My Beloved

My Beloved
Episode 1



Di ruang makan keluarga Elaine, mama dan papanya sedang menikmati sarapan mereka dengan sangat tenang, hanya ada suara dentingan sendok dan garpu yang bergesekan dengan piring saja yang terdengar. Tiba-tiba mama El memecahkan kegeningan itu dengan mulai berbicara.


“Pa, El... kemarin mama dapat telepon dari Sean, dia bilang minggu ini mau datang ke sini, mau liburan katanya.” Ucap mama


“Benarkah ma? Sudah lama juga kita tidak bertemu dengan Sean, pasti sekarang sudah semakin tampan yaa ma.” Saut papa dengan tersenyum. Elaine yang medengar hal itu pun langsung kaget dan tersedak makanan.


“Uhuk uhuk uhuk”


“Hati-hati sayang” ucap Mama seraya menuangkan minum dengan panik dan memberikannya kepada El dan El pun langsung meneguk minumannya sampai habis


“Mama tadi bilang apa? Sean mau kesini?” Tanya El kepada mama


“Iya benar sayang, Sean minggu ini akan datang kesini untuk liburan. Pasti Sean sangat merindukan mu.” Ucap mama seraya tersenyum begitupun dengan papa


“Rindu dengan El ma? Tanya El dengan raut wajah tak percaya


“Iya sayang, memangnya kenapa..kamu terlihat tidak begitu senang mendengar Sean akan datang kemari?” Tanya mama keheranan melihat ekspresi El, begitupun papa yang begitu heran melihat anaknya terlihat tidak senang dengan kabar tersebut


“Bukan seperti itu Ma, Pa... El hanya terkejut apabila Sean benar- benar merindukan El. Sebenarnya El tidak masalah dia mau kemari , hanya saja El harap dia tidak mengganggu dan mencampuri urusan El seperti dulu lagi ya ma, karena sekarang El sudah dewasa, sudah bisa mengurusi diri sendiri.” Ucap El menjelaskan kepada mama dan papa


“Hahhaha...kamu ada-ada aja El, kamu takut di jahilin lagi sama Sean? kata papa


“Hahaha...sayang kamu jangan seperti itu, kan Sean seperti itu karena dia sayang kepada mu nak, harusnya kamu senang diperlakukan begitu oleh Sean, jadi kamu bisa merasa memiliki seorang kakak” Kata mama melirik ke arah papa meminta pembenaran. Dan papa juga mengiyakan ucapan mama


“Hush...kamu tidak boleh berbicara seperti itu nak, Sean melakukan itu pasti ada tujuannya. Lagi pula mama sangat menyukai Sean, mama merasa seperti memiliki seorang anak laki-laki yang begitu perhatian dengan mama, karena kamu terlalu sering meninggalkan mama untuk pergi bermain dengan teman mu. Benar kan pa? Ucap mama sembari meminta pembelaan dari papa, papa hanya bisa tersenyum mendengar pertanyaan mama


“Kenapa Mama jadi membandingkan El dengan Sean? Tentu saja El sama dia beda Ma, El ini kan anak baik dan manisnya mama dan papa, mana mungkin bisa dibandingkan dengan Sean yang menyebalkan itu? Saut El dengan wajah cemberut


“Sudah-sudah jangan berdebat lagi, papa harus segera berangkat ke Resto sebenum papa terlambat. Mama jaga rumah yaa, El papa berangkat dulu.” Ucap papa sambil bergegas berangkat. Sebelum itu papa tidak lupa mencium kening mama dan memluk putri tercintanya terlebih dahulu


“Iya bye papa, hati-hati yaa.” kata mama sambil memeluk dan mencium balik suaminya


“Papa hati-hati yaa, kata El sambil peluk papanya dengan manja


“Haduh anak papa ini udah umur 22 loh kamu, kok masih manja begini sih? Harusnya sudah siap nikah loh ini hehehe...” guyon papa


“Papa apa-apaan sih, El ini akan selamanya jadi bayi kecilnya papa.” Ucap El dengan nada manja semakin mengeratkan pelukannya


“Hei kalian berdua ini, kapan selesainya nih adegan peluk-pelukan ini? Mama kan jadi pengen jugaa” sambil ikutan peluk El dan Papa dan tertawa bertiga


“Sudah yaa, papa berangkat dulu.” Sambil melepaskan pelukan


Setelah papa pergi, Mama dan El membereskan meja makan dan bergegas ke kamar mereka masing-masing.