
"mamah ,kenapa bengong begitu?ada,masalah kah?"tanya jesika ketika melihat ibunya melamun di ruang tamu
"tidak ada masalah,hanya saja mamah sedikit punya beban pikiran,,,kamu dan deva gak akan ikutan program hamil jes?kalian udah nikah 1tahun lho,dan sampai sekarang,kamu masih belum ada tanda-tanda kehamilan?"
"ya alloh mah,,,,kita kan sering bahas masalah ini sebelumnya,,,aku dan deva hanya akan berusaha tanpa ingin ke dokter karena kita yakin kalau kita baik-baik saja secara fisik"
"kan emang gak ada salahnya mencoba,,lagian kalau emang baik-baik saja,kenapa sampai sekarang kamu belum hamil??"
"ya belum waktunya saja mah,kami juga sadar diri kami masih menumpang disini,,kami ingin kalau punya anak nanti,kami udah punya tempat tinggal sendiri,,"
"hari-hati lho nanti suami kamu malah cari wanita lain karena ingin memiliki anak,,walau ragu sih deva lakuin itu tapi kan gak menutup kemungkinan"
"mamah kok doain rumah tangga kami begitu sih?aku yakin dan percaya kalau deva pasti setia walaupun nanti akan ada orang ketiga itu adalah anak kami" ucap jesika sembari pergi ke kamar,menahan tangis yang sebentar lagi akan meluncur dari matanya.
brak(pintu kamar di banting jesika)
"tega banget mamah bilang seperti itu,,padahal aku dan deva saja tidak mempermasalahkan soal anak,,mudah-mudahan deva setia dan tidak akan pernah mengecewakan aku" ucap jesika di tengah tangisnya,,,
jesika pun mengurung diri seharian itu...tidak keluar kamar sama sekali
*
sore tiba
"assalamualaikum"ucap deva ketika buka pintu rumah
"waalaikum salam"jawab bu tia dan deva pun segera mencium tangan ibu mertuanya tersebut
"eh mamah,,,jesika kemana mah?tumben gak ada disini?"
"jesika ada di kamar dev,seharian ini dia mengurung diri di kamar dev"
"lho tumben??apa jesika sakit mah?
"tidak,,,tadi mamah bahas soal anak dan dia marah"ucap bu tia memancing berharap deva mau bahas soal anak
"oh....maaf aku permisi dulu ke kamar ya mah"ucap deva buru-buru masuk kamar,padahal rencana nya tadi dia mau mandi terlebih dahulu sebelum menemui istirnya di kamar
*
"assalamualaikum cayank" ucap deva ketika buka pintu kamar dan melihat jesika sedang terbaring dan memakai selimut ,,
"waalaikum salam,,,maaf hasby,,aku tak menyambut mu"ucap jesika dan langsung memeluk deva ketika deva mendekat kepadanya ,,deva pun hanya terdiam dan membalas pelukan jesika berharap itu bisa menenangkan hatinya,,,karena dia tau betapa tersakitinya dia jika itu bahas soal anak.
deva tau kalau jesika kan sulit punya anak karena dari remaja dia sering sakit perut ketika datang bulan,,
memang setelah menikah dia belum periksa ke dokter lagi karena sebelum menikah, dulu dia sering berkonsultasi sama dokter langganannya,dan jawaban dokternya begitu,,tidak ada obat dan juga akan sulit punya anak
Dan jesika sudah memberi tau soal itu bahkan sebelum mereka,memutuskan untuk menikah
"cayank,aku punya kabar gembira,,alhamdulilah aku naik jabatan dan aku di kasih fasilitas rumah yang beralamatkan si jln xx,,,mau liat dulu gak rumahnya nanti?kali aja kamu mau tempati rumah itu?"
"syukur alhamdulillah ya alloh.,,ya aku sih mau-mau aja pindah,,,tapi gak tau apa mamah akan setuju kalau kita pindah dari sini"
"nanti kita obrolkan saja dulu sama mamah,,,bagaimana kalau kita pergi dulu ke calon rumah kita yang akan kita tempati nanti ,mau gak?"
ajak deva dan jesika pun menyetujuinya
*
malam hari
"pah, mah,,ada yang ingin kami bicarakan"ucap deva ketika mereka berkumpul di ruang tamu
"ada apa dev?"pak andi yang menjawab
"begini,,alhamdulillah deva naik jabatan dan deva di kasih fasilitas rumah di jalan xx,deva mohon izin kalau deva dan jesika akan pindah ke rumah itu nanti,karena sayang kalau tidak di tempati "ucap deva ragu ,,,
"kenapa kamu mau pindah ??apa karena kamu tersinggung dengan omongan dan sikap mamah selama ini sama kamu jes?"ucap bu tia yang kini malah menyerang jesika
"lagian rumah itu hanya fasilitas yang bisa sewaktu-waktu di cabut kan?jadi lebih baik kamu tetap tinggal disini ,sebelum kamu benar-benar bisa buat rumah sendiri. apalagi sekarang deva naik jabatan otomatis gaji juga naik dan bisa memperbanyak tabungan kamu,,jadi kalian gak usah pindah dari sini"
"tapi kami ingin mandiri mah.,,kami ingin benar -benar membina rumah tangga kami,,,lagian mau tinggal disini atau disana sama saja gratis kan mah?"
perdebatan pun terus terjadi sampai tengah malah,jesika dengan tekadnya dan bu tia dengan keegoisannya dan para lelaki hanya bisa menjadi pendengar perdebatan mereka ,,,karena suara mereka sama sekali tidak di anggap,,,
jadi mereka membiarkan para wanita saling berdebat dengan pendapat mereka.
yang pasti pak andi tidak merasa keberatan kalau memang deva dan jesika ingin pindah rumah karena itu hak mereka dan jesika sudah menjadi milik suaminya,,jadi dimanapun suaminya tinggal disitulah jesika mengikutinya
semingu sudah berlalu,,,,tidak ada komunikasi antara jesika dan bu tia...
jesika terus menghindar ketika bu tia mendekat,,jesika tau apa yang akan di bahas oleh bu tia jadi dia terus menghindari bu tia supaya perdebatan tidak terjadi di antara mereka.
tentu saja Jesika merasa kesal,kecewa dan marah sama ibunya,,,dia mengerti dan sadar betapa besarnya kasih sayang ibunya terhadapnya tapi tidak sampai harus begini kan?ibunya selalu ikut campur masalah rumah tangganya,selalu ikut mengatur rumah tangga mereka ,bahkan sering kali ibunya selalu membanding-bandingkan rumah tangga jesika dengan orang tuanya,dan itu membuat jesika merasa tertekan tinggal di rumah orang tuanya sendiri..
dia gak habis pikir bagaimana cara pola pikir ibunya tersebut,padahal dia sudah dewasa bahkan sudah menikah ,seharusnya ibunya membiarkan jesika mengambil langkah selanjutnya bukan malah mengurungnya seperti ini.
jesika dari kecil selalu di perlakukan kurang baik oleh ibunya sendiri,,ibunya selalu melampiaskan kemarahan dan kekesalannya pada jesika tanpa jesika berbuat salah.
dan itu terus berlanjut hingga sekarang,makannya dia udah bahagia ketika dia menikah karena berharap bisa keluar dari rumah itu tapi nyatanya khayalannya tak seperti yang di harapkan,,,
diapun coba melapangkan dada kembali,,,
sampai akhirnya kini alloh memberi peluang jesika untuk dapat keluar dari rumah itu,ibunya pun masih tidak memberi izin.jadi jesika benar-benar merasa lelah dan akhirnya yang jesika lakukan hanyalah menghindar.dia sudah terlalu cape untuk memberi pengertian kepada ibunya tersebut