Mr.Cool

Mr.Cool
bab 28 karena sebuah cincin



Hari yang indah Alex mengajak istrinya untuk berlibur di villa nya,namun mereka tidak hanya berdua Gebby ,dan Siska juga ikut. Sepanjang perjalanan Alex lebih sering berbicara dengan Gebby, wanita itu begitu pintar menari perhatian Alex. Siska dan Aurora duduk di kursi belakang, keduanya tidak saling berbicara, Siska tampak cemburu dengan kedekatan Alex dan Gebby.


Tiba di villa mereka ternyata telah di tunggu oleh keluarga dokter Eko.


"kalian sudah lama tiba di sini?"Alex menghampiri sahabatnya.


"kami juga baru tiba"jawab Eko dengan wajah yang tampak kecewa.


Aurora menyapa istri dokter Eko dan kedua anak nya.


"apa kabar?"Aurora memeluk istrinya dokter Eko.


"baik kamu bagaimana?"istri dokter Eko mengelus perut Aurora.


"kami baik-baik saja"Aurora tersenyum begitu manis.


"Tante Ra apa kabar?"anak-anak dokter Eko tampak bahagia melihat Aurora.


"tante baik, kalian apa kabar?"Aurora mengecup pipi kedua bocah itu.


"kami baik-baik saja"kedua anak itu langsung pergi bermain di taman.


Setelah saling menyapa semua orang masuk ke kamar masing-masing. Aurora dan Alex tidur di kamar terpisah, keduanya masih merahasiakan pernikahan pada Siska dan Gebby.


dari balkon Aurora dapat melihat kegiatan suaminya yang sedang mengajarkan Gebby berkuda, keduanya tampak serasi seperti sepasang kekasih.hati Aurora terluka dan cemburu namun dia mencoba untuk mengerti kedekatan suaminya dengan wanita itu.


Aurora masuk ke kamar nya dan dia mencoba untuk beristirahat.


Waktu makan malam tiba semua orang berkumpul di ruang makan.suasana sedikit tidak nyaman karena Alex sepertinya dalam mod yang kurang baik.


"anda kenapa?"Aurora bertanya pada suaminya.


"tidak ada!"Alex menjawab dengan ketus.


"cobalah untuk makan!"Aurora menyiapkan makanan untuk suaminya.


"aku tidak ingin makan kamu benar-benar tidak mengerti!"Alex membentak Aurora lalu pergi meninggalkan ruangan makan.


"dasar benalu tidak tahu diri, makanya kalau jadi orang harus tau situasi!"Gebby menyalahkan Aurora lalu pergi mengikuti Alex.


"dasar beban!"Siska ikut-ikutan menyalahkan Aurora.


Di meja makan tinggal Aurora dan keluarga dokter Eko yang merasa cemas pada keadaan Aurora yang tampak sedih dan tertekan.


"salah saya apa?"Aurora menatap dokter Eko penuh tanya matanya berkaca-kaca.


"kamu tidak salah Alex sedang dalam suasana hati yang buruk, tolong kamu maklum!"dokter Eko mencoba untuk membuat Aurora mengerti.


"seharusnya Alex tidak memperlakukan Aurora seperti itu,dia sedang hamil,dan tidak tahu apa-apa"istri dokter Eko tidak setuju dengan perbuatan Alex.


"tidak apa-apa saya memang hanya menjadi beban bagi dia, seharusnya saya dapat membaca situasi,saya yang bodoh!"Aurora mencoba untuk tidak menangis dia tidak ingin membuat suasana semakin kacau.


"kamu harus mengerti benda itu sangat berharga untuk Alex peninggalan ibunya, satu-satunya kenangan yang dia miliki!"dokter Eko menjadi ribut dengan istrinya.


"apakah karena benda itu , sehingga Aurora yang tidak tahu apa-apa harus menjadi korban kekesalan nya! lelaki memang egois"istri dokter Eko pergi ke kamar dengan kesal.


"maaf gara-gara aku kalian jadi bertengkar, sebaiknya kamu susul dia!"Aurora menyarankan.


saat dokter Eko akan pergi Aurora bertanya.


"sebuah kalung dengan cincin sebagai liontin nya"jawab dokter Eko sebelum pergi.


Aurora mencoba untuk mengingat dan dia tahu benda itu,kalung yang selalu ada di leher suaminya dengan cincin berlian itu.


Tanpa berpikir panjang Aurora pergi ke luar untuk mencari benda itu,dia tahu pasti Alex sangat menyayangi benda itu sehingga dia begitu marah saat kehilangan nya.


Aurora mencari di sekitar tempat Alex tadi siang berkuda, dengan pencahayaan yang minim di tengah malam yang dingin dan gelap dia terus mencari tanpa peduli dengan dingin malam yang merangsek ke tubuhnya.


"nak bantu ibu untuk menemukan kalung ayah mu,ibu tidak ingin dia sedih"Aurora berbicara dengan anak dalam kandungan nya.


Beberapa kali Aurora terbaru karena udara malam yang dingin, kakinya juga beberapa kali tergores diri bunga mawar yang tumbuh di sekitar tempat itu, sesekali ia terduduk melepaskan rasa lelah, sepanjang malam dia mencari tanpa rasa lelah.


Aurora mulai merasa putus asa, malam hampir berganti pagi namun benda itu tidak kunjung dia temukan.


"nak ibu sudah lelah,ini hampir jam tiga pagi tapi benda itu seperti nya tidak ada,ini seperti mencari jarum di tumpukan jerami"Aurora berjalan untuk kembali ke kamar,saat kakinya tertusuk duri bunga mawar. Aurora meringis karena rasa sakit di kakinya,dia mencabut diri dari kakinya,darah mulai mengucur dari telapak kakinya,namun rasa sakit itu terbayar sudah,saat dia menemukan benda itu.


"terimakasih Tuhan!"Aurora segera mengambil benda itu dan kembali ke kamar dengan banyak luka gores di tubuhnya.


Aurora segera mengganti pakaian nya yang basah karena embun,dia kemudian mencoba untuk tidur. Aurora terus memegangi benda itu seolah dia takut akan kehilangan nya lagi.


Alex tidak tenang, semalaman dia mencoba untuk menghubungi istrinya, namun tidak di angkat dia tahu Aurora pasti sangat kecewa pada dirinya, sehingga tidak mau mengatakan telponnya, Alex juga tidak berani mengetuk pintu kamar istrinya dia takut membuat kegaduhan. Alex terus terbayang wajah istrinya yang begitu sedih saat dia membentaknya di depan banyak orang.


"Ra...aa minta maaf, selalu menyakiti kamu"Alex benar-benar menyesal.


Alex beranjak dari tempat tidur nya dia pergi menuju kamar istrinya.saat di depan pintu kamar Aurora dia mendengar wanita itu menggigil.dengan cemas dia mencoba mengetuk pintu namun tidak ada jawaban,saat Alex mencoba membuka pintu ternyata pintunya tidak terkunci.


Alex masuk dan mengunci pintu dari dalam,dia segera menghampiri istrinya yang sedang menggigil kedinginan.Alex menyalakan lampu kamar dia terkejut dengan apa yang dia lihat.


Alex menangis sejadi-jadinya dia begitu merasa bersalah pada wanita itu.


saat Alex membuka selimut dia dengan jelas melihat semua luka di tubuh wanita itu dan benda itu ada di tangan nya. Alex baru tahu Aurora semalaman berada di luar karena dia, terluka begitu banyak karena dia.


Saat Alex menyentuh tubuh istrinya begitu dingin seperti es, Alex berusaha untuk memberikan kehangatan untuk istrinya dia memeluk Aurora dengan erat, air matanya terus menetes karena merasa bersalah, hanya karena sebuah cincin dia membuat istrinya tersiksa dan terluka.


suhu badan Aurora mulai normal,dia tidak lagi menggigil,dan dapat tidur dengan nyenyak.karena tidur terlalu larut Aurora dan Alex bangun kesiangan,semua orang sibuk mencari,namun tak dapat menemukan keberadaan Alex.


"apa dokter melihat pak Alex?"tanya Siska pada Alex yang sedang menikmati udara pagi.


"dia pergi ke luar untuk joging"dokter Eko berbohong dia tahu benar sahabatnya itu ada di mana.


saat mendengar jawaban dokter Eko, wanita itu langsung pergi untuk menyusul Alex.setelah Siska pergi tak lama Gebby datang dan menanyakan hal yang sama,dan dokter Eko memberi Jawaban yang sama pada wanita itu.


"kau membodohi mereka?"istrinya bertanya dengan curiga.


"kau memang paling mengerti aku"dokter Eko tersenyum.


"memang teman mu itu di mana?"


"tentu saja ada di kamar istrinya"jawab dokter Eko membuat istrinya terkejut.


"bagaimana kamu tahu?"istrinya masih belum percaya.


"aku tidak sengaja melihat dia masuk ke kamar istrinya"dokter Eko menjelaskan.


Aurora merasa hangat dan bau suaminya,dia begitu merasa nyaman hingga enggan untuk bangun.


Alex juga tidak mau beranjak dari tempat tidur nya dia begitu mengantuk dan masih ingin menghabiskan waktu bersama dengan istrinya.