
Hari ini adalah hari kedatangan Sean. Papa, mama dan El sudah menunggu Sean di bandara untuk menjemputnya ke rumah. El terlihat begitu bosan menunggu kemunculan Sean
Saat El, mama dan papanya menunggu tiba-tiba seorang pria dengan tubuh tinggi dan wajah tampannya itu berjalan dari dalam bandara menuju ke arah El dan kedua orang tuanya dengan memakai kacamata hitam sambil menggerek koper, ia berjalan bak seorang model. El yang melihat itu seakan siap mengomel kepada pria tersebut, karena bisa-bisanya Sean berjalan dengan begitu santai, padahal mereka sudah menunggunya begitu lama di bandara.
“O o... baiklah mari kita sambut tuan muda kita yang sedang melakukan pertunjukkan modelingnya di bandara sudah mendarat dengan selamat.” Ucap El mengejek
Mama dan Papa yang mendengar itu pun langsung menoleh ke arah jalan Sean dan menyambutnya dengan pelukan yang hangat
“Astaga Sean akhirnya kamu sampai juga, tante begitu khawatir karena pesawat mu begitu telat mendarat” ucap mama El
“Benar Sean, syukurlah kamu sudah sampai” ucap papa juga
“Hai tante, hai om... apa kabar kalian?” Tanya Sean sambil memeluk mereka secara bergantian
“Kami baik-baik saja sayang” jawab mama
Melihat kedua orangtuanya begitu sibuk dengan kedatangan Sean, membuat El merasa tersingkirkan sebagai seorang anak. Dia pun merasa kesal
“Baiklah sepertinya aku sudah mulai tersingkir dari pandangan mama dan papa yaa, lebih baik aku pulang saja...bye” ucap El hendak meninggalkan mereka bertiga
“Hei gadis kecil.. mau kemana kau?” Tanya Sean yang melihat El beranjak pergi
“Maaf tuan sepertinya aku tidak mengenal mu, jadi tolong jangan menyapaku yaa. Dan juga aku bukanlah gadis kecil, aku sudah cukup dewasa, aku rasa kau harus memeriksa matamu tuan” jawab El dengan jutek tanpa memandang wajah Sean
Mendengar ucapan El membuat Sean menjadi semakin gemas dan menghampiri El bersamaan orangtua El juga mengikuti di belakang mereka
“Heii..kenapa kau begitu sensitif dengan aku? Apa kau tidak merindukan ku?” Tanya Sean sambil melingkarkan tanggannya di bahu El
“Merindukan mu? Haha yang benar saja tuan, bahkan aku berharap aku tidak pernah melihat mu lagi selamanya.” Jawab El dengan nada kesal sambil menyingkirkan tangan Sean dari bahunya
“Hei ayolah, aku baru sampai kenapa kau bersikap begitu buruk padaku? Benarkan tante, om?” Ucap Sean sambil menoleh ke belakang meminta pembelaan papa dan mama El
“Iya benar nak, kamu tidak boleh bersikap begitu dengan Sean, kalian ini kan berteman jadi bersikap baiklah dengan Sean” ucap papa
“Heem baiklah pa” jawab El pasrah
Setelah itu mereka melakukan perjalan menuju rumah, Papa sedang menyetir dan mama duduk di sebelah papa, sedangkan Sean duduk di belakang bersama El. Hal ini membuat El sangat kesal karena awalnya dia ingin duduk di sebelah papanya, tapi mama menolak dan menyuruhnya untuk duduk bersama Sean.
“Sean kau pasti sangat lelah kan?” Tanya mama
“Lumayan tante” jawab Sean
“Kalau begitu istirahatlah, tidurlah sebentar sebelum sampai rumah.” Ucap mama sambil menoleh ke arah Sean
“Aku tidak bisa tidur tante jika tidak ada yang menopang kepala ku, jadi lebih baik aku tidur di rumah saja nanti” jawab Sean
“Heem, yasudah pinjam bahunya El saja, kalian kan berdekatan” ucap papa
El yang dari tadi menatap keluar jendela kaget bukan main mendengar ucapan papanya. Sedangkan Sean memicingkan senyumnya
“Iya sayang, kasian kan Sean capek tapi gk bisa tidur gitu, jadi kamu pinjemin bahu kamu sebentar yaa untuk Sean.” Jawab papa sambil melirik lewat spion tengah mobil
“Tapi kan pa, dia bisa menyenderkan kepalanya ke kaca mobil, kenapa harus manja seperti ini, padahal sudah tua begitu masih saja bersikap manjaa.” Ucap El dengan ketus
“Hush sayang sudah jangan menjawab lagi, dengerin aaja apa kata papa kamu.” Ucap mama
Mendengar mamanya berbicara dengan nada sedikit kesal, akhirnya El menuruti kata papanya dengan wajah cemberut. Sean yang melihat itu tersenyum puas merasa menang
“Nih” kata El sambil mendekatkan bahunya ke Sean dengan wajah cemberut
Sean pun membaringkan kepalanya ke bahu El sambil tersenyum menang.
Saat sudah sampai dirumah mereka semua masuk ke dalam rumah.
“Haduh sakit sekali bahu ini setelah di pinjem sama tuan muda untuk tidur” ucap El dengan nada menyindir dengan kesal sambil berjalan masuk rumah
“Sean kamu tidur di lantai atas yaa, sebelahan sama kamar El” ucap mama
“Iya tante” jawab Sean
“Nanti kalau kamu butuh apa-apa langsung minta tolong ke tante aja atau bisa langsung ke El ya Sean” ucap mama
“Yaampun cobaan apalagi ini, susah cukup pertemuan pertama yang menyusahkan ini setelah sekian lama tidak bertemu, sekarang harus direpotkan lagi apabila dia butuh bantuan. Ya Tuhan dosa apa yang telah aku perbuat di masa lalu, sehingga aku harus kenal dengan pria ini” gumam El sambil menangis di dalam hatinya
“Iya baik tante, kalau begitu Sean mau naik dulu yaa, pengen mandi dulu” ucap Sean berpamitan dengan mama dan papa El
“Iya nak, istirahatlah yaa” ucap mama
“Iya tante” jawab Sean sambil menuju kamarnya
“El juga mau istirahat kekamar dulu yaa ma, pa” kata El sambil hendak melangkah menaiki anak tangga pertama, tetapi terhenti mendengar teriakan mama
“Eits.. no no no yaa! Kamu bantuin mama masak di daput buat makan siang.” Kata mama tegas
“Tapi ma, El kan capek ma. Apalagi tadi bahu El kan ditimpa batu bessar.” jawab el menyindir Sean
“Tidak ya nak istirahatnya nanti saja setelah selesai makan siang. kamu itu anak perempuan jadi harus bantuin mama masak, iya kan pa? Ucap mama meminta pembelaan papa
“Iya benar sayang, kamu bantuin mama yaa, papa mau mandi dulu. Semangat sayang” jawab papa memberikan El semangat
“Yaampun aku merasa aku semakin di anak tirikan semenjak tuan muda itu datang kemari” rengek El dalam hati
“Ayo nak, kita harus bergerak cepat.” Kata mama sembari berjalan ke arah dapur
“Iya ma” jawab El mengekori mamanya
Sementara Mama dan El masak di dapur, Sean dan papa sedang mandi dan beristirahat di kamar mereka masing-masing.