir, karna aku tidak terbiasa di setiri oleh seorang perempuan” ucap Sean tiba-tiba sebelum El kembali melajukan mobilnya. Sebenarnya Sean merasa tidak tenang melihat cara menyetir El yang menurutnya begitu kaku.


“Kau kan tidak tau jalan, bagaimana kau mau menyetir? Tanya El dengan sedikit menaikan suaranya


“Kau bisa menunjukkan arahnya padaku” jawab Sean sembari turun dan menghampiri pintu El


“Cepatlah.” Ucap Sean


“Baiklah, tapi aku tidak mau duduk disamping mu, aku akan duduk di belakang dan Jessi kau pindah ke depan.” Ucap El membuka pintu mobil belakang


“Astaga kenapa kalian berdua begitu rumit” ucap Jessi dengan frustasi dan berpindah ke depan


Perjalanan pun berlanjut, selama perjalanan terjadi beberapa kali salah jalan, karena El yang terlalu lambat memberitahukan kepada Sean belokannya. Hal ini menyebabkan perdebatan terjadikembali karena Sean terus memarahi El yang tidak benar menunjukkan arah, El tidak menerima dan malah marah balik. Melihat tingkat kedua orang ini membuat Jessi begitu frustasi dan mencoba menenangkan mereka, namun tidak berhasil, hal ini membuat Jessi merasa ingin minta turun saja dari mobil. Perdebatan ini tidak berakhir sampai akhirnya mereka sampai di tujuan mereka.