
Aurora mencoba untuk menyembunyikan rasa sakit yang sedang dia rasakan.
"aa minta maaf, sudah menjadi suami yang tidak baik!"Alex tampak sangat sedih dan menyesali perbuatannya.
"Ra tidak apa-apa, hanya demam nanti juga akan membaik"Aurora berusaha untuk kuat,dia tidak ingin suami nya melihat diri dan hati nya yang rapuh.
"sayang..."sebelum Alex selesai bicara, Aurora segera memotong pembicaraan suaminya.
"pergilah tidur!"Aurora menggerakkan tubuhnya, dia membelakangi suaminya.
Air mata mengalir begitu saja, Aurora menahan diri untuk tidak menunjukkan rasa marah dan cemburu nya.
"apa kamu begitu benci pada aa? sehingga tidak ingin melihat wajah aa?"Alex menyadari, istrinya sedang menghindari dirinya.
Aurora tidak menjawab dia tidak ingin suami nya mendengar suaranya yang bergetar karena menangisi.
"baiklah aa akan keluar, sekarang kamu istirahat"Alex pergi meninggalkan istrinya.
Setelah suaminya pergi Aurora menangis tersedu-sedu, suara tangisnya dapat menggambarkan perasaan nya yang terluka.
Alex yang ternyata berada di depan pintu merasa bersalah dan menyesal,dia terluka saat menyadari perbuatannya telah menyakiti perasaan orang yang dia cintai.
Keduanya kini sama-sama terluka, dan tanpa mereka sadari perasaan cinta telah tumbuh semakin kuat dan besar dalam hati masing-masing.
Dua hari sudah Aurora terus menghindar dari suaminya,bila melihat Alex wanita itu akan segera pergi. Alex mulai merasa kesal dia benar-benar sangat merindukan istrinya.
"ada apa dengan mu? kenapa wajah mu begitu muramnya?"dokter Eko menghampiri tamunya.
"sudah dua hari sejak aku kembali,dia tidak mau menemui ku...!"Alex menggerutu.
"apa kamu sudah mencoba untuk bicara dengan dia?"tanya dokter Eko sambil menyeruput kopi.
"bagaimana aku bisa bicara sementara bila melihat ku dia langsung pergi menghindar!"Alex benar-benar sangat bingung.
"sepertinya dia sudah sangat membencimu, hati-hati nanti ada sandaran hati yang lain!"dokter Eko malah memanas-manasi.
"bila ada lelaki yang berani mendekati istri ku,maka aku akan membuat nya menghilang!"Alex tampak serius dengan perkataan yang dia ucapkan.
"aku cuma bercanda!ok"dokter Eko mencoba untuk meredakan amarah sahabat nya itu.
"menurut mu apa yang harus aku lakukan?"Alex meminta saran dari sahabatnya.
"aku juga bingung, istri mu itu berbeda dengan wanita yang lain,dia memang sangat menarik dari segi apapun"perkataan dokter Eko malah membuat Alex cemburu,dia tidak suka ada lelaki lain yang mengagumi istrinya.
"apa diam-diam kamu menyukai istri ku?"Alex menatap penuh curiga.
"lelaki mana yang tidak akan menyukai dia, wanita yang lembut, cantik, tidak materialistis,dan yang paling utama istri mu itu punya daya tarik yang lain dari wanita kebanyakan"dokter Eko sengaja membuat sahabat nya itu semakin cemburu.
"jangan pernah berpikir macam-macam!"Alex mengingatkan, nampak jelas rasa cintanya yang begitu besar pada Aurora.
"sekarang berusahalah untuk merebut hati nya kembali, jangan sampai ada yang mendahului mu!"dokter Eko mengingatkan.
Alex segera pergi,dia berpikir keras untuk membuat Aurora kembali ke pada dirinya.
Alex menghubungi hp istrinya,dia berharap Aurora mau mengangkat telepon nya kali ini.
"halo...!"suara itu mampu membuat Alex tersenyum bahagia.
"kamu sedang apa?"Alex tampak sangat gugup.
"aku sedang di kampus!"Jawab Aurora dengan dingin.
"sedang apa di kampus,kamu masih sakit kenapa pergi ke luar?"Alex mengomel.
"ada tugas yang harus aku serahkan"Aurora menjawab seperlunya.
"kamu sekarang dengan siapa?"Alex mulai cemburu dan berpikir yang tidak-tidak.
"aa kenapa, bertanya seperti itu?"Aurora kesal, dengan sikap suami nya.
"aa ke kampus sekarang!"Alex menutup telponnya.
"halo...aa!"Aurora memanggil suaminya, namun telpon sudah di matikan.
Saat sedang sedang menggerutu karena kelakuan suaminya, tiba-tiba seseorang menghampiri Aurora dan menyuruh nya menghadap ke rektor.
Dengan perasaan tidak menentu Aurora menghadap ke rektor,di sana telah menunggu beberapa pengurus universitas.
"permisi!"dengan sopan Aurora menemui mereka.
Aurora segera duduk dengan tenang, dia siap menghadapi segala kemungkinan terburuk, termasuk kemungkinan kehamilan nya telah di ketahui.
"kamu tahu kenapa kamu di sidang hari ini?"tanya salah satu dosen kepada Aurora.
"maaf saya tidak tahu!"jawab Aurora dengan sopan.
"langsung saja ke inti permasalahan! apa benar saat ini kamu sedang hamil tanpa suami?"pertanyaan itu terdengar sangat menyudutkan Aurora,semua orang di ruangan itu saling berbisik dan menatap Aurora dengan tatapan merendahkan.
"benar saya memang sedang hamil,usia kandungan saya saat ini sudah tiga bulan,tapi saya tidak hamil di luar nikah"Aurora menjawab dengan jujur dan tegas.
"kalau kamu memang sudah menikah,suruh suami mu datang untuk menghadap"dengan nada mengejek ,salah satu perwakilan orang tua siswa menantang.
"suami saya orang yang sangat sibuk saya tidak ingin mengganggu nya"Aurora menolak dengan halus.
"kalau begitu sebutan nama suami mu, dimana dia bekerja biar kami memeriksa nya?"mereka terus menyudutkan Aurora.
"seandainya saya keberatan untuk menyebutkan identitas suami saya bagaimana?"Aurora tetap tidak mau mengatakan identitas suaminya.
"berarti anak itu anak haram sesuai dengan peraturan kamu akan di keluarkan secara tidak hormat karena melanggar peraturan dan mencemarkan nama baik universitas"mereka semakin berani menghina Aurora bahkan ada yang mengatakan bahwa wanita itu sangat murahan dan menjual diri.
Aurora hanya diam dia berusaha untuk menahan diri,agar tidak terpancing emosi.namun kesempatan itu digunakan untuk menyerangnya terus.
"sebaiknya kamu mengaku saja,kalau anak itu memang anak haram!"salah satu perwakilan orang tua menghardik.mendengar hal itu Aurora menangis.
"anda boleh menghina saya tapi jangan pernah menghina anak ini!" Aurora bicara di tengah tangisan nya.
"anak hasil hubungan kotor memang pantas untuk di hina"mereka tertawa mengejek.
Disaat itu tiba-tiba Alex datang memasuki ruangan itu mengejutkan semua orang yang ada di sana.
"siap yang kalian sebut anak hasil hubungan kotor!"Alex sangat marah,dia menatap tajam semua orang yang ada di ruangan itu.
"aa...!" Aurora beranjak dari tempat duduk nya dia berlari ke pelukan suaminya.
"siap yang menyebut anak ini anak dari hubungan kotor!"Alex berteriak dia benar-benar sangat marah.
"tuan kenapa anda ada di sini?"semua orang benar-benar terkejut.
"wanita yang kalian sebut murahan ini adalah istri sah saya!"Alex memperlihatkan buku nikah mereka.
"dan anak yang ada dalam kandungan nya adalah anak saya!"Alex menekankan.
Aurora menarik tangan suaminya dia berusaha menenangkan Alex yang benar-benar sedang sangat marah.
"maaf kan aa,datang terlambat!"Alex memeluk Aurora yang sedang berlinang air mata.
"terimakasih aa sudah datang!"Aurora tampak merasa lebih tenang berada di dekat suami nya.
"jadi sekarang apa yang kalian inginkan?"Alex menggantikan Aurora duduk di tempat nya.
Mereka yang tadinya lantang menghina Aurora kini terdiam Solah kehabisan kata-kata.
"bukankah kalian tadi bertanya, siapa suami wanita ini, Sekarang saya perkenalkan diri,nama saya Alex Sanjaya,saya suami dari Aurora kami menikah sudah 7 bulan dan benar sekarang istri saya sedang hamil 3 bulan jadi anak itu adalah anak sah saya bukan anak di luar pernikahan"Alex bicara dengan sikapnya yang begitu berwibawa.
"jadi apa lagi yang ingin kalian tanyakan?"Alex menantang orang-orang itu.
"kami minta maaf, telah menyinggung perasaan tuan!"orang-orang itu tampak panik.
"sayang kamu tunggu aa di kantin, nanti setelah urusan ini selesai kita langsung pulang!"Alex menyuruh istrinya untuk menunggu di kantin.
"jangan marah!"Aurora memohon.
"baiklah jangan hawatir aa tidak akan marah!"Alex berjanji.
Setelah Aurora pergi, Alex mulai bicara dengan serius.
"jadi sekarang apa yang kalian inginkan?"Alex menantang.
"kami minta maaf, karena ke tidak Tahuan kami hingga terjadi hal seperti ini!"
"semuanya bisa saya maaf kan, asal kalian katakan siapa yang melapor pada kalian"Alex meminta syarat.
"yang melapor seorang wanita muda katanya sodara tuan,tapi kami tidak tahu namanya"
"baiklah kali ini saya memaafkan kalian karena istri ku yang memohon tapi bila hal seperti ini terulang lagi aku tidak akan memberi ampun"
Alex pergi meninggalkan ruangan itu.