Make You Mine!

Make You Mine!
Mencari Amanda



"Alan kau akan kemana?" Sofia dan Isa yang sedang minum teh di teras Vila sontak terkejut melihat Alan berlari dengan tergesa.


"Mom yakin Amy hanya pergi di sekitar sini..?"


"Ya, Amy berkata begitu, apa dia belum kembali..?"


"Ya, aku akan mencarinya.."


"Astaga, Mom akan meminta penjaga untuk mencarinya, bagaimana jika dia masuk ke hutan pinus, hari sudah mulai gelap" Sofia bergegas meraih ponselnya dan menghubungi penjaga.


"Aku akan ikut mencari.." Isa merapatkan mantelnya, namun Alan segera menolak.


"Kamu tunggu disini pastikan Daddy tidak tahu, jika dia tahu pasti akan syok.." Isa mengangguk.


"Baiklah berhati- hatilah!" Alan melanjutkan langkahnya kali ini di ikuti beberapa penjaga yang sudah di hubungi oleh Sofia.


"Kalian kesana, aku akan kesebelah sini, kita telusuri jalanan jika tidak ketemu kita masuk hutan pinus!."


"Baik tuan.." para penjaga mengangguk dan pergi ke arah berlawanan dari kepergian Alan.


Alan masih berusaha menghubungi Amanda namun ponsel gadis itu masih saja tidak aktif, "Sial, apa dia kabur lagi.. tapi dia tidak mungkin melakukan kenakalannya disini.." akan lari kemana memangnya?. disini bukan kota yang bisa dia jadikan tempat bersenang senang, jelas di sekitarnya hanya hutan pinus beberapa ratus meter, sebelum ada beberapa rumah penduduk.


Dan dada Alan bergemuruh karena khawatir, bagaimana jika Amanda masuk ke dalam hutan dan tersesat di dalam sana, bodohnya dia tidak membawa pengawal untuk ikut dan mengawasi Amanda, dia pikir jika pergi bersamanya Amanda akan aman, tapi tetap saja gadis itu hilang saat dia lengah,


Bagaimana jika sesuatu terjadi pada Amanda, batinnya semakin cemas.


Beberapa saat kemudian Alan sudah bertemu kembali dengan para penjaga yang terlihat pucat "Kalian menemukannya?"


Para penjaga menggeleng "Sial.." Alan mengusap wajahnya kasar.


"Tu.. tuan, bagaimana jika kita masuk kedalam hutan, kami sudah menyusuri jalanan tapi tidak menemukan Nona.."


"Baiklah kita masuk ke dalam hutan."


...


Jika Alan sedang kelimpungan mencari gadis nakal dan pembangkang sang gadis malah dengan riang menyantap hidangan ubi bakar yang di suguhkan nenek tua yang di tolongnya.


Dia yang kelaparan karena meninggalkan daging barbeque nya di vila melahap ubi bakar yang masih mengepulkan asap itu dengan suka cita.


"Uh.. nenek ini enak sekali.. astaga.."


"Nona tidak pernah memakannya?" Doris tertawa lucu melihat ekspresi Amanda, dia seperti anak yang baru saja mendapatkan mainan baru.


Amanda menggeleng dan berdecak "Sudah ku bilang jangan panggil aku Nona.."


"Baiklah Amy.." Amanda tersenyum dia dan Doris duduk di depan perapian menikmati ubi bakar sambil menghangatkan tubuh mereka yang kedinginan karena cuaca pegunungan, tidak di sangka dia akan mengalami pengalaman hebat ini, ini lebih hebat dari pada pergi ke club atau arena balap, siapa sangka dia yang selalu memakan makanan mewah bisa memakan makan yang menurutnya luar biasa.


"Baiklah Nenek aku harus pulang jika tidak, mereka akan khawatir.." Amanda menepuk pantatnya karena duduk di atas tanah, rumah Doris adalah sebuah gubuk kecil yang tak layak huni, Amanda bahkan merasa miris saat melihat keadaan di dalamnya, pantas saja Doris harus rela mencuri demi kayu bakar, jangankan untuk membeli kayu bakar untuk makan saja Doris hanya memiliki ubi yang dia tanam sendiri di belakang rumahnya.


Rumah Doris terbuat dari kayu tak berlantai yang sepertinya sudah rapuh, Amanda tak yakin jika ada angin badai rumah itu bisa melindungi Doris.


Doris hidup sebatang kara setelah suaminya meninggal, dan dia yang tidak di karuniai putra hanya bisa menghidupi dirinya sendiri dengan kemampuannya yang sudah renta, sejak mereka tiba disana Doris menceritakan kisah hidupnya, dan memberikan beberapa petuah "Maka itu jika kau menikah buatlah anak yang banyak, agar hari tuamu tidak kesepian seperti aku.." sontak saja Amanda merona, entah kapan dia akan menikah dia masih berusia 19 tahun mungkin empat atau lima tahun lagi, tapi pasti Amanda akan mengingat petuah Doris, dia tak ingin masa tuanya sepi seperti Doris, bukankah itu akan sangat menyedihkan.


Mengingat pernikahan tiba- tiba dia menjadi galau kembali, bukankah Alan dan Isa juga akan menikah, haruskan dia beri tahu mereka untuk membuat anak yang banyak, Amanda menghela nafasnya, untuk apa dia beritahu..


Lagi- lagi Amanda memalingkan wajah mencari sesuatu untuk dilihat dan mengalihkan pikirannya, sayang sekali di gubuk Doris dia malah semakin suram karena kondisi rumah Doris yang benar- benar tak layak, namun setidaknya dia bisa mengalihkan pikirannya tentang Alan.


"Kenapa aku terus memikirkan paman sialan itu, menyebalkan, ini jelas karena kata- kata Isa, benar- benar tidak masuk akal, sudah jelas uncle menyukainya, malah bilang dia menyukaiku.." Amanda bergumam kecil, meski Isa tidak mengatakan secara gamblang jika Alan menyukainya tetap saja Amanda terusik. "Pemikiran konyol dia kan pamanmu.." rutuknya dalam hati.


Amanda merogoh sakunya yang hanya memiliki beberapa lembar saja dan memberikannya pada Doris "Apa ini Amy..?" Doris membelalakan matanya melihat tiga lembar uang dengan jumlah 300 dolar di tangannya.


"Aku tidak memiliki uang cash banyak, aku hanya memiliki sedikit saja, tapi aku harap kau bisa makan layak beberapa hari ini, dan jangan khawatir tentang kayu bakar lagi, aku akan bilang pada tuan Barnes untuk mengizinkanmu mengambil kayu kapan pun jika kau membutuhkannya.."


Doris menangis haru "Ini banyak sekali, Amy, aku tidak mungkin menerimanya.."


Amanda tersenyum "Terimalah jika tidak aku akan sangat marah, dan akan ku batalkan tentang meminta izin pada tuan Barnes!" Doris tertegun, lalu mengangguk paksa, dia membutuhkan kayu bakar setiap hari, maka dia tak bisa menolak.


"Hati- hatilah.. kamu harus menyusuri jalanan saja, tenang saja tidak akan ada yang berani masuk ke kawasan tuan Barnes jadi kamu akan aman!" mendengarkan peringatan Doris Amanda tersenyum dan mengangguk, "Cepatlah hari semakin gelap!"


"Sampai jumpa nenek!" Amanda melambaikan tangannya kearah Doris yang juga memberikan lambaian tangannya pada Amanda.


...