My Beloved

My Beloved
Episode 5



Perjalanan pun berlanjut, selama perjalanan terjadi beberapa kali salah jalan, karena El yang terlalu lambat memberitahukan kepada Sean belokannya. Hal ini menyebabkan perdebatan terjadikembali karena Sean terus memarahi El yang tidak benar menunjukkan arah, El tidak menerima dan malah marah balik. Melihat tingkat kedua orang ini membuat Jessi begitu frustasi dan mencoba menenangkan mereka, namun tidak berhasil, hal ini membuat Jessi merasa ingin minta turun saja dari mobil. Perdebatan ini tidak berakhir sampai akhirnya mereka sampai di tujuan mereka.


Jessi terlihat segera keluar dari mobil dan merasa lega akhirnya bisa terbebas dari kebisingan yang di buat oleh El dan Sean


“Hah... astaga akhirnya aku bisa keluar dari mobil itu, kepala ku benar-benar pusing sekali mendengar kehebohan tadi” ucap Jessi setelah berhasil turun dari mobil


Sedangkan El dan Sean juga ikut turun, terlihat El masih saja mengomel kepada Sean begitupun sebaliknya, hal ini mebuat Jessi segera menghentikan perdebatan yang tidak ada akhirnya ini dengan mengajak mereka segera masuk. Terlihat Jessi dan El sedang mendaftarkan diri mereka untuk dapat masuk dan bermain ski, Sean terlihat berdiri di belakang mereka berdua. Setelah selesai mendaftar mereka pun langsung memasuki area ski.


“Kalian main saja yaa, aku akan menunggu di sini” ucap Elaine sembari duduk di kursi panjang yang terletak di ruang ganti ski. Mendengar hal itu membuat Sean bingung kenapa El tidak ikut bermain


“Kenapa kau tidak ikut bermain?” Tanya sean dengan menaikan satu alisnya. Mendengar pertanyaan itu El hendak menjawab Sean dengan ketus lagi, Jessi yang melihat hal ini segera mengantisipasinya dengan mengambil alih jawaban El


“Sudah biarkan saja dia, jika dia ikut bermain dengan kita, yang ada kita bukannya menyusuri salju tetapi malah menolong Elaine bangun dari salju.” Jawab jessi dengan tersenyum ke arah Sean


“Apa kau bilang? Kau berani sekali dengan ku jessi” saut El yang sudah siap melempat Jessi dengan tongkat ski, namun hal itu tidak terjadi karena Jessi sudah pergi berlari ke luar untuk bermain ski. Mendengar perkatan Jessi membuat Sean tidak bisa menahan mulutnya untuk kembali mengejek El


“Oh ternyata kau tidak bisa bermain ski? Kenapa kau dengan beraninya mengajak ku kemari, harusnya kau tidak usah ikut saja, aku bisa pergi dengan Jessi, sepertinya Jessi sangat menarik dibandingkan dirimu” ucap Sean dengan memiringkan senyumnya ke arah Elaine. Mendengar hal itu membuat Elaine naik darah dan ingin mengomeli Sean, namun lagi-lagi tbum sempat mengomeli Sean, orangnya sudah berlalu pergi menyusul Jessi


“ Astaga pria ini benar- benar sangat menyebalkan, sabar El sabar, kau harus bisa lebih bersabar menghadapi Sean. Ini hanya untuk beberapa hari saja, setelah ini kau tidak perlu bertemu dengannya lagi El.” Ucap Elaine sambil mengusap dadanya dan menghembuskan nafas beratnya


Setelah 3 jam akhirnya Jessi dan Sean sudah selesai bermain ski, dan mereka memutuskan untuk pergi mencari makan siang, karena saat ini sudah jam makan siang.Saat ini Jessi yang mengambil alih untuk menunjukkan arah kepada Sean, karena Sean yang minta sendiri ke Jessi, dan jessi mengiyakannya. Melihat hal itu Elaine menerimanya dengan senang hati, karena ia tidak perlu berbicara dengan Sean lebih banyak lagi. Setelah menyusuri jalan beberapa saat, akhirnya mereka sampai di tempat makannya, mereka pun turun dan menuju ke dalam restoran


Restoran


Saat ini mereka bertiga sudah duduk di sebuah meja dan sedang menunggu untuk makanannya dibidangkan, selama menunggu Jessi pun memulai percakapan


“Sean bagaimana menurutmu bermain ski hari ini, apakah menyenangkan?” Tanya Jessi


“Cukup menyenangkan, aku sudah lama tidak bermain ski, dan ini cukup mengobati rasa rindu ku” jawab Sean


“Syukurlah jika kau merasa ini menyenangkan, aku merasa tenang mendengarnya, karena kalau kau tidak senang maka aku yang akan di marahi oleh Elaine, benar kan El? Tanya Jessi kepada El yang sedang memainkan ponselnya tidak tertarik dengan pembicaraan dua orang ini


“Hmm” jawab Elaine tanpa memandang Jessi. Melihat hal itu membuat Sean kembali berbuat jahil dengan merebut ponsel El dan meletakkannya di sakunya


“Apa yang kau lakukan! Berani-beraninya kau menggangu permainan ku” ucap El dengan menaikan suaranya


“Kau ini benar-benar tidak sopan ya, kita saat ini sedang di meja makan, dan kau juga sedang di ajak berbicara oleh Jessi, kenapa kau hanya fokus kepada ponsel mu saja?” Ceramah Sean. Mendengar ceramah Sean membuat El kesal dan menatapnya dengan tajam


“Berhenti mengurus ku, aku bisa mengurus diriku sendiri” jawab El dengan ketus. Melihat hal itu membuat Jessi bingung harus melakukan apa, karena ia tidak mau mendengarkan perdebatan lagi


“Sudah-sudah hentikan perdebatan ini! Aku merasa seperti berada di antara pasangan suami-istri yang sedan memiliki masalah rumah tangga dan aku yang menjadi kambing hitamnya disini” ucap Jessi menghentikan perdebatan dua orang ini


“Enak saja! Siapa juga yang mau punya suami seperti dia, meskipun di dunia ini hanya ada satu laki-laki saja yang tersisa, aku lebih memilih menjadi perawan tuan saja.” Jawab El dengan ekspresi geli


“Kau pikir aku mau denganmu? Bahkan aku lebih memilih memelihara anjing daripada memelihara orang sepertimu” saut Sean dengan ekspresi datar


“Apa yang kau katakan? ! Kau ingin membandingkan aku dengan anjing? Kurang aja sekali dirimu, mari sini biar aku jahit mulutmu, biar kau tidak bisa mengeluarkan kata-kata pedasmu lagii.” Saut Elain sembari ingin bangkit dan mengacak-acak wajah Sean. Melihat hal itu membuat Jessi langsung bertindak menenangkan Elaine


“Astaga hentikaan! Yaampun aku bisa gila bila kalian terus bertengkar seperti ini. Aku mohon tenanglah El, orang-orang melihat ke arah mu, tenanglah El” ucap Jessiencegah El berbuat lebih lagi. Mendengar ucapan Jessi membuat El memperhatikan sekelilingnya, dan benar saja orang-orang sedang melihat ke arahnya, akhirnya El memilih duduk kembali dan melotot ke arah Sean. Sean pun hanya tersenyum miring melihat itu


“Awas saja ya kau, aku benar-benar akan menjahit mulutmu jika kau mengejek ku lagi” ucap El sambil melotot ke arah Sean


“Permisi makanannya” ucap pelayan


Mereka pun menyantap makan siang mereka yang sudah ke sorean ini dengan tenang, hal ini membuat Jessi sedikit lega karena keadaan kembali tenang. Setelah selesai makan mereka pun memutuskan untuk segera pulang, karena tidak ingin pulang terlalu malam. Selama perjalanan Elaine terlihat masih mendiamkan Sean, begitupun sebaliknya. Jessi pun sangat tersiksa dengan keadaan canggung ini, akhirnya setelah pertimbangan lama Jessi pun mulai berbicara.


“Sean kau akan berada di sini berapa hari?” Tanya Jessi memecah kesunyian


“Aku disini hanya 4 hari saja” jawab Sean singkat


“Kenapa cepat sekali?” Tanya Jessi kembali


“Aku harus bekerja, sekarang aku bisa disini karena aku sedang mengambil cuti.” Jawab Sean


“Oh begitu yaa, pasti kau sangat sibuk yaa” saut Kessi sambil mengangguk-angguk. Sean pun mengiyakan hal itu


“Astaga Jessi, apa yang sedang kau lakukan? Sean ini orang gila, dia tidak suka bila ada yang bertanya tentang statusnya, bahkan mama saja tidak dijawab oleh laki-laki gila ini saat mama bertanya, bahkan dia juga terlihat kesal dengan pertanyaan mama.” Gumam El dalam hati dengan ekspresi meringis ketakutan


“Jessi sayang, aku rasa kau pasti lelah, lebih baik kau tidur saja yaa biar aku yang membangunkan mu saat sampai nanti” ucap El mencoba mengubah topik pembicaraan. Hal ini membuat Jessi terkejut mendengar suara El dari belakang


“Astaga El kau membuat ku terkejut, aku pikir kau sedang tidur tadi.” Jawab Jessi sembari mengelus dadanya


“Mana mungkin aku bisa tertidur sedangkan kalian berdua berisik di depan” jawab El


“Maafkan aku ya El, yasudah lebih baik aku tidur saja, tolong bangunkan aku apabila sudah sampai yaa El” ucap Jessi


“Baik bos, tidurlah yang nyenyak yaa” ucap El dengan nada suara yang begitu lembut kepada Jessi. Jessi pun sudah memejamkan matanya


“Syukurlah tidak terjadi apa-apa di sini” gumam El dalam hati sambil memperhatikan Sean dari belakang


“Apa kau lelah? Jika kau lelah biarkan aku saja yang menyetir” tanya El kepada Sean yang diam saja sejak pertanyaan Jessi tadi


“Kenapa dia tidak menjawab ku?” Tanya El dalam hati


“Sean, apakah kau lelah? Jika kau lelah, lebih baik aku saja yang menyetir, kau tidur saja di kursi belakang” tanya El kembali dengan suara yang sedikit lebih keras


“Tidak perlu, aku bisa menyetir, kau uruslah dirimu sendiri” jawab Sean dengan ketus


“Apa-apaan ini, bahkan aku menanyainya dengan baik-baik, tapi dia menjawabku dengan begitu ketus. Menyebalkan sekali” umpat Elaine dalam hati, dan memejamkan matanya dengan kesal


Perjalanan mu begitu sunyi karena kedua wanita itu sudah tertidur di dalam mobil, Sean masih terlihat memikirkan pertanyaan Jessi dan terdengar beberapa kali membuang napasnya dengan kasar. Tak lama kemudian akhirnya mereka sampai di rumah Jessi, tetapi Jessi masih tertidur, terlihat El pun masih tertidur, padahal tadi dia bilang akan membangunkan Jessi ketika sampai. Mereka diam cukup lama di depan rumah Jessi, sampai akhirnya Sean sudah tidak tahan lagi dan membangunkan Elaine, Elaine pun bangun dengan menggerutu kesal, sambil mencoba membangunkan Jessi


“Jessi bangunlah, kita sudah sampai di rumah mu” panggil Elaine dengan menggoyangkan tubuh Jessi, tetapi Jessi belum bangun juga, El melakukannya tiga kali, sampai yang ke emoat kalinya Elaine berteriak kencang di telinga Jessi sampai ia terbangun dengan kaget


“Astaga astagaa... kenapa kau berteriak seperti itu? Tidak bisakah kau membangunkanku dengan lembut?!” Ucap Jessi dengan setengah teriak sambil mengelus dadanya


“Astaga nona, bahkan aku sudah memanggil mu berkali-kali tapi kau tidak juga bangun, aku pikir kau pingsan” jawab El dengan kesal


“Benarkah? Astaga maafkan aku, aku sepertinya sangat lelah, ya sudah aku masuk dulu yaa, terima kasih El, Sean. Byee...” ucap Jessi sembari turun dari mobil dan masuk ke dalam rumahnya.


Setelah Jessi sudah masuk ke dalam rumahnya, terlihat mobil belum bergerak sama sekali, hal ini membuat El berteriak kepada sean


“Kenapa kau belum menjalankan mobilnya! Apakah kau lelah? Kalau lelah bilang lah biar aku yang menyetir” teriak El dengan kesal


“Aku tidak lelah.” Jawab Sean singkat


“Lalu kenapa kau tidak jalan! Apakah kau mau menginap di sini?” Tanya Elaine


“Aku tidak akan jalan sebelum kau pindah ke depan, aku bukan supir mu yaa” jawab Sean dengan malas


“Yaampun kenapa kau tidak bilang dari tadi! Kau rumit sekali tuan” saut El sambil berjalan dan pindah ke kursi depan. Setelah itu mobil kembali melaju.


Suasana kembali sunyi lagi, El terlihat melirik ke arah Sean berkali-kali memperhatikan raut wajahnya yang terlihat tidak ramah. El ingin menanyakan hal itu tapi ia terlalu malas dan akhirnya memutuskan untuk bungkam saja.








Hug & kiss dari author buat teman-teman yang sudah mau baca cerita ini 😘😘