Make You Mine!

Make You Mine!
Kebingungan Amanda



"Bukankah mereka sangat serasi.." Sofia mendudukan dirinya di sebelah Amanda yang menatap ke arah Alan dan Isa yang sedang memanggang daging, mereka sedang pesta barbeque di belakang vila.


"Um.. apa?" katanya bingung.


"Alan dan Isa, bagaimana menurutmu?"


Amanda mengangguk dengan senyuman "Ya.."


"Sejak dulu Nenek berniat menjodohkan Isa dan Alan, bahkan sebelum mereka lahir.."


"Oh, ya?" Amanda menatap tak percaya, di zaman ini masih ada perjodohan bahkan sejak di dalam perut..


"Ya, dan bibi Monica juga menyetujuinya dengan syarat mereka saling menyukai, tapi melihat keduanya apa perlu di ragukan lagi.."


Amanda kembali menatap Alan dan Isa, terlihat keduanya tertawa, dan Alan yang tak pernah tersenyum padanya pun bisa tersenyum saat bersama Isa, bukankah itu berarti Alan juga menyukai Isa "Nenek benar.." Amanda tersenyum dan memalingkan wajahnya, ada apa dengannya, kenapa perasaannya semakin tidak nyaman.


"Um, nenek sambil menunggu dagingnya masak aku ingin jalan- jalan sebentar."


"Ya, jangan berkeliaran terlalu jauh, nanti kamu tersesat" Amanda mengangguk, vila mereka memang di kelilingi hutan pinus, dan jarak dengan rumah penduduk lain mencapai ratusan meter, jika Amanda tersesat akan sangat merepotkan, dan Amanda tidak berencana untuk tersesat, dia hanya membutuhkan waktu untuk mencari udara segar, karena rasanya di sana sedikit sesak.


"Jika kalian sudah lapar mulailah lebih dulu, aku akan menyusul jika kakek bangun tidur nanti," Barnes memang sedang istirahat di kamarnya, dia mengeluh lebih sering lelah mungkin karena usianya tidak muda lagi.


"Ya,kembalilah jika sudah bosan dan jangan terlalu lama, hari sudah akan gelap.." Amanda mengangguk dan berjalan riang ke dalam rumah.


Amanda keluar gerbang dengan berjalan kaki, suasananya sangat asri dan sejuk membuatnya merapatkan sweater nya, meski begitu cuacanya hari ini sangat cerah, dan Amanda sangat antusias.


Tak berencana untuk tersesat Amanda memilih jalanan di banding hutan pinus, yang jika dilihat dari luar saja mengerikan karena sudah mulai gelap.


Mengusir kebosanan dan menenangkan hatinya yang tiba- tiba tidak nyaman mendengar perkataan Neneknya Amanda mengarahkan kamera ponselnya beberapa kali untuk memotret sekitarnya untuk mengupdate sosial medianya Amanda juga beberapa kali berselfie ria, "Aku terlihat cantik, bukankah bagus jika aku mempostingnya di akunku.."


Amanda menggulir layar dan menekan tombol posting, namun saat melihat jaringan tidak stabil Amanda mendengus "Kenapa Kakek suka sekali tempat ini, disini signalnya tidak bagus.."


Amanda mengangkat ponselnya ke atas dan tersenyum saat signal kembali stabil, namun belum juga fotonya terunggah, Amanda terpekik "Tidak, jangan sekarang.. akkhh" ponselnya kehabisan daya "Ini gara- gara uncle Alan, apa dia tidak memeriksa baterai ponselku." Sejak Alan memberikan ponselnya kembali, Amanda langsung ikut perjalanan Alan dan Isa, hingga dia tidak ingat apa baterai ponselnya masih penuh atau tidak.


Amanda menghela nafasnya "Baiklah aku akan mengunggahnya jika sudah di vila.." tak ingin pergi terlalu jauh, Amanda berniat untuk kembali ke vila, dan memutar arah kembali, baru beberapa langkah Amanda mendengar suara terjatuh di belakangnya.


Amanda menengok dan mendapati seorang wanita tua yang terjatuh dengan punggung yang menggendong kayu bakar, wanita itu keluar dari hutan pinus.


"Nenek tidak apa- apa?" Nenek tua itu tertawa canggung seolah telah melakukan dosa.


Amanda berlari kecil dan membantu nenek tua tersebut merapikan kayu bakarnya "Kau terluka.." Amanda melihat luka goresan di telapak tangan dan siku sang nenek tua.


"Ti.. tidak masalah, aku baik- baik saja nona." Nenek tua itu bersih keras berdiri dan menggendong kembali kayu bakarnya meski dia meringis kesakitan.


"Aku akan membantumu.." Amanda mengambil kayu bakar sang nenek namun sang nenek tua mempertahankannya seolah itu adalah barang berharga.


"Tidak perlu.. aku bisa melakukannya sendiri.."


Nenek tua itu terlihat pasrah, lagi pula dia juga merasakan tangannya sakit akibat terjatuh tadi.


Sebenarnya dia sudah memperhatikan gadis yang sejak tadi memainkan ponselnya, dia sengaja bersembunyi karena takut ketahuan sudah mencuri kayu bakar di lahan keluarga Barnes dan melihat penampilan Amanda yang sepertinya bukan orang desa membuatnya takut jika dia adalah salah satu keluarga Barnes.


Bagaimana jika dia tertangkap dan dilaporkan ke polisi, karena sudah mencuri kayu bakar, padahal dia bersumpah dia hanya mengambil ranting yang sudah terjatuh dan tak mengganggu pohon- pohon di sekitarnya.


Barnes ingin hidup nyaman di vila tanpa gangguan dan dia membeli lahan disekitar vila yang sebenarnya hanya hutan pinus dan menjadikannya miliknya, selain untuk investasi, Barnes juga tak ingin privasinya terganggu oleh warga sekitar.


Dan gosip yang dia dengar Tuan Barnes sangat galak dan tidak mengizinkan siapapun memasuki wilayahnya, tapi mau bagaimana lagi dia sangat membutuhkan kayu bakar untuk menghangatkan tubuhnya di udara pegunungan yang dingin.


"Benarkah tuan Barnes sangat kejam?" katanya saat mendengar nenek itu bercerita tentang ketakutannya.


"Aku sendiri tidak tahu, tapi aku mendengarnya dari pelayan yang bekerja di vila tuan Barnes, maka itu aku terkejut saat melihatmu, aku akan segera pergi tapi malah terjatuh." setelah berbincang selama perjalanan Amanda tahu jika nenek tersebut bernama Doris.


Doris di sebelah Amanda berjalan sedikit tertatih karena kakinya juga lumayan sakit karena terjatuh tadi, Doris juga melihat Amanda kesulitan membawa kayunya tapi Amanda bersih keras membawanya sendiri.


"Kau tidak berbohong jika kau bukan anggota keluarga tuan Barnes bukan.."


Amanda menggeleng, melihat Doris ketakutan, Amanda tidak tega untuk membuatnya semakin takut padanya, bagaimana jika dia tahu Amanda adalah cucu keluarga Barnes. "Aku hanya kerabat.."


"Ah, begitu.. lalu apakah tuan Barnes sungguh kejam?"


Amanda lagi- lagi menggeleng "Tidak tuan Barnes adalah pria tua paling lembut yang aku tahu, aku rasa pelayan hanya menyebarkan gosip agar tidak ada yang berani masuk.." Doris terlihat lega.


"Apakah dia juga akan mengizinkanku untuk meminta kayunya ini?"


"Tentu saja.." Amanda tersenyum menenangkan, dan wajah Doris tak semurung tadi.


Amanda mulai pegal, dia rasa telapak tangannya yang lembut mulai lecet karena membawa kayu bakar tersebut, tapi tidak masalah bukankah menolong sesama adalah kebaikan, dan Amanda merasa bangga lihatlah dia tidak manja seperti kata Unclenya yang mengatakan dia hanya bisa menyusahkan dan pergi ke Club malam.


...


Alan melihat sekitarnya saat tak mendapati Amanda di sana, "Kau mencari siapa?" Isa meletakkan sepiring daging panggang yang telah masak.


"Kemana Amy...?"


"Amanda pergi untuk jalan- jalan, karena bosan menunggu dagingnya masak.." Sofia muncul dari dalam rumah dia baru saja mengecek Barnes yang ternyata masih terlelap di kamar mereka.


"Amy juga bilang untuk makan lebih dulu, jika kalian sudah lapar, dan Mommy sudah lapar.." Alan mengangguk dan menyiapkan daging ke dalam piring Sofia. "Terimakasih sayang"


Mereka mulai makan, namun sepanjang mereka makan Alan terus memperhatikan sekitarnya hingga mereka selesai makan Amanda masih tak terlihat, bahkan hingga hari mulai gelap Amanda belum juga kembali.


Alan mulai gelisah saat hari benar- benar gelap dan Amanda belum juga kembali, "Kemana gadis bodoh itu.." Alan meraih mantelnya dan berlari keluar vila dengan perasaan khawatir,apalagi ponsel Amanda tidak bisa di hubungi.


....