Mr.Cool

Mr.Cool
bab 36 kehilangan yang menyakiti



Alex dan dokter Eko tiba di villa, dengan segera keduanya berlari masuk. Alex berteriak memanggil istrinya, namun tidak ada jawaban.


"Ra...kamu dimana?!"suara Alex terdengar keras memanggil istrinya.


"tuan..."asisten rumah tangga itu menghampiri Alex.


"nyonya di mana?"Alex menatap tajam.


"maaf saya tidak bisa mencegah kepergian nyonya!"bibi tampak menyesal.


"dia benar-benar pergi...membawa anak ku menjauh!"Alex jatuh terduduk, air mata mengalir membasahi pipinya.


"kamu tenang dulu, mungkin dia ingin menenangkan diri!"dokter Eko mencoba untuk menenangkan sahabat nya itu.


"aku takut tidak bisa menemukan nya... bagaimana kalau dia melakukan sesuatu yang nekat... Tuhan tolong jaga anak dan istri ku...!"Alex benar-benar terpukul atas kepergian istrinya.


"tenangkan diri mu, ayo kita cari mungkin dia belum pergi terlalu jauh!"dokter Eko mengajak Alex untuk mencari istrinya.


kedua pria itu pergi meninggalkan villa itu menyusuri jalan, bertanya kepada setiap orang yang mereka temui.namun tidak seorang pun pernah melihat Aurora.


Alex menghubungi orang-orang nya,dia menyuruh mereka untuk mencari istrinya.


"temukan dia secepat mungkin,aku tidak suka mendengar kegagalan!"Alex seketika berubah, matanya begitu tajam wajah nya dingin tidak ada lagi keramahan yang selalu dia perlihatkan.


"Alex, kamu harus tenang, Aurora tidak akan pernah berbuat bodoh dia sangat sayang kamu dan anak kalian!"dokter Eko, melihat sosok Alex yang dulu telah kembali,ini persis seperti saat Alex kehilangan ibunya.


"siapa yang telah bicara dengan nya dan memprovokasi dia untuk meninggalkan aku, bila aku mendapatkan nya, tidak akan kubiarkan dia hidup dengan tenang!"Alex bicara dengan penuh kemarahan.


"sekarang kita fokus untuk mencari Aurora!"dokter Eko tidak ingin banyak bicara,dia takut salah bicara,saat Alex seperti ini sebaiknya memang jangan membuat nya marah.


"halo dokter Ika!"Alex menghubungi dokter kandungan di rumah sakit milik nya.


"ya pak Alex ada yang bisa saya bantu?"dokter Ika terkejut karena Alex menghubungi nya.


"saya tidak akan berbelit-belit langsung saja ke intinya, apakah ke hamila, usia empat bulan masih bisa di aborsi?"pertanyaan Alex membuat dokter Eko terkejut.


"bisa"jawab dokter Ika singkat.


"terimakasih!"Alex menutup telponnya.


"Aurora kalau kamu sampai melakukan itu,aku tidak akan pernah memaafkan mu!"Alex mengepalkan tangannya.


"Alex... tenang, Aurora tidak akan melakukan hal bodoh!"dokter Eko mencoba untuk menenangkan sahabat nya itu.


"entahlah aku hanya takut dia berbuat bodoh"Alex tampak resah.


panggil telpon masuk,dan memberikan kabar yang membuat Alex benar-benar naik pitam.


"apa kamu yakin?"tanya Alex dengan wajah yang penuh amarah.


"begitulah keterangan yang diberikan pegawai rumah sakit itu"jawab si penelepon.


Alex berteriak penuh amarah, dokter Eko menebak pasti terjadi hal yang tidak diinginkan.


"cari Aurora segera, dia harus membayar apa yang telah dia lakukan!"Alex sangat marah.


"apa yang terjadi?"dokter Eko bertanya kepada sahabat nya itu.


"dia sudah mengakhiri semuanya, anak ku yang malang, kenapa dia begitu tega!"Alex menangis dia tidak menyangka Aurora akan berani melakukan hal sekejam itu.


mendengar penjelasan Alex dokter Eko juga terkejut dia tidak menyangka, Aurora mampu melakukan nya.


Di villa, Aurora keluar dari persembunyian nya,dia tidak pernah pergi ke mana-mana,dia tahu tempat paling aman untuk bersembunyi adalah tempat yang tidak akan pernah Alex sangka.


"kenapa nyonya membuat tuan marah dan hawatir?"bibi bertanya,dia tidak mengerti dengan pemikiran wanita muda itu.


"dia harus bahagia, walaupun itu akan menyakiti ku dan anak ini,bibi masih ingat wanita yang datang dengan tuan tempo hari,dia sedang mengandung sekarang, mereka saling mencintai dan aku tidak mau menjadi duri dalam kebahagiaan mereka!"Aurora menangis meratapi hidup nya.


"nyonya kenapa harus sampai seperti ini!"bibi ikut menangis.


"dia pasti sangat marah sekarang"Aurora mencoba untuk menguatkan dirinya.


Alex kembali ke rumah dengan keadaan yang sangat kacau.


"tuan sudah pulang?"pak Imam menyapa majikan nya itu.


"apa kakak sudah pulang?"Gebby yang sudah kembali dari rumah sakit bertanya kepada ayahnya.


"jangan ganggu dia, suasana hati nya sedang tidak baik!"pak Imam mengingatkan anak nya.


Alex melihat foto pernikahan nya dengan Aurora,dia begitu sedih kenapa istrinya sampai melakukan hal bodoh.


"kamu boleh benci aa...tapi kenapa kamu harus membenci anak kita dia tidak bersalah!"Alex meratapi apa yang telah terjadi.


disaat Alex sedang merasa hidupnya telah hancur karena perbuatan Aurora, telponnya berdering.


"halo ketua saya ingin memberi tahu anda,kalau yang melakukan aborsi bukan nyonya,hanya nama mereka yang sama,kami telah memeriksa dengan pasti itu bukan nyonya!"berita itu membuat Alex tersenyum lega dia merasa sedikit tenang karena anaknya kemungkinan besar masih hidup dalam kandungan istrinya.


"cari dia, segera temukan!"Alex memberi perintah.


"ada sesuatu yang janggal, kalau nyonya benar-benar telah pergi dari villa, kenapa tidak ada seorang pun yang melihatnya?"orang itu menyampaikan kecurigaan nya.


"kamu benar, seperti nya dia memang masih di sana,kamu jaga rahasia ini aku akan memastikan nya terlebih dahulu!"Alex mengakhiri telponnya.


Malam itu juga Alex pergi menuju villa, Alex memarkirkan mobilnya jauh dari villa.


Tengah malam dia masuk ke villa secara diam-diam.dia memeriksa setiap kamar namun Aurora tidak dapat ditemukan.tinggal kamar tidur milik nya yang belum di periksa.


saat Alex mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka, dia melihat Aurora sedang tertidur sambil memeluk bajunya. Alex tersenyum lega ,dia mengendap-endap masuk.


di pandang wajah cantik itu.


"ayah datang nak,maaf sudah membuat ibu mu marah, untuk sementara kita bertemu seperti ini dulu."Alex seolah-olah sedang berbicara dengan anak yang masih berada di dalam perut istrinya.


"jaga ibu mu, ayah tidak bisa terlalu sering melihat kalian!"Alex mengecup perut dan kening istrinya.


"kalau kamu begitu mencintai ku kenapa harus sampai seperti ini,aku janji akan segera menemukan orang yang membuat mu berpikir untuk meninggalkan aku!" setelah bicara seperti itu Alex segera pergi dia tidak ingin kedatangan nya di ketahui oleh siapapun.


Alex segera kembali ke Jakarta, dia dapat bernafas lega sekarang, karena Aurora dan anak nya baik-baik saja.


Pagi itu Alex beraktivitas seperti biasa,dia telah siap pergi ke kantor.


"tuan sarapan sudah siap!"seorang pelayan menghampiri.


"saya tidak sarapan di rumah kamu bisa membereskan semuanya, tolong bawakan sedikit makanan untuk bekal?"Alex pergi menuju ruang kerjanya untuk mengambil beberapa dokumen penting.


"kakak ayo kita sarapan dulu!"Gebby mengajak Alex untuk sarapan.


"aku tidak bisa hari ini ada pekerjaan yang mendesak!"Alex bersikap dingin,dia tidak seperti biasanya, bersikap ramah dan lembut.


Setelah mengambil dokumen yang dia perlukan Alex langsung pergi ke kantor.


dalam perjalanan Alex menghubungi bibi pengurus villa.


"halo bibi ini saya!"


"ia tuan ada yang bisa saya bantu?"wanita itu terdengar sangat gugup.


"tolong Carikan orang untuk mengurus kebun di villa,saya butuh segera!"


"baik tuan akan segera bibi Carikan!"wanita itu tampak senang.


"segera hubungi saya kalau sudah dapat orang nya!"Alex menutup telponnya.


Kabar baik itu segera di sampaikan bibi pada Aurora.


"sekarang nyonya bisa punya penghasilan tanpa harus pergi ke luar dari tempat ini!"bibi tersenyum lebar.


"bagaimana cara nya?"Aurora masih belum mengerti.


"tuan sedang mencari orang untuk mengurus kebun yang ada di villa, apa nyonya mau?"bibi bertanya.


"syukur lah akhirnya kita dapat jalan keluar yang terbaik,aku bisa punya penghasilan dengan tetap bersembunyi di sini" Aurora tampak sangat bahagia, karena masalah keuangan sekarang sudah dapat jalan keluar nya.


Bibi segera memberi tahu Alex bahwa orang yang dia butuhkan sudah ketemu.


"tuan saya sudah dapat orang untuk mengurus kebun."


"baiklah untuk masalah gaji nanti akan diantar langsung oleh supir setiap bulan nya"Alex menutup telponnya.